Jumat, 30 Maret 2012

AL-A'RAAF 201 - 206

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=7&start=201#Top
 201 Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.(QS. 7:201)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 201

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ (201)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan reaksi orang-orang yang bertakwa bila kedatangan godaan setan. Dan ayat ini memperkuat pula ayat sebelumnya tentang keharusan kita berlindung kepada Allah swt. dari godaan setan.
Sesungguhnya orang yang bertakwa ialah orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, menafkahkan sebagian dari rezekinya. Bila mereka merasa ada was-was atau dorongan dalam dirinya untuk berbuat mungkar, sadarlah mereka bahwa yang demikian itu adalah godaan setan dan segeralah mereka mengucapkan doa isti'azah dan menyerahkan diri kepada Allah agar dipelihara-Nya dari tipu muslihat setan. Maka berkat kesadaran itu melihat jurang kebinasaan dan jaring-jaring setan, lalu segeralah mereka menahan diri dan berhenti agar jangan jatuh ke dalam perangkap setan sedang yang masuk perangkap setan itu hanyalah orang yang alpa kepada Allah dan kurang mawas diri. Senjata yang paling ampuh mengusir setan ialah ingat dan muraqabah kepada Allah swt. di dalam segala keadaan. Ingat selalu kepada Allah itu menanamkan ke dalam jiwa cinta kebenaran dan kebajikan, melemahkan kecenderungan negatif/buruk dalam jiwa. Jiwa yang dipenuhi iman ialah jiwa yang sehat seperti badan yang sehat yang penuh daya kekebalan. Badan yang punya daya kekebalan, badan yang kuat, tidak mudah diserang penyakit. Bakteri-bakteri dan basil-basil penyakit tidak dapat berkembang biak dalam tubuh yang penuh dengan daya kekebalan itu. Demikian pula jiwa orang yang takwa, tidak mudah ditimpa was-was setan. Orang yang bertakwa segera bereaksi terhadap rangsangan setaniah, hayawaniyah yang timbul dalam dirinya. Reaksi itu berupa kesadaran dan ingatan kepada Allah disertai dengan ketajaman penglihatan kepada tipu muslihat setan itu dengan segala akibatnya.
Memelihara jiwa yang sehat dari was-was sama halnya dengan memelihara badan yang sehat, yakni memerlukan perawatan yang terus-menerus agar tetap bersih dan sehat, memerlukan muraqabah yang tetap, ingat kepada Allah swt. dalam segala keadaan. Dengan demikian setan tidak mendapat kesempatan mengganggu diri.


202 Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).(QS. 7:202)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 202

وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ (202)

Allah dalam ayat ini menerangkan bahwa teman-teman setan yakni orang jahil dan kafir membantu setan dalam menyesatkan dan berbuat kerusakan. Sebab orang-orang jahil itu selalu dipengaruhi setan, tidaklah ingat kepada Allah. Jika timbul dalam diri mereka nafsu-nafsu hewani (was-was setan), maka langsung lahir menjadi tindakan dan perbuatan hewani. Tidak ada daya jiwa yang membendung nafsu hewani itu. Karena itu mereka terus-menerus melakukan kerusakan dan bergelimang dalam kesesatan.


203 Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al quran kepada mereka, mereka berkata: `Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?` Katakanlah: `Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.`(QS. 7:203)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 203

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِآيَةٍ قَالُوا لَوْلَا اجْتَبَيْتَهَا قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَى إِلَيَّ مِنْ رَبِّي هَذَا بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (203)

Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan cara khusus dari tingkah laku teman-teman setan dalam usaha mereka menentang Nabi Muhammad saw. Bilamana Nabi Muhammad tidak membawakan kepada mereka ayat Alquran disebabkan keterlambatan turunnya ayat selang beberapa waktu, maka orang-orang musyrikin itu mendesak Nabi Muhammad agar beliau menciptakan sendiri ayat-ayat itu. Desakan mereka itu sebenarnya mengandung arti pengingkaran terhadap Alquran yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw. Sebab mereka memandang Alquran itu ciptaan Nabi Muhammad belaka karena itu bisa dibuat sewaktu-waktu. Maka Allah memerintahkan kepada Nabi untuk menjelaskan kepada mereka bahwa Alquran itu wahyu Allah yang diwahyukan kepadanya. Nabi hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya. Bukan haknya untuk mendesak Allah agar menciptakan sesuatu perkara. Dan dia hanya dapat menunggu segala wahyu yang disampaikan kepadanya, yang akan disampaikan pula kepada umatnya. Jika tidak ada haruslah dia berdiam diri, dan tidak boleh mengubah sendiri Alquran tersebut. Alquran itu adalah kalam Allah, dia mempunyai tiga fungsi bagi orang-orang yang beriman sebagaimana dijelaskan Allah dalam ayat ini.
Pertama:
Sebagai bukti yang nyata dari Allah untuk menunjukkan keesaan-Nya, kenabian Muhammad dan hari kiamat. Siapa yang memperhatikan dan merenungkan isi Alquran, tentulah akan yakin bahwa Alquran itu dari Allah swt.
Kedua:
Petunjuk atau pedoman yang membimbing manusia dalam mencari kebenaran dan jalan yang lurus.
Ketiga:
Sebagai rahmat dalam kehidupan manusia dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman. Alquran memberikan peraturan-peraturan dan ajaran-ajaran yang mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh kaum muslimin untuk kehidupan mereka sehari-hari.
204 Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(QS. 7:204)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 204

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (204)

Kemudian Allah swt. dalam ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman agar mereka memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada Alquran. Hendaklah mereka mendengarkan sebaik-baiknya bilamana Alquran diperdengarkan kepada mereka, baik mengenai bacaan atau pun isinya untuk dipahami, dipetik pelajaran-pelajaran daripadanya dan diamalkan dengan segala penuh konsekuensinya.
Sabda Rasulullah saw.:

من استمع إلى آية من كتاب الله كتبت له حسنة مضاعفة ومن تلاها كانت له نورا يوم القيامة
Artinya:
Barangsiapa mendengarkan (dengan penuh minat) ayat dari Alquran, dituliskan baginya kebaikan yang berlipat ganda dan barang siapa membacanya adalah baginya cahaya di hari kiamat.
(H.R Bukhari dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah)
Hendaklah orang-orang mukmin itu berdiam diri dan bersikap tenang sewaktu Alquran dibacakan sebab di dalam ketenangan itulah mereka dapat merenungkan isinya. Janganlah pikiran mereka melayang-layang sewaktu Alquran diperdengarkan, sehingga tidak dapat memahami ayat-ayat itu dengan baik. Allah swt. akan menganugerahkan rahmat-Nya kepada kaum Muslimin bilamana mereka memenuhi perintah Allah tersebut dan menghayati isi Alquran.
Sehubungan dengan perintah untuk mendengarkan dan berdiam diri dan bersikap tenang sewaktu Alquran dibacakan terdapat beberapa pendapat ulama:
1. Wajib mendengarkan dan bersikap tenang ketika Alquran dibacakan berdasarkan perintah tersebut, baik di dalam salat atau pun di luar salat. Demikianlah pendapat Al-Hasan Al-Basri dan Abu Muslim Al-Asfahani.
2. Wajib mendengarkan dan bersikap tenang, tetapi khusus pada bacaan-bacaan Rasul saw. di zaman beliau, dan bacaan imam dalam salat, serta bacaan khatib dalam khutbah Jumat. Mewajibkan mendengarkan dan bersikap tenang ketika Alquran dibacakan di luar salat dan khutbah dipandang sangat menyulitkan, sebab hal itu dapat menghentikan macam-macam kegiatan lainnya.
Adapun pembacaan Alquran pada resepsi atau pertemuan pada umumnya, bila tidak mendengarkan dan juga sambil bercakap-cakap hukumnya haram, terutama membuat suara bising dekat si pembaca.


205 Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(QS. 7:205)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 205

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ (205)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya beserta umatnya untuk menyebut nama Allah swt. atau berzikir kepadanya. Baik zikir itu dengan membaca Alquran, tasbih, tahlil, doa atau pun pujian lain-lainnya menurut tuntunan agama. Kemudian Allah swt. menggariskan bagi kita adab dan cara berzikir atau menyebut nama Allah itu sebagai berikut:
1. Zikir itu dilakukan dalam hati karena zikir dalam hati menunjukkan keikhlasan, jauh daripada riya dan dekat pada perkenan Allah swt.
2. Zikir itu dilakukan dengan penuh kerendahan hati (tawaduk), merasa hina di hadapan keagungan Allah swt. disertai dengan pengakuan akan keterbatasan kemampuan diri sendiri.
3. Zikir itu didorong oleh rasa takut terhadap kekuasaan Allah swt. dan kebesaran-Nya, takut kepada azab dan hukumannya karena kurangnya amal ibadah untuk lebih merendahkan hati dl hadapan Allah swt.
4. Zikir dibaca dengan suara lembut, tidak keras karena membaca dengan suara yang lembut itu lebih mudah untuk tafakkur dengan baik. Diriwayatkan bahwa dalam suatu perjalanan, Nabi mendengar orang berdoa dengan suara keras, berkatalah beliau kepada mereka itu:

يا أيها الناس أربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا إن الذين تدعونه سميع قريب أقرب إلى أحدكم
Artinya:
"Hai manusia kasihanilah dirimu, sesungguhnya kamu tidak menyeru kepada yang tuli atau yang jauh daripadamu. Sesungguhnya yang kamu seru itu adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Dia lebih dekat kepadamu dari leher (unta) kendaraanmu."
(H.R Ibnu Majah)
5. Zikir itu dengan lidah, tidak hanya dengan hati saja, lidah mengucapkan dan hati mengikutinya.


206 Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka bertasbih memuji-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.(QS. 7:206)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 206

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ (206)

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa malaikat yang kedudukannya mulia di sisi Tuhan tiadalah merasa berat dan enggan menyembah Allah swt. Maka hendaklah manusia mencontoh ketaatan malaikat itu kepada Tuhan. Para malaikat itu selalu mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya, dan dari menyembah berhala-berhala. Dan para malaikat sujud dan salat kepada Allah swt.
Ayat ini termasuk ayat sajadah yang pertama dalam Alquran. Disunatkan bagi orang Islam melakukan sujud setelah membaca atau mendengar ayat ini dibacakan dengan niat mencontoh ketaatan para malaikat kepada Allah swt. Abu Darda' meriwayatkan sebagai berikut:

أنه صلى الله عليه وسلم عدها في سجدات القرآن
Artinya:
Bahwasanya Rasulullah saw. memandang ayat ini salah satu ayat sajadah dalam Alquran.
(H.R Ibnu Majah)

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar