Jumat, 30 Maret 2012

Al-An'aam 61 - 80

Surah Al An'AM
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=6#Top
61 Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.(QS. 6:61)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 61
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ (61)
Ayat ini menegaskan kekuasaan, pemeliharaan dan pengawasan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, Dia tidak dapat dikuasai sedikitpun oleh makhluk mahkluk-Nya termasuk sembahan-sembahan dan patung-patung yang disembah oleh orang-orang musyrik, karena sembahan sembahan dan patung itu tidak mampu memegang kekuasaan dan tidak mampu memberi pertolongan, bahkan ia sendirilah yang diberi pertolongan.
Dari ayat ini dipahami bahwa hendaklah manusia menghambakan diri kepada Allah, karena segala ilmu, kekuasaan, kemerdekaan, kemampuan bergerak dan berdaya cipta merupakan anugerah Allah kepada mereka, Dia sanggup menambah atau mencabut anugerah-Nya kapan Dia kehendaki. Di saat Dia mencabut semua anugerah-Nya itu, maka manusia tidak mempunyai arti sedikitpun.
Allah juga mengirimkan kepada manusia malaikat-malaikat penjaga yang menjaga keadaan dan tindak tanduk manusia setiap waktu, semuanya dicatat dan tidak sesuatupun yang tertinggal, firman Allah swt:

وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ(10)
Artinya:
Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.
(Q.S At Takwir: 10)
Mengenal malaikat penjaga itu tersebut dalam firman Allah swt:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ(10)كِرَامًا كَاتِبِينَ(11)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ(12)
Artinya:
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Q.S Al Infitar: 10-12)
Bahkan bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula yang mencatat amalan-amalannya, yaitu Raqib dan Atid, sebagaimana firman Allah swt:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
Artinya:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.
(Q.S Ar Ra'd: 11)
Dan sabda Nabi saw:

يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل وملائكة بالنهار يجتمعون في صلاة الفجر وصلاة العصر ثم يعرج الذين ياتون فيكم فيسألهم ربهم وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلون وأتيناهم وهم يصلون
Artinya:
Para malaikat berganti-ganti menjagamu, yaitu malaikat malam dan malaikat siang mereka bertemu (berganti giliran) pada waktu salat Subuh dan waktu salat Asar. Kemudian malaikat yang menjagamu di malam hari naik ke langit, maka Tuhan menanyakan kepada mereka sedang Dia lebih tahu dari mereka, "Bagaimanakah kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku?". Mereka menjawab, "Kami tinggalkan mereka dalam keadaan salat dan kami datangi mereka dalam keadaan salat pula".
(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Sebenarnya Allah swt tidak memerlukan malaikat pencatat untuk mencatat segala perbuatan manusia, karena Dia adalah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dengan adanya malaikat pencatat yang mencatat seluruh perbuatan manusia itu, diharapkan manusia akan berhati-hati jika hendak mengerjakan sesuatu pekerjaan apakah pekerjaan itu diridai Allah atau tidak diridai-Nya.
Demikianlah para malaikat penjaga dan pencatat itu menjaga, mengawasi dan mencatat seluruh perbuatan manusia, sampai saat datangnya kematian kepadanya Dengan datangnya malaikat maut mencabut nyawa manusia untuk melaksanakan perintah Allah sampailah ajal manusia itu, Allah swt berfirman

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ(11)
Artinya:
Katakanlah, "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan".
(Q.S As Sajdah: 11)


62 Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.(QS. 6:62)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 62
ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ (62)
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang telah dicabut jiwanya oleh malaikat maut itu, kembali kepada Allah untuk diadili perkaranya dan Allah akan memberi keputusan berdasar hukum-Nya dengan seadi1-adilnya Dia mempunyai kekuasaan untuk menghukum, tidak seorangpun yang dapat mengubah keputusan Nya, Dia amat cepat memberi keputusan.
Sesungguhnya semua perhitungan, pembalasan dan hukuman di akhirat nanti semata-mata berdasar amal, perbuatan dan tindakan manusia semasa hidup di dunia apakah sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan Allah atau tidak.


63 Katakanlah:` Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): `Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.`(QS. 6:63)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 63
قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (63)
Allah swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang musyrik bahwa siapakah yang dapat menyelamatkan dan melepaskan mereka dari kegelapan daratan bila mereka tersesat, siapa yang sanggup melepaskan mereka dari kesengsaraan dan penderitaan hidup, siapa yang sanggup melepaskan mereka dari kegelapan lautan bila mereka berlayar di tengahnya, lalu datanglah angin topan disertai dengan ombak yang besar, sehingga mereka tidak mengetahui arah dan tujuan lagi?. Yang dapat menyelamatkan manusia dari segala kegelapan dan kesengsaraan itu hanyalah Allah, tidak ada yang lain.
Adalah menjadi tabiat manusia, bahwa jika mereka dalam keadaan kesulitan dan dalam marabahaya, mereka ingat kepada Allah. Mereka menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada Allah disertai dengan doa dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bahkan dalam keadaan demikian mereka berjanji akan tetap berserah diri kepada Allah dan mensyukuri nikmat-Nya jika kesulitan dan marabahaya itu dihindarkan dari mereka. Tetapi baru saja kesulitan dan marabahaya itu terhindar mereka lupa akan janji yang telah mereka ikrarkan itu, bahkan mereka menjadi orang-orang yang zalim dan mempersekutukan Allah.
Keadaan mereka itu dilukiskan dalam firman Allah swt:

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ(22)فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
Artinya:
Dia-lah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan, sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik dan mereka bergembira karenanya. Datanglah angin badai dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya dan mereka yakin bahwa mereka terkepung (bahaya). maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata, (mereka berkata), 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pasti kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kelaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar"
(Q.S Yunus: 22-23)
Dari ayat ini dapat diambil hukum bahwa berdoa dengan suara yang lembut dan berbisik-bisik itu lebih baik dari berdoa dengan suara yang keras.


64 Katakanlah: `Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.`(QS. 6:64)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 64
قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ (64)
Allah menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang menyelamatkan dan melepaskan manusia dari segala macam kesusahan dan penderitaan, bukan sembahan-sembahan atau berhala-berhala yang mereka sembah itu karena sembahan-sembahan dan berhala-berhala itu tidak mampu sedikitpun menjauhkan kesusahan dan penderitaan dari mereka. Tetapi orang kafir itu setelah selamat dan terlepas dari bahaya mereka kembali mempersekutukan Allah.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 64
قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ (64)
(Katakanlah,) kepada mereka ("Allah menyelamatkan kamu) dibaca dengan takhfif yaitu yunjiikum dan dibaca dengan tasydid yaitu yunajjiikum (daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan) kesulitan yang selain bencana itu (kemudian kamu kembali menyekutukan")-Nya.


65 Katakanlah: `Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya).(QS. 6:65)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 65
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ (65)
Ayat ini merupakan peringatan yang keras terhadap orang-orang yang ingat kepada Allah dalam keadaan menderita dan sengsara, kemudian setelah penderitaan dan kesengsaraan itu lenyap, mereka kembali mempersekutukan Allah.
Peringatan itu ialah bahwa Allah swt berkuasa mendatangkan azab yang tidak diketahui oleh manusia hakikatnya, mungkin dari atas atau dari bawah, mungkin dari kanan atau dari kiri, mungkin berupa tiupan angin yang kencang atau letusan gunung berapi yang dahsyat, atau mengacau-balaukan manusia sehingga menjadilah mereka bergolong-golong dan berpuak-puak yang selalu bersengketa atau mereka saling bunuh membunuh sesama mereka sehingga sebagian mereka merasakan keganasan sebagian yang lain. Karena ini hendaklah orang-orang kafir itu ingat bahwa sekalipun pada suatu waktu mereka telah diselamatkan Allah dari penderitaan dan kesengsaraan tetapi bila mereka ingkar kembali, Allah Kuasa mendatangkan malapetaka yang lebih hebat dari itu.
Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud dengan "azab dari atasmu" ialah pembesar-pembesar kamu dan yang dimaksud dengan "Azab dari bawah kakimu" ialah yang datang dari budak-budak dan rakyat jelata.
"Azab" yang dimaksud oleh ayat ini ialah segala macam malapetaka yang menimpa manusia, seperti peperangan, penganiayaan, penindasan, banjir, letusan gunung, musim kemarau dan sebagainya.
Dari Nabi Muhammad saw. ia berkata, "Aku telah berdoa kepada Allah agar diangkatkan (tidak ditimpakan) dari umatku empat macam azab, maka diangkatkan dari mereka dua macam dan Allah tidak mengangkatkan dari mereka yang dua macam lagi. Aku berdoa kepada Allah agar dihilangkan dari mereka azab berupa hujan batu dari langit, goncangan bumi, tidak mencampurkan mereka dalam golongan-golongan yang saling bertentangan dan tidak merasakan kepada sebagian mereka keganasan yang lain. Maka Allah menghilangkan dari mereka gempa yang dahsyat dan hujan batu dari langit dan tidak mengangkatkan dari mereka dua macam azab yang terakhir.
(HR Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas)
Jika diperhatikan sejarah umat-umat yang dahulu dan azab yang ditimpakan Allah karena sikap mereka terhadap Nabi-nabi, maka kelihatan bahwa Allah telah menimpakan kepada mereka azab empat macam yang tersebut dalam hadis nabi di atas. Dua macam azab yang pertama, berakibat kehancuran yang total bagi umat-umat yang memungkiri seruan Nabi-nabi mereka, selain dari pada orang-orang yang beriman, maka tidak seorangpun di antara mereka yang hidup lagi, seperti topan Nabi Nuh, sambaran petir kepada kaum Saleh, hujan batu yang menimpa kaum Lut dan sebagainya.
Azab dua macam yang pertama itu tidak ditimpakan kepada umat Nabi Muhammad saw. tetapi kepada mereka yang mengingkari seruan Nabi akan ditimpakan azab dua macam terakhir, yaitu mencampurkan mereka ke dalam umat-umat yang saling bertentangan dan merasakan kepada mereka penindas sebagian mereka terhadap sebahagian yang lain. Hal ini dapat dilihat di dalam sejarah, sejak zaman Nabi Muhammad saw. sampai pada masa kini.
Kemudian Allah memerintahkan agar Nabi dan kaum Muslimin memperhatikan bagaimana Allah menjelaskan dan mendatangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya silih berganti, dengan berbagai rupa dan cara agar dengan cara yang demikian itu mudah dipahami dan diyakini, mudah diketahui mana yang benar dan mana yang batal.


66 Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah:` Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu `.(QS. 6:66)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 66
وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ (66)
. Kaum di mana Nabi Muhammad berada, yaitu mereka yang kafir telah mendustakan azab itu, padahal azab itu adalah benar, seperti telah terbukti pada sejarah umat-umat sebelum Muhammad saw dan sejarah umat Islam sendiri. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat ini ialah Mereka mendustakan Alquran, padahal Alquran itu adalah benar, tidak ada keraguan sedikitpun padanya, tidak akan terdapat kesalahan padanya sejak dahulu sampai sekarang begitu juga pada masa-masa yang akan datang. Katakanlah kepada orang kafir itu hai Rasul, bahwa kamu tidak dapat menguasai dan melindungi mereka, bukan pula kamu orang yang mengurus urusan mereka tetapi kamu hanyalah seorang manusia yang ditugaskan Allah menyampaikan agama-Nya kepada mereka, kamu juga tidak kuasa menjadikan mereka orang-orang yang beriman.
Pernyataan ini ditegaskan lagi oleh firman Allah swt:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ(21)لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ(22)
Artinya:
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.
(Q.S Al Ghasyiyah: 21-22)
Dan firman Allah swt:

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْءَانِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ(45)
Artinya:
Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Alquran orang yang takut kepada ancaman-Ku.
(Q.S Qaf: 45)


67 Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.(QS. 6:67)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 67
لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (67)
Pada ayat ini Allah swt menegaskan lagi bahwa semua berita yang ada dalam Alquran itu ada waktu terjadinya pada waktu itu akan diketahui apakah berita itu benar atau dusta dan waktu itu diketahui betul atau tidaknya, serta diketahui pula hikmah kejadian berita itu.
Berita-berita penting itu ada yang berupa janji dan yang berupa ancaman, janji Allah bagi orang yang mengikuti seruan Rasul, pahala yang baik bagi orang orang yang beramal saleh dan azab yang besar bagi orang-orang yang mengingkari Rasul, semuanya itu akan diperlihatkan Allah.
Allah swt berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِ مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ(52)سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ(53)
Artinya:
Katakanlah, "Bagaimana pendapatmu jika (Alquran) itu datang dari sisi Allah kemudian kamu mengingkarinya, siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?" Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
(Q.S Fussilat: 52-53)


68 Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).(QS. 6:68)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 68
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (68)
Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. jika ia duduk bersama-sama orang-orang kafir dan mereka memperolok-olokkan ayat-ayat dan agama Allah, hendaklah segera meninggalkan mereka kecuali jika mereka mengalihkan pembicaraan mereka kepada masalah yang lain. Tindakan yang demikian gunanya ialah agar orang-orang kafir itu sadar bahwa tindakan mereka yang demikian itu tidak disukai Allah dan kaum muslimin atau jika Nabi tetap duduk bersama mereka, berarti Nabi seakan-akan menyetujui tindakan mereka itu.
Dalam ayat ini yang diperintahkan meninggalkan orang-orang kafir itu ialah Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat pengikutnya tetapi termasuk juga di dalamnya seluruh kaum muslimin pada setiap masa.
Yang diperintahkan ayat ini ialah meninggalkan orang-orang yang sedang memperolok-olokkan ayat-ayat Alquran. Tetapi termasuk juga di dalamnya segala macam tindakan yang tujuannya memperolok-olokkan agama Allah, menafsirkan dan menakwilkan ayat-ayat Alquran semata-mata mengikuti keinginan dan hawa nafsu saja.
Diriwayatkan dari Said bin Jubair, Ibnu Juraij, Qatadah, Muqatil, As Suddy dan Mujahid bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan tindakan orang orang musyrik yang mendustakan serta memperolok-olok Alquran dan Nabi Muhammad saw. Berkata Ibnu Juraij, "Adalah orang-orang musyrik Arab, mereka datang dan duduk bersama Nabi, mereka ingin mendengarkan sesuatu dari padanya, setelah mereka mendengar ayat-ayat Alquran dari Nabi, mereka mendustakan dan memperolok-olokkannya. Maka turunlah ayat ini.
Menurut riwayat Ibnu `Abbas, Abu Jakfar dan Ibnu Sirin, bahwa ayat-ayat ini diturunkan berhubungan dengan tindakan orang-orang yang suka mengadakan bidah dan mengikuti hawa nafsunya di antara kaum Muslimin, serta orang orang yang suka mentakwilkan ayat semata-mata untuk mengalahkan lawan mereka dalam berdebat.
Jika ayat-ayat ini dihubungkan dengan ayat-ayat yang memerintahkan agar memerangi orang-orang yang menentang agama Islam, seakan-akan kedua ayat ayat ini berlawanan. Ayat ini seakan-akan menyuruh kaum Muslimin tetap bersabar walau apa tindakan orang-orang kafir terhadap mereka. Sedang ayat-ayat yang memerintahkan berperang nadanya agak keras dan memerintahkan agar membunuh orang-orang kafir di mana saja mereka ditemui.
Jawabannya ialah bahwa ayat-ayat ini diturunkan pada masa Nabi Muhammad saw. masih berada di Mekah, di saat kaum Muslimin masih lemah yang pada waktu itu tugas pokok Nabi ialah menyampaikan ajaran tauhid. Dalam pada itu, pada masa ini belum ada perintah berperang dan memang belum ada hikmah diperintahkan berperang pada masa ini. Setelah Nabi di Madinah dan keadaan kaum Muslimin telah kuat, serta telah ada perintah berperang, maka sikap membiarkan tindakan orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah adalah sikap yang tercela, bahkan diperintahkan agar kaum Muslimin mengambil tindakan terhadap mereka itu.
Kemudian Allah swt. memperingatkan Nabi Muhammad saw. bahwa jika ia dilupakan setan tentang larangan Allah duduk bersama-sama orang yang memperolok-olokkan agama itu, kemudian ingat maka segeralah berdiri meninggalkan mereka, janganlah duduk lagi bersama-sama mereka.
Yang dimaksud dengan "Nabi lupa", di sini ialah lupa terhadap hal-hal yang biasa sebagaimana manusia biasa juga lupa. Tetapi Nabi tidak pernah lupa terhadap hal-hal yang diperintahkan Allah menyampaikannya.
Sepakat para ahli tafsir bahwa Nabi Muhammad saw. pernah lupa tetapi bukan karena gangguan setan, sebagaimana firman Allah swt:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
Artinya:
...Dan ingatlah kepada Tuhanmu, jika kamu lupa...
(Q.S Al Kahfi: 24)
Nabi Adam a.s, pernah lupa, sebagaimana firman Allah:

فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا(115)
Artinya:
...Maka ia (Adam) lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.
(Q.S Taha: 115)
Nabi Musa pun pernah lupa, firman Allah swt:

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا(73)
Artinya:
Musa berkata, "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
(Q.S Al Kahfi: 73)
Nabi Muhammad saw. pernah lupa di waktu beliau salat, lalu beliau bersabda:

إنما أنا بشر مثلكم أنسى كما تنسون فإذا نسيت فذكروني
Artinya:
Aku tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kamu, aku lupa sebagaimana kamu lupa, karena itu apabila aku lupa, maka ingatkanlah aku.
(HR Bukhari dan Muslim dari Abdullah)
Dalam pada itu Allah swt. menegaskan bahwa setan hanyalah dapat mempengaruhi orang-orang yang lemah imannya, sedang orang yang kuat imannya, setan tidak sanggup mempengaruhinya, termasuk melupakannya.
Allah swt berfirman:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(99)إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ(100)
Artinya:
Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambil dia jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.
(Q.S An Nahl: 99-100)
Berdasarkan keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setan tidak sanggup menjadikan hamba yang beriman lupa terhadap sesuatu, apa lagi menjadikan Nabi lupa terhadap sesuatu karena ia tidak dapat menguasai hamba Allah yang beriman. Dalam ayat ini disebut setan melupakan Nabi saw. hanyalah merupakan kebiasaan-kebiasaan dalam bahasa bahwa segala macam perbuatan yang tidak baik adalah disebabkan perbuatan setan, sekalipun yang melakukannya bukan setan. Seandainya seorang hamba yang mukmin kuat imannya lupa, maka lupanya itu hanyalah karena pengaruh hati dan jiwanya bukan karena pengaruh atau gangguan setan.
Sebagian ulama menetapkan hukum berdasarkan ayat ini, sebagai berikut:
1. Wajib menjauhkan diri dari orang-orang yang sedang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah, atau orang-orang yang mentakwilkan ayat-ayat Allah semata-mata mengikuti keinginan hawa nafsunya, seandainya tidak sanggup menegur mereka agar menghentikan perbuatan itu.
2. Boleh duduk bersama-sama membicarakan sesuatu yang bermanfaat dengan orang-orang kafir, selama mereka tidak memperolok-olokan agama Allah.


69 Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa.(QS. 6:69)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 69
وَمَا عَلَى الَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَلَكِنْ ذِكْرَى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (69)
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang mukmin yang bertakwa kepada Allah tidaklah bertanggung jawab atas perbuatan orang-orang musyrikin yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan mereka tidak akan menanggung
dosa mereka. Dalam pada itu mereka berkewajiban memberi peringatan kepada kaum musyrikin yang berbuat demikian, semoga mereka bertakwa kepada Allah seperti orang-orang yang mukmin itu dan tidak memperolok-olokkan ayat-ayat Allah lagi.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 69
وَمَا عَلَى الَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَلَكِنْ ذِكْرَى لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (69)
(Dan tidak ada atas orang-orang yang bertakwa) kepada Allah (pertanggungjawaban terhadap dosa mereka) orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah (barang) sebagai huruf zaidah (sedikit pun) jika orang-orang yang bertakwa itu duduk-duduk dengan mereka (akan tetapi) kewajiban orang-orang yang bertakwa adalah (mengingatkan) memberikan peringatan kepada mereka dan juga nasihat (agar mereka bertakwa) tidak lagi memperolok-olokkan ayat-ayat Allah.


70 Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafaat selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.(QS. 6:70)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 70
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا أُولَئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ (70)
Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw dan orang-orang yang beriman agar meninggalkan dan memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-mainan dan senda gurau dengan memperolok-olokan agama itu, mengerjakan perintah-perintahnya dan menghentikan larangan-larangannya atas dasar main-main dan tidak sungguh-sungguh. Mereka itu telah terpedaya oleh kesenangan hidup duniawi dan telah lupa bahwa kehidupan yang sebenarnya, ialah di akhirat nanti. Mereka itu membersihkan diri dan jiwa mereka, tidak memperbaiki budi pekerti mereka sebagaimana yang telah diajarkan Allah, mereka lalai dan lupa akan pertemuan dengan Allah di akhirat nanti, mereka menyia-nyiakan waktu yang berharga dengan mengisi perbuatan-perbuatan yang merugikan diri mereka sendiri.
Selanjutnya Allah swt. memerintahkan pula agar Rasul dan kaum Muslimin memberi peringatan kepada mereka dengan ayat-ayat Alquran agar tiap-tiap diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatan mereka sendiri yang pada hari itu tidak sesuatupun yang dapat menolong, mendatangkan kebaikan atau menolak kejahatan dan kesengsaraan yang mereka alami, selain dari Allah. Pada hari itu tidak ada suatu tebusanpun yang dapat dijadikan untuk menebus diri agar terhindar dari azab Allah. Sebagaimana firman Allah swt:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ(123)
Artinya:
Dan takutlah kamu kepada suatu hari, di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang yang lain sedikitpun dan tidak diterima sesuatu tebusan dari padanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong"
(Q.S Al Baqarah: 123)
Ayat ini membantah pendapat yang mengatakan bahwa di akhirat nanti ada pemberi syafaat yang dapat menolak atau meringankan azab selain dari Allah dan orang yang telah diberi-Nya itu seperti berhala-berhala, orang-orang keramat dan sebagainya.
Kemudian Allah menegaskan bahwa orang-orang yang memperolok-olokkan agama Allah itu berarti mereka telah mengharamkan atas dirinya pahala dan karunia Allah di akhirat nanti karena itu bagi mereka azab yang pedih, mereka dijerumuskan ke dalam neraka disebabkan perbuatan mereka sendiri dan di neraka itu mereka meminum air yang mendidih disebabkan kekafiran mereka.


71 Katakanlah:` Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): `Marilah ikuti kami`. Katakanlah: `Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam,(QS. 6:71)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 71
قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (71)
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatakan kepada orang-orang yang mengajak beliau untuk mengikuti agama mereka lalu bersama-sama menyembah berhala, bahwa beliau dan pengikut-pengikutnya tidak mau meminta pertolongan kepada selain Allah seperti menyembah batu atau pepohonan dan lain-lainya yang nyata-nyata tidak dapat memberikan manfaat atau menolak mudarat. Akan tetapi dia hanya beribadah kepada Allah semata, yang mempunyai kekuasaan, Yang memberikan manfaat atau mudarat dan yang menguasai makhluk, yang menghidupkan dan mematikan.
Orang-orang yang berpikir secara wajar, tentu dapat membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah karena tidak dapat diragukan lagi, bahwa menghambakan diri kepada Zat yang dapat diharapkan manfaat-Nya dan ditakuti siksaan-Nya, lebih utama dan lebih baik dari pada menghambakan diri kepada sesuatu yang tak dapat diharapkan suatu apapun dari padanya juga lebih baik pula menghambakan diri kepada Allah dari pada kembali kepada jalan yang sesat dan bergelimang dalam kemusyrikan.
Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa menyembah selain Allah tidak patut terjadi karena sebab-sebab sebagai berikut:
1. Bahwa orang yang berpikir secara wajar tetap memohon pertolongan kepada Zat Yang Berkuasa, Yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudarat.
2. Mereka tidak mau menjadi murtad kembali seperti keadaan mereka sebelum memeluk agama Islam.
3. Bahwa orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah yang telah diselamatkan dari jurang kesesatan tidak mungkin bisa disesatkan oleh siapapun juga, seperti ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ(37)
Artinya:
Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab.
(Q.S Az Zumar: 37)
Di dalam ayat ini Allah menggambarkan bahwa orang-orang yang murtad sesudah beriman adalah seperti orang yang terkena bisikan setan atau seperti orang kebingungan dalam mencapai sesuatu yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Mereka dalam keadaan bimbang, karena merasa bahwa dirinya berada di antara persimpangan jalan. Mereka telah meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat tak tentu arah dan tujuannya. Di tengah-tengah kebingungan itu mereka digambarkan pula seolah-olah di panggil oleh kawan-kawannya yang beriman untuk kembali kepada jalan yang lurus, akan tetapi mereka itu tidak dapat memenuhi panggilan tersebut karena mereka telah berpisah jauh, pandangan dan pikirannya terarah kepada bisikan setan itu, sehingga tidak dapat lagi mendengar seruan itu. Gambaran ini sesuai dengan Firman Allah:

كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
Artinya:
Seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.
(Q.S Al Baqarah: 275)
Sesudah itu Allah memberikan dorongan kepada Nabi Muhammad saw supaya selalu berusaha agar orang-orang musyrikin dapat memenuhi panggilan untuk kembali ke jalan yang lurus, menjauhi jalan yang sesat yang membingungkan pikirannya.
Allah menegaskan bahwa petunjuk yang benar ialah petunjuk yang diturunkan Allah yang termuat dalam ayat-ayat-Nya. Di dalam petunjuk itulah terdapat bukti-bukti dan keterangan-keterangan tentang kebenaran-Nya yang tidak mengandung kebatilan.
Berbeda dengan seruan yang dikumandangkan oleh orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya yang hanya mengekor kepada jejak nenek moyang mereka. Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menegaskan bahwa tugas yang dibebankan pada beliau ialah untuk menyerahkan jiwa raganya semata-mata kepada Allah, Tuhan semesta alam.


72 dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya.` Dan Dialah Tuhan Yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan.(QS. 6:72)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 72
وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَاتَّقُوهُ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (72)
Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw dan pengikut-pengikutnya untuk mendirikan salat secara tetap yaitu menjalankan sesuatu dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat, memusatkan jiwa menuturkan suara hati nuraninya serta selalu mengingat Allah dan menjauhi perbuatan keji dan mungkar. Juga memerintahkan agar mereka bertakwa, yaitu memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat membawa dirinya ke jalan yang menyimpang dari agama Allah dan syariat-Nya dan memelihara diri dari kemudaratan dan kerusakan yang membahayakan dirinya.
Pada akhir ayat ini Allah swt akan memperingatkan kepada seluruh manusia bahwa Allah swt akan mengumpulkan mereka di hari mahsyar. Pada hari itu manusia akan digiring untuk menghadap Tuhan-Nya. Pada saat itulah mereka akan diperiksa segala amal perbuatannya dan diberi balasan sebagaimana mestinya. Peringatan ini diberikan agar supaya mereka dapat berpikir dan merasakan bahwa menyembah selain Allah atau merasa takut terhadap kekuasaan selain Allah atau mengharapkan pertolongan kepada selain Allah dan tindakan yang tidak benar.


73 Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: `Jadilah, lalu terjadilah`, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. 6:73)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 73
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (73)
Kemudian dari pada itu Allah swt mengajak manusia untuk memikirkan kejadian alam semesta ini agar terbuka pikirannya serta meyakini, bahwa kejadian alam semesta ini yang penuh dengan keindahan tentu ada yang menciptakan, yaitu Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan ciptaan yang penuh dengan bukti-bukti kebenaran serta menciptakan pula hukum hukum-Nya yang berlaku umum yang penuh dengan rahasia yang menunjukkan kepada Penciptanya, keesaan Nya, kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Langit dan Bumi serta segala isinya diciptakan Tuhan secara serasi dan teratur, tidak ada yang sia-sia. Demikian pula segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia, tidak satupun yang di luar pengetahuan-Nya, akan tetapi masing-masing orang akan mendapat balasan sesuai dengan usahanya secara adil. Sesuai dengan firman Allah:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا
Artinya:
Ya Tuhan kami! Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.
(Q.S Ali Imran: 191)
Dan juga firman-Nya:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ(38)مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ
Artinya:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan main-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak.
(Q.S Ad Dukhan: 38-39)
Sesudah itu Allah swt menegaskan bahwa pada waktu Ia menciptakan alam dan menetapkan hukum-hukum Nya, semuanya berjalan menurut kehendak Nya, tak ada kemacetan sedikitpun dan tak ada yang menghalangi serta mengubah hukumnya. Semua kejadian berlangsung baik dengan patuh ataupun secara terpaksa. Itulah sebabnya Allah swt menegaskan bahwa pada saat menciptakan langit dan bumi Dia menciptakannya dengan hak, karena seluruh perintah Nya adalah hak dan ciptaan Nya pun hak, sesuai dengan firman-Nya:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
Artinya:
Ingatlah! Menciptakan dan memerintah adalah wewenang Allah sendiri.
(Q.S Al A'raf: 54)
Di samping itu Allah swt juga memiliki kekuasaan untuk mengadili seluruh manusia setelah mereka dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan di hari mahsyar. Itulah kekuasaan Allah yang tidak dapat ditandingi oleh raja-raja dan penguasa-penguasa betapapun luasnya kekuasaan mereka karena meskipun raja-raja itu berkuasa untuk membuat peraturan dan memberikan hukuman kepada pelanggarnya, namun mereka pada hari kiamat tidak berdaya lagi, karena pada saat itu kekuasaan hanya di tangan Allan swt semata.
Kemudian Allah swt memberikan keterangan lagi tentang kekuasaan-Nya, untuk memberikan pengertian kepada seluruh manusia bahwa tidak ada sesuatupun yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Allah swt mengetahui seluruh alam, baik yang tampak ataupun yang tidak, mengetahui perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan ataupun yang dilakukan secara rahasia. Dia sangat bijaksana menciptakan segala sesuatu secara serasi dan harmonis sesuai dengan fungsinya.
Oleh sebab itulah maka tidak layak bagi manusia yang berakal untuk menghambakan diri kepada selain Allah baik secara langsung ataupun dengan maksud menjadikannya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya.


74 Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: `Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata`.(QS. 6:74)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 74
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (74)
Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar mengingatkan orang-orang musyrik kepada kisah nenek moyangnya yang dimuliakan, yaitu Nabi Ibrahim a.s. agar mereka mengikuti agama nenek moyang mereka. Ibrahim a.s. menyeru manusia untuk beragama tauhid dan menghentikan perbuatan syirik.
Dalam kisah ini diungkapkan percakapan antara Nabi Ibrahim dengan bapaknya Azar. Nabi Ibrahim menanyakan kepada bapaknya dan kaumnya mereka itu menjadikan berhala-berhala yang mereka buat sendiri itu sebagai tuhan-tuhan. Mengapa mereka tidak menyembah Allah yang menciptakan mereka dan menguasai berhala-berhala itu. Semestinya mereka tahu bahwa Allahlah yang berhak disembah. Itulah sebabnya maka Nabi Ibrahim a.s. menegaskan bahwa dirinya betul-betul mengetahui bahwa bapak dan kaumnya terjerumus ke dalam lembah kesesatan yang nyata, jauh menyimpang dari yang lurus.
Perbuatan mereka nyata-nyata tersesat dari ajaran wahyu dan menyimpang dari akal yang sehat, karena berhala-berhala itu tidak lain hanyalah patung-patung hasil pahatan yang dibuat dari batu, kayu atau logam dan lain-lain. Semestinya berhala itu tidak melebihi derajatnya dari pemahatnya. Merekapun tentu sudah mengerti bahwa berhala-berhala itu bukanlah Tuhan. Akan tetapi merekalah yang menjadikannya sebagai Tuhan. Oleh sebab itu tidak masuk akal apabila ada manusia yang menyembah sesama makhluk karena makhluk itu tidak sanggup menguasai jagat raya dan segala isinya, apalagi yang disembah itu patung yang tak dapat berbuat apa-apa.


75 Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin.(QS. 6:75)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 75
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (75)
Kemudian dari pada itu Allah swt. memberikan penjelasan lagi, bagaimana Allah swt. menampakkan keagungan ciptaan-Nya di langit dan di bumi dan tata susunannya ataupun keindahan tata warnanya. Allah menampakkan kepada Ibrahim a.s. benda-benda langit yang beraneka ragam bentuk dan susunannya, beredar menurut ketentuannya masing-masing secara teratur. Bumi yang terdiri dari lapisan-lapisan yang banyak mengandung barang tambang dan perhiasan, sangat berguna bagi kepentingan manusia.
Kesemuanya itu menjadi bukti adanya keagungan Allah, yang dapat dipahami oleh manusia dengan berpikir sesuai dengan fitrahnya.
Allah swt. menjelaskan pula maksud tujuan dari pengenalan Ibrahim a.s. terhadap keindahan ciptaan-Nya itu yaitu agar Ibrahim a.s. benar-benar mengenal hukum alam yang berlaku terhadap ciptaan-Nya dan kekuasaan Allah yang mengendalikan hukum-hukum itu, agar dapat dijadikan bukti-bukti dalam menghadapi orang-orang musyrikin yang sesat dan menjadi pegangan bagi dirinya agar termasuk orang yang betul-betul meyakini keesaan Allah swt.


76 Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: `Inilah Tuhanku`. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: `Saya tidak suka kepada yang tenggelam`.(QS. 6:76)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 76
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76)
Sesudah itu Allah swt. menjelaskan proses pengenalan Ibrahim a.s. secara terperinci. Mula pertama pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap bintang bintang yaitu pada saat bintang nampak bercahaya dan pada saat bintang itu tidak bercahaya, dilihatnya sebuah bintang yang bercahaya paling terang. 117)
Maka timbullah pertanyaan dalam hatinya. Inikah Tuhanku? Pertanyaan ini adalah merupakan pengingkaran terhadap anggapan kaumnya, agar mereka tersentak untuk memperhatikan alasan-alasan pengingkaran yang akan dikemukakan.
Akan tetapi setelah bintang itu tenggelam dan sirna dari pandangannya timbul keyakinan bahwa ia tidak senang kepada yang tenggelam dan menghilang apalagi dianggap sebagai Tuhan, ini sebagai alasan Nabi Ibrahim a.s. untuk mematahkan iktikad kaumnya bahwa semua yang mengalami perubahan itu tidak pantas dianggap sebagai Tuhan. Kesimpulan Ibrahim a.s. itu merupakan kesimpulan dari jalan pikiran yang benar dan sesuai dengan fitrah. Dan siapa s4a yang melakukan pengamatan serupa itu, niscaya akan berkesimpulan yang sama.


77 Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: `Inilah Tuhanku`. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: `Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat`.(QS. 6:77)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 77
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)
Seirama dengan ayat yang lalu Allah swt. menjelaskan pula pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap benda langit yang lebih terang cahayanya dan lebih besar kelihatannya yaitu bulan.
Setelah Ibrahim a.s. melihat bulan tersembul di balik cakrawala dengan cahaya yang terang benderang itu yang terlihat ketika terbit, timbullah kesan dalam hatinya untuk mengatakan, "Inikah gerangan Tuhanku?" Perkataan Ibrahim a.s. serupa itu adalah pernyataan yang timbul secara naluri seperti juga kesan yang didapat oleh kaumnya yang sebenarnya adalah pernyataan untuk mengingkari kesan pertama yang menipu pandangan mata itu dan untuk membantah keyakinan kaumnya seperti pernyataannya dalam ayat yang lalu. Pengulangan berita dengan memberikan kenyataan yang lebih tandas adalah untuk menguatkan pernyataan yang telah lalu. Kemudian setelah bulan itu terbenam dari ufuk dan lenyap dari pengamatan, diapun memberikan pertanyaan agar diketahui oleh orang-orang musyrikin yang berada di sekitarnya.
Ibrahim berkata, "Sebenarnyalah jika Tuhan tidak memberikan daku petunjuk kepada jalan yang benar untuk mengetahui dan meyakini keesaan-Nya, niscaya aku termasuk dalam golongan yang tersesat, yaitu orang-orang yang
117) Yaitu planet Yupiter (Musytari) dan ada pula yang mengatakan planet Venus (Zuhrah) yang dianggap sebagai dewa oleh pemuja bintang yang bisa dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno sedang kaum Ibrahim juga termasuk pemujanya.
menyimpang dari kebenaran dan tidak mengikuti petunjuk Tuhan, serta menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Mereka itu lebih memperturutkan hawa nafsunya dari pada melakukan perbuatan yang diridai Allah. Sindiran ini adalah merupakan sindiran yang tandas bagi kaumnya yang tersesat dan sekaligus merupakan petunjuk bagi orang yang berpegang kepada agama dan wahyu. Sindiran yang bertahap ini adalah sebagai sindiran yang menentukan untuk mematahkan pendapat-pendapat kaumnya. Sindiran yang pertama lunak, kemudian diikuti dengan sindiran yang kedua yang tandas, adalah untuk menyanggah pikiran kaumnya secara halus agar mereka terbuka belenggu hatinya untuk memahami kebenaran yang sebenar-benarnya.


78 Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: `Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar`, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: `Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.(QS. 6:78)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 78
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78)
Kemudian dari pada itu Allah swt. mengisahkan sindiran-Nya yang lebih tajam yaitu pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap matahari, benda langit yang paling cerah cahayanya menurut pandangan mata, yang merupakan rentetan ketiga dari pengamatan-pengamatan Ibrahim yang telah lalu, yaitu setelah Ibrahim a.s. melihat matahari tersebut terbit di ufuk diapun berkata, "Yang terlihat sekarang inilah Tuhanku" Ini lebih besar dari pada bintang-bintang dan bulan. Akan tetapi setelah matahari itu tenggelam dan sirna dari pandangan, beliaupun mengeluarkan peringatan, "Wahai kaumku! Sebenarnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan".
Sindiran ini adalah sindiran yang paling tajam untuk membungkamkan kaumnya agar mereka tidak mengajukan alasan lagi buat mengingkari kebenaran yang dibawakan oleh Ibrahim a.s.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 78
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78)
(Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata, "Inilah) dhamir dalam Lafal ra-aa dimudzakarkan mengingat khabarnya mudzakkar (Tuhanku ini yang lebih besar.") daripada bintang dan bulan (maka tatkala matahari itu tenggelam) hujah yang ia sampaikan kepada kaumnya itu cukup kuat dan tidak dapat dibantah lagi oleh mereka (dia berkata, "Hai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.") dari mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala dan benda-benda hawadits/baru yang masih membutuhkan kepada yang menciptakannya. Akhirnya kaumnya itu berkata kepadanya, "Lalu apakah yang engkau sembah?" Nabi Ibrahim menjawab:


79 Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. 6:79)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 79
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
("Sesungguhnya aku menghadapkan diriku) aku menghadapkan diri dengan beribadah (kepada Tuhan yang telah menciptakan) yang telah mewujudkan (langit dan bumi) yaitu Allah swt. (dengan cenderung) meninggalkan semua agama untuk memeluk agama yang benar (dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan.") Allah.


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 79
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Setelah Allah swt. mengisahkan kelepasan diri Nabi Ibrahim a.s. dari kemusyrikan kaumnya, Allah swt. mengisahkan pula kelanjutan dari pada kelepasan diri itu dengan menggambarkan sikap Ibrahim a.s dan akidah tauhidnya yang murni, yaitu Ibrahim a.s. menghadapkan dirinya dalam ibadah ibadahnya kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.
Dia pula yang menciptakan benda-benda langit yang terang benderang di angkasa raya dan yang menciptakan manusia seluruhnya, termasuk pemahat patung-patung yang beraneka ragam bentuknya.
Ibrahim a.s. cenderung kepada agama tauhid dan menyatakan bahwa agama agama lainnya adalah batal dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang musyrik. Dia seorang yang berserah diri kepada Allah swt. semata.
Firman Allah:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
Artinya:
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dan pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus.
(Q.S An Nisa': 125)
Dan firman-Nya:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
Artinya:
Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.
(Q.S Luqman: 22)


80 Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata:` Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. `Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?(QS. 6:80)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 80
وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِي وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (80)
Allah swt. menerangkan bahwa ajakan-ajakan Nabi Ibrahim a.s. kepada jalan yang benar itu, mendapat tantangan yang berat dari kaumnya.
Ibrahim a.s. dibantah oleh kaumnya pada waktu beliau menyampaikan agama tauhid. Mereka membantah oleh karena Nabi Ibrahim a.s. mengemukakan kebatilan agama mereka yaitu menyembah berhala dan mendewakan bintang bintang.
Bukti-bukti yang dikemukakan oleh Ibrahim a.s. itu melemahkan, bahkan membatalkan akidah mereka, karena akidah mereka hanyalah didasarkan pada taqlid kepada nenek moyang mereka. Itulah sebabnya Ibrahim a.s. menanyakan kepada mereka mengapa mereka itu membantah dalam hal tauhid, padahal Ibrahim a.s. telah mengemukakan dalil-dalil kebenaran agama tauhid itu sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah dan keyakinan Ibrahim a.s. sendiri. Bukankah mereka mengetahui bahwa patung-patung dan bintang-bintang yang mereka puja itu mempunyai kekurangan sedang Yang Maha Sempurna ialah Pencipta jagat raya dan isinya. Maka seharusnyalah mereka tidak menyembah tuhan yang mempunyai sifat kekurangan itu. Kemudian Nabi Ibrahim a.s. menegaskan pendiriannya terhadap bantahan mereka itu yaitu beliau tidak gentar menghadapi malapetaka dan akibat-akibat dari mengingkari berhala-berhala dan bintang-bintang yang disembah itu. Karena sembahan-sembahan mereka itu adalah benda-benda mati yang tidak dapat menolak mudarat dan tidak dapat pula memberikan manfaat. Tantangan Nabi Ibrahim a.s. itu adalah merupakan jawaban terhadap sikap orang-orang musyrik dan menakut-nakuti Ibrahim a.s. akan mendapat bencana sebab mengingkari sesembahan mereka, seperti dialami Nabi Hud a.s. pada ketika menghadapi kaumnya, firman Allah:
إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ
Artinya
Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan-sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.
(Q.S Hud: 54)
Betapa sembahan-sembahan mereka akan menimpakan bencana kepadanya padahal sembahan-sembahan itu tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat menjadi perantara dan juga tidak dapat memberikan syafaat, terkecuali apabila Allah menghendaki bencana yang timbul karena patung itu, kalau memang demikian berhala-berhala dan bintang-bintang itu niscaya memberikan pengaruh jelek terhadap seseorang. Akan tetapi bukan karena pengaruh dari berhala-berhala dan bintang-bintang itu melainkan semata-mata hanya karena kekuasaan Allah. Segala bencana yang menimpa manusia walaupun dari mana datangnya hanya karena kehendak Allah dan ilmu-Nya.
Pada akhir ayat ini Allah swt. memberikan alasan dan pengecualian yang terdapat dalam ayat ini yaitu Allah swt. mempunyai pengetahuan yang sangat luas, meliputi benda-benda yang ada.



<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar