Senin, 26 Maret 2012

Al-Baqarah 260-265

Kembali ke Daftar Surah                                     Kembali ke Daftar Surah 


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 260
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/585-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-260.html


 وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ  
Ayat ini menambahkan suatu perumpamaan lain tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali suatu makhluk yang telah mati. Kalau pada ayat 258 dikemukakan peristiwa dialog antara Nabi Ibrahim dan raja Namruz, maka pada ayat ini diceritakan dialog antara Nabi Ibrahim dan Tuhannya. 
Dengan penuh rasa kerendahan dan kehambaan kepada Allah, Ibrahim a.s. mengajukan permohonan kepada-Nya agar Dia bermurah hati untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana cara Allah swt. menghidupkan makhluk yang telah mati.

Jika diperhatikan hanya sepintas lalu, maka permohonan Nabi Ibrahim ini memberikan kesan, bahwa ia sendiri seolah-olah masih mempunyai keragu-raguan tentang kekuasaan Allah menghidupkan kembali orang yang telah mati. Sebab itu Allah berfirman kepadanya: "Apakah engkau masih belum percaya bahwa Aku dapat menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati?" Akan tetapi yang dimaksudkan dalam ayat ini bukanlah demikian, sebab Nabi Ibrahim sama sekali tidak mempunyai keraguan tentang kekuasaan Allah. Beliau mengajukan permohonan itu kepada Allah swt. bukan karena keragu-raguan melainkan karena ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati. Maka Ibrahim menjawab: "Aku sedikit pun tidak meragukan kekuasaan Allah, akan tetapi aku mengajukan permohonan itu adalah untuk sampai kepada derajat "`ainulyaqin", yaitu keyakinan yang diperoleh setelah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, sehingga hatiku menjadi lebih tenteram, dan keyakinanku menjadi lebih kuat dan kokoh." 
Allah mengabulkan permohonan itu, lalu diperintahkan-Nya agar Ibrahim a.s. mengambil empat ekor burung kemudian menjinakkannya sehingga mereka akan datang kepadanya bila dipanggil. Kemudian Allah swt. menyuruh Ibrahim a.s. untuk meletakkan masing-masing burung itu di atas bukit tertentu yang berjauhan letaknya satu dengan yang lain. 
Sesudah itu Ibrahim as. diperintankan-Nya untuk memanggil burung-burung tersebut. Dengan suatu panggilan saja, burung burung akan datang kepadanya patuh dan taat. Demikian pulalah halnya umat manusia di hari akhirat nanti. Apabila Allah swt. memanggil mereka dengan suatu panggilan saja, maka bangkitlah makhluk itu dan datang kepadanya serentak, dengan taat dan patuh kepada-Nya. 
Pendapat lain mengatakan bahwa Ibrahim diperintahkan Allah untuk memotong-motong tubuh burung-burung itu, kemudian meletakkan bagian-bagian tubuh burung tersebut pada bukit yang saling berjauhan letaknya. Akhirnya Ibrahim diperintahkan untuk memanggil burung-burung yang telah dipotong-potong sedemikian rupa, namun ternyata burung-burung itu datang kepadanya dalam keadaan utuh seperti semula. Tentu saja Allah mengembalikan burung-burung itu lebih dahulu kepada keadaan semula, sehingga dapat datang memenuhi panggilan Ibrahim a.s. Dengan ini dapatlah dipenuhi permohonan Ibrahim a.s. kepada Allah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana Allah menghidupkan kembali makhluk yang telah mati, sehingga hatinya merasa tenteram dan keyakinannya semakin kokoh. 
Pada akhir ayat ini Allah swt. memperingatkan kepada Ibrahim dan kepada manusia semuanya, agar mereka meyakini benar-benar, bahwa Allah sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Artinya kuasa dalam segala hal, termasuk menghidupkan kembali makhluk yang telah mati dan Ia Maha Bijaksana terutama dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada hamba-Nya, menuju jalan yang lurus dan benar.


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 261
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/584-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-261.html

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ  

Dalam ayat ini Allah swt. menggambarkan keberuntungan orang yang suka membelanjakan atau menyumbangkan harta bendanya di jalan Allah, yaitu untuk mencapai keridaan-Nya. 
Hubungan antara infak dan hari akhirat adalah erat sekali karena sebagaimana diketahui, seseorang tak akan mendapat pertolongan apa pun dan dari siapa pun pada hari akhirat itu, kecuali dari hasil amalnya sendiri selagi ia masih di dunia, antara lain amalnya yang berupa infak di jalan Allah. 
Betapa mujurnya orang yang suka menafkahkan hartanya di jalan Allah oleh ayat ini dilukiskan sebagai berikut : bahwa orang tersebut adalah seperti seorang yang menyemaikan sebutir benih di tanah yang subur. Benih yang sebutir itu menumbuhkan sebatang pohon dan pohon itu bercabang tujuh, setiap cabang menghasilkan setangkai buah dan setiap tangkai berisi seratus biji sehingga benih yang sebutir itu memberikan hasil sebanyak 700 butir. Ini berarti tujuh ratus kali lipat. Bayangkanlah betapa banyak hasilnya apabila benih yang ditanamnya itu lebih dari sebutir. 
Penggambaran seperti yang terdapat dalam ayat ini adalah lebih jitu daripada misalnya dikatakan secara langsung bahwa benih yang sebutir akan menghasilkan 700 buah. Sebab penggambaran yang terdapat dalam ayat tadi memberikan kesan bahwa amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seseorang senantiasa berkembang dan ditumbuhkan oleh Tuhan sedemikian rupa sehingga menjadi keuntungan yang berlipat ganda bagi orang yang melakukannnya seperti memperkembangkan tanaman yang ditanam oleh seseorang pada tanah yang subur untuk keuntungan penanamnya. 
Pengungkapan tentang perkembangan yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan seperti yang digambarkan dalam ayat ini telah membangkitkan minat para ahli tumbuh-tumbuhan untuk mengadakan penelitian dalam masalah itu. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa sebutir benih yang ditanam pada tanah yang baik dan menumbuhkan sebatang pohon, pada umumnya menghasilkan lebih dari setangkai buah bahkan ada yang berjumlah lebih dari lima puluh tangkai. Jadi tidak hanya setangkai saja. Dan setiap tangkai berisi lebih dari satu biji bahkan kadang-kadang lebih dari enam puluh biji. Dengan demikian teranglah bahwa penggambaran yang diberikan ayat tadi bahwa sebutir benih dilipatgandakan hasilnya sampai menjadi tujuh ratus butir bukanlah suatu penggambaran yang berlebih-lebihan melainkan adalah wajar dan sesuai dengan kenyataan. 
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa semakin banyak penyeledikan-penyelidikkan ilmiah dilakukan orang dan semakin tinggi pengetahuan dan tekhnologi umat manusia semakin tersingkaplah kebenaran apa-apa yang terkandung dalam kitab suci Alquran baik mengenai benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan, ruang angkasa dan sebagainya. 
Banyak riwayat yang berasal dari Rasulullah saw. yang menggambarkan keberuntungan orang-orang yang menafkahkan harta-bendanya di jalan Allah; yaitu untuk memperoleh keridaan-Nya dan untuk menjunjung tinggi agama-Nya. Di antaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Nasai dan Hakim dari Ibnu Masud bahwa ia berkata, "Seorang lelaki telah datang membawa seekor unta yang bertali di hidungnya lalu orang tersebut berkata: "Unta ini saya nafkahkan jalan Allah." Maka Rasulullah bersabda: "Dengan nafkah ini, anda akan memperoleh di akhirat kelak tujuh ratus ekor unta yang juga bertali di hidungnya." 
Pada akhir ayat ini Allah swt. menyebutkan dua sifat di antara sifat-sifat-Nya, yaitu Maha Luas dan Maha Mengetahui. Maksudnya, Allah Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-Nya, karunia-Nya tak terhitung jumlahnya. Dan Maha Mengetahui siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang patut diberi pahala yang berlipat-ganda, yaitu mereka yang suka menafkahkan harta bendanya untuk kepentingan umum, untuk menegakkan kebenaran, dan untuk kepentingan pendidikan bangsa dan agama, serta keutamaan-keutamaan yang akan membawa bangsa itu kepada kebahagiaan di dunia dan di akhir. Apabila nafkah-nafkah semacam itu telah menampakkan hasilnya untuk kekuatan agama dan kebahagiaan bangsa, maka orang-orang yang bernafkah itu pun akan dapat pula menikmatinya. 
Ajaran-ajaran Islam mengenai infak sangat tinggi nilainya. Selain mengikis sifat-sifat yang tidak baik seperti kikir dan mementingkan diri sendiri, infak ini juga menimbulkan kesadaran sosial yang mendalam, bahwa masing-masing orang senantiasa saling membutuhkan, dan seseorang tak akan dapat hidup seorang diri. Sebab itu harus ada sifat gotong-royong, dan saling memberi, sehingga jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin dapat ditiadakan, persaudaraan dipupuk dengan hubungan yang lebih akrab. 
Menafkahkan harta di jalan Allah, baik yang wajib seperti zakat maupun yang sunat seperti sedekah, yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat, untuk memberantas penyakit, kemiskinan dan kebodohan, untuk penyiaran agama Islam dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah sangat dituntut oleh agama, dan sangat dianjurkan oleh syariat. Sebab itu, terdapat banyak sekali ayat-ayat Alquran yang membicarakan masalah ini, serta memberikan dorongan yang kuat dan memberikan perumpamaan yang menggambarkan bagaimana beruntungnya orang-orang yang suka berinfak dan betapa malangnya orang-orang yang tidak mau menafkahkan hartanya.


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 262
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/583-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-262.html

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa pahala dan keberuntungan yang akan didapat oleh orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, ada syaratnya, yaitu bahwa ia memberikan hartanya itu benar-benar dengan ikhlas, dan setelah itu ia tidak suka menyebut-nyebut infaknya itu dengan kata-kata yang dapat melukai perasaan orang yang menerimanya
Orang-orang semacam inilah yang berhak untuk memperoleh pahala di sisi Allah, dan tak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak merasa sedih. Ini berarti, bahwa orang yang memberikan sedekah kepada seseorang, kemudian ia menyebut-nyebut sedekah dan pemberiannya itu dengan kata-kata yang menyinggung perasaan dan kehormatan orang yang menerima sedekah itu, maka orang semacam ini tidak berhak memperoleh pahala di sisi Allah swt. 
Ini adalah ajaran yang sangat tinggi nilainya, sebab ada orang yang menyumbangkan hartanya bukan karena mengharapkan rida Allah, melainkan hanya menginginkan popularitas dan kemasyhuran serta puji-pujian dan masyarakat, disiarkannya infaknya itu dengan cara yang menyolok, sehingga ia dikagumi sebagai seorang dermawan. Atau ketika memberikan sedekah itu ia mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Pemberian semacam ini adalah bertentangan dengan tujuan agama, karena tidak akan menimbulkan hubungan kasih sayang dan persaudaraan, melainkan menimbulkan kebencian dan permusuhan. Sebab itu wajarlah jika orang-orang semacam ini tidak akan mendapatkan pahala di sisi Allah. 
Ringkasnya, menafkahkan harta di jalan Allah haruslah dengan niat yang ikhlas dan maksud yang suci. Atas niat yang ikhlas inilah Allah akan memberikan pahala, dan masyarakat akan menghargainya. Rasulullah saw. bersabda:

إنما الأعمال بالنية و إنما لكل امرئ ما نوي 
Artinya: 
Semua amal itu harus disertai dengan niat. Dan setiap manusia akan mendapat balasan atas amalnya berdasarkan niatnya itu. (HR Imam Bukhari dari Umar Ibnul Khattab) 
Pada akhir ayat tersebut Allah swt. menjelaskan bahwa orang-orang yang berinfak dengan niat yang ikhlas itu, selain akan memperoleh pahala di sisi Allah, juga tidak dikhawatirkan nasib mereka, sebab mereka itu pasti akan mendapat pahala dan rida Allah swt. Dan mereka juga tidak akan bersedih hati, bahkan mereka akan bergembira nanti di akhirat karena mereka telah dapat berbuat kebaikan, dan kebaikan itu mendatangkan pahala bagi mereka. Sebaliknya, orang-orang yang enggan berinfak, nanti di akhirat akan bersedih hati dan menyesal, sebab tak akan ada lagi kesempatan bagi mereka untuk berbuat kebaikan. Dan mereka akan menerima azab dari Allah swt.

TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 263
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/582-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-263.html


قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ  

Dalam ayat ini Allah swt. menyebutkan bahwa seseorang yang tidak mampu bersedekah akan tetapi ia dapat mengucapkan kata-kata yang menyenangkan atau yang menyakitkan hati para peminta, dan memaafkan peminta itu karena seolah-olah memaksa adalah lebih baik dari orang yang bersedekah tetapi sedekahnya itu diiringinya dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan hati dan menyinggung perasaan
Jadi, apabila kita tidak dapat menghindarkan diri dari mengucapkan kata-kata yang melukai perasaan atau menyebut-nyebut pemberian itu, baik ketika memberikan atau pun sesudahnya, maka lebih baiklah kita tidak bersedekah tetapi ucapkanlah kata-kata yang baik dan menyenangkan kepada orang yang meminta sesuatu kepada kita. Itu lebih baik daripada memberikan sesuatu yang disertai dengan caci-maki, dsb. 
Pada akhir ayat ini Allah swt. menyebutkan dua sifat di antara sifat-sifat kesempurnaan-Nya, yaitu Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Maksudnya ialah Allah Maha Kaya, sehingga Ia tidak memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menyumbangkan harta-bendanya untuk kepentingan Allah, tetapi untuk kepentingan hamba itu sendiri. Yaitu membersihkan diri, dan menumbuhkan harta mereka, agar mereka menjadi bangsa yang kuat dan kompak, serta saling tolong-menolong. 
Allah swt. tidak menerima sedekah yang disertai dengan kata-kata yang menyakitkan hati karena Allah hanya menerima amal kebaikan yang dilakukan dengan cara-cara yang baik. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-Nya yang tidak menyertai sedekahnya dengan kata-kata yang menyakitkan, atau yang suka menyebut-nyebut sedekahnya itu setelah diserahkan atau ketika menyerahkannya. Oleh karena Allah Maha Kaya dan Maha Pengasih, maka Allah kuasa pula untuk memberikan ganjaran dan pertolongan kepada hamba-Nya yang suka menafkahkan hartanya dengan ikhlas.


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 264
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/581-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-264.html


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ  

Dalam ayat ini Allah menujukan firman-Nya kepada orang-orang yang beriman agar mereka jangan sampai melenyapkan pahala infak mereka lantaran menyertainya dengan kata-kata yang menyakitkan hati atau dengan menyebut-nyebut infak yang telah diberikan itu
Infak bertujuan untuk menghibur dan meringankan penderitaan fakir miskin dan untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Itulah sebabnya, maka sedekah itu tidak boleh disebut-sebut, atau disertai kata-kata yang menyakitkan hati si penerimanya. 
Apabila infak tersebut disertai kata-kata semacam itu, maka tujuan utama dari infak tersebut, yaitu untuk menghibur dan meringankan penderitaan tidak akan tercapai. Sebab itu Allah swt. melarangnya, dan menegaskan bahwa infak semacam itu hapus pahalanya. 
Orang yang berinfak karena riya sama halnya dengan orang yang melakukan ibadah lainnya dengan riya, salatnya itu batal pahalanya dan tidak mencapai tujuan yang dimaksud. Sebab tujuan salat adalah menghadapkan segenap hati dan jiwa kepada Allah swt. serta meresapkan kebesaran dan kekuasaan-Nya, dan memanjatkan syukur atas segala rahmat-Nya. Sedang orang yang salat karena riya, perhatiannya bukan tertuju kepada Allah, melainkan kepada orang yang diharapkannya untuk memuji dan menyanjungnya. 
Sifat riya adalah suatu tabiat yang tidak baik. Sebagian orang ingin dipuji dan disanjung atas suatu kebajikan yang dilakukannya. Orang yang bersedekah yang mengharapkan pujian dan terima kasih dari yang menerima sedekah itu, bila pada suatu ketika ia merasa kurang dipuji dan kurang ucapan terima kasih kepadanya dari si penerima atau kurang penghargaan si penerima terhadap sedekahnya itu, dia akan merasa sangat kecewa. Dalam keadaan demikian, sangat besar kemungkinan ia akan mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan si penerima sehingga sedekahnya itu tidak akan mendatangkan pahala di sisi Allah. Dan orang yang bertabiat semacam ini, sesungguhnya tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhirat. Sedekah semacam itu adalah seperti debu di atas batu yang licin, apabila datang hujan lebat maka debu itu hilang lenyap. 
Demikian pulalah halnya sedekah yang diberikan karena riya, tidak akan mendatangkan pahala apa pun di akhirat nanti sebab amalan itu tidak dilakukan untuk mencapai rida Allah melainkan karena mengharapkan pujian manusia semata-mata. Dengan demikian ia tidak memperoleh hasil apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia la tidak mendapatkan hasil apa-apa dari sedekahnya itu karena sedekahnya yang disertai rasa riya atau perkataan yang menyakitkan hati hanyalah akan menimbulkan kebencian masyarakat kepadanya. Sedang di akhirat, ia tidak memperoleh pahala dari sisi Allah, karena riya dan kata-kata yang tidak menyenangkan itu telah menghapuskan pahala amalnya. Dan Allah swt. memberikan pahala hanya kepada orang-orang yang beramal dengan ikhlas, ingin mensucikan diri dan memperbaiki keadaan mereka, dan mengharapkan rida-Nya semata-mata. 
Pada akhir ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa Dia tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir karena petunjuk itu berdasarkan iman. Iman itulah yang membimbing seseorang kepada keikhlasan beramal dan menjaga diri dari perbuatan dan ucapan yang dapat merusak amalnya serta melenyapkan pahalanya. Maka dalam ayat ini terdapat sindirian bahwa sifat riya dan kata-kata yang tidak menyenangkan itu adalah sebagian dari sifat-sifat dan perbuatan orang-orang kafir dan harus dijauhi oleh orang-orang yang mukmin. 
Banyak hadis-hadis Rasulullah saw. yang mencela sedekah yang disertai dengan ucapan yang menyakitkan hati. Imam Muslim meriwayatkan hadis berikut dari Abu Zar. Rasulullah saw. bersabda: 

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم : المنان بما أعطي و المسبل إزاره و المنفق سلعته بالحلف الكاذب 
Artinya: 
Ada tiga macam orang yang pada hari kiamat nanti Allah swt. tidak akan berbicara dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka dan tidak akan mensucikan mereka dari dosa dan akan mendapat azab yang pedih. Yaitu orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya apabila ia memberikan sesuatu, dan orang yang suka memakai sarungnya terlalu dalam sampai menyapu tanah karena congkaknya dan orang yang berusaha melariskan dagangannya dengan sumpah yang bohong. (HR Muslim dari Abi Zar) 
Dan Imam Nasai juga meriwayatkan suatu hadis dari Ibnu Umar, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: 

لا يدخل الجنة مدمن خمر ولا عاق لوالديه ولا منان 
Artinya: 
Tidak akan masuk surga orang yang selalu minum khamar dan tidak pula orang yang durhaka terhadap ibu bapaknya dan tidak pula orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya. (HR An Nasa'i dari Ibnu Abbas)

TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 265
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/574-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-265.html

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ 

Pada ayat ini, Allah swt. memberikan perumpamaan lain bagi infak yang dilakukan semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah swt. dan menambah keteguhan iman dan kekuatan jiwa untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. 
Infak itu dalam ayat ini diumpamakan sebagai sebidang kebun yang mendapat siraman cukup dari air hujan, sehingga kebun itu memberikan hasil dua kali lipat dari hasil yang biasa. Dan andai kata hujan itu tidak lebat, maka hujan gerimis saja pun cukup, karena kebun tersebut terletak di tanah yang tinggi, mendapatkan sinar yang cukup serta hawa yang baik, dan tanahnya pun subur. 
Dapat pula dikatakan, bahwa yang diumpamakan dengan kebun itu adalah orang yang menafkahkan hartanya itu. Karena ia menginsafi, bahwa ia telah menerima rahmat yang banyak dari Allah swt., maka Ia bersedia untuk memberikan infak yang banyak dan walaupun suatu ketika ia memperoleh rahmat yang sedikit, namun ia tetap memberikan infak. 
Membelanjakan harta di jalan Allah atau berinfak, benar-benar dapat memperteguh jiwa. Sebab cinta kepada harta benda telah menjadi tabiat manusia, sehingga karena sangat cintanya kepada harta benda itu terasa berat baginya untuk membelanjakannya, apalagi untuk kepentingan orang lain. Maka jika kita bersedekah misalnya, hal itu merupakan perbuatan yang dapat meneguhkan hati untuk berbuat kebaikan, serta menghilangkan pengaruh harta yang melekat pada jiwa. 
Ayat ini ditutup dengan firman-Nya "Wallaahu bimaa ta`maluuna bashiir" (Allah senantiasa melihat apa-apa yang kamu kerjakan). Ini berarti bahwa Allah selalu mengetahui kebaikan-kebaikan yang dilakukan hamba-Nya, antara lain berinfak dengan niat yang ikhlas, maka Dia akan memberikan pahalanya. Sebaliknya, Allah juga mengetahui semua perbuatan-perbuatan yang tidak baik, maka Dia akan membalasnya dengan azab.




Kembali ke Daftar Surah                                     Kembali ke Daftar Surah 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar