Selasa, 27 Maret 2012

Ali ‘Imran 25 s/d 29

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>
TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-025
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1222-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-025.html



فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya.(QS. 3:25)
Ayat ini membantah dan membatalkan apa yang dikatakan oleh orang Yahudi pada ayat yang lalu. Ayat ini tersusun dalam bentuk kalimat pertanyaan bagaimanakah keadaan orang Yahudi bilamana hari kiamat yang tidak diragukan lagi itu sudah datang.

Bentuk kalimat seperti itu menggambarkan bagaimana kehebatan huru-hara yang terjadi di hari itu, dan tentang siksa besar yang akan ditimpakan kepada orang-orang Yahudi. Mereka akan jatuh kepada jurang penderitaan dan tak akan ada jalan untuk menyelamatkan diri. Dan sesungguhnya anggapan orang Yahudi bahwa dirinya akan dapat lepas dengan mudah dari pada azab itu adalah suatu angan-angan yang kosong. 
Pada hari yang dahsyat itu orang akan melihat dengan jelas apa-apa yang telah dikerjakannya baik atau buruk akan dihadapkan kepada mereka. Kemudian segala amal perbuatan akan dibalas dengan kebahagiaan jika amal itu baik atau dengan kesengsaraan jika amal itu jahat. Tidak ada suatu hak istimewa yang dapat diberikan kepada pemeluk sesuatu agama tertentu dan golongan tertentu. Tidak pula suatu bangsa mendapat keistimewaan atas bangsa-bangsa lainnya sekalipun mereka menamakan dirinya dengan Sya'bullah (rakyat Allah) atau anak Allah. Pembalasan pada hari kiamat itu, adalah sesuai dengan buruk baiknya iktikad yang terkandung dalam hati dan sesuai pula dengan buruk baiknya amal perbuatan yang telah dilakukan. 
Pada hari itu akan terdapat keadilan yang sempurna. Tidak akan dikurangi sedikitpun balasan terhadap sesuatu perbuatan dan tidak pula akan ditambah. Yang menjadi ukuran pada hari itu ialah berimannya seseorang dan pengaruh iman itu terhadap amal perbuatannya di waktu di dunia. Kalau dia tidak beriman dan pengaruh itu buruk dan merusak dirinya, maka masuklah ia ke dalam neraka, karena amal-amalnya yang buruk itu. Jika imannya tidak sampai rusak, karena diimbangi dengan amal saleh atau seimbang antara yang baik dengan yang buruk, maka diberilah balasan sesuai dengan derajat dan kadarnya masing-masing.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-026
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1221-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-026.html

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: `Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 3:26)
Dalam ayat ini Allah menyuruh Nabi Nya untuk menyatakan bahwa Allah lah Yang Maha Suci yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan Maha Bijaksana dengan tindakan Nya yang sempurna di dalam menyusun, mengurus, dan merampungkan segala perkara dan yang menegakkan neraca undang-undang umum di alam ini. Maka Allah lah yang memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki Nya di antara hamba-hamba Nya. Ada kalanya Allah memberikan itu bersamaan dengan pangkat kenabian seperti keluarga Ibrahim, dan ada kalanya hanya memberikan pemerintahan saja menurut hukum kemasyarakatan yaitu dengan menyusun kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa. Dan Allah juga yang mencabut pemerintahan dari orang-orang yang Dia kehendaki disebabkan mereka berpaling dari jalan yang lurus, jalan yang dapat memelihara pemerintahan, karena meninggalkan keadilan, berlaku curang dalam pemerintahan. Demikianlah hal itu telah berlaku pula terhadap Bani Israel dan lain-lain bangsa disebabkan kelaliman dan kerusakan budi mereka. 
Allah jualah yang memberi kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki, dan menghinakan orang yang Dia kehendaki. Orang yang diberi kekuasaan ialah orang yang didengar tutur katanya, banyak penolongnya menguasai jiwa manusia-dengan wibawanya dan ilmunya yang berguna bagi manusia. serta mempunyai keluasan rezeki serta berbuat baik kepada segenap manusia. 
Adapun orang yang mendapat kehinaan ialah orang yang rendah jiwanya dan merasa lemah membela kehormatan lagi tidak mampu mengusir musuhnya yang menyerbu dan tidak bersatu padu padahal tidak ada satu kemuliaanpun dapat dicapai tanpa persatuan untuk menegakkan kebenaran dan menentang kelaliman. 
Apabila masyarakat telah bersatu dan berjalan menurut sunatullah, berarti mereka telah menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi segala kemungkinan. Banyak sedikitnya bilangan sesuatu umat tidaklah menjamin untuk mewujudkan kekuasaan dan menghimpun kekuatan. Orang-orang musyrik Mekah, orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Arab telah tertipu oleh banyaknya pengikut dibanding dengan pengikut Rasulullah saw, padahal yang demikian itu tidak mendatangkan faedah bagi mereka sedikitpun. Sebagaimana firman Allah: 
يقولون لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجن الأعز منها الأذل ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين ولكن المنافقين لا يعلمون 
Artinya: 
"Mereka berkata "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, pastilah orang-orang yang kuat mengusir orang-orang yang lemah dari padanya. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul Nya dan bagi orang-orang mukmin. Tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui". (Q.S Al Munafiqun: 8) 
Fakta-fakta sejarah menjadi bukti bahwa jumlah yang banyak saja tidaklah menunjukkan kekuatan. Lihatlah bangsa-bangsa timur, mereka berjumlah banyak tetapi dapat dikuasai oleh bangsa-bangsa barat yang berjumlah lebih sedikit disebabkan merajalelanya kebodohan di timur dan permusuhan atau perpecahan yang terjadi di antara sesama mereka. 
Dalam ayat ini Allah menerangkan pula bahwa segala kebajikan terletak ditangan Nya baik kenabian, kekuasaan ataupun kekayaan. Ini menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang memberikannya menurut kemauan Nya. Tidak ada seorangpun yang memiliki kebajikan itu selain Allah. Dalam ayat ini hanya disebutkan kebajikan saja sebenarnya segala yang buruk dan jahat juga ada di bawah kekuasaan Allah. Hal ini dipahami dari pernyataan Allah bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. 
Dalam ayat ini disebutkan kebajikan saja karena disesuaikan dengan keadaan. Keadaan yang mendorong orang-orang kafir menentang dan meremehkan dakwah Nabi Muhammad saw ialah kemiskinan beliau, kelemahan pengikut-pengikutnya serta kecilnya bilangan mereka. Maka oleh sebab itu Allah menyuruh Nabi untuk berlindung kepada Yang memiliki segala kerajaan. Yang di tangan-Nya segala kekuasaan dan kemuliaan, Allah mengingatkan Rasulullah bahwa seluruh kebaikan dan kekayaan ada di tangan Nya. Maka tidak ada yang dapat mengahalangi Nya apabila Dia memberikan kemiskinan dan kekayaan kepada Nabi Nya atau kepada orang-orang yang mukmin yang dikehendaki Nya. Sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam firman Nya: 
ونريد أن نمن على الذين استضعفوا في الأرض ونجعلهم أئمة ونجعلهم الوارثين 
Artinya: 
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) (Q.S Al Qasas: 5)


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-027
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1220-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-027.html

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab`.(QS. 3:27)
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia memasukkan bagian malam kepada siang, lalu menjadi pendeklah waktu malam itu dibanding dengan siang yang lebih panjang. Dan Allah masukkan bagian siang ke dalam malam, yang menyebabkan waktu malam menjadi panjang dan waktu siang menjadi pendek. 
Ringkasnya dengan kebijaksanaan Allah dalam menciptakan bumi itu bulat, dan membuat peraturan-peraturan tertentu bagi matahari, Allah menambah panjang salah satu di antara malam atau siang yang menyebabkan kurangnya yang lain. 
Tidaklah mengherankan, bahwa sesudah adanya kenyataan tersebut, Allah Yang Maha Bijaksana memberikan kenabian atau kerajaan kepada siapa saja yang dikehendaki Nya, atau nencabut kenabian dan kerajaan itu dari siapa saja yang dikehendaki Nya. Allah yang mengurangi urusan-urusan manusia, sebagaimana halnya Dia lah mengurusi perobahan siang dan malam. 
Dalam ayat ini juga Allah menyatakan bahwa Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati seperti mengeluarkan batang kelapa dari bijinya, mengeluarkan manusia dari nutfah, atau mengeluarkan burung dari telur. Demikian Allah mengeluarkan yang mati dari yang hidup seperti mengeluarkan orang yang bodoh dari orang yang alim, orang kafir dari orang yang mukmin, biji kelapa dari pohon kelapa atau mengeluarkan telur dari burung. 
Sarjana-sarjana kedokteran telah menetapkan bahwa di dalam nutfah, telur, biji-biji seperti biji korma itu ada zat hidup. Akan tetapi ini adalah "hidup" menurut para ahli ilmu pengetahuan zaman modern ini, bukan menurut pengertian umum ketika zaman turunnya ayat. 
Allah SWT dalam ayat ini menjelaskan kodrat Nya dengan bahasa yang mudah dipahami dengan contoh-contoh yang bisa disaksikan oleh manusia di dalam kejadian sehari-hari. Allah memasukkan malam ke dalam siang, memasukkan siang ke dalam malam, mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang hidup dari tanah yang merupakan benda mati, mengeluarkan air susu dan pupuk kandang yang keduanya merupakan benda mati dari hewan-hewan yang merupakan makhluk hidup. 
Dalam pada itu, Alquran mempergunakan pula kata "mati" untuk pengertian "kafir", dan kata "hidup" untuk pengertian "iman". Seperti dalam firman Nya: 
أومن كان ميتا فاحييناه وجعلنا له نورا يمشي به في الناس كمن مثله في الظلمات ليس بخارج منها كذلك زين للكافرين ما كانوا يعملون 
Artinya: 
Apakah orang-orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang tentang*, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang berada dalam gelap gulita yang tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami menjadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Al An'am:122) 
Allah menggunakan lafal "yang hidup" dalam arti lawan "yang mati", baik yang hidup itu hissiyyah seperti hidup hewan dan tumbuh-tumbuhan ataupun maknawiyah seperti ilmu dan iman. dan firman Allah "Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dst.". adalah suatu kenyataan, bahwa Allah lah yang memiliki pemerintahan yang Dia berikan kepada orang-orang yang telah dikehendaki Nya. Allah telah mengeluarkan seorang penghulu, para rasul dari bangsa Arab yang buta huruf. Rasul itu, Muhammad saw, yang menyiapkan mereka dengan kekuatan kemauan untuk menjadi umat yang terkuat, yang dapat menghancurkan benteng perbudakaan-perbudakan dan menegakkan kemerdekatan. Sementara itu orang-orang Yahudi (Bani Israel) bergelimang di dalam taqild. perbudakan dan penindasan raja-raja atau para penguasa. 
Allah memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang Dia kehendaki atau mencabut pemberian Nya itu dari orang-orang yang Dia kehendaki hanyalah berdasarkan sunah-sunah dan hukum-hukum Nya. 
Segala urusan ada di tangan Allah. Tidak ada seorangpun yang dapat menilai dan memperkirakan perhitungannya. Dialah yang berkuasa mencabut kekuasan dari siapa yang dikehendaki Nya serta menghinakan Nya. Dan hanya Dia pulalah yang kuasa memberikan kekuasaan itu kepada suatu bangsa serta memuliakannya. Yang demikian ini, amat mudah bagi Allah. Allah menjelaskan pula dalam ayat ini bahwa Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-028
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1219-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-028.html

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).(QS. 3:28)
Telah diterangkan oleh para ahli sejarah. bahwa di antara orang-orang yang telah masuk Islam tetperdaya oleh kemuliaan orang-orang kafir lalu mereka mengadakan hubungan persaudaraan dan persahabatan yang akrab sampai menjadikan orang-orang kafir itu sebagai orang-orang yang dipercayai. 
Diriwayatkan oleh lbnu `Abbas sebagai berikut: "Adalah Al Hajjaj lbnu 'Amru dan Ibnu Abil Huqaiq dan Qadis bin Zaid. ketiga-tiganya dari golongan Yahudi mengadakan hubungan rahasia dengan sebagian orang Ansar supaya mereka mau berpaling dari agama Islam. Maka Rifa'ah lbnu Munzir. Abdullah bin Jubair, Saad bin Khaisamah mencegah mereka mendekati orang-orang Yanudi itu. Tetapi orang-orang Ansar tersebut tetap saja mengadakan hubungan rahasia dengan mereka. Maka turunlah ayat ini. 
Di dalam ayat ini Allah SWT melarang kaum muslimin untuk menjadikan orang kafir sebagai kawan yang akrab. pemimpin atau penolong, jika hal yang demikian ini akan merugikan mereka sendiri baik dalam urusan agama maupun dalam kepentingan umat, atau jika dalam hal ini kepentingan orang kafir akan lebih didahulukan daripada kepentingan kaum muslimin sendiri. apalagi jika hal itu ternyata akan membantu tersebarluasnya kekafiran. Hal yang demikian ini sangat dilarang oleh agama. 
Allah mencegah orang-orang mukmin mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang kafir itu, baik disebabkan oleh kekerabatan, kawan lama waktu zaman jahiliyah. ataupun karena bertetangga. Larangan itu tidak lain hanyalah untuk menjaga dan memelihara kemaslahatan agama, serta agar kaum muslimin tidak terganggu dalam usahanya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh agamanya. 
Adapun bentuk-bentuk persahabatan dan persetujuan-persetujuan kerja sama yang kiranya dapat menjamin kemaslahatan orang-orang Islam tidaklah terlarang Nabi sendiri pernah mengadakan perjanjian persahabatan dengan Bani Khuza'ah sedang mereka itu masih dalam syirik. 
Kemudian Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa barang siapa menjadikan orang-orang kafir sebagai penolongnya. dengan meninggalkan orang-orang mukmin dalam hal-hal yang memberi mudarat kepada agama berarti dia telah melepaskan diri daripada perwalian Allah, tidak taat kepada Allah dan tidak menolong agamanya. Ini berarti pula bahwa imannya kepada Allah telah terputus, dan dia telah termasuk golongan orang-orang kafir. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu:


http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1219-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-028.html?start=1


ومن يتولهم منكم فإنه منهم 
Artinya: 
Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka (Q.S Al Ma'idah: 51) 
Tetapi orang-orang mukmin boleh mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang kafir, dalam keadaan takut mendapat kemudaratan atau untuk memberikan kemanfaatan bagi orang-orang Islam. Juga tidak terlarang bagi suatu pemerintahan Islam, untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan pemerintahan yang bukan Islam, dengan maksud untuk menolak kemudaratan, atau untuk mendapatkan kemanfaatan. Kebolehan mengadakan persahabatan ini tidak khusus hanya dalam keadaan lemah saja tetapi boleh juga dalam sembarang waktu, sesuai dengan kaidah: 
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح 
Artinya: 
Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan. 
Berdasarkan kaidah ini, para ulama membolehkan "taqiyah", yaitu mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran untuk menolak bencana dari musuh atau untuk keselamatan jiwa atau untuk memelihara kehormatan dan harta benda. 
Maka barang siapa mengucapkan kata-kata kufur karena dipaksa, sedang hati (jiwanya) tetap beriman, karena untuk memelihara diri dari kebinasaan, maka dia tidak menjadi kafir, sebagaimana yang telah dilakukan oleh `Ammar bin Yasir yang dipaksa oleh orang-orang Quraisy untuk menjadi kafir, sedang hatinya tetap beriman. 
Allah berfirman: 
من كفر بالله من بعد إيمانه إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان ولكن من شرح بالكفر صدرا فعليهم غضب من الله ولهم عذاب عظيم 
Artinya: 
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak berdosa). Tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran. maka kemurkaan Allah akan menimpanya dan baginya azab yang besar. (Q.S An Nahl: 106) 
Sebagaimana telah terjadi pula pada seseorang sahabat yang terdesak ketika menjawab pertanyaan Musailamah: "Apakah engkau mengakui bahwa aku ini rasul Allah? Jawabnya: "Ya". Karena itu sahabat tadi dibiarkan dan tidak dibunuh. Kemudian seorang sahabat lagi sewaktu ditanya seperti tadi, ia menjawab: "Saya ini tuli" (tiga kali), maka sahabat tersebut ditangkap dan dibunuh. Setelah berita ini sampai kepada Rasulullah saw beliau bersabda: "Orang yang telah dibunuh itu kembali kepada Allah dengan keyakinan dan kejujurannya, adapun yang satunya lagi, maka dia telah mempergunakan kelonggaran yang diberikan Allah, sebab itu tidak ada tuntutan atasnya".
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1219-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-028.html?start=2


Kelonggaran-kelonggaran itu disebabkan keadaan darurat yang mendatang, bukan menyangkut pokok-pokok agama yang selalu ditaati. Dalam hal ini diwajibkan bagi orang Islam berhijrah dari tempat di mana ia tidak dapat menjalankan perintah agama dan terpaksa di tempat itu melakukan taqiyyah. Adalah termasuk tanda kesempurnaan iman bila seseorang tidak merasa takut kepada cercaan di dalam menjalankan agama Allah. 
Allah berfirman: 
فلا تخافوهم وخافون إن كنتم مؤمنين 
Artinya: 
Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S Ali Imran: 175) 
dan firman Nya: 
فلا تخشوا الناس واخشون 
Artinya: 
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia (tetapi) takutlah kepada Ku (Q.S Al Ma'idah: 44) 
Termasuk dalam "taqiyyah", berlaku baik, lemah lembut kepada orang-orang kafir, orang-orang zalim, orang-orang fasik dan memberi harta kepada mereka untuk menolak gangguan-gangguan mereka. Hal ini tidak dipandang bersahabat akrab yang dilarang tetapi adalah pekerjaan yang menurut peraturan. Nabi bersabda: 
ما وفى به المؤمن عرضه فهو صدقة 
Artinya: 
"Sesuatu tindakan yang dapat memelihara kehormatan seorang mukmin, adalah termasuk sedekah" (HR At Tabrani) 
Dan dalam hadis lain dari Aisyah ra: 
استأذن رجل على رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا عنده فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: بئس ابن العشيرة أو أخو العشيرة ثم أذن له فالان له القول, فلما خرج قلت: يا رسول الله, قلت ما قلت, ثم النت له القول, فقال: يا عائشة, إن من شر الناس من يتركه الناس اتقاء فحشه 
Artinya: 
Seorang laki-laki datang meminta izin menemui Rasulullah dan ketika itu aku berada di sampingnya. Lalu Rasulullah berkata: "(Dia adalah) seburuk-buruk warga kaum ialah laki-laki ini". Kemudian Rasulullah mengizinkannya untuk menghadap. IaIu beliau berbicara dengan orang tersebut dengan ramah tamah dan lemah lembut. Setelah laki-laki itu keluar, aku bertanya kepada Rasulullah: "Engkau telah mengatakan apa yang telah kau katakan tentang dirinya. lalu kau lunakkan lagi kata-katamu kepadanya". Rasulullah berkata: "Hai, `Aisyah sesungguhnya termasuk orang yang paling jelek adalah orang yang dibiarkan oleh manusia karena takut kepada kejahatannya". (HR Bukhari) 
Terhadap mereka yang melanggar larangan Allah di atas, Allah memperingatkan mereka dengan siksaan yang langsung dari sisi-Nya tidak seorangpun yang dapat menghalanginya. 
Akhirnya kepada Allah tempat kembali segala makhluk. Semuanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya.




TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-029
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1218-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-029.html

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: `Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.` Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 3:29)
Pada ayat ini Allah memperingatkan bahwa Dia mengetahui segala apa yang terkandung di dalam hati orang Islam ketika ia mengadakan hubungan yang akrab dengan orang-orang kafir itu apakah karena mereka suka kepada orang-orang kafir itu, atau itu dilakukan karena maksud untuk menyelamatkan diri. Kalau orang Islam berbuat demikian karena memang cenderung kepada kekufuran, tentulah Allah akan menyiksa mereka. Sedang kalau mereka melakukan itu untuk memelihara diri dan hati mereka tetap dalam iman, Allah akan mengampuni mereka dan tidak akan mengazab mereka atas pekerjaan yang tidak merusakan agama dan umat. Allah memberi pembalasan kepada mereka menurut ilmu Nya sendiri yang meliputi semua isi langit dan bumi. 
Pada akhir ayat ini Allah mengatakan bahwa: "Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". Sebab itu, janganlah kamu kaum muslimin berani mendurhakai Nya dan janganlah mengadakan kerja sama dengan musuh-musuh Nya. Semua bentuk maksiat, baik yang tersembunyi maupun yang nampak senantiasa diketahui oleh Allah dan Dia berkuasa memberi pembalasan atasnya.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar