Jumat, 30 Maret 2012

AL-A'RAAF 131 - 140

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
121 Mereka berkata:` Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,(QS. 7:121)
122 (yaitu) Tuhan Musa dan Harun.`(QS. 7:122)
  Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...
123 Firaun berkata:` Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini);(QS. 7:123)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 123
قَالَ فِرْعَوْنُ آمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّ هَذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (123)
Dalam ayat ini Allah swt. menceritakan bahwa Firaun dengan amarahnya yang amat sangat berkata kepada ahli sihir yang telah menyatakan iman kepada Nabi Musa a.s., "Apakah kamu telah beriman kepadanya sebelum aku memberi izin?". Maksudnya mengapa mereka menyalakan iman kepada Musa dan kepada agama yang dibawanya yang berdasarkan kepercayaan tauhid kepada Allah swt, padahal ia belum memberi izin atau memerintahkan kepada mereka. Mengapa mereka tunduk menjadi pengikut Nabi Musa sebelum meminta izin kepada Firaun lebih dahulu.
Ucapan Firaun ini menunjukkan bahwa ia masih belum menyadari, bahwa apa yang diperlihatkan Nabi Musa di hadapannya adalah mukjizat pemberian Allah yang takkan dikalahkan oleh siapapun jua. Ia juga belum menyadari bahwa orang-orang yang menyaksikan kemenangan Nabi Musa itu sudah tidak mempunyai rasa penghargaan lagi terhadap dirinya dan bahwa dia tidak lagi merupakan orang yang dipertuan dan dipertuhan. Di samping itu ia menuduh ahli-ahli sihir itu sudah berkomplot dengan Nabi Musa lebih dahulu, sehingga kekalahan mereka ketika berhadapan dengan Nabi Musa direncanakan sejak sebelumnya. Sebab itu ia melanjutkan ancamannya terhadap mereka dengan ucapannya sebagai berikut, "Sesungguhnya perbuatan ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui akibat dan perbuatan ini.
Dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa Firaun menuduh Nabi Musa sebagai guru sihir yang telah mengajarkan sihirnya kepada para ahli-ahli sihir tersebut, untuk bersama-sama memperdayakan Firaun untuk mengusirnya dan para pengikutnya dari negeri Mesir. agar mereka kemudian dapat memegang kekuasaan di negeri Mesir itu dan Firaunpun mengatakan:

إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ
Artinya:
Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang telah mengajarkan sihir kepadamu.
(Q.S Taha: 71)

124 demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.`(QS. 7:124)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 124
لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ (124)
Dalam ayat ini diceritakan bahwa Firaun melanjutkan ancamannya kepada mereka, "Demi sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu secara bersilang, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya".
Demikianlah Firaun memandang para ahli sihir itu telah bersalah, akibat mereka telah beriman kepada Allah swt. tanpa meminta izinnya lebih dahulu. Oleh sebab itu, ia merasa berhak dan berkuasa untuk menjatuhkan hukuman yang berat kepada mereka, ialah dengan memotong tangan dan kaki kiri atau sebaliknya. Sesudah itu masing-masing mereka akan disalibnya. Hukuman tersebut dimaksudkan juga untuk orang-orang lain yang berniat pula untuk melakukan tipu daya semacam itu terhadapnya atau bermaksud untuk memberontak dan membebaskan diri dari kekuasaannya.
Firaun sangat khawatir kalau rakyatnya, bangsa Mesir mengikuti pula jejak para ahli sihir itu untuk beriman kepada Musa a.s. karena hal itu akan mengakibatkan keruntuhan kerajaan dan kekuasaannya sebagai tuhan bagi rakyatnya yang selama ini telah dipaksa untuk menyembahnya sebagai Tuhan.
Di samping itu, ia mencoba ia mencoba pula untuk berbuat seolah-olah ia membela kepentingan rakyatnya yaitu memelihara kemerdekaan mereka serta melindungi agama mereka. Oleh sebab itu ia mengatakan bahwa para ahli sihir telah berkomplot dengan Musa untuk merebut kekuasaan Mesir dan negeri mereka sendiri.
Demikianlah umumnya sikap penguasa yang zalim dan angkara murka. Ia sangat khawatir apabila rakyatnya memalingkan muka kepada pemimpin yang lain. Namun bangsa yang tahu harga diri dan ingin memelihara hak-hak azasinya, pasti akan bersatu padu menentang kekuasaan yang zalim itu, betapapun hebatnya

125 Ahli-ahli sihir itu menjawab:` Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali.(QS. 7:125)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 125
قَالُوا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ (125)
Dalam ayat ini Allah swt. menceritakan bahwa para ahli sihir sedikitpun tidak merasa gentar menghadapi ancaman sihir Firaun kepada mereka. Bahkan dengan mantap dengan penuh keyakinan, mereka berkata kepada Firaun, "Sesungguhnya hanya kepada Tuhan kamilah kami akan kembali".
Ucapan mereka ini menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak peduli terhadap ancaman Firaun kepada mereka. Andaikan Firaun membunuh mereka, maka hal itu akan memberikan kemungkinan bagi mereka untuk segera bertemu dengan Tuhan serta mendapatkan keampunan dan rahmat-Nya yang sangat mereka dambakan.
Atau dapat pula diartikan, bahwa mereka itu yakin, baik Firaun dan mereka semuanya akan kembali kepada Tuhan. Andaikan Firaun membunuh mereka, namun sesudah itu, Firaun tidak akan hidup selama-lamanya di dunia ini. Dia akhirnya akan kembali kepada Tuhan Semesta alam, sehingga Tuhan akan mengadili antara mereka dan Firaun.
Dengan pengertian yang terakhir ini, dapat dipahami, bahwa ucapan mereka mengandung sindiran yang tajam, bahwa dia bukan Tuhan seperti yang diakuinya selama ini, bahkan di balik kekuasaannya, ada kekuasaan yang lebih tinggi. Dan mereka lebih mengutamakan rahmat dan rida Allah dari pada memuaskan hawa nafsu keduniawian di samping Firaun dan para pembesarnya.
Dalam kisah yang terdapat dalam surah Asy Syu'ara, Allah menyebutkan ucapan para ahli sihir tersebut sebagai berikut:

قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
Mereka berkata "Tidak ada kemudaratanpun (bagi kami) sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama kali beriman".
(Q.S Asy Syu'ara: 50-51)

126 Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami `. (Mereka berdoa):` Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada Mu) `.(QS. 7:126)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 126
وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (126)
Dalam ayat ini Allah swt. menceritakan ucapan selanjutnya dari para ahli sihir kepada Firaun. Mereka menyingkapkan kejahatan Firaun terhadap mereka, yaitu bahwa Firaun ingin membalas dendam kepada mereka dengan menyiksa mereka secara kejam. Dan semuanya itu hanyalah karena mereka telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan ketika ayat-ayat tersebut datang kepada mereka.
Ucapan mereka ini mengandung arti bahwa Firaun tidak mengharapkan dari mereka akan meninggalkan iman kepada Allah swt. dan ancaman yang bagaimanapun yang dihadapi mereka tidak akan mempengaruhi mereka, karena keimanan kepada Allah swt. adalah suatu yang amat berharga dan sesuai dengan fitrah manusia yang ash dan menjadi pokok bagi kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat kelak.
Firaun mencela para ahli sihir sebab mereka telah sujud dan beriman kepada Allah swt. tanpa minta izin terlebih dahulu kepada Firaun. Dan di samping itu, Firaun telah menuduh mereka berkomplot dengan Nabi Musa a.s. untuk merebut kekuasaan dari tangannya dan untuk mengusir bangsa Mesir dari tanah air mereka. Akhirnya Firaun mengancam untuk memotong tangan dan kaki mereka, ditambah dengan siksaan berupa penyaliban. Semua itu pada hakikatnya telah merupakan pembalasan dendam dengan kata-kata dari Firaun terhadap mereka. Sesudah itu Firaun juga berusaha untuk melakukan balas dendam dengan perbuatan mereka dari siapa saja yang beriman kepada Allah memenuhi seruan Nabi Musa a.s. Akan tetapi balas dendam dengan perbuatan ini, biarpun telah dilaksanakan oleh Firaun akan tetapi tidak mendatangkan hasil apapun baginya. Bahkan sebaliknya, dia bersama para pembesarnya akhirnya menemui nasib yang amat celaka.
Dalam ayat lain disebutkan firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun sebagai berikut:

أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ
Artinya:
Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.
(Q.S Al Qasas: 35)
Selanjutnya Allah swt. menceritakan mengenai para ahli sihir tersebut, bahwa setelah mereka memberikan jawaban yang tegas seperti di atas, mereka lalu berdoa ke hadirat Allah swt, semoga mereka dilimpahi kesabaran dan apabila Allah mewafatkan mereka hendaklah dalam keadaan mereka berserah diri kepada-Nya. Doa mereka kepada Allah swt. agar dilimpahi kesabaran menunjukkan betapa pentingnya kesabaran dalam setiap perjuangan, terutama perjuangan melawan kelaliman.
Kesabaran tidak hanya berarti kemampuan menahan diri dari kemarahan, akan tetapi juga berarti mawas diri, mengendalikan hawa nafsu, serta tangguh menghadapi segala rintangan dan .penderitaan.
Orang yang sabar, tidak akan membalas dendam, walaupun ia mampu untuk melakukannya. Orang yang sabar senantiasa dapat memelihara pertimbangan akal yang sehat, sehingga ia tidak akan terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang dapat merugikan dirinya dan perjuangan umatnya.
Jalan untuk mencapai kesabaran ialah iman yang kokoh kepada Allah dan hari akhirat. Hal ini telah dibuktikan oleh kenyataan sejarah umat manusia, yaitu bahwa umat yang kuat imannya adalah merupakan umat yang paling sabar dan tangguh dalam perjuangan dan mempunyai keberanian yang tinggi. Karena kesabaran serta keberanian itu, timbullah pikiran dan usaha-usaha pada sementara pimpinan angkatan perang pada beberapa negara., untuk menggalakkan pendidikan agama dan rawatan rohani bagi para prajurit dan perwira angkatan perang, agar mereka memiliki iman yang kokoh yang akan membuahkan sifat kesabaran dan keberanian.
Dalam pada itu, Allah swt. berulang kali dalam firman-Nya menjanjikan pertolongan-Nya bagi orang-orang yang sabar dan ia memberikan petunjuk agar manusia senantiasa bersabar dan menganjurkan orang lain untuk bersabar.
Allah berfirman:
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Artinya
(Yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.
(Q.S An Nahl: 42)
Firman-Nya lagi:

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
(Q.S Al 'Asr: 3)
Ajaran tentang kesabaran ini sangat dipentingkan agama Islam, sehingga dalam Alquran terdapat sekitar 100 kali disebutkan, baik berupa perintah tentang bersabar, maupun berupa pujian bagi orang-orang yang bersabar, ataupun janji kemenangan, keberuntungan dan pertolongan Allah bagi orang orang yang bersabar. Sering kali kata-kata sabar itu digandengkan dengan kata-kata iman, takwa, tawakal, kebenaran, perjuangan, kekuatan tekad dan sebagainya.
Dalam hadis-hadis Rasulullahpun banyak terdapat ajaran tentang kesabaran mengenai hubungan antara kesabaran dan keberanian beliau bersabda:

ليس الشديد بالصرعة وإنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب
Artinya:
Orang yang kuat bukanlah orang yang dapat membanting orang, tetapi orang kuat adalah orang yang sanggup menguasai dirinya ketika dia sedang marah.
(H.R Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra.)
Orang yang sabar senantiasa tenang dan mempunyai pikiran terang, sehingga segala ucapan dan tindak tanduknya dapat dikendalikan dengan baik dan pendiriannya tidak tergoyahkan oleh ancaman dan bujukan bagaimanapun juga. Oleh sebab itu, dalam suatu hadis yang lain Rasulullah saw bersabda, "As Sabru diya'un", Artinya, "Kesabaran itu adalah sinar yang terang". Sebaliknya orang yang tidak sabar tentu akan kehilangan akal sehat serta mudah dipengaruhi setan, sehingga ucapan dan tindakannya tidak dapat dikendalikannya. Hal ini akan membawa kepada akibat yang jelek dan akan menimbulkan kerugian dan penyesalan. Oleh sebab itu Rasulullah saw. memperingatkan dengan sabda beliau, "Al ajalatu minasy syaitan". Artinya, "Sifat tergesa-gesa itu perbuatan setan".
Karena pentingnya sifat kesabaran itu, maka tidaklah mengherankan mengapa orang-orang yang telah beriman kepada Nabi Musa a.s. dalam kisah tersebut memohon kepada Allah agar mereka dilimpahi kesabaran yang banyak, sehingga iman mereka tidak akan digoyahkan oleh ancaman Firaun dan pembesar-pembesarnya.

127 Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Firaun (kepada Firaun):` Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu? `. Firaun menjawab:` Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka `.(QS. 7:127)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 127
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ (127)
Allah swt. menceritakan dalam ayat ini, bahwa orang-orang terkemuka dari kaum Firaun berkata kepadanya, "Hai Firaun apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya berbuat kerusakan di negeri ini? serta meninggalkan kamu dan Tuhan-tuhanmu?".
Fitnahan ini, untuk kesekian kalinya memperlihatkan kecemasan mereka akan kehilangan kekuasaan, pengaruh dan harta benda, karena mereka telah melihat gejala-gejala bahwa rakyat telah mulai memalingkan muka dari Firaun kepada Nabi Musa a.s. setelah menyaksikan kemenangan mukjizatnya. Apalagi setelah melihat para ahli sihir sudah bersujud menyatakan iman dan tidak memperdulikan lagi ancaman Firaun terhadap mereka.
Dalam melancarkan fitnah ini, para pembesar ini menggunakan unsur politik dan unsur agama. Mereka menuduh bahwa Musa akan meruntuhkan kedudukan Firaun sebagai penguasa tunggal di Mesir. Di samping itu, kedudukan Firaun sebagai orang yang dipertuhan selama ini dengan sendirinya akan dilenyapkan pula. Lebih dari itu, tuhan-tuhan yang menjadi sesembahan bangsa Mesir di masa itupun akan ditinggalkan pula, misalnya Tuhan "Osiris" yang menurut anggapan mereka rohnya menjelma pada seekor sapi yang mereka sebut "Apis". Selain itu, mereka juga menyembah "segala macam hewan". Demikian pula mereka menyembah kegelapan serta patung Akron yang mereka anggap sebagai pengusir lalat.
Pendek kata rakyat Firaun di masa itu telah berada di puncak kesesatan, karena mereka menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang serta manusia dan hewan, baik hewan yang besar maupun serangga yang paling kecil.
Firaun sendiri, mula-mula adalah penganut kepercayaan penyembah binatang, kemudian ditinggalkannya kepercayaan tersebut, lalu mengaku menjadi tuhan dan menyuruh rakyatnya untuk menyembah kepadanya. ini setelah Ia melihat dirinya mempunyai kekuasaan yang begitu besar di kalangan rakyatnya.
Fitnah ini telah berhasil mengenai sasarannya, yaitu mempengaruhi Firaun yang telah kehilangan keseimbangan, sehingga membangkitkan emosi dan amarahnya. Oleh sebab itu ia menjawab kepada mereka, "Baiklah, akan kita bunuh anak-anak laki-laki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan kita berkuasa penuh di atas mereka.
Maksudnya, bahwa dalam rangka untuk mencegah berkuasanya Nabi Musa a.s. di Mesir, maka Firaun akan melakukan berbagai tindakan, antara lain ialah membunuh setiap anak laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan-perempuan Bani Israel, yaitu kaum yang sebangsa dengan Nabi Musa yang berdiam di Mesir waktu itu. Sedang anak-anak perempuan yang mereka lahirkan akan dibiarkan hidup untuk kemudian dapat dimanfaatkan oleh Firaun dan para pembesarnya sebagai budak. Dengan tindakan ini Firaun mengharapkan dapat membendung tumbuhnya kekuasaan Nabi Musa di Mesir, karena ia akan tetap mempunyai tenaga kaum lelaki yang lebih banyak dan kekuasaan yang lebih besar, sedang sebaliknya, Nabi Musa dan Bani Israel umumnya semakin kekurangan tenaga kaum lekaki, sehingga mereka tidak akan menentang kekuasaan Firaun dan membebaskan diri dari rantai perbudakannya.
Rencana jahat ini benar-benar dilaksanakan oleh Firaun dan para pembesarnya, sehingga Bani Israel yang berdiam di Mesir pada masa itu sangat menderita, lahir dan batin.

128 Musa berkata kepada kaumnya:` Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa `.(QS. 7:128)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 128
قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ (128)
Dapat dimengerti, bahwa mendengar ancaman Firaun ini dapat kita melihat kekejaman Firaun sesudah itu, maka Bani Israel yang berdiam di Mesir pada masa tersebut merasa takut dan amat gelisah. Mereka diperlakukan sebagai budak. Di samping itu, setiap anak lelaki yang mereka lahirkan dibunuh oleh kaki tangan Firaun. Oleh sebab itu Nabi Musa a.s. berkata kepada mereka, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, dipusakakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan kesudahan yang balk adalah untuk orang-orang yang bertakwa".
Nabi Musa a.s. menghibur dan menenteramkan kaumnya dengan mengingatkan kepada mereka kekuasaan Allah swt, bahwa Dialah yang memiliki dan menguasai bumi dan segala apa yang terjadi di bumi ini adalah sesuai dengan sunahnya, yaitu setiap umat yang ingkar dan zalim pasti menemui kehancuran dan setiap umat yang beriman dan bersabar tentu akan memperoleh pertolongan-Nya, sehingga memperoleh kemenangan dan kesudahan yang baik. Sebab itu hendaklah mereka memohon pertolongan kepada-Nya, disertai dengan kesabaran, keimanan, persatuan dan keberanian dalam membela kebenaran dan keadilan.

129 Kaum Musa berkata:` Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: `Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi- (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.(QS. 7:129)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 129
قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (129)
Mereka mengeluh kepada Musa a.s. bahwa nasib mereka sama saja, baik sebelum kedatangan Musa a.s. untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan mereka dari perbudakan Firaun sesudahnya, mereka merasa tidak mendapat faedah dari kedatangan Nabi Musa itu. Dahulu mereka diazab dan diperbudak oleh Firaun, anak-anak mereka dibunuh, mereka disuruh kerja paksa, sekarangpun demikian. Keluhan ini menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan daya juang dan tidak adanya kesabaran pada mereka.
Mendengar keluhan ini, maka Nabi Musa berkata, "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh kamu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu", maksudnya, biarpun yang terjadi demikian akan tetapi adalah menjadi harapan bahwa Allah akan membinasakan musuh-musuhmu dan menjadikan kamu berkuasa di bagian bumi yang telah dijanjikan Tuhanmu, yaitu sekarang Firaun melarang kamu pergi ke sana. Maka Tuhan akan melihat bagaimana tindakan kamu nanti bila kamu telah berkuasa.
Ucapan Nabi Musa ini selain menimbulkan harapan tentang pertolongan Allah serta rahmat-Nya untuk membebaskan mereka dari kekejaman Firaun serta menjadikan Bani Israel sebagai penguasa di belakang hari di bagian bumi yang telah dijanjikan Tuhan kepada mereka, juga mengandung suatu peringatan yang sangat penting bagi kaumnya, yaitu apabila di belakang hari mereka menjadi penguasa janganlah berbuat sewenang-wenang seperti Firaun dan para pembesarnya, karena Allah senantiasa mengawasi perbuatan dan tindak tanduk dari setiap makhluk-Nya. Oleh sebab itu, apabila mereka berkuasa dan melakukan kelaliman pula, pastilah Allah mendatangkan azab kepada mereka.
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat berharga tentang sikap manusia pada waktu ia sedang menghadapi penderitaan tersebut atau sebelum mereka memperoleh rahmat Allah dan pada waktu setelah memperoleh rahmat tersebut. Sikap yang amat tercela ialah berkeluh-kesah dan memohon pertolongan Allah pada waktu memperoleh kesusahan dan kemudian mengingkari atau melupakan rahmat Allah setelah memperolehnya.
Sedang sikap yang seharusnya ialah sabar dan tawakal serta memohon pertolongan Allah pada waktu menghadapi kesukaran dan mensyukuri rahmat Allah setelah diperoleh kebahagiaan. Mensyukuri rahmat Allah, tidak hanya dengan ucapan, melainkan yang terpenting ialah melaksanakan dengan perbuatan. Sebab itu, apabila seseorang beroleh kekuasaan, kemudian kekuasaan-Nya digunakan untuk berbuat kelaliman atau memperkaya diri sendiri atas kerugian orang lain, maka ini berarti bahwa ia tidak mensyukuri rahmat Allah yang diperolehnya, yaitu pangkat dan kekuasaan karenanya, sepatutnyalah bila Allah menimpakan azab kepadanya.
Di dalam ucapan kepada kaumnya, Nabi Musa a.s. memakai ungkapan "mudah mudahan". Ia memakai ungkapan tersebut untuk tidak memastikan datangnya pertolongan dan rahmat Allah kepada mereka. Sebab andai kata ia menggunakan ungkapan yang memastikan, boleh jadi umatnya akan mengabaikan kewajiban kewajiban yang perlu mereka lakukan untuk memperoleh pertolongan Allah, karena pertolongan Allah kepada hamba-Nya tidaklah diberikan begitu saja, melainkan tergantung kepada usaha-usaha yang dilakukan umat yang bersangkutan, misalnya: kesungguhan, disiplin, persatuan dan sebagainya.

130 Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.(QS. 7:130)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 130
وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (130)
Pada ayat yang lalu telah disebutkan bahwa Nabi Musa a.s. telah mengharapkan bagi kaumnya semoga Allah swt. membinasakan musuh-musuh mereka dan menjadikan mereka khalifah di bumi-Nya, dalam ayat ini Allah swt. menyebutkan taraf-taraf permulaan bagi pembinasaan terhadap Firaun dan para pengikut yang setia kepadanya, sebagai akibat dari kekafiran dan pendustaan mereka terhadap utusan Allah. Azab yang disebutkan dalam ayat ayat ini merupakan pendahuluan, sebelum datangnya azab terakhir yang menyebabkan kehancuran total bagi mereka.
Musim kemarau yang panjang, yang mengakibatkan timbulnya kesulitan hidup bagi mereka, seharusnya menimbulkan keinsafan dalam hati mereka. Kekuatan dan kekuasaan yang mereka miliki selama ini bukanlah merupakan kekuatan dan kekuasaan tertinggi, masih ada kekuatan dan kekuasaan Allah swt. Yang Kuasa mendatangkan azab yang tidak dapat mereka atasi. Jika ada keinsafan semacam itu dalam hati mereka tentulah mereka akan memperoleh perubahan dalam sikap dan perbuatan, terutama kepada Bani Israel. Di samping itu pastilah mereka menerima seruan Nabi Musa serta meninggalkan keingkaran mereka terhadap Allah swt.
Azab yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya senantiasa mengandung pelajaran dan pendidikan. Sebab, pada saat-saat manusia menghadapi kesulitan dan kesukaran hidup, hatinya akan menjadi lembut, akan menghadapkan wajahnya kepada Allan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk memohon pertolongan dan belas kasih-Nya. Di samping itu, Ia akan berusaha untuk memperbaiki tingkah lakunya dengan melakukan perbuatan yang diridai Allah.
Akan tetapi, bila kesulitan dan kesukaran itu tidak merubah sikap dan tingkah lakunya, tetap ingkar kepada Allah serta senantiasa berbuat kemaksiatan, maka teranglah bahwa mereka benar-benar orang yang merugi dan amat sesat karena kesulitan yang mereka hadapi tidak menimbulkan keinsyafan bagi mereka, bahkan sebaliknya menambah keingkaran dan kedurhakaan mereka terhadap Allah swt. Demikianlah keadaan Firaun dan para pengikutnya.

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar