Jumat, 30 Maret 2012

AL-A'RAAF 170 - 180

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=9&SuratKe=7#Top
171 Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka (dan Kami katakan kepada mereka):` Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa `.(QS. 7:171)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 171
وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (171)
Kemudian Allah swt. mengakhiri kisah orang Yahudi dengan memperingatkan kembali peristiwa ketika mereka pertama kali menerima Taurat. Sewaktu gunung Tursina di angkat ke atas kepala mereka sehingga gunung itu bagaikan gumpalan awan yang gelap mereka melihat gunung yang terapung di udara itu akan jatuh menimpa mereka. Sadarlah mereka ancaman Tuhan bahwa jika mereka menentang perintah-perintah agama, tentulah mereka akan binasa. Saat itulah Allah berseru kepada mereka agar mereka menerima dan menaati segala hukum-hukum agama yang tercantum dalam Kitab Taurat dengan sungguh-sungguh. Dan mereka hendaklah mengingat perintah dan larangan-Nya dalam Taurat, mengamalkannya tidak mengabaikannya walaupun mereka mengalami kesulitan dan penderitaan. Ketaatan mereka kepada hukum-hukum agama serta perintah dan larangannya dengan sebenarnya membawa mereka kepada pembinaan pribadi dan takwa.

172 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):` Bukankah Aku ini Tuhanmu? `Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi`. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: `Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)`.(QS. 7:172)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)
Allah dalam ayat ini dengan perantara Rasul-Nya menerangkan tentang suatu janji yang dibuat pada waktu manusia dikeluarkan dari sulbi orang tua mereka, turunan demi turunan, yakni hal janji Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah swt. menyuruh roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesaan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem urat saraf yang mengagumkan dan sebagainya. Berkata Allah swt. kepada roh manusia, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Penciptaan diri manusia penuh dengan keistimewaan dan keajaiban. Bukankah Aku yang memelihara pertumbuhan manusia tanpa campur tangan orang lain dalam perawatan manusia itu ketika dalam rahim? Maka menjawablah roh manusia, "Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan." Jawaban ini merupakan pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha Esa yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia.
Dengan ayat ini Allah swt. bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia itu dilahirkan dari sulbi orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah swt. pada kejadian mereka sendiri.
Allah swt. berfirman pada ayat lain:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Q.S Ar Rum: 30)
Fitrah Allah maksudnya ialah tauhid, Rasulullah saw. bersabda:

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه كما تنتج البهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جذعاء
Artinya:
Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana halnya hewan melahirkan anaknya yang sempurna telinganya. Adakah kamu ketahui ada cacat pada anak hewan itu?
H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
Rasulullah saw. dalam hadis Qudsi:

يقول الله تعالى: إني خلقت عبادي حنفاء فجاءتهم الشياطين فاختالتهم عن دينهم وحرمت عليها ما أحللت لهم
Artinya:
Berfirman Allah Taala, "Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku cenderung (ke agama tauhid). Kemudian datang kepada mereka setan-setan dan memalingkan mereka dari agama (tauhid) mereka, maka haramlah atas mereka segala sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka.
H.R Bukhari dari Iyad bin Himar.
Penolakan terhadap ajaran tauhid yang dibawa Nabi itu sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Karena itu tidaklah benar manusia pada hari kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah swt. Fitrah mereka sendiri dan ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menuruti seruan Rasul serta menjauhkan diri dari syirik.

173 Atau agar kamu tidak mengatakan: `Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?`(QS. 7:173)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 173
أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (173)
Kemudian dalam ayat ini Allah swt. menegaskan lagi tidaklah benar orang kafir itu berkata pada hari kiamat sebagai alasan bahwa nenek moyang merekalah yang pertama kali menciptakan kemusyrikan kemudian meneruskan kebiasaan syirik itu kepada mereka. Sebagai keturunan dari zaman dahulu mereka mengatakan bahwa mereka tidaklah mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan leluhur mereka sehingga tidak mengetahui jalan menuju tauhid. Oleh karena itu mereka dibinasakan disebabkan kesalahan perbuatan nenek moyang mereka.
Taklid kepada leluhur tidaklah dapat dijadikan alasan untuk mengingkari keesaan Allah, karena bukti keesaan Allah itu sangat jelas di hadapan mereka, dan mereka mampu menarik kesimpulan dari bukti-bukti itu sehingga mereka sampai kepada tauhid.

174 Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).(QS. 7:174)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 174
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (174)
Kemudian Allah menyatakan bahwa segala yang telah disebutkan di atas, yaitu tentang diciptakannya manusia atas dasar fitrah yang cenderung kepada agama tauhid dan kelemahan alasan-alasan mereka dalam menolak ajaran tauhid adalah sebagai peringatan Allah kepada manusia tentang ayat-ayat-Nya agar mereka mempergunakan akal dan pikiran mereka dan kembali ke jalan tauhid, kembali kepada fitrahnya dan menjauhkan diri dari taklid kepada nenek moyang mereka dan dari kealpaan dan kejahilan.
Dengan ayat ini Allah memberi pelajaran tentang masalah syirik. Manusia pada hari kiamat akan diminta pertanggungjawabannya meskipun kepada mereka belum sampai dakwah rasul disebabkan syirik itu bertentangan dengan fitrah manusia.

175 Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.(QS. 7:175)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 175
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175)
Allah swt. dalam ayat ini menyuruh Rasul-Nya agar membacakan kepada orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin sebuah riwayat kehidupan seorang laki-laki yang telah diberi Allah ilmu pengetahuan tentang isi Al-Kitab dan ketuhanan dan dia memahami dalil-dalil keesaan Allah sehingga dia menjadi seorang yang alim.
Tetapi kemudian laki-laki yang zalim itu mendurhakai dirinya sendiri dengan meninggalkan ilmunya, bahkan telah mengingkari isinya Al-Kitab dan dalil-dalil keesaan Tuhan. Maka datanglah setan menggodanya. Karena dia tiada lagi mempunyai ilmu dan iman dalam jiwanya yang dapat menahan godaan setan itu, akhirnya dia sesat dan menjadi teman setan. Demikianlah gambaran seorang ulama yang sesat yakni ulama yang meninggalkan ilmu pengetahuan dan imannya mengingkari kebenaran dan kafir terhadap Allah. Menurut sebagian riwayat, laki-laki yang alim itu bernama Umayah bin As-Salt penyair bangsa Arab menjelang kelahiran Islam. Dia mempelajari Kitab-kitab suci dan mengetahui bahwa Allah akan mengutus seorang rasul pada waktu itu. Dia mengharap-harap dialah yang menjadi rasul. Tetapi tatkala Allah swt. membangkitkan Muhammad saw. menjadi rasul, dia merasa iri hati. Kemudian dia mati dalam keadaan kafir tidak beriman kepada Muhammad saw. Dialah yang dikatakan oleh Rasulullah saw., "Sesungguhnya syairnya beriman kepada Tuhan tetapi hatinya kafir." Maksudnya syair ciptaannya seperti syair orang-orang beriman, karena dalam syairnya dia menegaskan adanya Tuhan dan menerangkan bukti-bukti keesaan-Nya.

176 Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derjat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(QS. 7:176)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 176
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan sekiranya Allah berkehendak meningkatkan laki-laki itu dengan ilmu yang telah diberikan kepadanya ke martabat yang lebih tinggi, tentulah Dia berkuasa berbuat demikian. Tetapi laki-laki itu telah menentukan pilihannya ke jalan yang sesat. Dia menempuh jalan yang berlawanan dengan fitrahnya, berpaling dari ilmunya sendiri karena didorong oleh keingkaran pribadi, yakni kemewahan hidup duniawi. Dia mengikuti hawa nafsunya dan tergoda oleh setan. Segala petunjuk dari Allah dilupakannya, suara hati nuraninya tidak didengarnya lagi.
Firman Allah swt.:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
(Q.S Al Kahfi: 7)
Semestinya, orang yang diberi ilmu dan kecakapan itu mempertinggi jiwanya, menempatkan dirinya ke tingkat kesempurnaan, mengisi ilmu dan imannya dengan perbuatan-perbuatan yang luhur disertai niat yang ikhlas dan iktikad yang benar. Tetapi laki-laki itu setelah diberi nikmat oleh Allah berupa ilmu pengetahuan tentang keesaan Allah, tetap kafir seperti halnya dia tidak diberi apa-apa. Karena itu Allah mengumpamakannya seperti anjing yang keadaannya sama saja diberi beban atau dibiarkan, dia tetap mengulurkan lidahnya. Laki-laki yang memiliki sifat seperti anjing ini tergolong manusia yang paling buruk. Hal demikian menggambarkan kerakusan terhadap harta benda duniawi. Dia selain menyibukkan jiwa dan raganya untuk memburu benda duniawi ini, sehingga nampak dia sebagai seorang yang sedang lapar dan haus tak mengenal kepuasan atau keadaannya seperti anjing mengulurkan lidahnya, tampaknya haus dan lapar tak mengenal kepuasan untuk menginginkan air dan umpan.
Demikian pula perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka menentangnya, baik disebabkan kebodohan mereka atau pun disebabkan fanatisme mereka terhadap dunia yang menyebabkan mereka menutup mata terhadap suatu kebenaran dan meninggalkannya. Mereka menyadari kebenaran yang dibawa Muhammad saw. dan mengakui kesesatan dan kesalahan nenek moyang mereka setelah mereka merenungkan bukti kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Tetapi kesadaran dan pengakuan demikian itu lenyap dari jiwa mereka disebabkan hawa nafsu mereka ingin kepada kenikmatan duniawi, misalnya ingin kekuasaan dan kekayaan. Kaum Yahudi dan kaum musyrikin Arab menolak ayat-ayat Allah karena mereka ingin mempertahankan kekuasaan dan kepentingan mereka. Mereka takut kehilangan kenikmatan dan kemewahan hidup. Setan telah menggoda mereka agar tergelincir dari fitrah kejadian mereka yakni kecenderungan kepada agama tauhid.
Maka cerita laki-laki yang mempunyai banyak persamaan dengan kaum penentang ayat-ayat Allah itu, patut diberikan kepada mereka harapan agar mereka mau merenungkan dan memikirkan ayat-ayat Allah dengan jujur dan obyektif lepas dari rasa permusuhan dan kepentingan pribadi. Pikiran itu pelita hati.

177 Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.(QS. 7:177)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 177
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)
Pada ayat ini Allah swt. menegaskan lagi betapa buruknya perumpamaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka disamakan dengan anjing baik karena kesamaan kelemahan keduanya yakni mereka tetap dalam kesesatan diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, atau karena kesamaan kebiasaan keduanya. Anjing itu tidak mempunyai cita-cita kecuali keinginan mendapat makanan dan kepuasan. Siapa saja yang meninggalkan ilmu dan iman lalu menjurus kepada hawa nafsu, maka dia serupa dengan anjing. Orang yang demikian tidak siap lagi berpikir dan merenungkan tentang kebenaran dan orang yang demikian itu sebenarnya menganiaya dirinya sendiri.

178 Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.(QS. 7:178)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 178
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (178)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapat hidayat dari Allah ialah orang yang diberi bimbingan oleh-Nya dalam mempergunakan akal pikirannya, indranya dan tenaganya sesuai dengan fitrahnya dan sesuai pula dengan tuntunan agama sendiri. Dia syukuri nikmat Allah, dia tunaikan kewajiban-kewajiban agama, maka berbahagialah dia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya yang merugi di dunia dan di akhirat ialah mereka yang dijauhkan dari pedoman yang ditetapkan Allah dalam mempergunakan akal pikirannya, indranya, dan tenaganya, dia ikuti hawa nafsunya, tidak mau memahami ayat-ayat Allah dan tidak mau mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Sesungguhnya jalan kepada petunjuk Allah itu hanyalah satu, yaitu beribadah kepada-Nya dengan amal kebajikan yang lahir karena iman itu. Sedangkan jalan yang menuju kepada kesesatan banyak ragamnya, karena manusia berpecah-belah, satu sama lain saling bermusuhan, dan menimbulkan pula bermacam-macam kejahatan.
Firman Allah:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Artinya:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.
(Q.S Al An'am: 153)

179 Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(QS. 7:179)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)
Kemudian Allah swt. dalam ayat ini menguraikan apa yang tidak terperinci pada ayat-ayat yang lampau tentang hal-hal yang menyebabkan terjerumusnya manusia ke dalam kesesatan. Allah menjelaskan banyak manusia menjadi isi neraka Jahanam seperti halnya mereka yang masuk surga sesuai dengan amalan mereka masing-masing.
Firman Allah:

فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
Artinya:
Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
(Q.S Hud: 105)
Firman Allah lagi:

فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
Artinya:
Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.
(Q.S Asy Syura: 7)
Hal-hal yang menyebabkan manusia itu diazab di neraka Jahanam ialah bahwa akal dan perasaan mereka tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah swt. padahal kepercayaan pada keesaan Allah swt. itu membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri lagi menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.
Demikian pula mereka tidak menggunakan akal pikiran mereka untuk kehidupan rohani dan kebahagiaan abadi. Jiwa mereka terikat kepada kehidupan duniawi sebagaimana difirmankan Allah swt.:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Artinya:
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.
(Q.S Ar Rum: 7)
Mereka tidak memahami bahwa tujuan mereka diperintahkan menjauhi kemaksiatan itu dan didorong berbuat kebajikan adalah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka tidak memahami hukum-hukum masyarakat dan pengaruh kepercayaan agama Islam dalam mempersatukan umat. Mereka tidak memahami tanda-tanda keesaan Allah baik dalam diri pribadi manusia maupun yang ada di permukaan bumi. Mereka tidak memahami dan merenungkan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada Rasul-Nya.
Mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah swt. Segala kejadian dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang dilihat dan yang didengar tidak menjadi bahan pemikiran dan renungan untuk dianalisa dan hal ini disimpulkan Allah swt. dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
Artinya:
Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
(Q.S Al Ahqaf: 26)
Mereka tidak dapat memanfaatkan mata, telinga dan akal sehingga mereka tidak memperoleh hidayat Allah yang membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Keadaan mereka seperti binatang bahkan lebih buruk daripada binatang, sebab binatang tidak mempunyai daya pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang mengadakan tanggapan atau reaksi terhadap dunia luar secara instinctif dan bertujuan hanyalah untuk mempertahankan hidup. Maka dia makan dan minum serta memenuhi kebutuhannya, tidaklah melampaui dari batas kebutuhan biologis hewani. Tetapi bagaimana dengan manusia bila sudah menjadi budak hawa nafsu? Dan akal mereka tidak bermanfaat lagi? Mereka berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan jasmani mereka sendiri, berlebih-lebihan dalam mengurangi hak orang lain. Diperasnya hak orang lain bahkan kadang-kadang di luar perikemanusiaan.
Bila sifat-sifat demikian menimpa sesuatu bangsa dan negara, maka negara itu tampak menjadi serakah dan penghisap terhadap bangsa dan negara lain. Mereka mempunyai hati (perasaan dan pikiran) tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat (Allah). Mereka lupa dan melalaikan bukti-bukti kebenaran Allah pada diri pribadi, pada kemanusiaan dan alam semesta ini, mereka melupakan penggunaan perasaan dan pikiran untuk tujuan-tujuan yang luhur dan meninggalkan kepentingan yang pokok dari kehidupan manusia sebagai pribadi dan bangsa.

180 Allah mempunyai asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 7:180)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 180
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180)
Sesudah Allah swt. menguraikan sifat-sifat manusia yang sesat pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia mempunyai "asmaul husna" dan menyerukan agar hamba-hamba-Nya berdoa dan memuji-Nya dengan menyebut asmul husna itu, mudah-mudahan mereka terhindar jauh dari sifat-sifat yang buruk dan lepas dari neraka Jahanam.
Asma'ul Husna artinya nama-nama Allah yang paling baik, paling luas dan paling dalam pengertiannya sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

إن لله تسعة وتسعين إسما مائة غلا واحد من أحصاها دخل الجنة
Artinya:
Sesungguhnya Allah swt. mempunyai sembilan puluh sembilan nama seratus kurang satu, barangsiapa menghafalnya masuklah dia ke surga.
(H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Jumlah sembilan puluh sembilan itu tidaklah berarti batas jumlah, sesungguhnya nama Allah itu tidaklah terbatas. Dalam Alquran nama Allah lebih dari jumlah angka tersebut. Nama-nama itu merupakan sifat dari zat Allah Yang Maha Esa, bukan zat Tuhan yang dikira orang musyrikin. Ada riwayat dari Muqatil mengatakan bahwa seorang laki-laki berdoa sesudah salat dan mengucapkan, "Wahai Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang)." Maka berkatalah sebagian orang musyrikin, "Sesungguhnya Muhammad dan pengikutnya mengatakan bahwa mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tetapi mengapa laki-laki itu berdoa kepada dua Tuhan (Allah dan Ar-Rahman)." Maka kemudian turunlah ayat ini.
Mengenai Asma'ul Husna yang sembilan puluh sembilan itu diriwayatkan oleh Turmuzi dan Hakim dari jalan (sanad) Al-Walid bin Muslim sebagai berikut:
Dialah Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, (1)
Yang Maha Pengasih, (2)
Yang Maha Penyayang, (3)
Maha Raja, (4)
Yang Maha Suci, (5)
Maha Sejahtera, (6)
Yang Maha Menenteramkan, (7)
Yang Maha Memelihara, (8)
Yang Maha Perkasa, (9)
Yang Maha Kuasa, (10)
Yang Memiliki Kebesaran, (11)
Yang Menciptakan, (12)
Yang Mengadakan, (13)
Yang Membentuk Rupa, (14)
Yang Maha Pengampun, (15)
Yang Maha Mengalahkan, (16)
Yang Maha Pemberi, (17)
Yang Maha Memberi Rezeki, (18)
Yang Maha Memberi Keputusan, (19)
Yang Maha Mengetahui, (20)
Yang Maha Menyempitkan (menahan) Rezeki, (21)
Yang Melapangkan Rezeki, (22)
Yang Maha Merendahkan, (23)
Yang Meninggikan, (24)
Yang Menjadikan Mulia (25)
Yang Menjadikan Hina, (26)
Yang Maha Mendengar, (27)
Yang Maha Melihat, (28)
Yang Jadi Hakim, (29)
Yang Maha Adil, (30)
Yang Maha Halus, (31)
Yang Maha Tahu, (32)
Yang Maha Santun, (33)
Yang Maha Agung, (34)
Yang Maha Mengampuni, (35)
Yang Maha Mensyukuri, (36)
Yang Maha Tinggi, (37)
Yang Maha Besar, (38)
Yang Maha Memelihara, (39)
Yang Maha Penentu Waktu, (40)
Yang Maha Membuat Perhitungan, (41)
Yang Penuh Kebesaran, (42)
Yang Maha Kemuliaan, (43)
Yang Jadi Pengawas, (44)
Yang Maha Membuat Perhitungan, (45)
Yang Maha Luas, (46)
Yang Maha Bijaksana, (47)
Yang Maha Pengasih, (48)
Yang Maha Mulia, (49)
Yang Membangkitkan, (50)
Yang Maha Menjadi Saksi, (51)
Yang penuh Kebenaran, (52)
Yang Menjadi Tempat Bertawakkal, (53)
Yang Maha Kuat, (54)
Yang Maha Kokoh, (55)
Yang Mengelola, (56)
Yang Maha Terpuji, (57)
Yang Menghitung, (58)
Yang Menciptakan, (59)
Yang Mengembalikan, (60)
Yang Menghidupkan, (61)
Yang Mematikan, (62)
Yang Hidup, (63)
Yang Berdiri Sendiri, (64)
Yang Menemukan, (65)
Yang Mulia, (66)
Yang Satu Tunggal, (67)
Yang Maha Esa, (68)
Yang Menjadi Tujuan Tumpuan Hidup dan Mati, (69)
Yang Maha Kuasa, (70)
Yang Berkuasa, (71)
Yang Terdahulu, (72)
Yang Terakhir, (73)
Yang Awal, (74)
Yang Akhir, (75)
Yang Nyata, (76)
Yang Tersembunyi, (77)
Yang Melindungi, (78)
Yang Meninggikan, (79)
Yang Banyak Melimpahkan Kebajikan, (80)
Yang Maha Memberi Ampun, (81)
Yang Menjatuhkan Pembalasan, (82)
Yang Memberi Maaf, (83)
Yang Maha Penyayang, (84)
Yang Memiliki Kekuasaan, (85)
Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, (86)
Yang Maha Adil, (87)
Yang Menghimpun, (88)
Yang Maha Kaya, (89)
Yang Memberi Kekayaan, (90)
Yang Mencegah, (91)
Yang Memudaratkan, (92)
Yang Memberi Kemanfaatan, (93)
Cahaya, (94)
Yang Memberi Bimbingan, (95)
Yang Maha Pencipta, (96)
Yang Kekal, (97) Yang Mewarisi, (98)
Yang Memiliki Petunjuk, (99)
Yang Maha Sabar. 413)
Allah swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menyebutkan nama-nama yang paling baik ini dalam berdoa atau berzikir. Karena dengan berdoa dan berzikir itu, mereka bertambah hidup dan subur dalam jiwa mereka. Para ahli hadis berbeda pendapat tentang nama-nama Allah swt. ini. Pendapat yang terkuat memandang hadis ini daif. Sebab itu Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.
Dalam pada itu Allah swt. memerintahkan pula kepada orang-orang yang beriman agar mereka meninggalkan perilaku orang-orang yang menyimpangkan pengertian nama-nama Allah swt. dan pengertian yang benar, misalnya dengan memberikan takwil atau memutar-balikkan pengertian sehingga mengaburkan kesempurnaan yang mutlak dari sifat-sifat Allah swt. Mereka yang berbuat demikian kelak akan ditimpa azab Allah swt. Penyimpangan atau penyelewengan dari nama-nama Allah Yang Maha Sempurna itu bermacam-macam bentuknya, antara lain:
1. Memberikan nama kepada Allah swt. dengan nama yang tidak ada terdapat dalam Alquran atau pun dalam hadis Rasulullah saw. yang sahih. Semua ulama bersepakat bahwa nama dan sifat Allah itu harus didasarkan atas penjelasan Alquran dan hadis Rasulullah saw. Tidak dibenarkan memberi nama kepada Allah swt. dengan nama yang dilarang oleh syara'.
2. Menolak nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah swt. untuk zat-Nya, atau menolak untuk menisbahkan suatu perbuatan (faal) kepada Allah swt. karena memandang yang demikian itu tidak patut bagi kesucian-Nya atau mengurangi kesucian-Nya. Mereka yang menolak ini memandang diri mereka seolah-olah lebih mengetahui dari Allah dan Rasul-Nya, mana yang layak dan mana yang tidak bagi Allah swt.
3. Menamakan sesuatu selain Allah swt. dengan nama yang hanya layak bagi Allah swt.
4. Memutar-balikkan nama dan sifat-sifat Allah swt. dengan memberikan tafsiran-tafsiran sehingga keluar dari pengertian dan maksud yang sebenarnya, seperti paham yang menggambarkan sifat-sifat Allah swt. seperti sifat seorang manusia, seperti mendengar, melihat, berkata-kata, punya muka, tangan, kaki, tertawa, marah, senang dan sebagainya. Atau paham yang memberikan tafsiran terhadap sifat-sifat Allah swt. sedemikian rupa sehingga sifat Allah swt. itu seperti tidak ada.
5. Mempersekutukan Allah dengan sembahan selain Allah dalam segi nama yang khusus untuk Allah swt. Seperti memakai lafal Allah untuk sebuah berhala atau kata Rabbul Alamin.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar