Selasa, 27 Maret 2012

Ali ‘Imran 70 s/d 74

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>
TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-070
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1082-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-070.html

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).(QS. 3:70)
Allah SWT mencela para Ahli Kitab yang mengingkari ayat-ayat Allah; padahal mereka mengetahui dalam kitab mereka sendiri kedatangan Nabi Muhammad saw. Kemudian Allah SWT menandaskan bahwa mereka sendiri tidak saja telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw akan datang bahkan sifat-sifatnyapun telah mereka ketahui. Karena itu mereka seharusnya mengakui kenabian Muhammad saw, akan tetapi karena sifat dengki yang mencekam jiwa mereka, maka mereka terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Mereka tidak dapat lagi melihat pancaran kebenaran, sehingga mereka terombang ambing dalam kesesatan.



TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-071
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1081-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-071.html

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (QS. 3:71)
Allah SWT mencela Ahli Kitab mengapa mereka itu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. 
Yang dimaksud dengan kebenaran dalam ayat ini ialah kebenaran yang dibawa oleh para nabi yang termuat dalam kitab mereka yaitu akidah tauhid. serta berita gembira akan datangnya Nabi Muhammad saw yang bertugas seperti Nabi-nabi yang dahulu yang akan mengajarkan Kitab dan hikmah kepada seluruh manusia. Sedang yang dimaksud dengan kebatilan ialah segala tipu daya yang dibuat oleh para pendeta dan pemimpin terkemuka seperti Ahli Kitab dengan jalan mentakwilkan ayat-ayat Tuhan dengan Takwilan yang batil dan yang jauh dari pada kebenaran. Dan pentakwilkan yang begitulah yang dianggap mereka sebagai agama yang wajib diikuti. 
Perbuatan mereka itu juga dicela oleh Allah dalam firman Nya: 
ويقولون هو من عند الله وما هو من عند الله ويقولون على الله الكذب وهم يعلمون 
Artinya: 
Dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah. padahal ia bukan dari sisi Allah," mereka berkala dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahuinya. (Q.S Ali Imran: 78) 
Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil ialah: tipu daya ahli kitab yang mentakwilkan ayat-ayat Allah dan mengatakan bahwa penakwilan itu datang dari dan wajib diikuti. Sedangkan firman Allah yang mengandung berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad saw. mereka sembunyikan. 
Semua ini menunjukkan bahwa mereka melakukan perbuatan itu bukan karena kealpaan atau karena tidak tahu, akan tetapi karena ingkar, dan hasad yang telah bersarang di dalam dada mereka.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-072
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1080-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-072.html

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya) :` Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).(QS. 3:72)
Allah SWT menjelaskan bahwa ada golongan dari Ahli Kitab yang mengajak kawan-kawannya agar pura-pura beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Muhammad di pagi hari, kemudian mengingkarinya di waktu sore. Mereka bersikap demikian untuk menimbulkan kesan di hati orang-orang Islam, kalau agama Islam itu benar tentulah orang-orang Yahudi yang baru masuk Islam tadi tidak akan keluar lagi. Sikap serupa ini tiada lain hanya tipu daya mereka untuk mempengaruhi orang-orang Islam agar kembali kepada kekafirannya. 
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ibnu `Abbas ia berkata: "'Abdullah bin As Saif, `Ady bin Zaid dan Haris bin `Auf bercakap-cakap sesama mereka. Marilah kita mempercayai kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya di waktu pagi hari. Kemudian kita mengingkarinya di waktu petang hari sehingga kita dapat mengacaukan mereka, semoga mereka berbuat sebagaimana yang kita lakukan, sehingga mereka kembali kepada agama mereka semula. Kemudian turunlah ayat 71 -73 ini. 
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Imam Mujahid, ia berkata: Segolongan orang-orang Yahudi bersalat subuh bersama-sama Nabi saw: Kemudian mereka kafir pada petang harinya. 
Apabila mereka melakukan tipu daya serupa itu, itu bukanlah barang yang aneh, karena mengetahui bahwa di antara tanda-tanda kebenaran itu ialah: "Apabila seseorang telah mengetahui sesuatu itu benar, tentu dia tidak akan meninggalkannya lagi". Hal ini dapat dipahami dari pernyataan Heraclius, Kaisar Rumawi kepada Abu Sufyan ketika beliau menanyakan kepadanya tentang keadaan Nabi Muhammad saw, yaitu dikala Nabi Muhammad saw menyeru Heraclius dengan suratnya untuk masuk Islam. "Adakah orang-orang yang keluar dari agamanya setelah ia memeluknya? "Abu Sufyan menjawab: "Tidak ada". 
Di dalam ayat ini Allah SWT memperingatkan Nabi Muhammad saw akan tipu daya ahli kitab itu dan memberitahukan siasat mereka, agar tipu daya ini tidak mempengaruhi hati orang-orang mukmin yang masih lemah. Peringatan ini berguna pula untuk menggagalkan usaha mereka; sebab apabila latar belakang dari tipu daya mereka telah diketahui, tentulah usaha mereka itu tidak akan berhasil. Ayat ini sebagai mukjizat bagi Nabi Muhammad saw, karena mengandung berita gaib yang membukakan rahasia orang-orang Yahudi.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-073
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1079-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-073.html

وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: `Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu`. Katakanlah: `Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui`;(QS. 3:73)
Allah SWT mengungkapkan adanya perkataan pemimpin-pemimpin Yahudi yang melarang kaumnya menyatakan kepercayaan mereka kepada orang lain yang bukan Yahudi bahwa kenabian itu boleh saja didatangkan oleh Allah kepada orang lain, selain orang-orang Yahudi. Sebab jika hal itu dikatakan kepada orang-orang Islam tentu orang-orang Islam akan menjadikannya alasan yang menguatkan kerasulan Muhammad saw, yang diutus oleh Allah SWT dari kalangan orang-orang Arab, bukan dari kalangan orang-orang Yahudi. Sikap yang semacam itu timbul karena orang-orang Yahudi itu memang mengetahui bahwa Allah SWT dapat saja mengutus seorang rasul, biarpun tidak dari kalangan bangsa Yahudi, tetapi mereka mengingkari kenabian Muhammad saw adalah karena kesombongan dan kedengkian mereka saja. 
Selanjutnya Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatakan bahwa sesungguhnya petunjuk yang baru diikuti itu ialah petunjuk Allah. Maksudnya bahwa petunjuk itu tidak hanya tertentu buat satu bangsa saja di antara hamba-hamba Nya. Petunjuk itu disampaikan melalui nabi-nabi yang diangkat oleh Allah sesuai dengan kehendak Nya pula. Oleh sebab itu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, ia tidak akan sesat dan tidak ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya. Maka tipu daya ahli kitab itu tidak akan memberi bekas sedikitpun kepada orang-orang muslim dan tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah terhadap nabi-nabi Nya. 
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, untuk menyatakan bahwa kerasulan itu adalah karunia dari Tuhan yang berada di dalam kekuasaan Nya secara mutlak. Dia Maha Pemberi dan Maha Mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan karunia itu. Maka sudah tentulah Allah akan memberikan karunia Nya pada seseorang yang berhak menerimanya. Dalam pernyataan ini terdapat peringatan bahwa orang-orang Yahudi. telah mempersempit pengertian tentang karunia Tuhan Yang Maha Luas itu. 
Sesudah itu Allah SWT memberikan ketegasan bahwa karunia Allah, sangat luas dan rahmat Nya diberikan secara merata menurut kehendak Nya Ini merupakan bantahan terhadap tuduhan orang Ahli Kitab yang mengatakan bahwa kenabian dan kerasulan itu hanya tertentu buat orang-orang Bani Israel saja. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah mempunyai hak mutlak untuk mengutus nabi dan rasul sesuai dengan keadilan dun rahmat Nya.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-074
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1078-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-074.html

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.(QS. 3:74)
Kemudian dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa rahmat Tuhan yang diberikan kepada nabi Nya adalah suatu karunia Allah semata. Allah SWT menegaskan bahwa karunia Allah sangat luas sekali dan rahmat Nya merata pada setiap hamba Nya. Tak ada seorangpun yang dapat mempengaruhi Allah dalam memberikan karunia itu. Maka Allah SWT berhak untuk menambah rahmat dan karunia itu kepada hamba Nya sesuai dengan keadilan Nya, tidak seperti pendapat Ahli Kitab bahwa rahmat Tuhan itu dan karunia Nya, tertentu buat mereka saja. Dengan demikian maka Allah mempunyai kekuasaan yang tak terbatas untuk mengutus nabi menurut kehendak Nya pula. Jika Allah mengutus seorang nabi dari sesuatu bangsa tertentu. hal itu semata-mata karena limpahan karunia dan rahmat Nya semata. 
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa penilaian Allah terhadap seseorang pada dasarnya adalah sama. Tidak ada seorangpun yang melebihi seorang yang lain kecuali dengan takwanya. Dan keutamaan itu hanyalah datang dari Allah yang diberikan-Nya kepada seseorang menurut kehendak Nya.




<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar