Kamis, 29 Maret 2012

Al Maa-idah 61 - 80

 Surah Al Maa-idah
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL MAA-IDAH>>
 http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=5#Top

61 Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: `Kami telah beriman`, padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.(QS. 5:61)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 61
وَإِذَا جَاءُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا يَكْتُمُونَ (61)
. Setelah pada beberapa ayat lalu Allah menerangkan tingkah laku orang-orang kafir dari ahli kitab, terutama dari orang-orang Yahudi, maka pada ayat ini dan beberapa ayat berikutnya, Allah menerangkan pula tingkah laku orang-orang munafik dari golongan Yahudi di Madinah dan sekitarnya.
Menurut riwayat Qatadah dan As-Suddi mereka menceritakan, bahwa orang-orang Yahudi datang menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang kebetulan ada pada waktu itu, maka turunlah ayat ini untuk mengungkapkan kepalsuan orang-orang munafik ini. Pada ayat ini Allah menerangkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. dan para sahabatnya, yang maksudnya sebagai berikut: Apabila datang kepada kamu orang-orang munafik dari Yahudi yang berkata, "Kami beriman kepada Rasul Allah Muhammad dan apa yang diturunkan kepadanya," maka ketahuilah di dalam hati mereka tetap tertanam kekafiran dan kesesatan yang tak kunjung berubah, semenjak mereka masuk ke tempat kamu sampai keluar. Dan Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka, sewaktu mereka mengunjungi kamu dengan cara tipu muslihat sampai mereka keluar dalam segala macam bentuk tipu daya untuk mengetahui keadaan kamu yang diperlukan mereka untuk disampaikan kepada kaum mereka.


62 Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.(QS. 5:62)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 62
وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (62)
. Pada ayat ini Allah menjelaskan pula sesuatu yang maksudnya sebagai berikut: Dan engkau ya Muhammad, akan melihat banyak di antara orang-orang Yahudi menjadikan agamamu sebagai bahan ejekan dan permainan. Mereka bersegera melanjutkan dan meneruskan perbuatan dosa dan permusuhan dengan perkataan, seperti mengejek, menghina, membohong dan sebagainya. Selain itu mereka senantiasa makan yang haram, seperti riba, uang suap, korupsi.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 62
وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (62)
(Dan akan kamu lihat banyak di antara mereka) maksudnya orang-orang Yahudi (bersegera) artinya cepat terlibat dalam (berbuat dosa) kedustaan (dan permusuhan) keaniayaan (serta memakan barang yang haram) seperti uang suap dan lain-lain (sungguh, amat buruklah apa yang mereka kerjakan) itu; yakni perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan tadi.
Selanjutnya Allah berfirman yang maksudnya: "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan itu," karena pada hakikatnya mereka telah menenggelamkan diri sendiri ke dalam lautan kejahatan yang tidak berpantai sehingga mereka tidak dapat ditolong lagi.


63 Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.(QS. 5:63)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 63
لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (63)
. Pada ayat ini Allah menyatakan celaan yang maksudnya sebagai berikut: Mengapa orang-orang alim dan pendeta orang-orang Yahudi tidak mau melarang umatnya berbohong dan makan harta yang haram?
Ibnu Abbas menceritakan, bahwa tidak ada di dalam Alquran celaan yang lebih keras dari ayat ini terhadap para ulama yang melalaikan tugas mereka dalam menyampaikan dakwah tentang larangan-larangan dan kejahatan-kejahatan.
Para ulama tafsir mengatakan, bahwa ayat ini bukanlah sekadar menceritakan cercaan Allah kepada para pendeta-pendeta Yahudi yang tidak menunjuki orang-orang Yahudi yang berbuat fasik, tetapi lebih penting dari itu yang harus kita sadari ialah bahwa para ulama Islam tidak boleh lalai menyampaikan dakwah terutama menganjurkan perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang jelek.


64 Orang-orang Yahudi berkata: `Tangan Allah terbelenggu`, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.(QS. 5:64)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 64
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (64)
Menurut riwayat Ibnu Ishak dan Tabrani dari Ibnu Abbas dia berkata: Berkata seorang lelaki dari kaum Yahudi yang bernama Nabbasy bin Qais kepada Nabi Muhammad saw. bahwa Tuhan engkau kikir, tidak suka memberi. Maka ayat ini, meskipun yang mengatakan kepada Nabi itu hanya seorang dari kalangan Yahudi namun dapat dianggap menggambarkan pendirian secara keseluruhan dari kaumnya.
Ayat ini menceritakan bahwa orang Yahudi itu berkata, "Tangan Allah terbelenggu." Dan Allah menegaskan bahwa yang terbelenggu itu adalah tangan mereka sendiri dan dengan demikian mereka akan dilaknat Allah.
Perkataan orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu adalah tidak masuk akal sebab mereka mengakui bahwa Allah adalah nama bagi zat yang pasti ada dan Maha Kuasa, Dia pencipta alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa tangan Allah tidak terbelenggu dan kekuasaan-Nya tidak terbatas karena jika demikian maka tentulah Dia tidak dapat memelihara dan mengatur alam ini. Maka apakah yang mendorong mereka mengucapkan kata-kata demikian? Sebagian ahli tafsir mengemukakan bahwa dorongan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mungkin mereka mendengar ayat:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya:
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
(Q.S. Al-Baqarah: 245)
Setelah mendengar ayat ini mereka mengatakan bahwa tangan Allah itu terbelenggu dengan arti kikir karena Allah tidak mampu sehingga memerlukan pinjaman.
2. Mereka mengucapkan ucapan tersebut dengan mengejek kaum Muslimin ketika mereka melihat sahabat nabi yang sedang berada dalam kesempitan dan kesulitan keuangan.
3. Orang-orang Yahudi adalah orang-orang kaya. Ketika Nabi Muhammad diutus menjadi rasul mereka menentangnya, oleh karenanya mereka banyak mengeluarkan harta benda untuk pembiayaan guna menggagalkan dakwahnya sehingga orang-orang kaya dari kalangan mereka banyak yang menjadi miskin. Maka karena Allah tidak melapangkan rezeki lagi bagi mereka yang telah miskin itu mereka mengeluarkan ucapan "tangan Allah terbelenggu" dengan maksud Allah itu kikir karena tidak menolong mereka.
Pernyataan Allah dalam ayat ini bahwa "tangan orang Yahudi itulah yang terbelenggu dan mereka mendapat laknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu", adalah suatu pernyataan terhadap kekikiran mereka itu, yakni merekalah yang kikir, terbelenggu tangannya, tidak mau memberi bantuan. Ternyata memang mereka adalah umat yang terkikir, mereka baru mau memberikan bantuan jika dilihatnya harapan akan mendapat keuntungan yang besar. Dan mereka pada hari kemudian pasti menerima kutukan Allah sebagai balasan atas perbuatan mereka.
Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah swt. Maha Pemurah, Dia memberi sebagaimana yang Dia kehendaki. Perkataan "tangan" dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, yaitu:
1. Salah satu dari anggota tubuh manusia
2. Kekuatan
3. Kepunyaan (milik)
4. Nikmat, karunia.
Pengertian yang keempat inilah yang dimaksud dengan perkataan "tangan" yang disandarkan kepada Allah pada ayat ini. Demikianlah para ulama khalaf mengartikan tangan dalam ayat ini. Dengan demikian hendaklah diartikan perkataan "kedua tangan Allah terbuka" dengan makna nikmat karunia Allah terbentang luas, nikmat karunia itu diberikan kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Adapun golongan yang tidak menerima nikmat karunia Allah janganlah menganggap bahwa Allah itu kikir atau fakir.
Adanya perbedaan tingkatan manusia di dalam menerima rezeki dari Allah adalah termasuk sunatullah. Allah berfirman:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا َيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya:
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka kehidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari yang mereka kumpulkan.
(Q.S. Az Zukhruf: 32)
Ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini ada dua pendapat yaitu:
Pertama, yang terkenal dengan Ahli Takwil yaitu yang menakwilkan (menafsirkan pengertian kalimat-kalimat menurut pengertian majazi (kiasan), umpamanya ayat:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya:
Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
(Q.S. Ar Rahman: 27)
Maka golongan ini menakwil perkataan "wajah" umpamanya pada kalimat "aku tidak melihat wajah Si Anu", dimaksudkan adalah diri atau zat Si Anu. Jadi samalah kalimat itu dengan "aku tidak melihat Si Anu" (tanpa menyebutkan kata "wajah").
Kedua, golongan Ahli Tafwid yaitu menyerahkan maksud kalimat atau perkataan seperti demikian itu kepada Allah. Mereka mengartikan tangan dengan arti hakikinya. Jadi ia mengartikan perkataan "wajah" pada ayat surat Ar-Rahman tersebut menurut arti hakiki, yaitu "muka". Tentang bagaimanakah keadaan "Muka Tuhan" itu mereka menyerahkan juga kepada Tuhan dan dalam hal ini mereka berpegang pada ayat:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.
(Q.S. Asy Syu'ara: 11)
Jadi golongan ini menetapkan Tuhan itu bermuka tetapi tidak seperti muka manusia umpamanya.
Kemudian pada ayat ini Allah mengutarakan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa apa yang diturunkan kepadanya benar-benar akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara kaum Yahudi dan menerangkan bahwa ayat yang diturunkan itu mengandung pengetahuan yang tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi yang semasa dengan Nabi Muhammad saw. Karena jika tidak demikian halnya tentulah Muhammad tidak mengetahui semua itu sebab dia adalah ummi tidak tahu tulis baca. Akan tetapi karena kedengkian dan kefanatikan orang-orang Yahudi itu semakin jauh dari beriman kepada Nabi Muhammad meskipun kenabian Muhammad telah ditulis di dalam buku mereka.
Ayat ini juga menerangkan bahwa Allah akan menimbulkan permusuhan di antara sesama Ahli Kitab (Yahudi/Nasrani). Permusuhan itu tidak akan berakhir sampai hari kiamat. Watak orang Yahudi memang suka menyalakan api peperangan, fitnah dan keonaran. Watak seperti itu telah tercatat dalam sejarah dan membuktikan bahwa mereka selalu berusaha memperdayakan Nabi Muhammad dan orang-orang beriman baik secara langsung maupun dengan cara membujuk orang musyrik atau orang-orang Nasrani untuk memerangi Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman.
Watak seperti itu membawa mereka senang berbuat dan melihat kerusakan di bumi. Tetapi setiap kali mereka menyalakan api peperangan, fitnah dan keonaran, serta mencoba membuat kerusakan, Allah tetap memadamkannya karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan oleh karenanya usaha-usaha mereka untuk membuat kerusakan dan bencana di atas bumi ini selalu mengalami kegagalan.


65 Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan.(QS. 5:65)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 65
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65)
Pada ayat ini Allah menerangkan andaikata Ahli Kitab itu (orang Yahudi dan Nasrani) beriman kepada Allah dan beriman kepada Muhammad saw. selaku nabi akhir zaman, dan mereka bertakwa dengan menjauhi pekerjaan-pekerjaan dosa, niscaya Allah mengampuni segala dosa dan kejahatan yang telah mereka perbuat. Dan Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh dengan segala macam nikmat. Pengampunan Allah dan surga yang dijanjikan itu tergantung kepada iman, takwa dan taat. Iman tanpa takwa adalah suatu kemunafikan yang hanya dipergunakan untuk mencari keuntungan duniawi belaka.
Menurut ayat ini Allah swt. Maha Pengampun dan mengampuni dosa-dosa orang yang beriman dan bertakwa.


66 Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan Al quran, yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.(QS. 5:66)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 66
وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (66)
Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa apabila Ahli Kitab itu (Yahudi dan Nasrani) benar-benar menjalankan hukum Taurat dan Injil seperti mengesakan Allah dan berpegang kepada berita gembira yang terdapat dalam Taurat dan Injil tentang kenabian Muhammad, tentulah Allah akan melapangkan kehidupan mereka. Jadi jika pada ayat yang lalu Allah swt. menjanjikan kebahagiaan akhirat kepada Ahli Kitab, apabila mereka beriman dan bertakwa, maka pada ayat ini Allah menjanjikan pula kebahagiaan duniawi kepada mereka yaitu memberi kelapangan rezeki dengan melimpahkan rahmat-Nya dari langit dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Meskipun demikian mereka tetap durhaka dan menentang rasul-rasul Allah.
Ayat ini juga menerangkan bahwa di antara orang-orang Yahudi ada golongan yang bimbang dalam beragama tidak berpegang secara fanatik kepada pendapat-pendapat pendeta-pendetanya dan tidak pula memandang enteng. Dan memang mayoritas orang Yahudi itu sangat fanatik kepada pendapat-pendapat pendetanya. Golongan inilah yang buruk tingkah lakunya. Hal serupa itu terjadi dalam kalangan kaum Nasrani.
Menurut kebiasaan meskipun golongan pertengahan dari masing-masing agama itu tidak banyak pengikutnya namun dari kalangan mereka timbul orang-orang yang suka memperbaiki keadaan dan mengikuti perkembangan serta menerima kebenaran. Orang-orang yang seperti ini terdapat pada setiap umat dan tiap-tiap masa. Umpamanya Abdullah bin Sallam dan kawan-kawannya dari kalangan Yahudi menjadi pengikut Nabi Muhammad yang setia pula. Demikian pula Najasyi dan kawan-kawan dari kalangan Nasrani menjadi pengikut Nabi Muhammad yang setia pula. Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi pemeluk agama adalah mencari kebenaran. Maka jika pemeluk suatu agama berpegang kepada petunjuk-petunjuk agama secara benar tentulah dia tidak akan menjadi fanatik, kaku dan menerima agama yang dibenarkan di dalam kitab-kitabnya. Dalam mencari kebenaran itu modal utama adalah keikhlasan yang disertai ilmu pengetahuan. Mencari kebenaran dengan modal ini terdapat di dalam agama Islam. Pemeluk Islam sendiri yang tidak mengamalkan petunjuk-petunjuk Islam tentulah kebenaran yang ada pada Islam itu tidak dapat diperolehnya sehubungan dengan ayat ini terdapat hadis nabi yang diriwayatkan Zaid bin Labid, yaitu:

قال لبيد: ذكر النبي صلى الله عليه وسلم قال: وذلك عند ذهاب العلم قلنا: يارسول الله، وكيف يذهب العلم ونحن نقرأ القرآن ونقرئه أبناءنا ويقرأه أبناؤنا أبناءهم إلى يوم القيامة، قال: ثكلتك أمك يا ابن أم لبيد، إني كنت لأراك من أفقه رجل في المدينة أو ليس هذه اليهود والنصارى يقرؤون التوراة والإنجيل ولا ينتفعون مما فيهما في شيء
\15 Artinya: Berkata Labid, "Nabi Muhammad saw. membicarakan sesuatu lalu beliau berkata, "Hal demikian itu adalah pada waktu ilmu pengetahuan telah lenyap." Kami (para sahabat) berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah ilmu pengetahuan bisa lenyap, sedangkan kami membaca Alquran dan kami membacakannya pula kepada anak-anak kami dan anak-anak kami itu membacakannya pula kepada anak-anak mereka sampai hari kiamat." Rasulullah saw. menjawab, "Celakalah engkau hai anak ibu Labid. Sesungguhnya aku mengetahui engkau adalah orang-orang yang paling banyak ilmunya di antara penduduk Madinah. Tidakkah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu membaca Taurat dan Injil sedangkan mereka tidak mendapat manfaatnya sedikit pun."(H.R. Ahmad dan Ibnu Majah) Menurut riwayat lain setelah pembicaraan itu maka turunlah ayat 66 ini. (H.R. Ibnu Abi Hatim)
Jelaslah dari hadis ini bahwa kaum Muslimin yang tidak mengamalkan petunjuk agamanya, mereka serupa saja dengan Yahudi dan Nasrani itu.


67 Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(QS. 5:67)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 67
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (67)
Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan Diya' dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan pada masa permulaan Islam dan masa permulaan Rasul diperintahkan Allah melakukan dakwah secara umum. Sebagian ahli tafsir memandang, bahwa perintah Allah kepada Rasul untuk melakukan dakwah tersebut secara khusus yaitu terhadap Ahli Kitab dan yang harus disampaikan itu ialah yang dikandung oleh ayat berikut ini. Selanjutnya menurut Ibnu Mardawaih, Ibnu Abbas berkata:

سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي آية من السماء أنزلت أشد عليك؟ قال: كنت بمنى أيام موسم واجتمع مشركو العرب وأفناء الناس في الموسم فنزل علي جبريل فقال (الآية) قال: فقمت عند العقبة فقلت: أيها الناس من ينصرني على أن أبلغ رسالات ربي ولكم الجنة، أيها الناس قولوا: لا إله إلا الله وأنا رسول الله إليكم، تفلحوا وتنجحوا ولكم الجنة، قال صلى الله عليه وسلم: فما بقي رجل ولا امرأة ولا أمة ولا صبي إلا يرمون علي التراب والحجارة ويقولون: كذاب صابئ فعرض علي عارض: فقال: يا محمد إن كنت رسول الله فقد آن لك أن تدعو عليهم كما دعا نوح على قومه بالهلاك، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون وانصرني عليهم أن يجيبوني إلى طاعتك، فجاء العباس عمه فأنقذه منهم وطردهم
Artinya:
Rasulullah ditanya, "Ayat manakah yang turun dari langit yang sangat berat bagimu?" Rasulullah berkata, "Aku sedang berada di Mina pada suatu musim, sedang orang-orang musyrik Arab dan masyarakat awam berkumpul pada musim tersebut. Maka datanglah kepadaku Jibril membacakan ayat ini." Kata Nabi, "Lantas aku berdiri di Aqabah lalu menyeru, "Wahai sekalian manusia siapakah di antaramu yang menolong aku untuk menyampaikan amanat-amanat Tuhanku dan kamu akan memperoleh surga. Hai sekalian manusia katakanlah tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku (Muhammad) adalah utusan Allah kepadamu niscaya kamu akan berbahagia selamat senantiasa dan kamu memperoleh surga." Kata Nabi, "Tidak ada seorang pun baik laki-laki maupun perempuan, baik hamba sahaya perempuan dan anak-anak kecil, melainkan semua mereka itu melempariku dengan tanah dan batu sambil berteriak, "Pendusta yang murtad!" Kemudian muncullah seseorang dan berkata, "Hai Muhammad, jika engkau Rasulullah maka sudah sampailah waktunya engkau mendoakan kecelakaan atas mereka itu sebagaimana Nabi Nuh mendoakan kecelakaan atas kaumnya." Maka berkata Rasulullah saw., "Hai Tuhanku, beri petunjuklah kaumku ini, karena mereka tidak mengetahui dan tolonglah aku supaya mereka mengikuti ajakan-ajakanku agar mereka taat kepadamu." Kemudian datanglah Abbas paman Rasul menolongnya dan mengusir orang-orang itu."
(Rasyid Rida, Aal-Manar, juz 6, hal. 467)


68 Katakanlah: `Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu`. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.(QS. 5:68)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 68
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (68)
. Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. supaya mengatakan kepada Ahli Kitab bahwa mereka itu tidak dapat dipandang sebagai orang yang beragama selagi mereka tidak menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan ajaran-ajaran yang telah Allah turunkan kepada Muhammad yaitu Alquran, karena kalau mereka menegakkan ajaran Taurat dan Injil tentulah tidak ada golongan yang mereka musuhi dan mereka laknati. Dan jika ada orang lain mengganggu tentulah mereka memberikan maaf bahkan mereka akan memberikan pipi kirinya ketika dipukul orang pada pipi kanannya.
Mereka akan meninggalkan kompetisi dalam mempersiapkan senjata-senjata yang menghancurkan dunia demi untuk keselamatan manusia di dunia. Untuk perdamaian itu tentulah mereka akan mengeluarkan kekayaan mereka. Akan tetapi kenyataan bahwa tingkah laku mereka adalah sebaliknya tidak menunjukkan bahwa mereka itu orang yang berpegang kepada agama. Malahan kebanyakan mereka bertambah kedurhakaan dan kekafiran terhadap sesuatu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad yaitu Alquran selaku kitab penyempurnaan agama Allah. Hal itu menggambarkan bahwa mereka tidak beriman sungguh-sungguh kepada Allah dan tidak beriman sungguh-sungguh kepada rasul-rasul, tegasnya mereka tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang baik yang dituntut oleh Kitab-kitab mereka. Jadi kebanyakan mereka itu hanya berpegang kepada adat-istiadat yang buruk dan kefanatikan, karenanya mereka tidak menolak Alquran, secara sadar disebabkan mereka jauh dari ajaran agama mereka yang sebenarnya, yaitu Allah itu satu. Agama sebelum Muhammad merupakan permulaan dan agama yang dibawa Muhammad merupakan penyempurnaan. Oleh karena mereka melihat Alquran dengan kacamata permusuhan dan kefanatikan, bertambah-tambahlah kefanatikan dan kedurhakaan mereka. Memang ulah golongan yang kecil dari mereka masih terdapat orang-orang yang memelihara ajaran Tauhid yang cinta kepada kebenaran; mereka inilah orang-orang yang memandang Alquran dengan kesadaran yang karenanya mereka meyakini bahwa Alquran itu sebenarnya dari Tuhan mereka dan bahwa Nabi yang Alquran diturunkan kepadanya adalah nabi yang terakhir yang ada tertulis dalam kitab-kitab mereka sehingga mereka ini beriman kepada Muhammad, seperti Abdullah bin Salam dan lain-lain dari ulama-ulama Yahudi dan Najasyi dari kalangan Nasrani.
Selanjutnya pada akhir ayat ini Allah melarang Nabi Muhammad berduka cita terhadap orang-orang kafir yang tidak menyambut seruannya agar mereka beriman kepada Alquran.


69 Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS. 5:69)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 69
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (69)
. Ayat ini dari segi pengertiannya tidak ada perbedaannya dari ayat 62 surat Al-Baqarah. Ia diulang kembali dengan susunan yang berbeda. Sejalan dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 62, yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. supaya mengatakan kepada Ahli Kitab, bahwa mereka belum dipandang beragama selama mereka belum beriman kepada Allah dengan sesungguhnya dan mengamalkan tuntunan Taurat dan Injil serta ajaran Alquran, maka pada ayat ini Allah menerangkan bahwa hal itu berlaku pada pengikut-pengikut segala rasul sebelum Muhammad yaitu Yahudi, Nasrani dan Sabiin (bukan Yahudi dan Nasrani). Mereka jika menjalankan petunjuk-petunjuk agama mereka, tentulah mereka itu tidak ada kekhawatiran pada hari kemudian nanti dan mereka yang menemui Nabi Muhammad tetapi menentangnya atau pura-pura beriman, manakala mereka itu tobat dan beramal saleh tentulah mereka tidak ada kekhawatiran pada hari kemudian nanti, karena seseorang itu tidak ada kelebihannya kecuali jika ia beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian serta beramal saleh.
Manusia itu mempunyai dua macam kekuatan: pertama kekuatan di bidang teori dan kedua kekuatan di bidang praktek atau amaliah. Kekuatan di bidang teori barulah mencapai kesempurnaannya jika manusia itu mempunyai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan manusia barulah mencapai kesempurnaan sampai kepada puncaknya, jika sampai pada pengetahuan tentang sesuatu yang paling mulia yaitu Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa membangkitkan dan menghimpun manusia di padang mahsyar. Dengan demikian pengetahuan yang paling mulia adalah keimanan kepada Allah dan hari kemudian. Amal kebaikan yang paling mulia adalah berbakti kepada Allah dan berusaha menyampaikan hal-hal yang bermanfaat kepada manusia dan alam ini. Jadi orang-orang yang menghadap Tuhan dengan keimanan dan amalan-amalan seperti ini tentulah dia tidak akan khawatir sedikit pun terhadap huru-hara hari kiamat dan mereka tidak bersedih hati terhadap nikmat dunia yang tidak pernah mereka rasakan ketika hidup di dunia.


70 Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.(QS. 5:70)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 70
لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ (70)
. Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengambil janji dari Bani Israel yaitu berupa ikrar mereka beriman kepada Allah dan mengamalkan isi Taurat selaku syariat yang diturunkan Allah kepada mereka. Untuk memberikan penjelasan isi kitab tersebut Allah mengutus rasul-rasul-Nya kepada mereka. Akan tetapi setiap kali datang kepada mereka seorang rasul yang membawa petunjuk yang sesuai dengan keinginan nafsu, mereka perlakukan rasul itu dengan perlakuan yang sangat keji, yaitu mereka hadapi dengan tantangan-tantangan.
Segolongan mereka bertingkah laku mendustakan rasul dan sebagian mereka bertingkah laku menganiaya dan membunuh rasul. Hal itu menunjukkan betapa jahatnya tingkah laku mereka sehingga petunjuk yang dibawa oleh rasul tidak sedikit pun berkesan pada hati mereka, malahan kekufuran dan kelaliman mereka yang semakin bertambah-tambah.


71 Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.(QS. 5:71)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 71
وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ فَعَمُوا وَصَمُّوا ثُمَّ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ عَمُوا وَصَمُّوا كَثِيرٌ مِنْهُمْ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (71)
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang Yahudi itu tidak menduga bahwa Allah akan memberikan cobaan yang maha berat disebabkan perbuatan mereka yang sangat keji dan kekejaman yang melampaui batas. Hal itu adalah karena mereka menganggap bahwa mereka adalah anak Allah dan kekasih-Nya yang oleh karenanya mereka menganggap bebas dari azab Allah. Mereka seolah-olah buta akan kenyataan-kenyataan yang menunjukkan siksaan-siksaan Allah terhadap umat yang membuat kerusakan dan kelaliman. Mereka seolah-olah tuli akan ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk yang penuh mengandung ancaman-ancaman Allah; yaitu siksa terhadap orang-orang yang membatalkan janji-janji yang telah diikrarkan karena mengikuti hawa nafsu untuk berbuat kelaliman.
Menurut sejarah ketika bangsa Babilon menaklukkan bangsa Yahudi mereka membakar masjid Al-Aqsa, merampas harta benda dan memperkosa wanita. Setelah orang-orang Yahudi kembali ke ajaran Taurat dan tobat kepada Allah, maka barulah Allah memberikan pertolongan kepada mereka untuk melepaskan diri dari kekejaman bangsa Babilon itu. Tetapi setelah penglihatan mereka buta akan peringatan dan telinga mereka tuli akan petunjuk-petunjuk Allah, mereka kembali berbuat kelaliman membunuh rasul-rasul, maka datanglah lagi cobaan dari Allah yaitu mereka secara berganti dikuasai oleh kerajaan Romawi. Memang yang berbuat kejahatan tidaklah seluruh orang-orang Yahudi dengan adanya kenyataan golongan kecil dari mereka yang berbuat baik akan tetapi sudah menjadi sunah Allah bahwa cobaan Tuhan itu menimpa secara merata kepada seluruh umat akibat perbuatan golongan yang lalim. Oleh karena itu Allah memperingatkan dalam firman-Nya:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
Artinya:
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu.
(Q.S. Al-Anfal: 25)
Selanjutnya akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah swt. Maha Melihat tindakan atau kelakuan orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad baik tipu daya maupun berupa pengerahan segenap kabilah-kabilah untuk bersatu menyerang Nabi Muhammad, karena dorongan nafsu jahat mereka yang telah membuat mereka buta, ketika dikemukakan bukti-bukti kebenaran oleh Nabi Muhammad selaku nabi penutup segala nabi.


72 Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: `Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam`, padahal Al Masih (sendiri) berkata: `Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu`. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.(QS. 5:72)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 72
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72)
. Allah swt. menegaskan dengan sesungguhnya bahwa orang-orang Nasrani adalah orang-orang kafir karena mereka berkeyakinan bahwa Allah itu adalah Isa Al-Masih anak Maryam.
Pendirian inilah yang menjadikan mereka itu kafir dan sesat, oleh sebab mereka berlebih-lebihan memuji Isa a.s. sebagaimana orang Yahudi keterlaluan pula menghina Isa terutama terhadap Maryam. Pendirian orang-orang Nasrani terhadap diri Isa a.s. tersebut adalah suatu pendirian yang dianut oleh mayoritas golongan Nasrani dan siapa di antara mereka yang menyimpang dari pendirian tersebut, maka dianggaplah murtad. Orang-orang Nasrani berpendirian bahwa Tuhan itu terdiri dari unsur-unsur yang mereka namakan tiga oknum, yaitu Bapak, Putra dan Ruhul Kudus. Isa adalah putra, Allah adalah Bapak yang menjelma pada anak yang merupakan Ruhul Kudus dan mereka adalah tiga kesatuan yang tidak terpisah-pisah. Dengan demikian Allah itu adalah Isa dan dan Isa itu adalah Allah. Pendirian mereka ini sangat menyimpang dari kebenaran, karena Isa sendiri berkata kepada Bani Israel supaya mereka menyembah Allah, yaitu Tuhannya Isa dan Tuhannya Bani Israel. Jadi ayat ini jelas menunjukkan pengakuan langsung dari Isa bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Allah semata. Tegasnya seruan-seruan Nabi Isa kepada Bani Israel seperti yang diterangkan oleh ayat ini untuk menegaskan agama Tauhid. Hal itu dapat dilihat di dalam kitab-kitab Injil asli.
Selanjutnya Allah swt. menerangkan bahwa Isa dengan tegas berkata bahwa orang-orang yang mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu baik dengan malaikat atau dengan bintang atau dengan batu, maka orang itu tidak akan mendapat surga dan tempatnya adalah di dalam neraka, karena orang yang mempersekutukan Allah itu adalah orang-orang yang berbuat lalim kepada diri mereka itu sendiri yang karenanya tidak wajar mendapat pembelaan dan pertolongan Allah.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 72
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72)
(Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah ialah Almasih putra Maryam.") di masa sebelumnya telah terjadi hal yang serupa (padahal telah berkata) kepada mereka (Almasih, "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu) sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba Allah dan bukan Tuhan (sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah) menyembah kepada selain Allah (maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga) Allah melarangnya untuk memasuki surga (dan tempatnya ialah neraka dan tidak ada bagi orang-orang lalim itu seorang) lafal min adalah tambahan (penolong.") yang dapat mencegah siksaan Allah terhadap diri mereka.


73 Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: `Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga`, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.(QS. 5:73)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 73
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73)
. Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt. menegaskan dengan sesungguhnya akan kekafiran orang Nasrani yang berkata bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah salah satu dari tiga oknum yaitu Bapak, Putra dan Roh Kudus.
Jadi jelaslah bahwa ayat ini menggambarkan pendirian mayoritas orang-orang Nasrani zaman dahulu. Segolongan kecil dari mereka itu ada yang berpendirian bahwa Allah itu adalah Isa Putra Maryam sedangkan segolongan kecil yang lain berpendirian bahwa Isa itu adalah Putra Allah, dan dia bukan Allah.
Pendirian mereka ini tidak mempunyai dasar yang kuat karena Tuhan yang sebenarnya ialah zat yang tidak terbilang. Dia adalah Maha Esa. Karena itu Dia adalah Maha Kuasa. Jika Tuhan berbilang maka artinya Yang Maha Kuasa itu lebih dari satu, dan jika mereka berdua atau lebih tentulah akan berebut kekuasaan yang akibatnya hancurlah alam ini. Andaikata tuhan-tuhan itu berdamai yakni ada yang berkuasa di langit dan ada yang berkuasa di bumi, maka terjadilah Tuhan itu lemah, karena sifat damai adalah sifat orang yang lemah yang tidak sanggup menaklukkan sendiri. Dengan demikian Yang Maha Kuasa itu adalah tunggal.
Selanjutnya jika Tuhan itu berbilang, umpama terdiri atas tiga oknum dan ketiga-tibanya dianggap satu karena kesatuannya, maka artinya jika terjadi kehilangan salah satu daripadanya, maka berarti hilanglah kesatuannya, dengan demikian hilanglah ketuhanannya karena matinya Isa (salah satu oknum Tuhan) di tiang salib. Dan jika tidak demikian maka artinya Tuhan itu berbilang. Jadi ada Tuhan yang telah mati disalib dan dua yang masih hidup.
Jika dibenarkan adanya Tuhan Bapak dan adanya Tuhan Putra, maka yang dinamakan Tuhan Bapak tentulah diketahui adanya lebih dahulu dan yang dinamakan Tuhan Putra tentulah diketahui adanya terkemudian. Sedangkan Tuhan itu bersifat Qadim, yakni "adanya" sama dengan "tidak didahului oleh tiada" dan Tuhan itu bersifat Baqa' (kekal) yakni "adanya tidak diakhiri tiada". Isa adalah didahului oleh "tiada" karena itu dia tidak bersifat qadim karena dia tidak ada pada waktu sebelum dilahirkan oleh Siti Maryam dan Isa tidak bersifat baqa' (kekal) karena dia telah menjadi tiada, dia telah mati. Demikianlah sesatnya pendirian orang Nasrani. Jika ditinjau dari segi logika, karenanya pada ayat ini Allah memperingati orang Nasrani supaya meninggalkan kepercayaan yang salah dan hendaklah mereka kembali kepada ajaran-ajaran tauhid dan jika mereka masih tetap pada kekafiran, yaitu mempersekutukan Allah, maka akan dimasukkan ke dalam azab api neraka.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 73
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73)
(Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, "Bahwasanya Allah salah seorang) dari tuhan (yang tiga) artinya salah seorang dari tuhan-tuhan yang jumlahnya tiga dan dua orang lainnya yang dianggap tuhan ialah Nabi Isa beserta ibunya. Mereka yang berpendapat demikian adalah golongan dari orang-orang Nasrani (padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu) berhenti dari menigakan Allah, kemudian kembali mengesakan-Nya (pasti akan menimpa kepada orang-orang yang kafir) artinya mereka yang menetapi kekafirannya (di antara mereka siksaan yang pedih") siksaan yang sungguh amat memedihkan, yaitu siksaan neraka.


74 Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 5:74)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 74
أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74)
Ayat ini menerangkan bahwa tingkah laku orang-orang Yahudi itu sangat mengherankan karena telah menerima ayat-ayat yang mengandung cercaan yang disertai ancaman-ancaman namun tidaklah tergerak hati mereka untuk kembali kepada Allah dan memohon ampunan-Nya padahal Allah sangat luas rahmat-Nya, Maha Pengampun, Maha Penerima tobat hamba-Nya yang tenggelam dalam kesesatan kemudian benar-benar beriman dan bertakwa dengan iringan amal-amal saleh.


75 Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).(QS. 5:75)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 75
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75)
Ayat ini menerangkan keistimewaan kedudukan Al-Masih (Isa) dan keistimewaan kedudukan ibunya (Maryam) kemudian menerangkan pula tentang hakikat kepribadian mereka berdua. Keistimewaan Al-Masih ialah dia adalah utusan Allah, tidak ada perbedaannya dengan rasul-rasul yang datang pada masa sebelumnya, karena masing-masing membawa tanda kerasulan dari Allah. Jika Allah menyembuhkan sakit sopak dan menghidupkan orang mati sebagai mukjizat bagi Al-Masih, maka Allah menjadikan ular dan membelah laut sebagai mukjizat bagi Nabi Musa. Jika Al-Masih dijadikan tanpa bapak, maka Nabi Adam dijadikan tanpa ibu dan bapak. Ibu Al-Masih adalah seorang yang sangat mulia dan bertakwa kepada Allah dan kedudukannya hampir sederajat dengan kedudukan rasul.
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Masih adalah seperti rasul-rasul yang lain, yaitu manusia biasa yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan jasmani yang antara lain makan makanan untuk menghindari lapar dan menjaga kesehatan untuk kelanjutan hidup. Tiap-tiap orang memerlukan sesuatu, dia adalah makhluk biasa yang karenanya tidak dapat dikatakan Tuhan pencipta dan tidak wajar disembah. Jadi yang wajar dan yang berhak disembah hanyalah Yang Maha Kuasa karena Dia diperlukan pertolongannya. Tiap-tiap yang diperlukan, tentulah dipandang mulia oleh yang memerlukan. Tegasnya penyembah adalah orang yang memandang dirinya sendiri rendah dan hina dari yang disembah. Al-Masih sangat terkenal kuat ibadahnya kepada Allah, jadi Al-Masih menyembah Allah. Ini menunjukkan bahwa Al-Masih itu "bukan Allah" karena Allah adalah yang disembah. Allah itu bebas dari kewajiban menyembah (beribadat). Adalah suatu kebodohan apabila seseorang menyembah kepada orang yang sederajat dengannya baik dalam hakikat kejadian maupun dalam memerlukan pertolongan.
Selanjutnya pada akhir ayat ini, Allah menerangkan kepada Muhammad saw., bagaimana cara-cara Allah menjelaskan kepada Ahli Kitab tentang tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan kesesatan pendirian mereka tentang Al-Masih. Kemudian Allah meminta perhatian Nabi Muhammad bagaimana cara-cara Ahli Kitab menolak penjelasan-penjelasan yang telah dikemukakan Allah itu yang menunjukkan bahwa mereka memanglah tidak mempergunakan akal pikiran yang sehat karena mereka terbelenggu oleh taklid buta.


76 Katakanlah: `Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?` Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 5:76)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 76
قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (76)
. Ayat ini menerangkan betapa sesatnya orang-orang Nasrani yang menyembah Al-Masih. Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah supaya menanyakan kepada orang-orang Nasrani, mengapa mereka itu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi mudarat dan tidak memberi manfaat. Tidakkah mereka mengetahui bahwa orang Yahudi itu memusuhi Al-Masih dan mereka hendak membinasakannya, sedang Al-masih sendiri ternyata tidak sanggup memberi mudarat kepada orang-orang Yahudi itu dan sahabat Al-Masih tidak dapat menolongnya. Wajarkah orang yang tidak mempunyai kesanggupan itu dipandang sebagai Tuhan. Tidakkah mereka sendiri bercerita bahwa Al-Masih ketika dianiaya di atas tiang salib dia meminta air karena haus dan orang-orang Yahudi hanya memberikannya air cuka yang dituangkan ke lubang hidungnya. Tidakkah cerita mereka ini menunjukkan bahwa Al-Masih itu sangat lemah. Pantaskah orang yang lemah seperti demikian dipandang sebagai Tuhan.
Selanjutnya pada akhir ayat ini Allah mengancam orang-orang Nasrani bahwa Allah Maha Mendengar terutama ucapan kekafiran mereka dan Maha Mengetahui kepalsuan yang dikandung dalam hati mereka.


77 Katakanlah: `Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.`(QS. 5:77)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 77
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (77)
. Pada ada ayat ini Allah melarang Ahli Kitab yang di masa Nabi Muhammad bertindak keterlaluan di dalam agama sebagaimana nenek moyang mereka dahulu dan melarang mereka mengikuti sebab-sebab yang membawa nenek moyang mereka kepada kesesatan sehingga menyesatkan pula orang lain dari jalan pertengahan (ajaran Islam) dengan sebab mereka meninggalkan hukum syariat dan mengikuti hawa nafsu yang buruk. Jadi dengan ayat ini dapatlah disimpulkan bahwa Ahli Kitab itu adalah:
a. Orang-orang yang sesat sejak dahulu disebabkan karena mengikuti hawa nafsu dalam urusan agama, membuat bidah, menghalalkan yang haram dan meninggalkan sunah Rasul.
b. Orang-orang lain menjadi sesat karena mereka setelah sesat berusaha menyesatkan orang lain, yaitu memperluas bidah yang diada-adakan oleh para pendeta mereka.
c. Orang-orang yang berpaling dari agama Islam, terus-menerus berada dalam kesesatan, berarti mereka telah berbuat melampaui batas, berbuat bidah dan menyimpang dari iktikad yang benar.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Maa-idah 77
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ (77)
(Katakanlah, "Hai Ahli Kitab!) para pemeluk agama Yahudi dan agama Nasrani (Janganlah kamu berlebih-lebihan) janganlah kamu melampaui batas (dalam agamamu) secara berlebih-lebihan (dengan cara tidak benar) yaitu dengan cara merendahkan Nabi Isa atau kamu mengangkatnya secara berlebihan dari apa yang seharusnya (dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya sebelum kedatangan Nabi Muhammad) mengikuti cara berlebih-lebihan yang pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka (dan mereka telah menyesatkan kebanyakan) manusia (dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.") jalan yang hak; lafal as-sawaa` asalnya bermakna pertengahan.


78 Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.(QS. 5:78)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 78
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir dari kalangan Yahudi mendapat kemurkaan dan kutukan Tuhan melalui ucapan Nabi Daud dan Isa putra Maryam. Ketika orang-orang Yahudi membuat kedurhakaan pada hari Sabtu (hari larangan terhadap orang Yahudi menangkap ikan), Nabi Daud mengutuk mereka pada khususnya, karena melanggar kehormatan hari Sabtu dan pada umumnya terhadap mereka yang membuat kedurhakaan biasa. Nabi Isa pun pernah mengutuk mereka. Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa kutukan itu disebabkan mereka membuat maksiat dan melanggar hukum-hukum Allah dengan cara melampaui batas.


79 Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.(QS. 5:79)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 79
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)
. Ayat ini menerangkan bahwa kebiasaan orang-orang Yahudi yaitu membiarkan kemungkaran-kemungkaran terjadi di hadapan mereka disebabkan mereka tidak melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Demikianlah buruknya perbuatan mereka itu sehingga menjadi sebab adanya kutukan Allah pada mereka. Dalam hubungan ayat ini Nabi Muhammad bersabda:

إن أول ما دخل النقص على بني إسرائيل أنه كان الرجل يلقى الرجل فيقول: يا هذا اتق الله ودع ما تصنع فإنه لا يحل لك ثم يلقاه من الغد وهو على حاله فلا يمنعه ذلك أن يكون أكيله وشريبه وقعيده، فلما فعلوا ذلك ضرب الله قلوب بعضهم ببعض ثم قال (الآية) ثم قال النبي صلى الله عليه وسلم: كلا والله لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر ثم لتأخذن على يد الظالم ولتأطرن على الحق أطرا ولتنصرنه على الحق نصرا أو ليضربن الله قلوب بعضكم ببعض ثم يلعنكم كما لعنهم
Artinya:
Awal mula kekurangan yang menimpa Bani Israel adalah pertemuan seorang lelaki dengan lelaki lain (yang salah seorang membuat kemungkaran). Maka berkata (laki-laki yang tidak mengerjakan mungkar), "Hai kawanku, takutlah kepada Allah dan tinggalkan perbuatanmu karena perbuatanmu itu tidak halal bagimu." Kemudian hari berikutnya (laki-laki yang menegur) berjumpa lagi dengan lelaki itu sedang membuat kemungkaran seperti biasanya, maka tidak dicegahnya lagi malahan dijadikan teman makannya, teman minumnya dan teman duduknya. Maka setelah perbuatan mungkar tersebut merata di kalangan umum, Allah menjadikan mereka bergontok-gontokkan. Kemudian Nabi membacakan ayat 78 (kepada kaum mukminin) dalam surat ini. Kemudian Nabi bersabda, "Sekali-kali tidak, demi Allah kamu semua hendaknya menegakkan amar makruf dan nahi mungkar kemudian hendaklah kamu mencegah perbuatan orang yang lalim dan hendaklah kamu memaksakan kepadanya menerima kebenaran itu jika tidak, niscaya Allah akan menjadikan kamu saling bergontok-gontokkan kemudian Allah akan mengutukmu sebagaimana mengutuk orang-orang Yahudi."
(H.R. Abu Daud dan Tirmizi dari Ibnu Mas'ud)


80 Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.(QS. 5:80)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 80
تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80)
. Setelah ayat yang lalu menerangkan keburukan tingkah laku nenek moyang orang-orang Yahudi (Bani Israel), maka ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad menyaksikan sendiri tingkah laku orang-orang kafir Bani Israel yang ada pada zamannya, yaitu kebanyakan mereka tolong-menolong dengan orang musyrik dari kalangan Arab (kaum Nabi sendiri) dalam usaha memerangi Nabi Muhammad. Pekerjaan yang mereka lakukan itu adalah sangat buruk sekali hanya mengikuti perintah hawa nafsu dan hasutan. Perbuatan itu menimbulkan kemurkaan Allah yang karenanya mereka pasti mendapat balasan daripada-Nya berupa azab api neraka untuk selama-lamanya. Orang-orang yang lepas dari api neraka adalah orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang diridai Allah.







<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL MAA-IDAH>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar