Jumat, 30 Maret 2012

Al Maa-idah 101 - 120

 Surah Al Maa-idah
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL MAA-IDAH>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=6&SuratKe=5#Top


101 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakannya di waktu Al quran itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.(QS. 5:101)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 101
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ (101)
Dalam ayat ini Allah swt. memberikan bimbingan kepada hamba-Nya, agar mereka membenarkan apa-apa yang telah diturunkan-Nya dan yang telah disampaikan oleh rasul-Nya kepada mereka, dan agar mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang beraneka ragam, yang andaikata diberikan kepada mereka jawaban atas pertanyaan itu maka akan memberatkan mereka sendiri, karena akan menambah beratnya beban dan kewajiban mereka. Dan hal ini pastilah akan menjadikan hati mereka kesal.
Menurut riwayat, ayat ini turun ketika ada orang-orang mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw. yang kadang-kadang untuk mengujinya, dan kadang-kadang untuk mengejeknya. Ada orang yang bertanya kepada Nabi, "Siapakah ayahku?" Dan ada pula seorang kehilangan untanya bertanya kepada Nabi, "Di manakah gerangan untaku itu?"
Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata, "Rasulullah saw. telah berkhutbah kepada kami, beliau bersabda, "Wahai umatku, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu ibadah haji, maka berhajilah kamu." Tiba-tiba ada seseorang bertanya, "Apakah setiap tahun kami harus berhaji, ya Rasulullah?" Rasulullah tidak menjawab pertanyaan itu, sehingga orang tersebut menanyakan lagi sampai tiga kali. Kemudian barulah Rasulullah saw. bersabda, "Kalau saya jawab "ya", maka berhaji setiap tahun itu akan menjadi wajib; kalau ia sudah menjadi wajib niscaya kamu tak sanggup melaksanakannya." Kemudian beliau bersabda, "Sebaiknyalah tidak kamu tanyakan kepadaku apa-apa yang tidak aku sampaikan kepadamu." Maka turunlah ayat ini. Selanjutnya, dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa apabila mereka menanyakan sesuatu kepada Nabi ketika turun ayat yang berkenaan dengan masalah itu, dan pertanyaan tersebut memang perlu dijawab untuk memahami isi dan maksud dari ayat tersebut, maka Allah membolehkannya dan memaafkan orang yang mengajukan pertanyaan itu.
Pada akhir ayat ini Allah swt. menegaskan, bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Maksudnya ialah Allah mengampuni orang-orang yang mengajukan pertanyaan yang benar-benar berfaedah, dan hal-hal yang tidak disebutkan dalam kitab-Nya, dan hal-hal yang tidak dibebankan-Nya kepada hamba-Nya dan larangan-Nya kepada mereka untuk tidak mengajukan pertanyaan kepada Rasul yang dapat menambah beratnya beban mereka itu pun merupakan rahmat-Nya kepada hamba-Nya. Sehubungan dengan ini Rasulullah saw. telah bersabda:

إن الله تعالى فرض فرائض فلا تضيعوها ونهى عن أشياء فلا تنتهكوها وحد حدودا فلا تعتدوها وعفا عن أشياء من غير نسيان فلا تبحثوا عنها
Artinya:
Sesungguhnya Allah telah menentukan beberapa kewajiban yang harus kamu tunaikan, maka janganlah disia-siakan dan Dia telah melarang kamu dari melakukan beberapa macam perbuatan, maka janganlah kamu melanggarnya; dan Dia telah menetapkan beberapa pembatasan, maka janganlah kamu lampaui; dan Dia telah memaafkan kamu dari berbagai hal, bukan karena lupa, maka janganlah kamu mencari-carinya.
(H.R. Abi Sa'labah al-Khasyani, Tafsir Al-Maragi, juz VII, hal. 42)
Sehubungan dengan ampunan Allah yang tersebut dalam ayat ini, dapat juga dipahami, bahwa Dia memaafkan kesalahan-kesalahan sebelum larangan ini, sehingga dengan demikian Dia tidak menimpakan siksa, karena amat luasnya ampunan dan kesantunan-Nya kepada hamba-Nya. Ini sesuai dengan firman-Nya pada ayat-ayat yang lain, di antaranya ialah:

عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ
Artinya:
Allah memaafkan apa-apa yang telah lalu.
(Q.S. Al-Ma'idah: 95)


102 Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.(QS. 5:102)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 102
قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِهَا كَافِرِينَ (102)
Pada ayat ini Allah swt. mengingatkan kaum Muslimin, bahwa banyak bertanya mengenai masalah-masalah hukum agama seperti yang mereka lakukan itu, telah pernah terjadi pada bangsa-bangsa terdahulu, akan tetapi setelah mereka diberi jawaban dan penjelasan, mereka tidak mau melaksanakannya, bahkan mereka membelakanginya, karena mereka anggap terlalu berat. Kemudian mereka lalu mengingkari hukum-hukum tersebut, atau mereka katakan bahwa hukum-hukum tersebut tidak datang dari Allah. Bagaimanapun juga, semuanya itu adalah merupakan kekafiran, yang patut dikenakan azab, baik di dunia maupun di akhirat.


103 Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.(QS. 5:103)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 103
مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (103)
Dalam ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa Dia tidak pernah menetapkan haramnya beberapa hal yang berlaku dalam adat Jahiliah mengenai bermacam-macam hewan yang tidak mereka makan dagingnya sebagai syariat agama. Hanya mereka sendiri saja yang menetapkan haramnya memakan daging hewan-hewan tersebut. Tetapi mereka mengatakan bahwa ketentuan itu adalah datang dari Allah swt. Hewan-hewan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Bahirah, yaitu unta betina yang telah melahirkan anak lima kali, dan anaknya yang kelima itu adalah betina. Menurut adat Jahiliah, unta betina semacam itu mereka belah telinganya, kemudian mereka lepaskan, dan tidak boleh lagi dipakai untuk kendaraan, dan tidak boleh diambil air susunya.
b. Saibah, yaitu unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja, tidak boleh dipakai untuk kendaraan atau membawa beban, dan tidak boleh diambil bulunya, dan tidak boleh pula diambil air susunya, kecuali untuk tamu. Menurut adat jahiliah, ini dilakukan untuk menunaikan nazar. Apabila seseorang di antara orang-orang Arab Jahiliah akan melakukan sesuatu pekerjaan berat, atau perjalanan yang jauh, maka mereka bernazar, bahwa ia akan menjadikan untanya sebagai saibah, apabila pekerjaannya itu berhasil dengan baik, atau perjalanannya itu berlangsung dengan selamat.
c. Wasilah, yaitu kambing atau unta betina yang lahir kembar dengan saudaranya yang jantan. Menurut adat jahiliah juga, apabila seekor kambing betina melahirkan anak kembar jantan kemudian betina, maka anaknya yang betina itu disebut "wasilah", tidak boleh disembelih, dan tidak boleh dipersembahkan kepada berhala.
d. Ham, ialah unta jantan yang telah berjasa menghamilkan unta betina sepuluh kali. Menurut adat jahiliah unta jantan semacam itu tak boleh lagi diganggu, misalnya disembelih, atau digunakan untuk maksud apa pun, tetapi harus dipelihara dengan baik. Ia tak boleh dicegah untuk meminum air atau memakan rumput di mana pun yang disukainya.
Demikianlah antara lain adat-adat Jahiliah mengenai bermacam-macam hewan. Mereka sendirilah yang menetapkan bahwa daging hewan itu tidak boleh dimakan. Dan mereka katakan, bahwa ketentuan itu adalah dari Allah, dan menjadi syariat agama.
Maka dalam ayat ini Allah swt. membantahnya, dan menegaskan bahwa orang-orang kafir sendirilah yang menetapkan ketentuan itu, dan dengan demikian, mereka telah mengadakan kebohongan terhadap Allah swt.
Pada akhir ayat ini, Allah swt. menerangkan, bahwa kebanyakan orang-orang kafir tidak menggunakan akal pikirannya. Sebab andaikata mereka mau menggunakan akal sehat mereka, niscaya mereka tidak akan membuat kebohongan terhadap Allah swt. dan niscaya pula mereka tidak akan mengharamkan apa-apa yang tidak diharamkan Allah swt.
Menurut riwayat dari Ibnu Jarir, Abu Hurairah telah berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Aktam bin Jaun, "Hai Aktam, neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka tampak olehku dalam neraka itu Amru bin Hayyi bin Qam'ah bin Khinzif sedang menarik ususnya. Maka aku tidak melihat seorang pun selain engkau yang lebih mirip dengannya." Maka Aktam berkata, "Aku merasa takut kalau-kalau kemiripanku dengannya akan mendatangkan suatu bahaya atas diriku." Rasulullah saw. menjawab, "Tidak, sebab engkau adalah mukmin, sedang dia adalah kafir; dialah orang yang mula-mula mengubah agama Nabi Ismail, dan dialah orang yang mula-mula menetapkan ketentuan tentang bahirah, saibah, wasilah dan ham."
Dan riwayat ini dapat diambil pengertian bahwa sesuatu yang diada-adakan dalam syariat agama, misalnya mengharamkan makanan yang dihalalkan Allah, atau membuat-buat syiar yang bertentangan dengan agama, atau mengadakan peribadatan yang tidak ditetapkan oleh agama sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh rida-Nya, maka perbuatan tersebut sama dengan perbuatan Amru bin Hayyi. Cara-cara yang sah untuk menyembah Allah swt. telah ditetapkan-Nya dan telah disampaikan oleh Rasul-Nya. Maka setiap peribadatan dan penetapan hukum haruslah berdasarkan nas Alquran atau ketetapan Rasul. Seseorang tidak boleh menambah-nambah menurut kemauannya sendiri.


104 Apabila dikatakan kepada mereka: `Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul`. Mereka menjawab: `Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya`. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?(QS. 5:104)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 104
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (104)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan sikap keras kepalanya orang-orang kafir itu, sehingga apabila mereka diajak untuk hanya mengikuti hukum-hukum Allah yang telah ada dalam Alquran yang dikuatkan dengan bermacam-macam alasan dan bukti-bukti yang jelas dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang telah disampaikan Rasulullah, maka mereka menolaknya, dan mengatakan bahwa mereka sudah cukup apa yang mereka warisi dari nenek moyang mereka.
Selanjutnya, Allah swt. mengecam sikap mereka itu dan menjelaskan bahwa mereka tidak patut mengikuti suatu apa pun tentang syariat, dan tidak pula mendapat petunjuk dari Allah kepada jalan yang lurus untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat.
Nenek moyang mereka itu adalah orang-orang yang buta huruf dan masih sederhana tingkat pemikirannya, dan belum mempunyai pengetahuan yang benar, yang dapat membedakan antara yang benar dan yang batil. Pikiran mereka masih diliputi kepercayaan-kepercayaan, dan khurafat-khurafat yang salah, serta tata cara hidup yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan yang normal, misalnya membunuh anak perempuan, peperangan dan permusuhan antara kabilah-kabilah, perlakuan yang rendah terhadap anak yatim dan kaum wanita, dan sebagainya.
Mengenai sikap orang-orang kafir yang semacamnya itu, dalam ayat lain disebutkan pula sebagai berikut:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ
Artinya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang diturunkan Allah." Mereka menjawab, "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api neraka yang menyala-nyala (neraka)?"
(Q.S. Luqman: 21)


105 Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. 5:105)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 105
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)
Setelah menyebutkan beberapa sifat orang-orang musyrik dan orang-orang kafir pada ayat-ayat yang lalu, maka dalam ayat ini Allah swt. menghadapkan firman-Nya kepada orang-orang mukmin, memperingatkan kepada mereka agar menjaga dan menjauhkan diri dari sifat-sifat semacam itu, seperti kebodohan, pembangkangan, dan sebagainya. Dan mereka haruslah senantiasa meningkatkan diri dengan iman yang kuat, ilmu pengetahuan yang bermanfaat, serta amal saleh, dan tetap dalam petunjuk Allah, yaitu mengikuti syariat yang benar, yang telan diturunkan-Nya, dan disampaikan oleh rasul-Nya. Apabila mereka melaksanakan tuntunan ini, maka mereka takkan dapat dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh jelek, betapa pun buruknya situasi lingkungan di mana mereka berada. Dosa dan tanggung jawab orang-orang yang berbuat kejahatan tidak akan menjalar kepadanya, selama mereka tetap berpegang teguh kepada petunjuk-petunjuk dan bimbingan Allah swt.
Keteguhan pribadi seperti yang digambarkan ayat ini sangat penting bagi setiap orang mukmin, dan perlu dibina terus-menerus sebab banyak orang-orang yang semula telah mempunyai iman, tetapi kemudian imannya menjadi luntur, karena pengaruh lingkungannya. Ini disebabkan karena ia melepaskan hidayah Allah, dan mengikuti bujukan-bujukan setan.
Islam telah menunjukkan kepada kita cara-cara pembinaan pribadi dan keimanan yang teguh, antara lain ialah dengan cara ibadah dan zikir senantiasa mengingat Allah swt. serta memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama. Apabila seseorang senantiasa ingat kepada Allah, dan ia menyadari bahwa Allah akan membalas segala perbuatannya, maka ia akan menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah, dan ia akan selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang diridai-Nya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 105
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105)
(Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu) peliharalah dirimu dan berbuatlah kamu untuk memperbaikinya (tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.) Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan makna tidak akan membahayakan kamu orang-orang yang sesat ialah golongan Ahlul Kitab. Menurut pendapat lainnya, yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang selain Ahlul Kitab, pendapat ini berlandaskan pada hadisnya Abu Tsa'labah Al-Khusyani. Dalam hadisnya Al-Khusyani mengatakan, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang makna ayat ini; kemudian beliau menjawab, 'Saling perintah-memerintahkanlah kamu sekalian kepada kebaikan, dan saling cegah-mencegahlah kamu sekalian tentang kemungkaran, hingga jika kamu melihat orang yang bakhil (pelit) ditaati; hawa nafsu mulai diikuti; keduniawian paling dipentingkan; dan orang-orang yang berakal mulai merasa kagum dengan akalnya sendiri, maka peliharalah dirimu.'" Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Hakim dan lain-lainnya (hanya kepada Allahlah kamu semuanya kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan) kemudian Dia akan membalas kamu.


106 Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah--jika kamu ragu-ragu: ` (Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa`.(QS. 5:106)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 106
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلَاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ (106)
Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan, bahwa apabila seorang mukmin merasa perlu untuk mengadakan wasiat mengenai harta benda, maka wasiat tersebut haruslah disaksikan oleh dua orang mukmin yang adil dan mempunyai pendirian yang teguh, sehingga apabila di kemudian hari timbul persoalan yang memerlukan persaksian dari mereka maka dapat diharapkan bahwa mereka akan memberikan persaksian yang benar, dan tidak akan menyembunyikan sesuatu yang mereka ketahui mengenai wasiat itu.
Kemudian dijelaskan-Nya lagi, bahwa apabila tidak terdapat yang mukmin, misalnya ketika orang yang akan berwasiat dalam perjalanan, lalu ia mendapat musibah, dan merasa ajalnya sudah dekat, maka bolehlah ia mengambil dua orang saksi yang bukan mukmin, akan tetapi harus bersifat adil dan berpendirian teguh.
Kedua orang yang akan dijadikan saksi itu diminta untuk menunggu sampai sesudah salat. Para ulama mengatakan yang dimaksud "sesudah salat itu adalah "sesudah salat asar." Ini berdasarkan pada apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan kebiasaan ini juga berlaku di kalangan kaum Muslimin, karena pada saat-saat tersebut terdapat banyak orang-orang yang akan turut menyaksikannya, sebab kebanyakan mereka telah selesai melakukan sebagian besar tugas yang biasa dikerjakan di siang hari. Pada saat itulah biasanya hakim mengadakan sidang untuk memeriksa perkara-perkara yang diajukan kepadanya. Dan apabila kedua saksi itu bukan orang-orang mukmin, maka yang dimaksudkan dengan salat itu ialah salat yang dilakukan menurut agama mereka.
Apabila kedua saksi itu cukup dipercaya, maka persaksian mereka atas wasiat tersebut tak perlu disertai dengan sumpah. Tetapi apabila ahli waris dari orang yang berwasiat itu meragukan kejujuran saksi-saksi tersebut, maka saksi-saksi itu diminta untuk mengucapkan sumpah guna menguatkan persaksian mereka, sehingga dapat diharapkan mereka akan benar-benar bertindak sebagai saksi yang jujur dan dapat dipercaya sepenuhnya.
Bunyi sumpah harus diucapkan oleh kedua saksi tersebut adalah sebagai berikut:

لَا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَلَا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الْآثِمِينَ
Artinya:
Demi Allah, kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun ia karib kerabat (kami); dan tidak (pula) kami akan menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa."
(Q.S. Al-ma'idah: 106)
Isi sumpah itu menunjukkan bahwa para saksi tersebut berikrar tidak akan mempermalukan persaksian itu seperti barang dagangan yang dapat diperjual-belikan. Mereka tidak menyembunyikan persaksian itu atau merubahnya karena hendak mengharapkan sesuatu kepentingan pribadi. Mereka senantiasa akan memegang teguh isi persaksian mereka walaupun akan menimbulkan kerugian kepada salah seorang kerabat mereka. Dan mereka yakin betul, bahwa apabila mereka menyembunyikan persaksian mereka ketika persaksian itu diperlukan, atau mengubahnya dengan persaksian yang palsu, maka mereka pasti berdosa dan akan mendapat azab dari Allah swt.


107 Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) memperbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah: `Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri`.(QS. 5:107)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 107
فَإِنْ عُثِرَ عَلَى أَنَّهُمَا اسْتَحَقَّا إِثْمًا فَآخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْأَوْلَيَانِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (107)
Selanjutnya dalam ayat ini dijelaskan, bahwa apabila di kemudian hari, setelah wafatnya orang yang berwasiat itu, tampak tanda-tanda ketidakjujuran para saksi itu, misalnya sewaktu diminta persaksiannya mereka lalu memberikan persaksian yang tidak benar, atau mengaku tidak menyembunyikan sesuatu dari harta peninggalan yang dipercayakan kepada mereka oleh orang yang berwasiat itu, maka untuk mencari penyelesaian dalam keadaan itu kewajiban untuk bersumpah dialihkan kepada ahli waris dari orang yang telah meninggal yang memberikan wasiat itu. Untuk itu harus dicarikan dua orang lain yang terdekat hubungan kekeluargaannya dengan orang yang berwasiat, yaitu yang paling berhak untuk menerima warisannya, apabila ia memenuhi persyaratan untuk dapat menerima warisan. Seperti tidak berlainan agama atau tidak tersangkut dalam kasus terbunuhnya orang yang berwasiat.
Apabila kerabatnya yang terdekat itu ternyata tidak memenuhi persyaratan untuk dapat menerima warisan, misalnya karena perbedaan agama dengan orang yang meninggalkan warisan, atau karena ia telah tersangkut dalam terbunuhnya yang berwasiat, maka dicarilah dua orang lainnya di antara ahli waris itu yang paling utama untuk melakukan sumpah tersebut, dilihat kepada usianya, sifat-sifatnya, pengetahuannya, dan sebagainya.
Sumpah yang diucapkan oleh kedua orang ahli waris ini bermaksud untuk menguatkan tuduhan terhadap kedua orang yang menerima wasiat itu, bahwa mereka telah berkhianat mengenai wasiat itu. Juga untuk menguatkan bahwa mereka adalah benar dalam melakukan tuduhan itu, dan tidak melampaui batas. Artinya tuduhan itu bukan tuduhan sembarangan dan tidak beralasan. Kemudian diakhiri pula dengan penegasan, bahwa apabila mereka melakukan tuduhan atau persaksian yang tidak benar, maka niscaya mereka termasuk orang-orang yang lalim.
Dalam ayat ini ditunjukkan bunyi sumpah itu selengkapnya sebagai berikut:

فَإِنْ عُثِرَ عَلَى أَنَّهُمَا اسْتَحَقَّا إِثْمًا فَآخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِينَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْأَوْلَيَانِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ لَشَهَادَتُنَا أَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَا إِنَّا إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) memperbuat dosa maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, "Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri."
(Q.S. Al-Ma'idah: 107)


108 Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.(QS. 5:108)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 108
ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَى وَجْهِهَا أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (108)
Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa cara dari isi sumpah seperti yang disebutkan di atas adalah merupakan jalan yang lebih dekat kepada kebenaran, yang dapat mendorong orang-orang yang bersumpah itu, (baik penerima wasiat, walaupun ahli waris dari yang bersumpah itu) agar mereka memberikan persaksian yang benar, penuh rasa tanggung jawab, serta mengagungkan Allah swt. (yang nama-Nya disebut dalam sumpah mereka) dan untuk lebih berhati-hati dalam memelihara wasiat dan persaksian itu agar terhindar dari azab dan kemurkaan-Nya, dan supaya sumpah itu tidak dialihkan kepada orang lain lantaran ketidak jujurannya.
Pada akhir ayat ini, Allah swt. memperingatkan hamba-Nya, agar mereka bertakwa kepada-Nya, dan memegang amanah dan persaksian, dan suka mendengarkan serta memperhatikan semua petunjuk dan ketentuan-Nya untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan Dia memperingatkan pula, bahwa Dia tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik, yaitu orang-orang yang tidak mau memegang teguh kebenaran dan keadilan.
Perlu dijelaskan, bahwa setelah bersumpah kedua orang ahli waris tersebut yang maksudnya untuk menyatakan ketidakjujuran kedua penerima wasiat tadi, maka harta warisan yang ditinggalkan oleh orang yang telah memberikan wasiat itu diserahkan semuanya kepada ahli waris, untuk mereka bagikan menurut semestinya, di samping melaksanakan wasiat yang sebenarnya dan utang-utang serta kewajiban-kewajiban yang lain.
Mengenai sebab turunnya ayat-ayat di atas, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Munzir dari Ikrimah sebagai berikut: Ada dua orang Nasrani bernama Tamim Ad-Dary dan Ady bin Budda' datang ke Mekah di zaman jahiliah untuk berdagang. Mereka lama tinggal di sana. Setelah Nabi berhijrah, mereka pun memindahkan perdagangan mereka ke Madinah. Pada suatu kali, bekas hamba sahaya dari Amir bin `As yang bernama Budail juga berdagang, dan datang pula ke Madinah. Kemudian Budail bersama kedua orang Nasrani tadi pergi berdagang ke negeri Syam. Di tengah perjalanan, Budail itu jatuh sakit, dan ajalnya sudah dekat. Lalu ia menulis sendiri surat wasiat yang diselipkan di antara barang dagangannya tanpa diketahui oleh kedua orang Nasrani itu. Setelah itu ia serahkan semua barang-barangnya itu kepada mereka, dengan pesan agar disampaikan kepada ahli warisnya yang berada di Madinah, apabila ia benar meninggal dunia. Setelah ia meninggal, maka kedua orang Nasrani tadi membuka ikatan barang-barang tersebut kemudian barang-barang itu mereka ikat kembali seperti semula, dan mereka bawa ke Madinah untuk mereka serahkan kepada ahli waris Budail. Setelah keluarga Budail menerima dan membuka barang-barang itu, mereka menemukan surat wasiat yang diselipkan di antara barang-barangnya itu. Setelah mereka cocokkan antara daftar barang yang tercantum dalam surat wasiat itu dengan barang-barang yang ada, ternyata bahwa ada sesuatu yang telah hilang, lalu mereka tanyakan kepada orang-orang Nasrani itu. Mereka menjawab, "Hanya barang-barang inilah yang kami terima dan yang ia serahkan kepada kami." Keluarga Budail berkata, "Tetapi surat wasiat ini adalah tulisan tangannya sendiri." Mereka menjawab, "Kami tidak menyembunyikan sesuatu pun dari barang-barangnya." Kemudian mereka mengajukan perkara ini kepada Rasulullah saw. Maka turunlah ayat 106 ini. Maka Rasulullah memerintahkan kepada keluarga Budail untuk meminta kedua orang Nasrani itu bersumpah sesudah salat asar. Bunyi sumpah yang harus mereka ucapkan adalah sebagai berikut:
والله ما قبضنا غير هذا ولا كتمنا شيئا
Artinya:
Demi Allah, kami tidak memegang selain dari barang-barang ini, dan kami tidak menyembunyikan sesuatu pun.
Untung sekali, mereka mau menunggu sampai sesudah salat asar, lalu mereka mengucapkan sumpah. Setelah beberapa lama kemudian tampaklah pada mereka sebuah kendi dari perak yang berukir dengan air emas. Maka berkatalah keluarga Budail, "Nah, inilah barangnya yang hilang itu!" Tetapi kedua orang Nasrani itu menjawab, "Benar, tetapi ini kami beli darinya, dan kami lupa menyebutkannya ketika kami bersumpah, lalu kami enggan mendustai diri kami." Akhirnya mereka mengadu lagi kepada Rasulullah saw. maka turunlah ayat 107. Sebab itu Rasulullah memerintahkan kepada dua orang di antara keluarga Budail untuk bersumpah, guna menguatkan mereka berhak atas barang yang disembunyikan oleh orang-orang Nasrani itu. Sesudah itu, Tamim Ad-Dary masuk Islam dan menyatakan pengakuannya atas kerasulan Nabi Muhammad saw., dan ia berkata, "Benarlah Allah dan Rasul-Nya, aku telah mengambil kendi itu." Kemudian ia berkata lagi, "Hai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah memenangkan engkau terhadap penduduk bumi semuanya, maka berikanlah kepadaku desa Abnun yang merupakan bagian dari Baitul Lahm, yaitu desa tempat lahirnya Nabi Isa a.s." Lalu Rasulullah membuatkan sepucuk surat untuknya mengenai desa itu, lalu dibawanya pulang ke desa tersebut. Kemudian hari, ketika Khalifah Umar bin Khattab datang ke negeri Syam maka Tamim Ad-Dary menghadap kepadanya dengan membawa surat yang pernah diberikan Rasulullah saw. kepadanya. Khalifah Umar berkata, "Ya, saya hadir ketika Rasulullah saw. membuat surat ini." lalu Khalifah memberikan desa itu kepadanya.


109 (Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka): `Apa jawaban kaummu terhadap (seruan) mu?`. Para rasul menjawab: `Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib`.(QS. 5:109)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 109
يَوْمَ يَجْمَعُ اللَّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ قَالُوا لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (109)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan, bahwa pada hari kiamat Dia akan mengumpulkan para rasul dan umatnya masing-masing. Hari terjadinya peristiwa itu disebut "Yaumul Mahsyar". Ketika itu Allah swt. akan mengajukan pertanyaan kepada para rasul sebagai berikut, "Apakah jawaban yang kamu terima dari umatmu setelah kamu menyeru mereka kepada agama-Ku?"
Para rasul tentu saja mengetahui jawaban apa yang telah mereka terima dari umatnya masing-masing, dan bagaimana tanggapan mereka terhadap seruan yang telah disampaikan kepada mereka itu, biarpun tidak seluruhnya mereka ketahui. Akan tetapi, para rasul adalah orang yang sangat tinggi budi pekertinya dan amat merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh sebab itu, dengan penuh rasa kehambaannya kepada Allah swt., maka mereka menjawab, "Kami tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib."
Allah swt. menanyakan kepada para rasul itu jawaban apa yang mereka terima dari umat yang telah mereka seru kepada agama-Nya. Dia tidak menanyakan kepada para rasul itu apakah mereka sudah menyampaikan risalah yang ditugaskan kepada mereka, atau belum? Hal ini menunjukkan bahwa para rasul itu benar-benar telah menunaikan tugas mereka dengan baik, yaitu menyampaikan agama Allah kepada umat mereka. Akan tetapi sebagian dari umat itulah yang tidak menerima ajakan dan seruan itu dengan sewajarnya.
Suatu hal lain yang dapat kita pahami pula dari ayat ini ialah bahwa Allah swt. tidak langsung menghadapkan pertanyaan kepada umat-umat dari pada rasul itu, misalnya, "Hai manusia jawaban apakah yang telah kamu berikan kepada rasul-rasul-Ku ketika mereka menyampaikan risalah-Ku kepada kamu sekalian?" Sebaliknya, Allah menghadapkan pertanyan-Nya kepada para rasul-Nya, bukan kepada umat mereka. Hal ini menunjukkan kemurkaan Allah yang amat sangat kepada umat-umat yang telah mengabaikan seruan dan peringatan-peringatan yang telah disampaikan para rasul itu kepada mereka. Maka pertanyaan itu adalah untuk menghardik umat-umat yang durhaka.


110 (Ingatlah), ketika Allah mengatakan: `Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata:` Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata `.(QS. 5:110)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 110
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (110)
Pada ayat ini Allah swt. menyebutkan bermacam-macam nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada Nabi Isa dan ibunya, kemudian disingkapkan-Nya kembali kejahatan Bani Israel yang pernah menuduh bahwa keterangan-keterangan dan bukti-bukti yang disampaikan oleh Nabi Isa kepada mereka hanyalah sihir semata-mata.
Nikmat Allah swt. kepada Maryam, yaitu ibu Nabi Isa a.s. ialah Allah telah menjadikannya sebagai wanita yang suci, dan telah dipilihnya di antara wanita-wanita di dunia ini untuk memperoleh kedudukan yang mulia.
Dan nikmat-nikmat Allah swt. kepada Nabi Isa a.s. yang disebutkan dalam ayat ini adalah sebagai berikut:
1. Allah swt. telah memperkuatnya dengan Ruhul qudus, yaitu malaikat Jibril a.s., atau dengan pengertian bahwa Allah telah menjadikan jiwanya bersih dari segala sifat-sifat yang tidak baik dengan nikmat ini Isa dapat mengetahui bahwa ia lahir ke dunia ini bukanlah dengan kejadian yang biasa, sehingga dengan demikian ia dapat membuktikan kesucian dirinya dan kesucian ibunya. Karena Allah telah memperkuatnya dengan Ruhul qudus itu, maka ia dapat berbicara ketika ia masih kecil dan lemah, masih berada dalam buaian. Ia berbicara untuk membela kesucian dan kehormatan ibunya terhadap tuduhan yang bukan-bukan dari kaum Yahudi. Kemudian setelah ia dewasa ia juga dapat berbicara dengan baik untuk menyeru manusia kepada agama Allah.
2. Allah telah mengajarkan kepadanya Al-Kitab, artinya Isa telah dianugerahi-Nya kepandaian menulis dan membaca, sehingga ia dapat mempelajari ilmu pengetahuan yang tertulis. Di samping itu, Allah mengajarkan pula kepadanya At-Taurat, yaitu kitab suci yang telah diturunkan-Nya kepada Nabi Musa a.s. Akhirnya Allah mengajarkan pula kepadanya Injil, yaitu kitab suci yang diturunkan-Nya kepada Nabi Isa sendiri.
3. Isa, dapat membuat dari tanah sesuatu bentuk yang bentuk dan ukurannya seperti burung, kemudian ia meniup burung itu, maka jadilah ia seekor burung yang sungguh-sungguh, dengan seizin Allah swt. Artinya Isalah yang membentuk benda tersebut seperti burung, dan ia pula yang meniupnya, kemudian Allah menjadikannya seekor burung yang hidup.
4. Isa a.s. telah dapat menyembuhkan orang-orang buta sejak dari kandungan ibu dan orang-orang yang kena penyakit sopak, dengan izin Allah, padahal di masa itu tak seorang tabib pun dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang-orang yang kena penyakit sopak itu.
5. Isa a.s. juga dapat menghidupkan orang-orang yang telah mati, sehingga dapat keluar dari kuburnya dalam keadaan hidup, dengan seizin Allah swt.
6. Allah telah mencegah kejahatan kaum Yahudi terhadap Isa a.s. Artinya Allah telah melindunginya dari kejahatan kaum Yahudi yang hendak membinasakannya, yaitu untuk membunuhnya dan menyalibnya, ketika Isa datang kepada mereka membawa agama Allah yang disertai dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang jelas, yakni mukjizat-mukjizat yang dikaruniakan Allah kepadanya. Allah menyelamatkan Isa dan mengangkatnya ke sisi-Nya dan disucikan-Nya dari perbuatan mereka yang kotor.
Kejahatan Bani Israel melebihi kejahatan umat lainnya, kejahatan umat lainnya terhadap rasul Allah hanyalah terbatas kepada diri pribadi rasul itu sendiri, akan tetapi kejahatan Bani Israel itu tidak hanya ditujukan kepada Nabi Isa semata-mata melainkan juga terhadap ibunya, yaitu mereka menuduh Maryam telah berzina dengan seorang lelaki, sehingga melahirkan Isa. Bahkan kejahatan mereka itu tidak hanya tertuju kepada Isa dan ibunya, melainkan juga terhadap Allah swt., karena mereka mengatakan bahwa Allah mempunyai istri dan anak, padahal Allah Maha Suci dari hal-hal tersebut.
Orang-orang kafir di antara Bani Israel itu tidak hanya menolak agama Allah yang disampaikan Nabi Isa kepada mereka, bahkan mereka mengatakan bahwa keterangan-keterangan yang disampaikan Isa tersebut hanyalah sihir semata-mata.
Disebutkan-Nya bermacam-macam nikmat Allah kepada Nabi Isa dalam ayat ini merupakan sindiran dan kecaman yang amat tajam sekali terhadap Bani Israel atas sikap dan perbuatan mereka yang keji itu. Dan menyingkapkan pula betapa besarnya kedengkian mereka terhadap orang yang memperoleh nikmat Allah swt. Ucapan mereka bahwa keterangan-keterangan yang disampaikan Nabi Isa kepada mereka adalah "sihir yang nyata" merupakan bukti yang kuat tentang sifat-sifat dengki mereka kepada Nabi Isa yang telah dipilih Allah sebagai nabi dan rasul-Nya.
Nikmat-nikmat Allah kepada Nabi Isa yang disebutkan dalam ayat ini merupakan nikmat yang luar biasa, yaitu yang tidak diberikan Allah kepada orang-orang lainnya, terutama orang-orang yang bukan nabi dan rasul. Dari pada ayat berikutnya, Allah menyebutkan beberapa nikmat-Nya yang lain yang juga diberikannya kepada Nabi Isa tetapi merupakan nikmat-nikmat yang biasa, yang juga diperoleh rasul-rasul yang lain.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 110
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (110)
Ingatlah! (ketika Allah mengatakan, "Hai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu) syukurilah nikmat-Ku itu (di waktu Aku mendukung kamu) menguatkan kamu (dengan ruhul kudus) malaikat Jibril (kamu dapat berbicara dengan manusia) menjadi hal bagi kaaf atau dhamir mukhathab yang terdapat dalam kalimat ayyadtuka (sewaktu dalam buaian) masih dalam keadaan bayi (dan sesudah dewasa) kalimat ini memberikan pengertian bahwa ia (Nabi Isa) akan turun ke bumi sebelum hari kiamat sebab sebelum ia mencapai usia tua telah diangkat terlebih dahulu ke langit sebagaimana penjelasan yang telah dikemukakan dalam surah Ali Imran. (Dan ingatlah di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil dan ingat pula di waktu kamu membuat suatu bentuk dari tanah yang berupa) seperti gambaran (burung) huruf kaaf dalam kalimat kahaiah adalah bermakna isim yang artinya seperti dan kedudukan i`rabnya menjadi maf`ul atau objek (dengan seizin-Ku kemudian kamu meniup padanya lalu bentuk itu menjadi burung yang sebenarnya seizin-Ku) dengan kehendak-Ku. (Dan ingatlah waktu kamu menyembuhkan orang yang buta dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan ingatlah di waktu kamu mengeluarkan orang-orang mati) dari kuburan-kuburan mereka dalam keadaan hidup (dengan seizin-Ku, dan ingatlah di waktu Aku menghalangi Bani Israel dari kamu) sewaktu mereka bersengaja hendak membunuhmu (di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata) yakni mukjizat-mukjizat (lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, 'Tidak) tidak lain (hal ini) yang engkau datangkan melainkan sihir yang nyata') dan menurut qiraat dibaca saahirun/tukang sihir, yang dimaksud ialah Nabi Isa.


111 Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia:` Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku `. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)`.(QS. 5:111)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 111
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ (111)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan sikap kaum Hawariyin, yaitu suatu kelompok dari Bani Israel yang menerima baik agama Allah yang disampaikan oleh Nabi Isa. Allah mengilhamkan kepada kaum Hawariyin itu agar mereka beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Isa a.s. Lalu mereka berkata kepada Nabi Isa a.s., "Kami telah beriman dan saksikanlah, bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh kepada seruanmu." Maksudnya mereka beriman dan menerima seruan Nabi Isa, dan akan melaksanakan semua perintah-perintahnya, sebagai bukti dari iman tersebut.
Arti nikmat Allah kepada Nabi Isa dalam hal ini ialah bahwa ia telah mendapat sambutan baik dari kaum Hawariyin, sehingga mereka mencintai dan mematuhinya. Dan ini tidak hanya merupakan nikmat bagi Nabi Isa semata-mata melainkan juga nikmat bagi ibunya, sebab setiap nikmat yang diperoleh seorang anak, juga mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan bagi ibunya.


112 (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: `Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?`. Isa menjawab: `Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman`.(QS. 5:112)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 112
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (112)
Pada ayat ini Allah swt. menceritakan bahwa kaum Hawariyin itu pernah menanyakan kepada Nabi Isa a.s., apakah Allah dapat menurunkan kepada mereka suatu hidangan makanan dari langit. Pertanyaan itu bukan menunjukkan bahwa kaum Hawariyin itu masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah swt. Mereka telah yakin sepenuhnya tentang kekuasaan Allah. Akan tetapi mereka menanyakan hal itu untuk lebih menenteramkan hati mereka. Sebab, apabila mereka dapat menyaksikan bahwa Allah kuasa menurunkan apa yang mereka inginkan itu, maka hati mereka akan lebih tenteram, dan iman mereka akan bertambah kuat.
Hal ini juga pernah terjadi pada Nabi Ibrahim a.s. ketika beliau memohon kepada Allah agar Allah memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia kuasa menghidupkan makhluk yang telah mati. Berfirman Allah:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati?" Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)."
(Q.S. Al-Baqarah: 260)
Dengan demikian, pertanyaan kaum Hawariyin tadi dapat diartikan sebagai berikut, "Hai Isa, maukah Tuhanmu memperkenankan bila kamu memohon kepada-Nya agar Dia menurunkan kepada kita suatu hidangan?" Jadi yang mereka ragukan bukanlah kekuasaan Allah untuk melakukan hal itu melainkan apakah Tuhan bersedia mengabulkan permintaan Nabi, bila ia memintakan hal itu kepada-Nya untuk mereka. Patut diperhatikan dalam ayat di atas, bahwa ketika kaum Hawariyin mengemukakan pertanyaan mereka kepada Nabi Isa, mereka menyebutkannya dengan namanya, lalu diiringi dengan sebutan "putra Maryam", ini untuk menegaskan bahwa mereka tidak menganut kepercayaan bahwa Isa adalah Tuhan, atau anak Tuhan. Mereka yakin bahwa Isa adalah makhluk Allah yang dipilih-Nya untuk menjadi nabi dan rasul-Nya. Dan juga adalah putra Maryam, bukan putra Allah.
Pada akhir ayat tersebut diterangkan jawaban Nabi Isa kepada kaum Hawariyin. Ia menyuruh mereka agar bertakwa kepada Allah, yaitu agar mereka tidak mengajukan permintaan atau pun pertanyaan yang memberikan kesan seolah-olah mereka meragukan kekuasaan Allah. Ini merupakan suatu pelajaran yang amat baik, sebab orang-orang yang beriman haruslah memperkokoh imannya, dan melenyapkan segala macam hal yang dapat mengurangi keimanan itu. Allah Maha Kuasa, atas segala sesuatu. Lagi pula, menyediakan suatu hidangan adalah suatu pekerjaan yang tidak patut untuk diminta kepada Allah. Dia Maha Mulia. Dia telah mengaruniakan kepada hamba-Nya segala sesuatu di bumi, baik berupa bahan makanan, pakaian, bahan perumahan, dan sebagainya. Maka tugas manusia adalah untuk mengolah bahan-bahan yang tersedia itu, untuk mereka buat makanan, pakaian, rumah dan sebagainya, untuk kepentingan mereka sendiri. Dan Allah tidak meminta bayaran apa-apa atas nikmat-Nya yang telah disediakan-Nya itu, yang tak terhitung jumlahnya. Apabila Allah tidak menurunkan hidangan dari langit, maka hal itu tidaklah mengurangi arti kekuasaan dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Sebab itu, janganlah mengurangi pula terhadap iman dan keyakinan manusia kepada-Nya.


113 Mereka berkata: `Kami ingin memakan hidangan ini dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu`.(QS. 5:113)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 113
قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ (113)
Dalam ayat ini Allah menceritakan ucapan kaum Hawariyin selanjutnya kepada Nabi Isa a.s., setelah Isa menyuruh mereka beriman kepada Allah swt. dan beramal serta bekerja dan bertawakal kepada-Nya, dan tidak mengajukan permintaan semacam itu. Kaum Hawariyin itu berkata, "Kami beriman sepenuhnya atas kekuasaan Allah, akan tetapi kami mengajukan permintaan itu, karena kami memerlukan makanan, dan kami tidak mendapatkan makanan yang lain, sedang kami merasa lapar. Di samping itu, apabila kami dapat menyaksikan turunnya hidangan itu, serta dapat merasakan kelezatannya, maka iman kami akan bertambah kuat, karena pengetahuan yang berdasarkan teori dan dalil-dalil bila disertai dengan fakta yang berdasar penyaksian mata kepala sendiri tentu akan menghasilkan ilmu yakin. Dan dengan demikian kami pun akan dapat pula menjadi saksi terhadap orang-orang yang tidak menyaksikan turunnya hidangan itu dan tidak turut memakannya, sehingga mereka pun akan turut beriman pula, dan bertambah kuat pula keyakinan mereka karena persaksian dari kami."


114 Isa putera Maryam berdoa: `Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezkilah kami, dan Engkau-lah Pemberi rezki Yang Paling Utama`.(QS. 5:114)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 114
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (114)
Dalam ayat ini diterangkan, bahwa Nabi Isa a.s. setelah mengetahui maksud baik dari kaum Hawariyin dalam permintaan mereka yaitu bahwa mereka tidak meragukan kekuasaan Allah, melainkan karena mereka ingin memperoleh ilmu yakin dan keimanan yang lebih kuat serta ketenteraman hati, maka Nabi Isa mengabulkan permintaan mereka untuk mendoakan kepada Allah swt. agar Dia menurunkan suatu hidangan untuk mereka. Nabi Isa memulai doanya itu dengan ucapan "Allahuma Rabbanaa". Sedangkan kata-kata tersebut mengandung pengertian sifat-sifat keagungan-Nya, yaitu ketuhanan, kekuasaan, dan hikmah kebijaksanaan-Nya, serta sifat-sifat-Nya sebagai penguasa, pendidik, pemelihara dan pemberi nikmat.
Kemudian Isa melanjutkan doanya dengan permohonan agar Allah swt. menurunkan untuk mereka hidangan dari langit. Dan Isa mengharapkan agar hari turunnya hidangan itu akan menjadi hari raya bagi mereka dan generasi mereka selanjutnya. Dan juga akan menjadi tanda atau bukti bagi kekuasaan Allah.
Nabi Isa mengakhiri doanya itu dengan ucapan "Berilah kami rezeki, karena Engkau adalah Pemberi rezeki Yang Paling Utama".
Suatu hal yang perlu kita perhatikan dalam ayat ini ialah bahwa Nabi Isa dalam doanya itu lebih dahulu menyebutkan faedah rohaniah yang akan diperoleh bila Allah mengabulkan doanya itu, kemudian baru disebutkan faedahnya dan segi jasmaniah. Faedah rohaniahnya ialah bahwa turunnya hidangan itu akan merupakan suatu peristiwa besar yang tak akan terlupakan, sehingga hari turunnya hidangan itu akan menjadi hari yang amat penting dalam kehidupan umatnya, dan akan mereka jadikan hari raya, di mana mereka akan selalu mengenang rahmat Allah, dan akan mengagungkan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Dalam hal ini akan menambah selalu keyakinan mereka, dan akan memperkokoh keimanan mereka kepada-Nya. Adapun faedah jasmaniahnya ialah bahwa makanan itu akan merupakan rezeki yang akan melenyapkan rasa lapar dan mengembalikan kesegaran dan kekuatan jasmani mereka.
Lain halnya kaum Hawariyin ketika mereka mengemukakan permintaan itu kepada Isa. Mereka mendahulukan menyebut faedah jasmaniah dan sesudah itu barulah menyebutkan faedah rohaniahnya.
Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan, bahwa dengan susunan doanya itu, Nabi Isa a.s. mengajarkan kepada umatnya agar mereka lebih mengutamakan segi-segi mental rohaniah daripada segi-segi fisik meteriil jasmaniah.
Akhirnya, karena ayat ini dan ayat 112 yang lalu menyebutkan "Maidah" yang berarti "hidangan", maka kata-kata tersebut telah disepakati menjadi nama bagi surah ini, yaitu surah Al-Maidah. Kata-kata yang dipakai menjadi nama bagi surah-surah Alquran kebanyakannya diambil dari suatu kata yang terdapat dalam surah ini yang berkenaan dengan suatu hal yang amat penting, misalnya nama surah ini dan surah Al-Baqarah. Dan adakalanya pula diambil dari kata-kata lain yang tidak terdapat dalam surah itu tetapi menunjukkan dengan jelas isi surat tersebut, misalnya nama surah Al-Ikhlas.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 114
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (114)
(Isa Putra Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami! Turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit yang hal itu bagi kami) artinya pada hari turunnya hidangan itu (menjadi hari raya) yang kami hormati dan kami muliakan (bagi orang-orang sezaman dengan kami) kalimat ini menjadi badal/kalimat pengganti bagi lafal lanaa, yang juga disertai pula dengan huruf jarnya (dan bagi orang-orang yang datang sesudah kami) orang-orang yang akan datang sesudah kami (dan menjadi tanda kekuasaan Engkau) yang menunjukkan akan kekuasaan-Mu dan kenabianku (berilah kami rezeki) dengan hidangan tersebut (dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.")


115 Allah berfirman: `Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia`.(QS. 5:115)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 115
قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (115)
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah swt. menjawab doa tersebut dengan menegaskan bahwa Dia mengabulkan doa tersebut. Dia akan menurunkan hidangan sesuai dengan permintaan mereka itu. Tetapi dengan syarat bahwa sesudah turunnya hidangan itu, tak boleh ada di antara mereka yang masih saja tetap kafir, atau kembali kafir sesudah beriman, karena apabila masih saja ada yang demikian, maka sikap dan perbuatan itu adalah keterlaluan, dan Allah akan mengazabnya dengan azab yang luar biasa hebatnya yang tidak pernah ditimpakan-Nya kepada orang-orang kafir lainnya di dunia ini, karena mereka telah diberi pelajaran-pelajaran dan keterangan-keterangan tentang kekuasaan dan kebesaran Allah kemudian diberi pula bukti nyata yang dapat mereka saksikan dengan pancaindra mereka sendiri, dan berfaedah pula bagi mereka baik rohaniah maupun jasmaniah. Apabila masih saja ada di antara mereka yang kafir sesudah itu maka sepantasnyalah ia ditimpa kemurkaan dan azab Allah, yang melebihi azab yang ditimpakan kepada orang-orang kafir lainnya.
Berbeda-beda pendapat para ulama mengenai macamnya makanan yang diturunkan Allah dalam hidangan tersebut. Tetapi masalah tersebut bukanlah masalah yang penting untuk dibicarakan. Alquran sendiri tidak menyebutkannya demikian pula Rasulullah saw. Yang perlu kita perhatikan ialah hubungan sebab dan akibat, serta isi dan tujuan dari kisah tersebut, untuk kita jadikan itu iktibar dan pelajaran guna memperkokoh iman dan keyakinan kita kepada Allah dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 115
قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (115)
(Allah berfirman) mengabulkan doanya ("Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu) boleh dibaca takhfif/munziluhaa dan boleh pula dibaca tasydid/munazziluhaa (kepadamu; siapa yang kafir sesudah) artinya sesudah diturunkannya hidangan itu (di antara kamu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seseorang pun di antara umat manusia.") kemudian turunlah malaikat-malaikat seraya membawa hidangan dari langit berupa tujuh buah roti dan tujuh macam lauk-pauk. Kemudian mereka memakan sebagian darinya hingga semuanya merasa kenyang. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abbas dalam hadisnya sehubungan dengan kisah mengenai turunnya hidangan dari langit ini. Hadisnya itu mengatakan, bahwa hidangan itu berupa roti dan daging, kemudian mereka diperintahkan agar jangan berkhianat dan juga jangan menyimpannya hingga keesokan harinya. Akan tetapi mereka berkhianat dan menyimpan sebagian hidangan itu, akhirnya mereka dikutuk menjadi kera-kera dan babi-babi.


116 Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: `Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:` Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah? `. Isa menjawab:` Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib `.(QS. 5:116)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 116
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116)
Isa a.s. menyatakan bahwa yang demikian itu tidaklah benar, karena dia tidaklah berhak menyatakan sesuatu yang tidak patut bagi dirinya dan ibunya. Allah menanyakan hal demikian itu kepada Isa a.s. walaupun Allah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, agar Isa a.s. di hari kiamat itu menyatakan di hadapan para rasul dan umat manusia bahwa hanya Allahlah yang berhak disembah, serta dia menjelaskan kesalahan umatnya yang memandang dirinya dan ibunya sebagai Tuhan. Semua ibadah hanya dihadapkan kepada Allah sendiri. Ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang Nasrani baik mereka yang hidup kemudian atas kesalahan pikiran mereka dan kekeliruan akidah mereka. Banyak macam ibadah dan doa yang dilakukan oleh orang Nasrani ditujukan kepada Isa dan ibunya baik yang khusus untuk Isa dan ibunya masing-masing maupun ibadah itu dipersekutukan antara mereka dengan Allah swt. Kesemua ibadah demikian itu tak dapat dibenarkan, karena segala ibadah itu haruslah ditujukan kepada Allah swt. saja. Firman Allah swt.:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.
(Q.S. Al-Bayyinah: 5)
Tiada Tuhan lain di samping Allah swt. yang ikut menerima ibadah para hamba baik sebagai perantara atau pun pengganti daripada-Nya. Nabi Isa a.s. menjawab pertanyaan Allah swt. tentang ibadah dan kepercayaan yang ditujukan kepada dirinya dan ibunya dengan jawaban yang diawali kata "Subhanaka" artinya "Maha Suci Engkau", yang maksudnya amat mustahillah ada Tuhan lain di samping-Nya dan sebaliknya pastilah Allah swt. Esa Zat dan sifat-Nya serta jauh dari adanya sekutu dalam ketuhanan-Nya.
Lalu Isa a.s. menegaskan bahwa dia sendiri atau orang lain yang semisal dengan dia tidaklah berhak untuk mengatakan sesuatu yang tidak patut bagi dirinya. Tidak terlintas sedikit pun dalam pikirannya untuk menyatakan dirinya atau ibunya sebagai tuhan selain Allah swt. karena dia diutus kepada manusia untuk membimbing mereka ke jalan yang lurus yakni agama tauhid. Sekiranya dia menyatakan dengan ucapan pengakuannya sebagai Tuhan itu, atau terlintas dalam pikirannya, tentulah Allah swt. lebih mengetahuinya, karena Dia Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam pikiran manusia, lebih-lebih apa yang dilahirkannya. Tetapi manusia tidaklah mengetahui apa yang disembunyikan Allah swt. kecuali jika Dia memberitahukannya dengan perantaraan wahyu. Sesungguhnya hanya Allah sendiri Yang Maha Mengetahui segala yang gaib; ilmu-Nya meliputi segala yang pernah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi dalam ruang lingkup ciptaan-Nya ini.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 116
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116)
(Dan) ingatlah (ketika berfirman) artinya akan berfirman (Allah) kepada Isa di hari kiamat sebagai penghinaan terhadap kaumnya ("Hai Isa putra Maryam! Adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?' Ia menjawab) Isa menjawab seraya gemetar ('Maha Suci Engkau) aku menyucikan-Mu dari apa-apa yang tidak layak bagi-Mu seperti sekutu dan lain-lainnya (tidaklah patut) tidak pantas (bagiku mengatakan apa yang bukan hakku mengatakannya) bihaqqin menjadi khabar dari laisa sedangkan kata lii adalah untuk penjelas/tabyin (jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa) yang aku sembunyikan (pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau) artinya apa-apa yang Engkau sembunyikan di antara pengetahuan-pengetahuan Engkau (Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib.)


117 Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu:` Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu `, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.(QS. 5:117)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 117
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117)
Sesudah Nabi Isa a.s. pada ayat yang lain menyucikan Allah swt. dan kemudian dia membersihkan dirinya, maka dalam ayat ini Isa a.s. menjelaskan apa sebenarnya yang telah diserukannya kepada kaumnya yaitu agar mereka menyembah Allah swt. Tuhannya sendiri dan juga Tuhan kaumnya. Tidaklah benar dia menuhankan dirinya dan ibunya karena mereka berdua adalah hamba Allah seperti juga manusia lainnya. Nabi Isa a.s. telah mengajarkan pokok-pokok agama dan dasar-dasar keimanan kepada kaumnya yang seharusnya mereka jadikan pedoman dalam kehidupan beragama sepanjang masa. Sewaktu Nabi Isa a.s. masih berada bersama mereka, beliau selalu memberikan bimbingan kepada mereka dan mengawasi segala tingkah laku mereka; yang benar dibenarkan, yang salah dibatalkan sesuai dengan petunjuk Allah swt. Tetapi setelah beliau diangkat ke langit, habislah masa tugas kerasulannya, putuslah pengawasan dan bimbingan beliau terhadap mereka. Beliau tidak mengetahui lagi amal perbuatan mereka dan sejarah perkembangan mereka dan agamanya. Hanyalah Allah swt. sesudah itu yang menjadi Pengawas dan Saksi atas mereka. Diberinya petunjuk orang yang menghendaki kebenaran, dibiarkan-Nya orang yang menginginkan kesesatan, kafirlah orang yang menuhankan Isa a.s. dan haramlah surga bagi mereka. Hal itu ditegaskan Allah swt. dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Artinya:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam." Padahal Al-Masih sendiri berkata, "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, muka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tiadalah bagi orang lalim itu seorang penolong pun.
Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas segala sesuatu yang terjadi dalam ruang kekuasaan-Nya ini.


118 Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 5:118)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 118
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (118)
Kemudian Allah swt. dalam ayat ini menerangkan bahwa Isa a.s. menyerahkan sepenuhnya keputusan atas orang-orang Nasrani itu kepada Allah swt. dan beliau melepaskan diri dari tanggung jawab atas perbuatan mereka itu, karena beliau sudah menyampaikan seruannya sesuai dengan perintah Allah yang mengesakan-Nya serta mengkhususkan ibadah kepada-Nya. Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka menurut kesaksian-Nya. Dialah yang mengetahui siapa di antara mereka yang tetap dalam tauhid dan siapa yang musyrik, siapa pula yang taat dan siapa yang ingkar, siapa yang saleh dan yang fasik. Jika Allah menjatuhkan azab atas mereka, maka azab itu jatuh kepada orang yang memang patut menerima azab. Mereka itu adalah hamba-hamba Allah. Seharusnya mereka itu menyembah Allah tidak menyembah selain Allah. Jika Allah memberikan pengampunan kepada mereka, maka pengampunan itu diberikan-Nya kepada mereka yang patut diberi-Nya yang patut menerimanya. Allah amat Kuasa dan berwenang dalam mengurusi segala perkara, tidak ada orang lain yang turut mengurusinya. Lagi pula Dia Maha Bijaksana dan Seksama dalam menentukan keputusan atas perkara itu. Dialah Yang Maha Mengetahui siapa di antara orang-orang Nasrani itu yang telah menjadi musyrik dan yang masih dalam ketauhidan.
Mereka yang menjadi musyrik tiada ampunan bagi dosa mereka. Firman Allah swt.:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
(Q.S. An Nisa': 48)
Sejak permulaan abad masehi, sudah banyak aliran-aliran dan mazhab-mazhab dalam kepercayaan yang mengandung pokok-pokok agama yang tumbuh di kalangan penganut agama Nasrani. Sehingga banyak perselisihan yang timbul di antara mereka yang menjadi agak ruwet, maka semuanya terserah kepada Allah sepenuhnya. Diazab-Nya orang yang Dia kehendaki, diampuni-Nya pula orang yang Dia kehendaki.


119 Allah berfirman:` Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar `.(QS. 5:119)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 119
قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (119)
Dalam ayat ini, Allah swt. menjelaskan bahwa pada hari kiamat itu, orang yang senantiasa berbuat benar dalam agama mereka yaitu tetap dalam tauhid, akan memperoleh manfaat dari kebenaran iman mereka dan dari kejujuran perbuatan dan perkataan mereka. Kemanfaatan yang mereka peroleh itu ialah pertama kenikmatan surga, kenikmatan yang banyak memberi kepuasan jasmaniah dan kedua kenikmatan rida Ilahi, kenikmatan yang memberikan ketenteraman dan kepuasan rohani. Segala amal perbuatan mereka diterima Allah sebagai ibadah di sisi-Nya dan Allah memberi anugerah dan penghargaan kepada mereka. Dan mereka merasa bahagia memperoleh penghargaan dari Allah swt. Tidak ada kenikmatan yang lebih besar dari penghargaan dari Allah swt. itu. Allah rida terhadap mereka, dan mereka rida terhadap Allah swt. Inilah puncak kebahagiaan abadi dalam diri manusia. Kedua nikmat Allah swt. ini ialah surga dan rida Ilahi yang diperoleh sesudah melewati kegoncangan hari kiamat merupakan keberuntungan yang tak ada taranya.


120 Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 5:120)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 120
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (120)
Kemudian Allah swt. menutup surah ini dengan menyatakan bahwa hanyalah kepunyaan Allah swt. saja segala kerajaan langit dan bumi beserta isinya. Baik makhluk yang berakal maupun yang tidak berakal; benda-benda mati atau pun makhluk bernyawa, semuanya tunduk dan takluk di bawah kodrat dan iradat-Nya. Tidak ada selain Allah swt. yang turut memiliki dan menguasainya. Ayat ini memperingatkan orang-orang Nasrani atas kesalahan pikiran mereka mengenai Isa dan ibunya a.s. Keduanya adalah hamba Allah swt. dan milik-Nya. Bukanlah keduanya sekutu Allah, atau pun tandingan-Nya. Oleh karena itu tidaklah patut doa dan ibadah dihadapkan kepada keduanya. Hanyalah Allah yang berhak disembah, karena Dialah pemilik dan penguasa atas alam ini beserta segala isinya.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL MAA-IDAH>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar