Selasa, 27 Maret 2012

Ali ‘Imran 16 s/d 19

Kembali ke Daftar Surah                               Daftar Surah Al Imran
TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-016
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1235-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-016.html



الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa: `Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,(QS. 3:16)
Kemudian Allah menunjukkan sifat-sifat orang yang takwa itu, yaitu orang yang hatinya sudah merasakan buah iman, orang yang bergetar lidahnya mengucapkan pengakuan iman ini ketika berdoa dan beribadah. Mereka memelihara diri dari pada berbuat maksiat, tunduk kepada Allah dengan khusyuk serta memohon kepada-Nya. "Wahai Tuhan kami. Kami benar-benar telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan kepada Rasulullah dengan iman yang meresap ke dalam lubuk hati kami, yang membimbing akal pikiran kami, dan menguasai pekerjaan-pekerjaan badaniah kami. Maka wahai Tuhan kami, luputkanlah dosa-dosa kami dengan ampunan-Mu. Serta jauhkanlah kami dari azab neraka. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Dikhususkan doa dengan memohonkan pemeliharaan dari azab neraka. karena orang yang dibebaskan dari azab neraka berarti telah mendapat kemenangan dan tempat kembali yang terbaik. 
Yang dimaksud dengan iman dalam pengakuan orang-orang yang takwa ini ialah iman yang murni, yang bekas-bekasnya nampak pada pemeliharaan diri, dari pada kemaksiatan, serta banyak berbual kebajikan. 
Ulama' salaf telah bersepakat bahwa yang dimaksud dengan iman itu meliputi iktikad, ucapan dan pekerjaan. Iman inilah yang memberi bimbingan kepada akal dan perbuatan manusia sesuai dengan fitrahnya.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-017
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1234-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-017.html



الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.(QS. 3:17)
Pada ayat ini ditambahkan lagi sifat-sifat orang beriman yang membedakan mereka dari orang-orang yang lain. Dengan sifat tersebut mereka mendapatkan keridaan Allah SWT. Semua sifat tersebut mereka miliki. dan masing-masing sifat itu mempunyai tingkatan keutamaan. dan berkat sifat-sifat itu pula mereka memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepada mereka. Sifat-sifat tersebut ialah: 
  1. Sabar; Sabar yang paling sempurna, ialah sabar dan tabah menderita di dalam melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan Allah. Apabila gelora syahwat sudah bergejolak, dan jiwapun sudah tunduk untuk melakukan kemaksiatan maka kesabaranlah yang akan membendungnya. Sifat sabar pulalah yang menetapkan (mengokohkan) iman dan memelihara ketaatan pada batas-batas yang telah ditetapkan syarak. Sabarlah yang dapat memelihara martabat manusia di waktu mendapat kesulitan di dunia, dan memelihara hak-hak orang dari gangguan tangan orang yang rakus. Sifat sabar merupakan syarat bagi tercapainya sifat-sifat jujur, taat, dan istigfar. 
  2. Bersifat benar; Benar adalah puncak kesempurnaan. Benar dan jujur dalam iman, perkataan dan niat. 
  3. Taat; ialah ketekunan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan tunduk dan khusyuk kepada Allah. Tunduk dan khusyuk adalah jiwa dan inti Sari ibadah. Tanpa tunduk dan khusyu' ibadah menjadi hampa, bagaikan pohon tiada berbuah. 
  4. Membelanjakan harta di jalan Allah, baik yang bersifat wajib, maupun yang sunah, karena mengeluarkan harta untuk amal kebajikan sangat ditekankan dan dianjurkan oleh agama. 
  5. Beristigfar di waktu sahur yaitu waktu sebelum fajar menyingsing dekat subuh maksudnya salat Tahajud di akhir malam, yaitu waktu tidur paling enak dan sukar untuk meninggalkannya. Tetapi jiwa dan hati pada waktu itu sangat bening dan tenang. Salat ini diikuti dengan bacaan istigfar dan doa. Terdapat di dalam kitab hadis Sahih Bukhari dan Muslim, dan dalam kitab-kitab musnad serta sunan, riwayat dari pada sejumlah sahabat. 
Rasulullah berkata: 
ينزل ربك تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول: من يدعوني فاستيجب له من يسألني فاعطيه ومن يستغفرني فاغفر له 
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح 
Artinya: 
Tuhan kita yang Maha suci dan Maha tinggi, turun pada setiap malam ke langit dunia pada waktu sepertiga akhir malam. Dia berfirman: "Siapa yang berdoa kepada Ku maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada Ku Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun kepada Ku maka Aku akan mengampuninya". (HR Bukhari dan Muslim) 
Adapun istigfar (minta ampun) yang dimaksud oleh syarak ialah istigfar yang disertai tobat nasuha, serta menyesuaikan perbuatan dengan ketentuan agama. Tobat nasuha adalah tobat dengan benar-benar menghentikan perbuatan dosa dan tidak mengulangi lagi, serta berusaha mengimbanginya dengan perbuatanya.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-018
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1233-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-018.html



شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 3:18)
Allah SWT menyatakan ke Esaan Nya dengan menegakkan dalil-dalil dan bukti ciptaan Nya pada alam dan diri manusia, serta menurunkan ayat-ayat yang menjelaskannya. Para malaikat menyatakan pula hal keesaan Allah itu dan menyampaikannya kepada nabi-nabi. Para nabi-nabi menyatakan kesaksian yang diperkuat oleh ilmu yang sudah tertanam dalam jiwa mereka yang lebih tinggi dari pada ilmu-ilmu lainnya yang diperoleh dengan pengalaman-pengalaman. Demikian pula para ahli ilmu, turut menyatakan ke Esaan Allah dan menjelaskannya. Mereka menyaksikan Allah dengan kesaksian yang disertai bukti-bukti dan alasan ilmiyah. Ayat ini menunjukkan martabat yang tinggi dari para ulama karena mereka telah disejajarkan dengan malaikat yang mulia yaitu sama-sama dapat menyaksikan ke Esaan Allah SWT. 
"Menegakkan keadilan" dalam ayat ini ialah menegakkan keseimbangan dalam i'tikad, karena tauhid itu merupakan suatu kepercayaan yang Iurus, tauhid yang murni yang tidak dicampuri sedikitpun oleh keingkaran kepada Allah dan mempersekutukan Nya. Juga menegakkan keseimbangan di dalam ibadat, budi pekerti dan amal perbuatan, artinya menegakkan keseimbangan antara kekuatan rohani, dan kekuatan jasmani. Allah memerintahkan kita melakukan ibadan salat dan ibadah lainnya untuk menyucikan rohani. Allah menyuruh kita makan makanan yang baik adalah untuk memelihara tubuh. Dan Allah melarang kita berlebih-lebihan di dalam beragama dan keterlaluan dalam mencintai dunia. 
Demikian pula, Allah meletakkan hukum keseimbangan pada alam ini. Barang siapa memperhatikan hukum alam ini dan tata tertibnya yang teliti, maka nampak jelas baginya hukum keseimbangan itu paling sempurna. Allah menegakkan keseimbangan yang sempurna pada alam ini, adalah sebagai bukti nyata atas kebenaran kebijaksanaan Nya. Kesatuan tata tertib pada alam ini menunjukkan ke Esaan pencipta Nya. 
Di akhir ayat ini Allah menguatkan lagi keesaan zat Nya dalam sifat ke Tuhanan."Tak ada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana". Sifat "Maha Kuasa" dalam ayat ini memberi pengertian kesempurnaan KodratNya dan sifat "Maha Bijaksana" menunjukkan kesempurnaan ilmu Nya. Suatu kekuasaan tidak dapat sempurna kecuali dengan adanya hak yang mutlak dalam bertindak. Dan keadilan (keseimbangan) juga tidak akan dapat sempurna, kecuali dengan mengetahui segala keadaan dan kemaslahatan. Maka barang siapa yang kesempurnaannya sudah sampai demikian, tidak seorangpun dapat mempengaruhinya dalam menjalankan keseimbangan itu dan tidak ada satu makhlukpun yang keluar dari hikmahnya.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-019
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1232-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-019.html



إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.(QS. 3:19)
Pada ayat ini Allah menerangkan agama yang diakui Nya hanyalah agama Islam yaitu agama tauhid, agama yang mengesakan Allah SWT. Allah menerangkan bahwasanya agama yang sah di sisi Allah hanyalah Islam . Semua agama dan syariat yang dibawa nabi-nabi terdahulu intinya satu, ialah "Islam" yaitu berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa, menjunjung tinggi perintah-perintah Nya dan berendah diri kepada Nya walaupun syariat-syariat itu berbeda di dalam beberapa kewajiban ibadah dan lain-lain. 
Maka yang dinamakan orang Islam yang benar ialah orang yang ikhlas di dalam melaksanakan segala amalnya, serta kuat imannya lagi bersih dari syirik. 
Allah mensyariatkan agama untuk dua macam tujuan: 
  1. Membersihkan jiwa manusia dan akalnya daripada kepercayaan yang tidak benar seperti mengakui adanya kekuasaan gaib pada makhluk Allah. 
  2. Memperbaiki jiwa manusia dengan amal perbuatan yang baik dan memurnikan keikhlasan kepada Allah. 
Kemudian Allah menggambarkan perselisihan para ahli kitab tentang agama yang sebenarnya. 
Sebenarnya mereka tidaklah keluar dari agama Islam, agama tauhid yang dibawa oleh para nabi-nabi, seandainya pemimpin-pemimpin mereka tidak berbuat aniaya dan melampaui batas sehingga mereka berpecah belah menjadi bermazhab-mazhab serta membunuh nabi-nabi. Perpecahan dan peperangan di antara mereka tidak patut terjadi karena mereka adalah satu agama Tetapi karena kedengkian di antara pemimpin-pemimpin mereka, dan dukungan mereka terhadap satu mazhab untuk mengadakan mazhab yang lain, timbullah perpecahan itu. Perpecahan itu bertambah sengit setelah pemimpin-pemimpin itu menyesatkan lawannya dengan jalan menafsirkan nash-nash agama menurut hawa nafsu mereka. 
Sejarah telah membuktikan, bahwa raja-raja dan pendeta-pendetalah yang telah memecah belah agama masehi, sehingga menjadi beberapa mazhab yang saling bertentangan. 
Arius, seorang pemimpin kaum Nasrani, dan pengikut-pengikutnya yang mengajak umat Masehi kembali kepada tauhid telah dijatuhi hukuman sebagai orang mulhid (kafir) Dan kitab-Kitabnya dibakar dan ajaran-ajarannya dilarang berdasarkan persidangan yang dibentuk oleh Konstantien pada tahun 325 M. 
Ketika ajaran Arius berkembang dalam masyarakat, pengikut-pengikut Arius dimusnahkan oleh Theodosius II, berdasarkan undang-undang yang dikeluarkan pada tahun 628 M. Maka dengan demikian mazhab-mazhab Trinitas tetap berkembang, dan tetap saling bertentangan. 
Di akhir ayat ini Allah mengancam orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Nya dengan menandaskan hukuman yang akan ditimpakan kepada mereka.




Kembali ke Daftar Surah                               Daftar Surah Al Imran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar