Jumat, 30 Maret 2012

AL-A'RAAF 141 - 150

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=8&SuratKe=7#Top
141 Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Firaun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu`.(QS. 7:141)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 141
وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (141)
Pada ayat ini Allah swt. mengingatkan kepada Bani Israel yang minta dibuatkan tuhan selain Allah itu bahwa mereka telah diberi nikmat yang berlimpah-limpah berupa pengutusan Nabi Musa a.s. kepada mereka, untuk melepaskan mereka dari belenggu penindasan dan perbudakan Firaun yang telah membunuh setiap anak lelaki mereka yang lahir dan membiarkan hidup anak perempuan mereka dengan maksud agar Bani Israel tetap dalam keadaan lemah dan tetap dalam perbudakan untuk ditindas selama-lamanya. Hendaknya segala macam cobaan dan pengalaman-pengalaman yang pahit itu dapat dijadikan pelajaran dengan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dan berusaha setiap waktu agar pengalaman^penga1aman itu tidak terulang lagi.

142 Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: `Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.`(QS. 7:142)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 142
وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ (142)
Ayat ini menerangkan peristiwa turunnya Kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s. Allah swt. telah menetapkan janji-Nya kepada Nabi Musa a.s. bahwa Dia akan menurunkan wahyu kepada Nabi Musa yang berisikan pokok-pokok agama dan pokok-pokok hukum yang akan menjadi pedoman bagi Bani Israil dalam usaha mereka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Waktu penurunan wahyu yang dijanjikan itu selama tiga puluh malam di gunung Sinai, kemudian ditambahnya sepuluh malam lagi sehingga menjadi empat puluh malam.
Mengenai turunnya Kitab Taurat kepada Nabi Musa diriwayatkan oleh Ibnu Munzir dan Ibnu Abu Hatim dari Ibnu Abbas waktu menafsirkan ayat ini, bahwa Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Tuhanku (Allah) menjanjikan kepadaku tiga puluh malam. Aku akan menemui-Nya dan aku jadikan Harun untuk mengurusimu. Maka setelah Musa a.s. sampai ke tempat yang dijanjikan, yaitu pada bulan Zulqaidah dan sepuluh malam bulan Zulhijah, lalu Musa a.s. menetap dan menunggu di atas bukit Sinai selama empat puluh malam, dan Allah swt. menurunkan kepadanya Taurat dalam bentuk kepingan-kepingan bertulis, maka Allah mendekatkan Musa kepada-Nya untuk diajak bicara. Maka sesudah itu berbicaralah Allah, dan Musa pun mendengar bunyi getaran pena.
Dari kedua riwayat ini dapat diambil kesimpulan, bahwa Musa a.s. pergi ke bukit Sinai hanya sendiri tak ada yang menemani, dalam arti kata ia memisahkan diri dari kaumnya Bani Israil. Sepeninggal Musa a.s., Bani Israil terpengaruh oleh ajakan Samiri, sehingga mereka ikut menyembah patung anak sapi.
Menurut sumber agama Islam tidak ada ayat-ayat Alquran atau hadis-hadis Nabi saw. yang sahih menerangkan Nabi Musa a.s. berpuasa selama empat puluh hari itu kecuali oleh hadis yang dianggap sebagai hadis daif (lemah) oleh kebanyakan ulama. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ad-Dailami dari Ibnu Abbas.
Oleh sebagian ahli sufi hadis Ad-Dailami yang daif itu dijadikan mereka sebagai pegangan dalam menetapkan hari-hari semadi mereka, yaitu empat puluh hari, dan selama empat puluh hari itu mereka berpuasa.
Sebelum Musa a.s. berangkat ke tempat yang telah ditentukan Allah untuk menerima Taurat, ia menyerahkan pimpinan kaumnya kepada saudaranya Harun a.s. dan menyatakan Harun sebagai wakilnya, mengurus kepentingan-kepentingan Bani Israil selama ia berpergian, mengusahakan perbaikan di kalangan mereka, menyempurnakan usaha-usaha dan pekerjaan dewan musyawarah. Musa memperingatkan agar Harun jangan mengikuti kemauan-kemauan dan pendapat-pendapat orang-orang yang sesat dan suka berbuat kerusakan.
Harun adalah saudara tua Musa a.s. dan diangkat pula oleh Allah sebagai rasul dan nabi. Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Musa sebelum menghadapi Firaun berdoa kepada Allah agar Harun diangkat sebagai wazirnya, karena lidahnya lebih petah dibanding dengan lidah Musa.
Allah berfirman:

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي(29)هَارُونَ أَخِي(30)اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي(31)وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي(32)
Artinya:
Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.
(Q.S Taha: 29,30,31 dan 32)

143 Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: `Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau`. Tuhan berfirman: `Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku`. Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: `Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman`.(QS. 7:143)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 143
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ (143)
Ayat ini menerangkan, manakala Musa a.s. sampai ke tempat dan waktu yang dijanjikan Allah untuk menerima wahyu Allah telah menyampaikan wahyu secara langsung tanpa perantara, maka timbullah pada diri Musa keinginan untuk memperoleh kemuliaan lain di samping kemuliaan berkata-kata langsung dengan Allah swt. yang baru saja dilakukannya. Keinginan itu ialah mendapat kemuliaan melihat Allah dengan jelas, lalu Musa berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah zat Engkau yang suci dan berilah aku kekuatan untuk dapat melihat Engkau dengan jelas, karena aku tidak sanggup melihat dan mengetahui Engkau dengan sempurna." Allah swt. menjawab: "Hai Musa, kamu tidak akan dapat melihat-Ku." Dalam hadis Nabi saw. disebutkan:

عن أبي موسى قال: قال صلى الله عليه وسلم: حجابه نور لو كشفه لحرقت سبحات وجهه ما انتهى بصره من خلقه
Artinya:
Dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Hijab (pembatas) Allah ialah nur (cahaya). Sekiranya nur itu disingkapkan niscaya keagungan sinar wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk yang sampai pandangan Tuhan kepadanya."
(H.R Muslim)
Selanjutnya Allah swt. berkata kepada Musa: "Melihatlah ke bukit, jika bukit itu tetap kokoh dan kuat seperti sediakala setelah melihat-Ku, tentulah kamu dapat pula melihat-Ku karena kamu dengan itu adalah sama-sama makhluk ciptaan-Ku. Tetapi jika bukit yang kokoh dan kuat itu tidak tahan dan hancur setelah melihat-Ku betapa pula kamu hai Musa dapat melihat-Ku, karena seluruh makhluk yang aku ciptakan tidak mampu dan sanggup untuk melihat-Ku."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Ketika Musa a.s. memohon kepada Tuhannya: "Perlihatkanlah zat Engkau kepadaku." Allah menjawab: "Kamu sekali-kali tidak akan dapat melihat-Ku." Kemudian Allah menegaskan lagi: "Kamu tidak akan dapat melihat-Ku untuk selama-lamanya hai Musa." Tidak seorang pun yang sanggup melihat-Ku, lalu sesudah itu ia tetap hidup." Akhirnya Allah berkata: "Melihatlah ke bukit yang tinggi lagi besar itu. Jika bukit itu tetap di tempatnya, tidak bergoncang dan hancur, tentulah ia melihat kebesaran-Ku, mudah-mudahan kamu dapat melihatnya pula, sedangkan kamu benar-benar lemah dan rendah. Sesungguhnya gunung itu bergoncang dan hancur bagaimanapun juga kuat dan dahsyatnya, sedang kamu lebih lemah dan rendah."
Ada beberapa pendapat mufassir tentang yang dimaksud dengan ayat: "Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu." Sebagian mufassir mengatakan bahwa yang tampak bagi gunung itu ialah zat Allah. Bagaimanapun juga pendapat para mufassir, namun tampaknya Allah itu bukanlah seperti tampaknya makhluk. Tampaknya Tuhan adalah tampaknya sesuai dengan sifat-sifat Allah yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
Setelah Musa a.s. sadar dari pingsannya dan sadar pula bahwa ia telah meminta kepada Allah swt. sesuatu yang dapat membahayakan dirinya, ia merasa telah berbuat dosa karena itu ia memohon dan berdoa kepada Allah swt., "Maha Suci Engkau ya Tuhanku, aku berdosa karena meminta sesuatu kepada Engkau yang di luar batas kemampuanku menerimanya, karena itu aku bertobat kepada Engkau dan tidak akan mengulangi perbuatan kesalahan seperti yang telah lalu itu, dan aku termasuk orang-orang yang pertama beriman kepada-Mu."
Berkata Mujahid: "Tubtu ilaika" (aku bertaubat kepada Engkau), maksudnya ialah aku bertaubat kepada Engkau karena aku telah memohon kepada Engkau agar dapat melihat zat Engkau. "Wa ana awwalul mu'minin", (aku orang yang pertama-tama beriman) maksudnya ialah aku adalah orang Bani Israil yang pertama-tama beriman kepada Engkau). Sedang dalam suatu riwayat yang lain dari Ibnu Abbas ialah orang yang pertama-tama percaya bahwa tidak seorang pun yang dapat melihat Engkau (di dunia).

144 Allah berfirman: `Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur`.(QS. 7:144)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 144
قَالَ يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (144)
Selanjutnya Allah swt. menerangkan bahwa Dia telah memilih Musa di antara manusia yang ada di zaman-Nya dengan memberikan karunia yang tidak diberikannya kepada manusia lainnya, yaitu mengangkat Musa sebagai nabi dan rasul, memberinya kesempatan langsung berbicara dengan Allah, sekalipun dibatas oleh suatu yang membatasinya antara Allah dan Musa.
Di dalam Alquran disebutkan cara Allah swt. menyampaikan wahyu kepada para rasulnya sebagaimana firman Allah:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Artinya:
Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
(Q.S Asy Syura: 51)
Jadi ada tiga macam menurut ayat ini cara Allah menyampaikan wahyu kepada para rasul yaitu:
1. Dengan mewahyukan kepada rasul yang bersangkutan, yaitu dengan menanamkan suatu pengertian ke dalam hati seseorang yang disampaikan wahyu kepadanya.
2. Berbicara langsung dengan memakai pembatas yang membatasi antara Allah dan hamba yang diajak berbicara.
3. Dengan perantaraan malaikat Jibril a.s.
Mengenai persoalan dapatkah manusia melihat Allah dengan nyata, maka jika dipahami ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Mustahil manusia melihat Allah selama mereka hidup di dunia sebagaimana ditegaskan Allah swt. kepada Nabi Musa a.s.
2. Orang-orang yang beriman dapat melihat Allah swt. di akhirat nanti sesuai dengan sabda Rasulullah saw.:

أن ناسا قالوا: يا رسول الله هل نرى ربنا يوم القيامة؟ قال: هل تضارون فى رؤية القمر ليلة البدر، قال: لا يا رسول الله، قال: فإنكم ترون كذلك
Artinya:
Sesungguhnya manusia berkata (kepada Rasulullah saw.), "Ya Rasulullah, adakah kita melihat Tuhan kita pada hari kiamat nanti?" Rasulullah menjawab, "Adakah yang menghalangi kalian melihat bulan pada bulan purnama?" Mereka berkata, "Tidak ya Rasulullah." Rasulullah berkata: "Maka sesungguhnya kamu akan melihat Tuhan seperti melihat bulan purnama itu."
(H.R Bukhari dan Muslim)
3. Semua yang ada wujudnya dapat dilihat. Hanyalah yang tidak ada wujudnya yang tidak dapat dilihat. Tuhan adalah wajibul wujud, karena itu Tuhan dapat dilihat jika ia menghendakinya. Dalam pada itu Tuhan melihat segala yang ada termasuk melihat diri-Nya sendiri. Kalau Tuhan dapat melihat diri-Nya tentu Dia berkuasa pula menjadikan manusia melihat diri-Nya jika Dia menghendaki.
4. Firman Allah:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ(22)إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ(23)
Artinya:
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri kepada Tuhannyalah mereka melihat.
(Q.S Al Qiyamah: 22-23)
Dari ayat ini dipahami bahwa "melihat Tuhan" pada hari kiamat itu termasuk nikmat yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Karena itu mereka selalu mengharap-harapkannya.

145 Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): `Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.(QS. 7:145)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 145
وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ (145)
Allah swt. menerangkan dalam ayat ini bahwa Dia telah menurunkan kepada Musa a.s. beberapa keping lauh yang berisi petunjuk-petunjuk dan pengajaran-pengajaran, janji dan ancaman pokok-pokok agama berupa pokok-pokok akidah, budi pekerti dan hukum-hukum.
Pendapat para ahli berbeda-beda tentang yang dimaksud dengan lauh itu termasuk bagian Kitab Taurat, dan ada yang berpendapat bahwa lauh diturunkan sebelum Kitab Taurat diturunkan. Dari pendapat-pendapat itu yang kuat ialah pendapat yang mengatakan bahwa lauh itu adalah wahyu pertama diturunkan kepada Musa a.s. karena itu ia memuat hukum-hukum, akidah, dan keterangan-keterangan yang bersifat umum dan global. Kemudian diturunkan wahyu lain untuk menjelaskan secara berangsur-angsur sesuai dengan keperluan, keadaan masa, dan tempat.
Dalam pada itu para ahli tafsir berbeda pendapat pula tentang jumlah lauh yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Ada yang mengatakan sepuluh dan sebagainya. Tidak ada suatu nas yang tegas menerangkan jumlah lauh yang diturunkan itu.
Di dalam Al-Kitab, Wasiat Lama, Kitab Keluaran, diterangkan keadaan lauh dan jumlahnya yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s.
Allah swt. memerintahkan agar Musa berpegang teguh dengan pokok-pokok agama yang telah diturunkan kepadanya, melaksanakan segala petunjuk-petunjuk dan hukum-hukumnya agar berbahagia hidup di dunia dan di ahirat nanti. Dan Allah swt. memerintahkan agar Musa dan kaumnya berpegang teguh kepada ajaran-ajaran, petunjuk-petunjuk, dan hukum-hukum yang ada di dalam lauh itu. Dengan demikian Bani Israil akan baik budi-pekertinya, baik ibadatnya sehingga tertutuplah pintu-pintu tempat pengaruh syirik. Jika kamu dan kaummu tidak mengambil dan memegang teguh apa yang telah Kami turunkan dengan sesungguhnya, maka kamu akan menjadi fasik seperti yang telah dialami oleh kaum `Ad, Samud, dan kaum Firaun dan sebagainya, atau Kami akan memperlihatkan kelak apa yang dialami orang-orang yang tidak mau taat kepada-Ku.
Dari ayat-ayat di atas dapat diambil iktibar-iktibar sebagai berikut:
1. Wajib menyampaikan ajaran-ajaran dengan sesungguh-sungguhnya sesuai dengan risalah yang dibawa Rasul agar dengan demikian tercapailah pembentukan umat yang baru, penuh kedamaian di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Pengampun. Hal ini dapat dilihat pada perbuatan Rasulullah saw. sendiri. Beliau merupakan suri teladan bagi umatnya dalam mengamalkan perintah-perintah Allah. Hal ini dapat dilihat pada perkataan, perbuatan-perbuatan, dan tindakan-tindakannya. Karena itu orang Arab tertarik kepada agama yang dibawanya sehingga dalam waktu yang sangat pendek, penduduk Jazirah Arab telah menganut agama Islam. Cara-cara yang dilakukan oleh Rasulullah ini telah dilakukan pula oleh para sahabat dan beberapa khalifah yang terkenal dalam sejarah, maka mereka pun telah berhasil pula sebagaimana Rasulullah telah berhasil. Dalam pada itu ada pula di antara kaum muslimin yang telah berbuat kesalahan.
2. Kita lihat dalam sejarah bahwa Bani Israil menjadi bangsa yang besar dan berkuasa di saat mereka melaksanakan dengan baik agama Allah, dan mereka menjadi bangsa terjajah, hidup sengsara di saat mereka memandang enteng dan mengingkari agama Allah.
3. Demikianlah halnya kaum Muslimin, menjadi kuat dan besar di saat mereka melaksanakan dengan baik agama Allah, di saat timbul persaudaraan yang kuat sesama kaum Muslimin, dan mereka menjadi lemah di saat mereka tidak mengacuhkan lagi agama Allah.

146 Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.(QS. 7:146)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 146
سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (146)
Allah swt. menyatakan bahwa Dia akan memalingkan hati orang-orang yang takabur, menyombongkan diri untuk memahami bukti-bukti dan dalil-dalil yang dibawa para rasul terutama yang berhubungan dengan kekuasaan dan kebesaran Allah, dan memalingkan pula hati mereka untuk melaksanakan agama Allah dan mengikuti petunjuk ke jalan yang benar. Hal ini sesuai pula dengan firman Allah:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya:
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
(Q.S As Saf: 5)
Takabur menurut bahasa berarti: "menganggap dirinya besar", atau "merasa agung". Yang dimaksud oleh ayat ini ialah menyembunyikan kebenaran adanya Tuhan yang wajib disembah, tidak tunduk dan patuh kepada-Nya. Perangai dan sifat seorang yang takabur itu memandang enteng orang lain, seakan-akan dia sajalah yang pandai, yang berkuasa, yang menentukan terjadinya segala sesuatu dan sebagainya. Karena itu dalam tindak-tanduknya ia mudah melakukan perbuatan yang melampaui batas, berbuat sewenang-wenang dan suka berbuat kerusakan.
Dalam ayat ini sifat takabur itu digandengkan dengan perkataan "bighairil haq" tanpa alasan yang benar. Hal ini menunjukkan sikap dan tindakan orang yang takabur itu dilakukan tanpa menimbang akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Tindakan itu semata-mata dilakukan untuk memuaskan hawa-nafsu sendiri sekalipun merugikan orang lain.
Takabur adalah semacam penyakit jiwa yang diakibatkan oleh kesalahan dalam menilai dan menerima sesuatu. Kadang-kadang keberhasilan seseorang yang terus-menerus dalam usahanya dapat juga menimbulkan sifat takabur sehingga timbul keyakinan yang berlebih-lebihan pada dirinya sendiri, bahwa apa saja yang dicita-citakannya dan direncanakannya pasti tercapai dan berhasil. Merasa yakin akan kemampuan diri sendiri ini akhirnya menimbulkan pendapat dan keyakinan bahwa dirinya tidak tergantung kepada siapa pun maupun kepada Allah sendiri.
Dalam ayat ini diterangkan sifat-sifat dan keadaan orang yang takabur itu, yaitu:
1. Jika mereka melihat bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah swt., atau membaca ayat-ayat Allah, mereka tidak mau mengikutinya dan mengambil iktibar serta pelajaran daripadanya. Mereka tidak mau mengimaninya. Dalil-dalil, bukti-bukti kekuasaan dan keesaan Allah serta ayat-ayat Alquran yang mengandung kebenaran mereka tolak dan tidak mau mempercayai. Dalil-dalil dan bukti-bukti itu tidak berfaedah bagi orang yang ragu-ragu dan tidak mengingini kebenaran, karena ia merasa bahwa kebenaran itu sendiri akan membatasi dan menghalangi mereka dari perbuatan sewenang-wenang, sehingga cita-cita dan keinginan mereka tidak terkabul. Ayat ini merupakan isyarat bagi Nabi Muhammad saw., bahwa orang-orang musyrik dan kafir yang memperolok-olokkannya serta mendustakan Alquran dan mengadakan kekacauan dengan mencari-cari kesalahan dan kelemahan-kelemahan ayat-ayat Alquran dan memutar balikkan isinya dan kebenaran Alquran itu sendiri. Seandainya Nabi Muhammad mau mengikuti tuntutan mereka yang merupakan syarat beriman mereka kepada beliau, mereka sedikit pun tidak akan beriman sekalipun tuntutan mereka telah dipenuhi.
2. Jika melihat petunjuk dan jalan yang benar, mereka tidak mau mengikutinya, bahkan mereka menghindar dan menjauh daripadanya padahal jalan itulah yang paling baik dan satu-satunya jalan yang dapat membawa mereka ke tempat yang penuh kebahagiaan.
3. Jika melihat jalan yang menuju kepada kesengsaraan, mereka mengikutinya karena jalan itu telah dijadikan setan dalam pikirannya sebagai yang paling baik dan indah. Mereka merasa dengan menempuh jalan itu segala keinginan dan hawa-nafsu mereka pasti akan terpenuhi. Menurut keyakinan mereka itulah surga yang dicita-citakan.
Pada akhir ayat ini diterangkan apa sebab hati mereka dipalingkan Allah, sehingga mereka tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah, yaitu lantaran mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mengacuhkan ayat-ayat ini.
Telah menjadi hukum Allah, bahwa sering mengerjakan sesuatu pekerjaan menyebabkan pekerjaan itu semakin mudah dikerjakan bahkan akhirnya antara pekerjaan dengan orang-orang yang mengerjakannya menjadi satu, seakan-akan tidak dapat dipisahkan lagi. Demikian pula halnya antara perbuatan jahat dengan orang yang selalu mengerjakannya, tidak ada perbedaannya sehingga akhirnya antara orang itu dengan perbuatan yang jahat yang dikerjakannya telah menjadi satu dan telah bersenyawa dengannya.
Karena itu pada hakikatnya bukanlah Allah swt. yang memalingkan dan mengunci hati seseorang yang sesat itu, tetapi yang memalingkan dan mengunci hati itulah orang-orang yang sesat itu sendiri. Sesungguhnya Allah swt. tidaklah menciptakan manusia sejak lahir menjadi orang yang beriman atau menjadi orang yang kafir dan Dia tidak pula memaksa hambanya menjadi kafir atau menjadi beriman akan tetapi seseorang menjadi beriman dengan mengikuti kafir itu adalah atas usahanya sendiri. Mereka sendirilah yang memilih dan berusaha menjadi orang yang beriman dengan mengikuti petunjuk dan ajaran agama dengan melaksanakan perintah Allah dan menghentikan larangan-Nya. Ia selalu memperhatikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah sehingga iman mereka bertambah lama bertambah kuat. Sebaliknya manusia itu sendirilah yang berusaha dan memilih jalan yang sesat atau menjadi orang yang kafir dengan mendustakan ayat-ayat Allah, dan tidak mau menempuh jalan yang menuju kepada kebahagiaan yang abadi, meremehkan dan tidak mengacuhkan ayat-ayat Allah, agar mereka dapat memuaskan keinginan dan hawa nafsu. Oleh karena perbuatan dosa itu selalu mereka kerjakan, maka perbuatan itu telah bersatu dengan dirinya sehingga kebenaran apa pun yang datang selalu ditolak oleh perbuatan jahat yang telah bersatu dengan dirinya itu, seolah-olah hati mereka telah terkunci mati, telah berpaling dari menerima kebenaran. Contoh ini disebutkan dalam firman Allah swt.:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Q.S Al A'raf: 179)
Orang-orang yang seperti diterangkan ayat di atas banyak terdapat dalam masyarakat pada masa kini. Mereka adalah orang yang sangat terpengaruh oleh mata benda kehidupan duniawi, seperti pangkat, kekuasaan, harta, kesenangan dan sebagainya, mereka selalu memperturutkan hawa nafsunya. Telah lupa dan sengaja melupakan ajaran-ajaran agama, baik yang berhubungan dengan pelaksanaan perintah-perintah Allah serta tidak mengindahkan larangan-larangan-Nya. Jika disampaikan kepada mereka ajaran Allah, maka mereka melalaikannya sekedar mencari simpati, sehingga dengan demikian nafsu dan keinginan mereka lebih mudah terpenuhi.

147 Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 7:147)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 147
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (147)
Allah swt. menerangkan bahwa orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan kepada rasul-Nya dengan cara benar, mereka tidak mempercayai akan adanya pertemuan dengan Allah pada hari akhir nanti, mereka tidak percaya akan adanya pembalasan yang akan diberikan pada hari itu. Segala amal baik yang telah mereka kerjakan di dunia tidak akan diberi pahala oleh Allah, karena mereka mengikuti hawa nafsu dan keinginan mereka. Maka bagi mereka berlaku sunnatullah, dan Allah tidak akan menganiaya sedikit pun, mereka akan disiksa dengan perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan.

148 Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.(QS. 7:148)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 148
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ (148)
Ayat ini menerangkan bahwa Bani Israil telah menyembah patung anak sapi selama kepergian Musa ke bukit Sinai menerima wahyu dari Allah swt. Patung anak sapi itu dibuat oleh Samiri yang berasal dari suku Assamirah, salah satu dari suku-suku yang ada di kalangan Bani Israil. Samiri membuat patung itu atas anjuran para pemuka Bani Israil.
Nama Samiri disebutkan dalam firman Allah swt.:

قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْ بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ
Artinya:
Allah berfirman: "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan dan mereka telah disesatkan oleh Samiri."
(Q.S Taha: 85)
Patung anak sapi itu dibuat dari emas yang berasal dari emas-emas perhiasan wanita-wanita Mesir yang dipinjam oleh wanita-wanita Bani Israil yang dibawanya waktu mereka meninggalkan negeri Mesir itu. Emas-emas perhiasan itu dilebur dan dibentuk oleh Samiri menjadi patung anak sapi.
Keinginan Bani Israil menyembah patung anak sapi sebagai tuhan selain Allah ini adalah pengaruh dari kebiasaan mereka di Mesir dahulu. Sebetulnya nenek moyang mereka adalah orang-orang muwahiddin (ahli tauhid) karena mereka adalah keturunan Nabi Yakub. Akan tetapi setelah bergaul dengan orang Mesir, maka menjalarlah gejala-gejala wasaniyah (menyembah selain Allah) itu kepada mereka. Ibadah wasaniyah ini telah menjadi kebiasaan saja dan telah mendarah daging dalam diri mereka sehingga sebentar saja mereka jauhi, maka timbullah keinginan mereka hendak melakukan kebiasaan tersebut.
Ada perbedaan pendapat antara ahli tafsir tentang patung anak sapi sebagai tuhan selain Allah ini yang disembah Bani Israil itu, apakah berupa anak sapi yang sebenarnya, yang hidup dan dapat bersuara atau berupa patung anak sapi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga jika ditiupkan angin ke dalamnya ia akan dapat bersuara.
Menurut Qatadah, Hasan Al-Basri dan perawi-perawi yang lain bahwa anak sapi yang disembah Bani Israil itu adalah anak sapi yang sebenarnya, yang hidup dan dapat bersuara seperti suara anak sapi yang sebenarnya.
Anak sapi itu berasal dari patung anak sapi yang terbuat dari emas perhiasan yang dibawa Bani Israil. Emas perhiasan itu dikumpulkan oleh Samiri, dilebur dan dibuat patung yang berbentuk anak sapi. Diceritakan bahwa Samiri telah melihat malaikat Jibril mengendarai kuda menolong Bani Israil dari pengejaran Firaun dan tentaranya, menyeberang laut Qulzum. Menurut kepercayaan Samiri: setiap benda mati yang terpijak atau terkena bekas telapak kuda itu akan hiduplah dia, seperti makhluk hidup biasa ini. Maka Samiri mengambil tanah bekas telapak kuda Jibril itu. Sewaktu ia membuat patung anak sapi itu, maka dimasukkannyalah sebagian tanah bekas telapak kuda ke dalam patung anak sapi itu, sehingga patung anak sapi itu hidup, bertubuh, bersuara sebagaimana anak sapi biasa. Inilah yang disembah oleh Bani Israil.
Menurut pendapat kedua: Suara dari patung anak sapi itu adalah karena masuknya angin ke dalam rongganya dan keluar dari lobang yang lain, sehingga menimbulkan suara. Hal ini dapat dibuat dengan memasukkan alat semacam pipa yang dapat berbunyi dalam rongga patung anak sapi itu. Jika pipa itu dihembus angin, maka berbunyilah patung anak sapi seperti bunyi anak sapi sebenarnya. Karena hal seperti itu dipandang aneh oleh Bani Israil, maka dengan mudah timbul kepercayaan pada diri mereka bahwa patung anak sapi itu berhak disembah, sebagaimana halnya menyembah Allah. Dari kedua pendapat ini maka pendapat kedua adalah pendapat yang sesuai dengan akal pikiran.
Allah swt. mencela perbuatan Bani Israil yang lemah iman itu, yang tidak dapat membedakan antara Tuhan yang berhak disembah dengan sesuatu yang ganjil yang baru pertama kali mereka lihat dan ketahui. Mereka tidak dapat membedakan antara Tuhan yang menurunkan wahyu kepada para Rasul dan makhluk Tuhan yang hanya dapat bersuara yang tidak diketahui maksud dari suara itu. Jika mereka pikir kemampuan diri mereka sendiri mungkin diri mereka lebih baik, lebih mempunyai kesanggupan berbicara dari patung anak sapi itu.
Bani Israil berbuat demikian itu bukanlah berdasar sesuatu dalil yang kuat, mereka berbuat demikian hanyalah karena pengaruh adat kebiasaan nenek moyang mereka yang ada di Mesir dahulu yang menyembah anak sapi. Padahal kepada mereka telah diturunkan bukti-bukti yang nyata, seperti membelah laut, tongkat menjadi ular dan sebagainya. Karena mereka tidak mau memperhatikan bukti-bukti dan dalil-dalil, mereka mengingkari Allah yang berakibat buruk pada diri mereka sendiri.

149 Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata:` Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi `.(QS. 7:149)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 149
وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (149)
Akhirnya Bani Israil menyadari juga bahwa perbuatan mereka menyembah patung anak sapi adalah perbuatan yang sesat dan perbuatan memperserikatkan Allah karena itu mereka pun menyesali perbuatan itu dan berkata: "Sesungguhnya dosa kami sangat besar dan demikian pula kedurhakaan dan keingkaran kami, tidak akan dapat melepaskan dari azab perbuatan ini kecuali rahmat Allah dan ampunan-Nya. Seandainya Tuhan tidak mengasihi kami dengan menerima taubat kami pastilah kami menjadi orang yang merugi di dunia dan di akhirat mendapat azab yang pedih."

150 Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia:` Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? `Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata:` Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim `.(QS. 7:150)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 150
وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (150)
Ayat ini menerangkan sikap Nabi Musa a.s. terhadap perbuatan kaumnya yang telah menyembah anak sapi. Ia sedih karena merasa segala usaha dan perjuangannya yang berat selama ini tidak memperoleh hasil yang diinginkannya. Ia sangat marah kepada saudaranya Harun a.s. yang telah dijadikan sebagai wakilnya untuk memimpin kaumnya sepeninggal ia pergi menemui panggilan Tuhannya ke bukit Sinai, seakan-akan Harun tidak melaksanakan tugasnya, dan membiarkan kaumnya sesat, tidak menegur dan mengambil tindakan sedikit pun terhadap mereka yang ingkar. Musa pun merasa takut kepada Allah dan merasa khawatir akan menerima kemurkaan Allah swt. kepadanya dan kepada kaumnya yang telah menjadi musyrik.
Dalam keadaan sedih, putus asa yang bercampur marah terlontarlah perkataan yang keras yang ditujukan kepada saudaranya Harun dan kaumnya yang menyatakan tugas dan amanat yang diberikannya kepada Harun telah sia-sia, tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dengan susah payah ia telah mengajar dan mendidik kaumnya, sehingga mereka telah beriman kepada Allah dan hanya menyembah kepada-Nya saja. Dalam pada itu ia baru saja menerima wahyu Allah yang berisi petunjuk dan syariat yang akan diajarkan kepada kaumnya. Yang terjadi pada kaumnya adalah berlawanan dengan yang dikehendakinya. Yang diinginkannya ialah agar kaumnya tetap menyembah Allah Yang Maha Esa sepeninggalnya, kemudian ketundukan dan kepatuhan itu akan bertambah, setelah ia dapat mengajarkan wahyu yang baru diterimanya dari Allah swt. itu. Sedang yang terjadi adalah pekerjaan yang paling buruk dan yang paling besar dosanya yaitu memperserikatkan Tuhan.
Selanjutnya Musa berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu sekalian tidak sabar menanti kedatanganku kembali sesudah bermunajat dengan Tuhan, sampai kamu membuat patung dan menyembahnya seperti menyembah Allah, padahal aku hanya terlambat sepuluh malam. Apakah kamu mempunyai prasangka lain terhadapku karena keterlambatanku itu?"
Menurut suatu riwayat, bahwa Samiri pernah berkata kepada Bani Israil sewaktu ia memperlihatkan patung anak sapi yang baru dibuatnya kepada mereka, "Ini adalah tuhanmu dan tuhan Musa, sesungguhnya Musa tidak akan kembali, dan sesungguhnya ia telah mati."
Musa melemparkan Lauh-lauh yang ada di tangannya, lalu memegang ubun-ubun Harun karena ia mengira bahwa Harun tidak berusaha sungguh-sungguh mencegah perbuatan kaumnya menyembah patung anak sapi itu, dan tindakan-tindakan yang telah dilakukan selama ia pergi ke bukit Sinai, atau melaporkan perbuatan kaumnya yang telah sesat itu. Sangkaan Musa kepada Harun ini dilukiskan dalam firman Allah swt. sebagai berikut:

قَالَ يَاهَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا(92)أَلَّا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي
Artinya:
Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat (sehingga) kamu tidak mengikuti aku?" Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?".
(Q.S Taha: 92 dan 93)
Perkataan Musa dijawab oleh Harun: "Wahai anak ibuku, janganlah engkau tergesa-gesa mencela aku, dan jangan pula tergesa-gesa memarahi aku, karena menyangka aku tidak bersungguh-sungguh melaksanakan perintahmu dan tidak menghalangi mereka. Sebenarnya aku telah berusaha menghalangi mereka dari mengerjakan perbuatan sesat itu dan memberi nasihat mereka. Tetapi mereka memandangku orang yang lemah bahkan mereka hampir saja membunuhku. Janganlah engkau bertindak terhadapku dengan suatu tindakan yang menyenangkan musuh, gembira dan tertawa lantaran bencana yang menimpa diriku, janganlah engkau masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan yang berakibat kerugian bagi diriku sendiri, yaitu golongan yang menyembah patung anak sapi, aku sendiri bukanlah termasuk golongan itu."
Sikap Musa dan Harun yang berbeda terhadap perbuatan kaumnya itu menunjukkan pula perbedaan watak kedua orang nabi Allah ini. Musa adalah orang yang keras dan tegas menghadapi sesuatu perbuatan sesat yang dilarang Allah, sedang Harun adalah orang yang lemah-lembut dan tidak mau menggunakan kekerasan dalam menghadapi sesuatu perbuatan sesat.
 
 Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar