Sabtu, 31 Maret 2012

AL-A'RAAF 91 - 100

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
90 Pemuka-pemuka kaum Syuaib yang kafir berkata (kepada sesamanya):` Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syuaib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi `.(QS. 7:90)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 90
وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ (90)
Orang-orang yang kafir di antara kaum Nabi Syuaib, yaitu pemuka-pemuka mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mendustakan Rasul-Nya sudah keterlaluan dalam berbuat kezaliman, antara lain dengan menghalang-halangi orang lain untuk beriman kepada Nabi Syuaib dan agama yang dibawanya, mereka itu berkata: "Jika kamu beriman dan mengikuti seruan Syuaib yang mengajak kepada agama tauhid, niscaya kamu akan merugi akibat perbuatan itu dan karena meninggalkan agama nenek moyang yang kamu anut selama ini. Kamu akan kehilangan kemuliaan dan kehormatan, karena dengan mengikuti Syuaib itu kamu akan menganggap bahwa nenek moyang kamu adalah orang-orang yang sesat dan akan diazab di sisi Allah swt. Di samping itu, kamu juga akan kehilangan harta benda dan keuntungan yang berlipat ganda dalam perdagangan karena agama Syuaib tidak memperbolehkan melakukan penipuan dalam jual beli, terutama mengenai takaran dan timbangan."

Pemuka-pemuka kaum Nabi Syuaib itu bersikap angkuh dan kufur. Sikap angkuh itu timbul karena mereka berkuasa di negeri itu, dan sifat inilah yang mendorong mereka untuk mengeluarkan ancaman kepada Nabi Syuaib dan para pengikutnya untuk mengusir mereka dari Madyan. Sedang sifat kufur mereka telah menyebabkan mereka itu bertindak untuk menghalang-halangi orang lain untuk menganut agama Allah yang dibawa oleh Nabi Syuaib. Teranglah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang sesat dan berusaha untuk menyesatkan orang lain.

91 Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.(QS. 7:91)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 91
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (91)
Keingkaran kepada Allah swt. serta perbuatan menghalangi orang lain untuk menganut agama Allah adalah kejahatan yang amat besar. Dan orang-orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman yang setimpal. Oleh sebab itu, Allah swt. telah menimpakan kepada mereka azab yang berat yaitu gempa yang dahsyat yang membinasakan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka seolah-olah mereka tidak pernah ada di negeri itu.
Kisah Nabi Syuaib ini selain kita dapati dalam surah Al-A`raf juga kita dapati dalam surah Hud. 329) Akan tetapi ada perbedaan yang menyebutkan nama azab yang ditimpakan kepada kaumnya yang kafir itu. Dalam surah Al-A`raf ayat 91 disebutkan, bahwa azab tersebut adalah berupa "Ar-Rajfah", yaitu gempa yang dahsyat. Sedangkan dalam surah Hud ayat 94 disebutkan, bahwa azab tersebut adalah berupa "Ash-Shaihatu" 330), yaitu suara keras yang mengguntur. Namun kedua ayat itu tidaklah berlawanan, karena kedua macam azab ini dapat terjadi dalam satu rentetan dan menimbulkan akibat yang sama, yaitu membinasakan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.
Kisah Nabi Syuaib juga terdapat dalam surah Asy-Syu'ara, dan di sini disebutkan bahwa Nabi Syuaib diutus Allah kepada penduduk negeri Aikah. Sedangkan dalam surah Al-A`raf disebutkan bahwa Nabi Syuaib adalah saudara sebangsa dari kaum Madyan, yaitu penduduk negeri Madyan. 331)
Menurut keterangan Ishak Ibnu Basyar yang diperolehnya dari Ibnu Asakir, mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah memberikan penjelasan sebagai berikut: "Penduduk Aikah itu adalah orang-orang yang mendiami daerah rawa-rawa yang terletak antara pantai Laut Merah dan negeri Madyan." Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa Nabi Syuaib telah diutus Allah kepada kaumnya yang telah mempunyai hubungan dengan mereka sampai ke pantai Laut Merah. Dan kedua kaum itu sama halnya, baik mengenai kekafiran mereka maupun mengenai perbuatan-perbuatan maksiat yang mereka lakukan, misalnya ketidakjujuran mereka dalam menimbang dan menakar ketika berjual beli. Nabi Syuaib menyiarkan agama kepada mereka semua. Azab yang ditimpakan Allah telah mengenai kedua golongan itu dalam waktu yang sama, atau dalam waktu yang berdekatan jaraknya, maka azab yang ditimpakan kepada penduduk Madyan adalah berupa "Ar-Rajfah", yaitu suara gempa yang amat dahsyat yang disertai suara gemuruh yang amat keras. Sedang azab yang ditimpakan kepada penduduk Aikah adalah berwujud angin samun dan udara yang sangat panas yang berakhir dengan datangnya gumpalan awan. Mereka lalu berkumpul ke tempat yang teduh untuk mendapatkan udara yang sejuk, akan tetapi tiba-tiba awan itu ditimpakan kepada mereka sehingga semuanya mati terhimpit karena tidak dapat bernafas. Akan tetapi di samping itu, sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa azab yang ditimpakan kepada kedua golongan itu adalah sama dan serupa. 332)

92 (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syuaib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syuaib mereka itulah orang-orang yang merugi.(QS. 7:92)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 92
الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ (92)
Pada ayat-ayat yang terdahulu telah disebutkan bahwa pemuka-pemuka kaum Nabi Syuaib pernah mengeluarkan ancaman kepadanya, yaitu untuk mengusirnya bersama para pengikutnya dari negeri Madyan apabila mereka tidak mau kembali kepada agama nenek moyang mereka. Dan di samping itu, kepada khalayak ramai pun mereka mengatakan bahwa siapa yang mengikuti Nabi Syuaib pasti akan merugi. Mungkin timbul pertanyaan dalam pikiran kita: "Lalu bagaimana kesudahannya kedua ancaman itu?" Maka dalam ayat ini Allah swt. memberikan penjelasan sebagai jawabannya. Mengenai yang pertama, Allah swt. menegaskan sebaliknyalah yang terjadi yaitu bahwa orang-orang yang telah mengancam untuk mengusir Nabi Syuaib dari Madyan, justru merekalah yang rusak binasa dan hilang lenyap, sehingga seakan-akan mereka tak pernah hidup dan mendiami negeri ini. Mengenai yang kedua, juga demikian yaitu bahwa orang-orang yang mendustakan Nabi Syuaib dan mengatakan bahwa siapa yang mengikuti agamanya pasti akan merugi, justru merekalah yang benar-benar merugi sedang orang-orang yang beriman dan mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Syuaib adalah selamat dan memperoleh rida Allah swt.
Dari ayat ini dapat diambil pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa orang yang sangat menginginkan untuk tetap tinggal di negeri mereka dengan hidup senang dan berbuat sewenang-wenang terhadap pihak-pihak yang mencintai dan memegang teguh kebenaran, niscaya akan menemui akibat yang bertentangan dengan harapan mereka, yaitu kesirnaan yang abadi dari negeri mereka itu. Demikian pula orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan jalan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil niscaya akan menemui nasib yang amat malang, yaitu kehilangan harta benda dan laba untuk selama-lamanya.

93 Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata:` Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir? `(QS. 7:93)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 93
فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ فَكَيْفَ آسَى عَلَى قَوْمٍ كَافِرِينَ (93)
Ketika azab itu menimpa kaum Nabi Syuaib, lalu dia pergi meninggalkan mereka, dan dengan penuh kesedihan ia berkata: "Wahai kaumku, aku telah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu, dan aku telah melaksanakan tugasku terhadapmu, dan aku telah memberikan nasihat yang cukup kepadamu, namun kamu membelakangi kesemuanya itu, maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?"
Nabi Syuaib diutus Allah untuk menuntun kaumnya kepada agama yang benar untuk mencapai rida Allah serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk itu Nabi Syuaib telah mencurahkan segenap tenaganya. Tetapi mereka telah memilih jalan kesesatan. Mereka bahkan mendustakannya, serta mengancam untuk mengusirnya dari tanah airnya. Mereka telah melemparkan diri mereka sendiri ke jurang kebinasaan, karena kekafiran mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

94 Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.(QS. 7:94)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 94
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (94)
Allah swt. menjelaskan dalam ayat ini bahwa salah satu dari sunah-Nya yang berlaku ialah bahwa bila Dia mengutus rasul-Nya kepada suatu umat kemudian umat tersebut mendustai rasulnya itu, maka Allah menimpakan cobaan kepada umat tersebut berupa kesempitan dan penderitaan. Cobaan tersebut dimaksudkan untuk menginsyafkan mereka sehingga menjadi umat yang tunduk dan rendah hati serta dengan ikhlas berdoa kehadirat Allah swt. agar mereka dilepaskan dari azab tersebut.
Para ahli dalam ilmu jiwa dan ilmu pendidikan mengatakan, bahwa kemewahan dan kesenangan hidup menyebabkan manusia lupa kepada agama Tuhannya. Akan tetapi, bila suatu ketika ia ditimpa kesusahan dan kesempitan, maka hal itu akan menimbulkan keinsyafan dalam hatinya, lalu kembali ke jalan yang ditunjukkan agamanya, dan berusaha untuk memperbaiki dirinya.
Seseorang barulah dapat merasakan nikmat kekayaan bila suatu ketika ia pernah kehilangan kekayaan itu. Dan ia baru mengerti nikmat kesehatan bila suatu ketika ia pernah merasa kehilangan kesehatannya itu. Demikian pula halnya dengan nikmat-nikmat lainnya yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia.
Dengan demikian jelaslah, bahwa apabila suatu ketika Allah swt. mencabut nikmat-Nya dari seseorang atau sesuatu bangsa, maka hal itu akan memberikan keinsyafan kepadanya serta mengembalikannya kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah swt. dan mempertinggi keyakinannya tentang sifat-sifat kekuasaan, keadilan dan kasih sayang kepada makhluknya. Oleh sebab itu mereka akan kembali merendahkan diri kepada Allah dan tunduk kepada peraturan-Nya, serta mengharapkan belas kasih-Nya untuk melepaskan mereka dari kesusahan yang menimpanya.

95 Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata:` Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan `, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.(QS. 7:95)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 95
ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (95)
Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan, bahwa setelah umat tadi ditimpa kesusahan dan kesulitan hidup, dan mereka berusaha memperbaiki diri serta berdoa kepada Allah, maka Allah swt. lalu memberikan kepada mereka nikmat dan kelapangan hidup sehingga mereka memperoleh kemakmuran dan harta benda yang cukup. Kemakmuran dan kecukupan harta benda ini menimbulkan pula kesuburan bagi mereka sehingga keturunan mereka berkembang. Harta benda yang cukup dan keturunan yang banyak adalah merupakan puncak kenikmatan bagi manusia.
Orang-orang yang beriman, jika memperoleh nikmat dari Allah swt., baik berupa harta benda maupun keturunan, tentu akan bertambah keimanan dan rasa syukur-Nya, dan akan melakukan kebajikan yang lebih banyak. Akan tetapi orang-orang yang lemah iman, bila memperoleh kemakmuran dan kenikmatan yang banyak, lupalah ia kepada Allah Yang memberikan nikmat tersebut, dan timbullah rasa sombong dan angkuhnya. Mereka berkata: "Nenek moyang kami dahulu juga pernah merasakan kenikmatan dan kesusahan. Demikian pula kami ini. Kesusahan yang pernah kami alami, dan kebahagiaan yang kami rasakan sekarang adalah sama saja dengan apa yang pernah dialami nenek moyang kami. Kesusahan yang menimpa kami bukanlah akibat dari dosa-dosa yang telah kami perbuat. Dan kebahagiaan yang kami peroleh bukanlah hasil dari kebajikan-kebajikan yang kami lakukan. Semuanya itu adalah kelaziman yang terjadi sepanjang masa."
Demikianlah, kekayaan dan kebahagiaan telah membuat mereka lupa kepada hubungan antara sebab-akibat. Serta menyebabkan mereka lupa kepada kekuasaan, keadilan dan kasih sayang Allah swt. Hal ini disebabkan karena mereka itu tidak memahami sunah Allah swt. yang berlaku dalam alam ini; mereka tidak memahami faktor-faktor yang menimbulkan kebahagiaan dan kesengsaraannya di bumi ini. Padahal Allah swt. telah memberikan bimbingan dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Q.S Ar Ra'd: 11)
Oleh karena itu, keingkaran dan kesombongan mereka, timbul setelah memperoleh kemakmuran, maka Allah swt. menimpakan kepada mereka azab yang datang secara tiba-tiba sedang mereka tidak menyadari akan datangnya azab tersebut lantaran mereka tidak memahami sunah Allah yang berlaku dalam urusan masyarakat, dan akal mereka pun tidak mampu memikirkan hal itu. Lagi pula mereka tidak mau mengikuti petunjuk dan nasihat serta peringatan Rasul kepada mereka. Dalam hubungan ini Allah swt. telah berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Artinya:
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa.
(Q.S Al An'am: 44)
Adalah menjadi sifat orang kafir, bahwa bila mereka memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan lalu takabur dan lupa daratan, tidak mensyukuri nikmat Allah. Sebaliknya bila mereka ditimpa musibah, lalu berputus asa dan berkeluh-kesah, tidak memikirkan sebab-sebab yang ada pada diri mereka yang menimbulkan musibah itu.
Kebahagiaan yang diperoleh sesudah kesusahan yang kemudian disusul dengan azab sengsara, tidak hanya dialami oleh kaum Nabi Syuaib, bahkan umat nabi-nabi sebelumnya itu, yakni umat Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh pun telah mengalami pula. Nabi Hud telah memperingatkan kepada umatnya, yaitu kaum 'Ad sebagai berikut:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا ءَالَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada yang dimiliki oleh kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
(Q.S Al A'raf: 69)
Selanjutnya Nabi Saleh telah memperingatkan pula kepada kaumnya, kaum Tsamud hal semacam itu:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا ءَالَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Artinya:
Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah Ad, dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.
(Q.S Al A'raf: 74)
Kita generasi yang hidup sekarang ini hendaklah menyadari hal ini benar-benar agar kita jangan mengalami nasib sial seperti yang dialami umat-umat terdahulu, lantaran keingkaran dan kesombongan mereka kepada Allah swt. Apabila bangsa kita sekarang ini telah dikarunia Allah nasib yang lebih baik, berupa kemantapan ekonomi dan kehidupan sosial, ilmu pengetahuan dan sebagainya, janganlah menyebabkan kita lupa daratan, lalu menambah kemaksiatan di bumi. Hendaklah kita syukuri semua nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kita, dan kita memanfaatkan menurut cara yang dirida-Nya dan kita jauhkan segala macam kemaksiatan. Semoga Allah swt. menambah selalu karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua.

96 Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. 7:96)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 96
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96)
Allah swt. menerangkan dalam ayat ini, bahwa seandainya penduduk kota Mekah dan penduduk negeri-negeri yang berada di sekitarnya serta umat manusia seluruhnya beriman kepada agama yang dibawa oleh Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. dan seandainya mereka bertakwa kepada Allah sehingga mereka menjauhkan diri dari segala yang dilarangnya, seperti kemusyrikan dan berbuat kerusakan di bumi, niscaya Allah akan melimpahkan kepada mereka kebaikan dan keberkatan yang banyak, baik yang datang dari langit maupun yang datang dari bumi. Nikmat yang datang dari langit, misalnya ialah hujan yang menyirami dan menyuburkan bumi, sehingga tumbuhlah tanam-tanaman dan berkembang-biaklah binatang ternak yang kesemuanya sangat diperlukan oleh manusia. Di samping itu mereka akan memperoleh ilmu pengetahuan yang banyak, serta kemampuan untuk memahami sunatullah yang berlaku di alam ini, sehingga mereka mampu menghubungkan antara sebab dan akibat dan dengan demikian mereka akan dapat membina kehidupan yang baik, serta menghindarkan malapetaka yang biasa menimpa umat yang ingkar kepada Allah dan tidak mensyukuri nikmat dan karunia-Nya.
Akan tetapi apabila penduduk Mekah dan sekitarnya tidak beriman dan bertakwa, bahkan sebaliknya mereka mendustakan Rasul dan membelakangi yang dibawanya, maka kejahatan yang mereka lakukan, yaitu kemusyrikan dan kemaksiatan tidak mustahil Allah menimpakan siksa kepada mereka walaupun tidak sama dengan siksa yang telah ditimpakan kepada umat yang dahulu yang bersifat memusnahkan. Dan datangnya azab tersebut adalah sesuai dengan sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya dan tak dapat diubah oleh siapa pun juga selain-Nya.

97 Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?(QS. 7:97)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 97
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97)
Dalam ayat ini Allah swt. memberi peringatan kepada orang-orang yang ingkar dalam bentuk suatu pertanyaan: "Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman akan datangnya siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka tidur?" Maksudnya ialah bahwa siksaan Allah itu ditimpakan kepada mereka yang telah mendapatkan seruan para Rasul tetapi mereka benar-benar ingkar dan tidak menggunakan akalnya. Sebab seandainya mereka itu mau berpikir dan mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang telah dialami oleh manusia-manusia yang terdahulu akibat mereka tenggelam dalam kenikmatan hidup sehingga mereka lupa kepada Allah yang memberikan nikmat, niscaya mereka akan merasa cemas tentang kemungkinan datangnya siksaan Allah kepada mereka dan karena mempunyai rasa kecemasan semacam itu, tentulah mereka segera memperbaiki tingkah-laku mereka antara lain dengan menjauhkan diri dari segala macam kemusyrikan dan kemaksiatan akan tetapi kenyataannya bukanlah demikian. Mereka bahkan merasa aman dan tidak mempunyai kekhawatiran akan datangnya siksaan Allah kepada mereka. Hal ini tampak dari tindak-tanduk dan tingkah-laku mereka yang tenggelam dalam kenikmatan serta tetap dalam kemusyrikan dan bermacam-macam kemaksiatan kepada Allah swt.

98 Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?(QS. 7:98)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 98
أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98)
Dalam ayat ini sekali lagi Allah swt. mencela tingkah-laku orang-orang yang ingkar, yaitu bahwa mereka tampak lebih aman dan tidak mempunyai kekhawatiran tentang kemungkinan datangnya siksaan Allah kepada mereka ketika mereka dalam keadaan lalai, seperti kanak-kanak yang sedang asyik bermain di waktu duha, yakni ketika matahari sedang naik.
Dengan firman ini Allah swt. memperingatkan mereka bahwa siksaan-Nya mungkin saja menimpa mereka ketika mereka sedang lalai baik di waktu tidur maupun di waktu mereka asyik berfoya-foya hingga mereka tidak akan sempat lagi mempersiapkan diri untuk keselamatan mereka. Oleh sebab itu sebaiknyalah mereka insyaf dan waspada terhadap siksaan Allah apalagi mereka telah mendengar seruan Rasul dan nasihat-nasihat yang diberikan-Nya kepada mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

99 Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.(QS. 7:99)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 99
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (99)
Dalam ayat ini sekali lagi Allah swt. mengulangi celaan-Nya terhadap tingkah-aku orang-orang kafir: "Apakah mereka merasa aman terhadap siksaan Allah yang tidak terduga-duga"? Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam itu kelakuannya adalah termasuk orang-orang yang merugi.
Dengan firman-Nya ini Allah swt. menegaskan bahwa orang yang berakal sehat dan memegang teguh fitrah yang dikaruniakan-Nya kepada manusia serta memperhatikan kejadian-kejadian sejarah dan memperhatikan ayat-ayat Allah tentu tidak akan merasa aman dari kedatangan azab-Nya. Akan tetapi mereka yang ingkar ini benar-benar telah kehilangan akal yang sehat serta fitrah yang dikaruniakan Allah kepada mereka dan tidak pula mau memperhatikan peristiwa-peristiwa sejarah serta ayat-ayat Allah sehingga mereka ini betul-betul telah menjadi orang-orang yang merugi. Mereka sudah kehilangan kekhawatiran terhadap siksaan Allah padahal mereka senantiasa berbuat kemaksiatan dan kemusyrikan.
Bagi orang-orang yang beriman sikap yang tepat ialah yakin tentang sifat pemaaf dan pengasih yang ada pada Allah tetapi ia senantiasa takut kepada siksaan-Nya yang mungkin datang menimpa dirinya tanpa diduga sebelumnya sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Oleh sebab itu akan senantiasa berhati-hati dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menyebabkan datangnya siksaan tersebut pada dirinya.
Oleh Alquran orang-orang kafir biasa juga disebut "orang-orang merugi". Maka orang-orang yang kehilangan rasa kekhawatiran terhadap siksaan Allah sama halnya dengan orang-orang yang berputus asa terhadap ampunan dan rahmat Allah. Kedua sifat tersebut adalah termasuk sifat-sifat orang kafir yang disebut juga orang-orang yang merugi.

100 Dan apakah belum jelas bagi orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?(QS. 7:100)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 100
أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ (100)
Dalam ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa umat yang mewarisi suatu negeri setelah lenyapnya penduduk negeri itu karena ditimpa siksaan Allah akibat keingkaran mereka kepada-Nya, umat tersebut memahami dan meyakini bahwa Allah Kuasa untuk menimpakan azab tersebut kepada mereka karena dosa-dosa mereka apabila Dia menghendakinya. Juga Allah Kuasa untuk mengunci mati hati nurani mereka sehingga mereka tak dapat lagi menerima pelajaran dan nasihat agama dan tidak mau beriman.
Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu Allah swt. telah mengutus beberapa orang rasul kepada umat mereka sebelum diutusnya Nabi Syuaib kepada kaumnya. Umat-umat terdahulu telah ditimpa siksaan Allah lantaran dosa-dosa dan keingkaran mereka kepada Allah. Siksaan yang menimpa mereka adalah sedemikian hebatnya memusnahkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka seolah-olah tidak pernah ada di muka bumi ini. Setelah mereka itu lenyap, maka Allah mendatangkan umat yang baru untuk menghuni negeri tersebut. Umat yang baru ini mengetahui sejarah umat terdahulu itu karena buku-buku dan kitab-kitab suci mereka menyebutkan hal itu. Mereka mengetahui apa yang dialami umat tersebut, yaitu azab yang dahsyat. Dan mereka tahu pula hal-hal yang menyebabkan didatangkannya azab tersebut kepada mereka, yaitu lantaran dosa-dosa dari keingkaran mereka kepada Allah dan rasul-Nya.
Seharusnya mereka dapat mengambil pelajaran dari kesemuanya itu, dan dapat memahami bahwa Allah kuasa untuk menimpakan azab yang serupa itu kepada diri mereka bila mereka berbuat dosa dan kemaksiatan pula seperti umat yang terdahulu itu. Semuanya takluk di bawah kekuasaan Allah. Ia kuasa menimpakan azab kepada mereka bila Ia menghendakinya sebagaimana Ia telah menimpakan azab kepada umat terdahulu.
Ayat tersebut tidak hanya merupakan peringatan bagi orang-orang kafir melainkan juga bagi orang-orang muslimin. Setelah mengetahui sebab-sebab ditimpakan-Nya azab kepada umat para rasul yang terdahulu itu dan setelah mengetahui sunnatullah mengenai umat-umat yang berdosa, maka seharusnyalah kita menjauhkan diri dari kesalahan-kesalahan serupa itu agar kita tidak ditimpa siksa Allah yang akan menyebabkan kita kehilangan segala-galanya.

 Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar