Jumat, 30 Maret 2012

Al-An'aam 21 - 40

Surah Al An'AM
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=6#Top

21 Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.(QS. 6:21)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 21
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (21)
Kemudian Allah swt. dalam ayat ini menegaskan bahwa tidak ada orang yang lebih merugi daripada orang yang berbuat dusta terhadap Allah seperti mengatakan Allah punya anak, punya sekutu atau menjadikan sesuatu selain dari Allah sebagai tumpuan doa dan pujaan, menjadikan-Nya pelindung, pengantara dan lin sebagainya dan menambah-nambah ajaran agama yang tidak ada dasarnya.
Demikian pula mereka sangat aniaya, mendustakan ayat-ayat Alquran memutar balikkan isi kitab Taurat dan Injil dan menolak mukjizat Rasul yang dikatakan mereka sebagai sihir dan mendustakan ayat-ayat alamiah yang menunjukkan Keesaan Allah swt. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat itu yakni berbuat dusta terhadap Allah ataupun mendustakan ayat-ayat-Nya apa lagi mendustakan keduanya, tidak akan memperoleh keberuntungan di hari kiamat tetapi mereka akan mendapatkan azab dari Allah swt. Di dalam dunia ini mereka tidak akan beruntung, karena mereka dikalahkan kaum muslimin seperti dalam perang Badar dan gugurnya pemimpin-pemimpin mereka.

22 Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik:` Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)? `.(QS. 6:22)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 22
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (22)
Dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan tentang hari berbangkit, saat dikumpulkan seluruh umat manusia yang pada hari itu hanya terbagi kepada dua golongan: mereka yang rugi dan mereka yang beruntung. Kemudian Allah SWT berkata kepada orang-orang yang merugikan diri sendiri yakni orang-orang musyrikin di manakah sembahan-sembahanmu yang dulu kamu katakan sekutu Allah? Sewaktu di dunia mereka meminta pertolongan dan memanjatkan doa kepada sembahan selain Allah, yang mereka jadikan sebagai pelindung atau sebagai pengantar untuk mendekatkan diri pada Allah atau untuk memberi syafaat kepada mereka pada hari kiamat. Mengapa sembahan-sembahan itu menghilang dan tidak nampak bersama mereka pada hari kiamat?. Seperti difirmankan Allah SWT dalam ayat ini:

وَمَا نَرَى مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ(94)
Artinya:
Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah pertalian antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).
(Q.S Al An'am: 94)


23 Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan:` Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah `.(QS. 6:23)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 23
ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ (23)
Kemudian Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa sesudah mereka tidak dapat memberikan jawaban untuk mempertanggungjawabkan kemusyrikan mereka sewaktu di dunia, yakni anggapan mereka ada Tuhan lain di samping Allah, maka mereka lalu menjawab semata-mata untuk membersihkan diri dari perbuatan mereka itu. Mereka menyatakan dengan sumpah bahwa mereka bukanlah mempersekutukan Allah. Demikianlah akhir dari segala kekafiran dan kemusyrikan mereka. Sewaktu di dunia mereka telah menganut agama nenek moyang mereka. Untuk sembahan-sembahan dan pujaan-pujaan itu, mereka rela mati terbunuh dalam peperangan. Tetapi pada akhirnya, mereka membersihkan diri dari kemusyrikan dan kekafiran itu. Seraya bersumpah, bahwa mereka mengingkari sembahan-sembahan mereka sendiri. Mereka mengira bahwa pernyataan mereka demikian itu ada manfaatnya bagi mereka, pada hal sebaliknya menambah dosa baru bagi mereka.
Tingkah laku dan perbuatan mereka adalah menjadi saksi atas kemusyrikan mereka. Kaki dan tangan mereka akan menceritakan semua dosa mereka. Oleh sebab itu, pada akhirnya mereka akan mengakui kekafiran mereka itu.
Firman Allah

رَبَّنَا هَؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُوا مِنْ دُونِكَ
Artinya:
Ya Tuhan kami! Mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau.
(Q.S An Nahl: 86)


24 Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.(QS. 6:24)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 24
انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (24)
Sesudah Allah menceritakan pernyataan orang-orang musyrikin pada hari kiamat itu yang berusaha untuk membersihkan diri mereka dari kemusyrikan, maka dalam ayat ini Allah menyuruh Rasul saw. dan umatnya untuk memperhatikan sikap orang musyrikin yang sangat mengherankan itu. Bagaimana bisa terjadi mereka membohongi diri mereka di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, yang tidak memerlukan kesaksian kesaksian. Suatu keanehan dan kejanggalan yang patut diperhatikan bahwa segala apa yang mereka anggap sekutu-sekutu Allah ternyata tidak memberi faedah sedikitpun kepada mereka. Syafaat, pertolongan, restu, perlindungan dan lain sebagainya yang mereka harapkan dari sekutu-sekutu itu lenyap dari mereka.
Firman Allah swt.:

أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا
Artinya:
Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?. Orang orang musyrik itu menjawab, "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami".
(Q.S Al A'raf: 37)


25 Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata:` Al quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu `.(QS. 6:25)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 25
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (25)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan faktor-faktor yang menyatakan mereka tidak beriman. Segolongan orang-orang kafir ikut mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran yang mengajak mereka bertauhid, tetapi bunyi ayat-ayat itu tidak dapat mempengaruhi pendirian mereka, sehingga mereka tetap dalam kekafiran. Mereka tidak dapat memahami dan mengerti ayat Allah swt. ini disebabkan ada tabir yang menutup hati mereka. Mereka tidak dapat mendengar dengan baik ayat-ayat Allah swt. itu seolah-olah ada suatu benda pada telinga mereka yang mengganggu pendengaran mereka sehingga ayat-ayat Allah itu tidak menyentuh jiwa mereka.
Baik tabir hati mereka maupun sumbatan pada pendengaran mereka adalah sebenarnya gambaran dari fanatisme yang pekat atau taklid buta dari pihak mereka sendiri, kemudian Allah menjadikannya sebagai penghambat bagi mereka untuk merenungkan dan mempelajari kenyataan-kenyataan itu. Karena taklid buta itu, mereka tidak dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, mereka tidak bersedia mempertimbangkan antara paham yang mereka anut dengan paham orang lain, antara agama mereka dengan agama yang lain.
Setiap kepercayaan yang berlainan dengan apa yang mereka pegangi, ditolak tanpa memikirkan mana yang lebih dekat kepada kebenaran dan yang lebih banyak membawa petunjuk kepada jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Bilamana mereka melihat tanda-tanda atau bukti-bukti yang menunjukkan: kebenaran kerasulan Muhammad saw. mereka tidak mempercayainya, bahkan menuduhnya sebagai sihir disebabkan fanatisme yang pekat dan didorong oleh rasa permusuhan yang mendalam. Mereka tidak dapat lagi menanggapi maksud dari ayat-ayat Alquran dan tanggapan mereka terbatas kata-kata lahir dan ayat-ayat itu.
Demikian kosongnya hati mereka dalam menaggapi ayat-ayat itu sehingga bilamana mereka datang menemui Nabi Muhammad saw untuk membantah dakwah beliau, mereka mengatakan ayat-ayat Alquran ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang zaman dahulu. Padahal dalam Alquran itu banyak berita tentang yang gaib, hukum-hukum, ajaran-ajaran akhlak, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya yang sampai akhir zaman tetap mempunyai nilai yang tinggi. Tetapi kesemuanya itu dipandang oleh orang orang musyrikin itu sama dengan dongeng-dongeng dan tahyul-tahyul orang zaman dahulu yang tak memberi bimbingan hidup kepada manusia. Hal ini menunjukkan kegelapan hati dan pikiran mereka. Sekiranya mereka mau merenung kisah dalam Alquran yang menerangkan pelajaran sejarah manusia, hukum sebab akibat yang berlaku pada umat-umat yang lalu itu, tentulah mereka tidak akan berkata demikian itu.


26 Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.(QS. 6:26)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 26
وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (26)
Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan lagi bahwa mereka tidaklah berhenti mendustakan ayat-ayat Alquran itu dan memandangnya sebagai sihir, bahkan mereka mencegah orang lain mendengarkan serta menghasutnya, agar orang-orang itu tidak tertarik kepada Alquran yang indah bahasanya dan maknanya yang padat melebihi bahasa penyair-penyair mereka, sehingga pemimpin musyrikin itu merasa khawatir terhadap pengaruh gaya bahasa Alquran itu kepada pendengarnya. Mereka menyadari bahwa kesempatan untuk memperhatikan ayat Alquran itu berarti kesempatan untuk menanggapi mukjizatnya, karena itulah mereka menghalangi orang lain.
Di samping mencegah orang lain, mereka sendiri menjauhkan diri dan Alquran itu untuk menunjukkan bahwa mereka sangat menentangnya dan untuk menguatkan larangan mereka.
Meskipun orang-orang musyrikin itu telah berdaya upaya dengan pelbagai cara untuk memadamkan cahaya Islam, namun tidak akan memberikan faedah sedikitpun. Bahkan Allah menyatakan pada akhir ayat ini bahwasanya tindakan mereka itu bukanlah menghancurkan Islam tetapi menghancurkan mereka sendiri tanpa mereka sadari. Peringatan akan kehancuran mereka ini beberapa tahun kemudian terbukti kebenciannya dalam pelbagai peperangan dan kemenangan di pihak Rasulullah saw.


27 Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata:` Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman `, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).(QS. 6:27)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 27
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (27)
Sesudah Allah me nyatakan akan kehancuran mereka, maka dalam ayat ini Allah menerangkan keadaan mereka di hari akhir nanti yang tentu akan disaksikan oleh umat manusia. Sewaktu mereka dihadapkan ke muka api neraka dan menyadari azab yang akan mereka derita, timbullah dalam diri mereka n atas kekafiran dan kelancangan mereka terhadap Allah dan Rasul di dunia. Maka pada saat yang sangat mengerikan dan dahsyat itu mereka mengajukan permohonan mereka kepada Allah, "Kiranya Dia berkenan mengembalikan ke dunia untuk bertobat dan beramal saleh serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak lagi mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka berjanji akan menjadi orang mukmin".
Keinginan mereka kembali ke dunia ini menunjukkan kejahilan mereka karena hal itu suatu hal yang mustahil. Orang-orang musyrikin itu di hadapan api neraka meratapi nasib mereka akibat dari perbuatan mereka di dunia yang menjadi penganut agama berhala dan menyetujui saja apa yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin mereka. Tetapi ratapan itu tidak ada gunanya, Firman Allah swt:

وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ(167)
Artinya:
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami" Demikianlah Allah akan memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.
(Q.S Al Baqarah: 167)


28 Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.(QS. 6:28)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 28
بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (28)
Allah dalam ayat ini menegaskan bahwa bukanlah benar keinginan mereka hendak kembali ke dunia untuk menjadi orang yang beriman bahkan karena ada suatu hal yang lain, yaitu sesudah nampak bagi mereka akibat yang buruk dari kekafiran dan kemusyrikan dan melihat azab neraka yang akan menimpa mereka, maka mereka merasa takut yang amat sangat dan mereka ingin bebas dari siksaan itu dengan dikembalikan ke dunia. Pada hari kiamat itu tidak ada sesuatu yang dapat disembunyikan. Segala kenyataan akan terbuka anggota badan manusia menjadi saksi atas segala sesuatunya yang buruk dan yang baik. Bagaimana sesuatu dapat tersembunyi di hadapan Yang Maha Mengetahui lahir dan batin?.
Firman Allah swt:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ(18)
Artinya:
Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhan-mu) tiada sesuatupun dari keadaanmu tersembunyi (bagi Allah).
(Q.S Al Haqah: 18)
Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia seperti yang mereka inginkan, niscaya mereka kembali seperti semula, yakni kembali kepada syirik, kemungkaran, tipu muslihat, kemaksiatan dan segala yang terlarang, karena kejahatan itu sudah mendarah daging pada diri mereka dan disebabkan kelemahan mereka untuk menerima suatu yang baik. Menyatakan keinginan mereka akan menjadi orang beriman dan tidak akan mendustakan ayat-ayat Allah swt adalah dusta belaka, karena pernyataan itu lahir sebab ketakutan akan siksa neraka dan sifat mereka tidak akan berubah. Jika kembali ke dunia, mereka kembali sombong, membanggakan dan melakukan maksiat.


29 Dan tentu mereka akan mengatakan (pula):` Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan `.(QS. 6:29)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 29
وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ (29)
Dan juga jika kembali ke dunia mereka akan mengatakan bahwa sesungguhnya tiada kehidupan lain kecuali kehidupan yang dialami dalam dunia ini. Menurut paham orang kafir hidup ini terbatas pada kehidupan duniawi semata-mata. Mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, hari pembalasan atau pertolongan. Demikian pula tak ada pahala ataupun azab di akhirat. Oleh sebab itu mereka berbuat dalam dunia ini berdasarkan keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan mereka masing-masing.
Firman Allah swt.

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ(24)
Artinya:
Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
(Q.S Al Jasiyah: 24)


30 Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah:` Bukankah (kebangkitan) ini benar? `Mereka menjawab:` Sungguh benar, demi Tuhan kami `. Berfirman Allah:` Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari (nya) `.(QS. 6:30)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 30
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى رَبِّهِمْ قَالَ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (30)
Sesudah Allah swt. menjelaskan keingkaran orang-orang kafir itu tentang hari kiamat sewaktu hidup di dunia, maka dalam ayat ini Allah menerangkan perihal mereka di akhirat saat terungkapnya kekeliruan pandangan mereka. Dalam suasana yang sangat menggugah perasaan yaitu sewaktu orang-orang kafir itu diperintahkan berdiri di tempat yang sudah ditentukan di depan pengadilan Allah swt. Allah swt. bertanya kepada mereka, "Bukankah ini benar".
Bukankah hari kiamat yang mereka sedang alami saat ini, yang dulu mereka ragu-ragukan bahkan mereka perolok-olokkan merupakan suatu kenyataan? Tidak merupakan berita kosong seperti yang mereka katakan. Dalam menghadapi pertanyaan Allah swt ini, mereka tidak dapat memanggil sekutu-sekutu yang mereka tuhankan, tidak pula mereka dapat tolong menolong satu sama lain, maka pada akhirnya mereka menjawab pertanyaan Allah swt itu, "Sungguh benar, demi Tuhan kami". Mereka tidak dapat lagi mengingkari kenyataan adanya hari bangkit itu dan mereka memperkuat pengakuan mereka atas kebenaran itu dengan mempergunakan kata sumpah "demi Tuhan". Mereka mengakui bahwa selama ini sesat dan kafir.
Sesuai dengan pengakuan itu, semestinyalah dirasakan kepada mereka azab hari kiamat yang semasa di dunia selalu mereka dustakan. Kekafiran yang mereka tonjolkan dan andalkan itu adalah penyebab dari semua derita yang mereka alami.


31 Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata:` Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu! `, Sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.(QS. 6:31)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 31
قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (31)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan tentang kerugian orang-orang kafir yang mengingkari keesaan Allah swt, kerasulan Muhammad saw. dan hari berbangkit. Mereka itu mendustakan akan pertemuan dengan Allah swt. Mereka tidak mendapat keuntungan seperti halnya orang-orang yang beriman. Keuntungan orang-orang yang beriman di dunia sebagai buah keuntungan misalnya, kepuasan batin, rida dan merasa bahagia dengan nikmat Allah dalam segala keadaan, mereka bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat, sabar dan tabah terhadap derita. Adapun keuntungan di akhirat sebagai buah dari imannya ialah seperti memperoleh rida Ilahi yang besar, mengalami kemudahan dalam hisab, kebahagiaan surga yang tak dapat digambarkan oleh manusia.
Orang-orang kafir yang mendustakan perjumpaan dengan Allah swt kehilangan segala keuntungan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya akan hari berbangkit, hidup bagi mereka terbatas dalam dunia ini saja. Oleh sebab itu hidup mereka selalu dikejar-kejar oleh keinginan-keinginan yang tak ada batasnya dan kepentingan-kepentingan mereka yang saling bertentangan. Mereka tidak pernah barang sesaat mengalami kepuasan batin, ketenteraman rohani dan rida Ilahi, bahkan mereka lebih dekat kepada setan yang membuat mereka lupa daratan. Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu sampai datang kepada mereka kiamat. Keadaan hari kiamat itu amat mendadak, tak seorangpun yang dapat mengetahui. Sewaktu ia datang, orang kafir menyatakan penyesalannya karena mereka membatasi hidup ini pada kehidupan di dunia saja sehingga mereka lalai mempersiapkan diri untuk hari kiamat. Dalam pada itu mereka memikul beban yang berat yakni dosa dan kesalahan mereka di atas pundak mereka dan mereka akan menerima hukuman atas dosa kesalahan itu. Beban yang berat yang mereka pikul pada hari kiamat ini benar-benar merupakan beban yang amat buruk.


32 Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(QS. 6:32)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 32
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (32)
Dalam ayat ini Allah menegaskan gambaran kehidupan duniawi dan ukhrawi. Kehidupan dinia ini sesungguhnya tidaklah lain hanyalah permainan dan hiburan. Bagi mereka yang mengingkari hari berbangkit dan kiamat memang demikianlah mereka sangat mencintai hidup duniawi ini. Seperti anak-anak bermain-main mereka memperoleh kesenangan dan kepuasan sewaktu dalam permainan itu. Semakin pandai dia mempergunakan waktu bermain itu semakin banyak kesenangan dan kepuasan yang mereka peroleh. Sehabis bermain itu mereka tidak memperoleh apa-apa, atau seperti pengisap narkotik, dia mendapatkan hiburan-hiburan yang amat menyenangkan sewaktu dia tenggelam dalam kemabukan narkotik itu. Hilanglah segala gangguan-gangguan pikiran yang tidak menyenangkan, lenyaplah kelelahan dan kelesuan rokhaniah dan jasmaniah pada waktu ini. Tetapi sebentar kemudian, bila racun narkotik itu sudah tidak berdaya lagi, hiburan yang menyenangkan itupun lenyap dan dia menderita kelelahan lebih berat dari sebelum minum narkotik. Begitulah keadaan orang-orang yang ingkar terhadap hari berbangkit dan hidup sesudah mati itu. Mereka membatasi diri mereka dalam kesempatan pendek itu. Hidup bagi mereka adalah permainan dan hiburan.
Bagi orang-orang yang mukmin dan takwa tentulah mereka berpikir tidak seperti orang-orang yang ingkar itu. Tidaklah patut mereka membatasi diri pada garis kehidupan yang pendek. Apakah arti kesenangan dan kenikmatan yang hanya sebentar saja, untuk kemudian menderita dengan tidak memperoleh apa apa. Oleh karena itu orang-orang mukmin, hendaklah memilih garis kehidupan. yang lebih panjang yakni kehidupan ukhrawi, sebab itulah kehidupan yang paling baik dan untuk garis kehidupan yang panjang ini hendaklah dia mempersiapkan diri dengan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt.


33 Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.(QS. 6:33)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 33
قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ (33)
Allah swt menyatakan, Dia mengetahui bahwa perkataan-perkataan musyrik Mekah itu menyedihkan hati Nabi Muhammad saw. seperti mereka mengatakan, "Muhammad seorang pendusta, tukang sihir, seorang penyair, seorang tukang tenung dan sebagainya", serta mereka berusaha menjauhkan Muhammad dari kaumnya. Timbulnya kesedihan itu adalah wajar bagi Nabi, karena jiwa dan pikirannya yang bersih lagi suci itu tidak tega melihat kesesatan dan kemungkaran yang ada pada kaumnya, padahal ia selalu mengajak dan menyeru mereka kepada jalan yang benar.
Dengan ayat ini Allah swt melarang Nabi Muhammad saw bersedih hati dan berduka cita karena perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan orang kafir itu. Larangan ini dikuatkan Allah dengan firman-Nya yang lain:

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(65)
Artinya:
Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(Q.S Yunus: 65)
Dan firman Allah swt:

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ(76)
Artinya:
Maka janganlah jawaban mereka menyedihkan kamu Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
(Q.S Yasin: 76)
Dan Allah swt melarang juga Nabi Muhammad bersedih hati karena mereka tidak beriman, dalam firman Allah swt:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ(127)
Artinya:
Bersabarlah (hai Muhammad); dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan".
(Q.S An Nahl: 127)
Dan firman Allah swt:

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ(70)
Artinya:
Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan.
(Q.S An Naml: 70)
Allah swt menyatakan bahwa sebenarnya orang-orang kafir Mekah itu percaya kepada Nabi Muhammad, bahkan mereka telah menyerahkan kepada Muhammad urusan menyelesaikan perselisihan yang sangat berbahaya seperti urusan meletakkan kembali batu hitam (Hajar Aswad) ke tempatnya pada Kakbah dan sebagainya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari As Suddy, ia berkata, "telah bertemu Akhnas bin Syuraiq dengan Abu Jahal bin Hisyam, maka berkata Akhnas kepada Abu Jahal, "Hai Abul Hakam! Terangkanlah kepadaku tentang Muhammad, apakah ia seorang yang benar atau seorang pendusta. Sesungguhnya tidak ada orang yang lain di sini mendengar perkataanmu selain aku". Abu Jahal menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya Muhammad adalah seorang yang benar, tidak pernah ia berdusta. Tetapi apabila Banu Qusay telah menguasai panji-panji, pelayanan air minum, urusan kunci Kakbah, urusan permusyawaratan (Nadwah) dan kenabian, maka apa lagi yang akan dimiliki orang-orang Quraisy yang lain". Maka Allah menurunkan ayat ini
Dari Abu Maisarah, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah saw lewat di hadapan Abu Jahal dan teman-temannya, mereka berkata, 'Hai Muhammad! Demi Allah, tidaklah kami mendustakan engkau dan sesungguhnya engkau menurut kami adalah orang yang benar tetapi kami mendustakan risalah yang engkau bawa'". Maka turunlah ayat ini.
Yang sebenarnya ialah orang-orang kafir itu tidak mempercayai kenabian Muhammad saw. Ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah, adanya hari kiamat, hari berbangkit serta semua yang dibawa dan disampaikan Muhammad.
Ar Razi dalam tafsirnya menerangkan empat macam bentuk keingkaran orang-orang kafir Mekah itu, yaitu:
1. Hati mereka mengaku Muhammad sebagai seorang yang dapat dipercaya, tetapi mulut mereka mendustakannya, karena mereka mengingkari Alquran dan kenabian Muhammad saw.
2. Mereka tidak mau menyatakan bahwa Muhammad seorang pendusta karena mereka mengetahui betul keadaan Muhammad yang sebenarnya yang tidak pernah berdusta. Menurut mereka Muhammad sendirilah yang mengkhayalkan di dalam pikirannya bahwa Allah telah mengangkatnya menjadi nabi dan rasul, lalu ia menyeru manusia.
3. Mereka selalu mendustakan kenabian dan risalah, sekalipun telah dikemukakan mukjizat-mukjizat dan dalil-dalil yang kuat mereka tetap mendustakan ayat-ayat Allah.
4. Mereka tidak mau percaya kepada mukjizat dan dalil-dalil itu, bahkan mereka mengatakan bahwa mukjizat itu adalah sihir belaka.
Dari susunan kalimat ayat ini dipahami bahwa Allah swt. meninggikan derajat Nabi Muhammad saw. Derajat itu tidak akan turun walaupun orang kafir Mekah mendustakan dan mengingkarinya. Ketinggian derajat itu dipahami dari firman Allah swt. yang menyebutkan perintah mengikuti Muhammad disebut sesudah perintah mengikuti Allah swt.
Allah swt. berfirman

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا(80)
Artinya:
Barang siapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.
(Q.S An Nisa': 80)
Dan firman Allah swt.

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ
Artinya:
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu. sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.....
(Q.S Al Fath: 10)


34 Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.(QS. 6:34)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 34
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (34)
Allah swt mengingatkan kepada Nabi Muhammad agar jangan bersedih hati dan berduka cita atas tindakan-tindakan orang-orang kafir itu, karena yang demikian itu adalah suatu yang biasa terjadi, para Nabi dan Rasul yang telah diutus Allah swt sebelumnya didustakan dan diingkari pula, bahkan disakiti dan pengikut-pengikut mereka dianiaya. Tetapi mereka tetap tabah dan sabar terhadap yang demikian itu.
Allah swt berfirman:

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَثَمُودُ(42)
Artinya:
Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan pula sebelum mereka kaum Nuh, Ad dan Samud.
(Q.S Al Hajj: 42)
Dan firman Allah swt:

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ(4)
Artinya:
Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan) maka sungguh telah didustakan pula Rasul-rasul sebelum kamu. Dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan.
(Q.S Fatir: 4)
Dari perkataan (sampai datang pertolongan Kami kepada mereka) dipahami bahwa para nabi dan rasul dahulu sangat tabah dan sabar menghadapi segala macam tindakan-tindakan kaumnya walaupun apa yang terjadi. Karena tindakan-tindakan itu, Allah menimpakan kepada mereka malapetaka yang besar, seperti sambaran petir, guncangan gempa yang dahsyat, serangan badai dan sebagainya. Allah swt. menyelamatkan para Nabi dan Rasul beserta kaumnya yang beriman dari azab yang besar itu dan menyelamatkan mereka dari tindakan kaumnya yang ingkar itu.
Ayat ini merupakan hiburan bagi Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi tindakan-tindakan orang-orang musyrik Mekah karena sebagaimana nabi-nabi dan rasul-rasul dahulu diselamatkan Allah swt., pasti Dia menyelamatkan Nabi Muhammad dan kaum muslimin serta memenangkan agama Islam.
Hiburan ini dijelaskan lagi dengan tegas dalam firman Allah swt. yang lain.

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ(35)
Artinya:
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.
(Q.S Al Ahqaf: 35)
Dan firman Allah swt.

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا(10)
Artinya:
Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
(Q.S Al Muzammil: 10)
Allah swt juga menegaskan bahwa pertolongan dan janji Allah yang telah ditetapkan itu tidak akan berubah sedikitpun, baik ucapan janji itu sendiri maupun maksud dan isi dan janji itu.
Ayat ini juga mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa kisah yang berhubungan dengan sikap dan tindakan orang-orang dahulu terhadap Nabi-nabi dan Rasul-rasul mereka serta ketabahan, kesabaran dan pertolongan Allah kepada para Nabi dan Rasul beserta pengikut-pengikut mereka telah, disampaikan Allah pula kepada Nabi Muhammad berupa ayat-aya( Alquran yang telah diturunkan. Hal ini sesuai pula dengan riwayat yang menerangkan bahwa surah Al An'am ini diturunkan sesudah surah-surah Asy Syu'ara, An Naml, Al Qasas, Hud, Al Hijr yang di dalam surah-surah itu diterangkan kisah-kisah para Nabi dan Rasul serta pengikut-pengikut mereka dalam menghadapi tindakan dan penganiayaan kaumnya.
Dengan ayat ini Allah swt menjanjikan pula pertolongan dan kemenangan kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman. Dan ini ditegaskan oleh firman Allah swt.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ(51)
Artinya:
Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).
(Q.S Al Mu'min: 51)
Dalam firman Allah swt

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ(45)
Artinya:
Agar Allah swt memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.
(Q.S Ar Rum: 45)
Ayat-ayat di atas dan ayat-ayat yang sebelumnya menerangkan syarat-syarat datangnya pertolongan Allah swt kepada orang-orang yang beriman, yaitu:
1. Beriman dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
2. Selalu menegakkan yang hak dan berlaku adil.
3. Selalu tabah dan sabar dalam keadaan bagaimanapun dalam menghadapi cobaan-cobaan Allah swt.


35 Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.(QS. 6:35)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 35
وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ (35)
Orang-orang musyrik Mekah pernah meminta kepada Nabi Muhammad saw agar didatangkan kepada mereka mukjizat dan mereka berjanji akan beriman jika permintaan mereka itu dipenuhi. Maka Allah swt menolak permintaan itu dengan menurunkan ayat ini.
Dalam ayat ini Allah swt menyatakan kepada Nabi Muhammad saw. jika Nabi merasa berat orang-orang musyrik berpaling dari agama Allah dan mereka memajukan permintaan-permintaan yang beraneka ragam agar mereka beriman, maka jika Muhammad ingin mengabulkan tuntutan mereka maka Allah menyuruhnya membuat lubang di bumi, lalu berjalan di dalamnya, atau membuat suatu tangga lalu naik ke langit untuk mendapatkan apa yang mereka minta itu, tentu saja nabi (Muhammad) tidak akan dapat melakukannya.
Sesungguhnya orang-orang musyrik itu sejak dahulu telah meminta seperti yang demikian itu tetapi mereka meminta hal-hal yang aneh-aneh itu hanyalah semata-mata disebabkan oleh keingkaran mereka bukan untuk mencari kebenaran dan karena permintaan itu tidak dipenuhi maka bertambahlah keingkaran mereka dari semula, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt:

وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا(90)
Artinya:
Dan mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu, hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.
(Q.S Al Isra': 90)
Dan firman Allah swt.

أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ
Artinya:
Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas atau kamu naik ke langit dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu, hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.
(Q.S Al Isra': 93)
Dan Allah swt menegaskan, "Engkau hai Muhammad adalah manusia yang diangkat menjadi Rasul, karena itu engkau tidak dapat melakukan sesuatu yang melampaui batas kesanggupan manusia. Yang sanggup mendatangkan yang demikian itu hanyalah Allah, karena Allah yang menguasai segala sesuatu."
Jika Allah menghendaki mereka mendapat petunjuk, beriman dan mengakui apa yang engkau bawa atau menjadikan mereka seperti malaikat yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah swt, atau menjadikan semua mereka menjadi orang yang baik, sama tingkatan dan kemampuan mereka, sama adat dan budi pekerti mereka, tentulah melakukan yang demikian itu amat mudah bagi Allah. Tetapi Allah berkehendak lain. Allah menganugerahkan kepada mereka akal, pikiran, kemauan dan perasaan, yang dengannya mereka dapat menimbang dan memilih mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah dan sebagainya.
Allah mengatur alam ini dengan sunah-Nya. Segala sesuatu berjalan menurut sunah-Nya, tidak seorangpun sanggup merubah, menambah, mengurangi atau menukar sunah-Nya itu. Karena itu janganlah engkau hai Muhammad seperti orang yang tidak tahu tentang sunah-Nya itu, sehingga mencita-citakan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunah Allah.


36 Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.(QS. 6:36)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 36
إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (36)
Pada ayat ini Allah swt menerangkan bahwa dalam menghadapi seruan Nabi dan risalah yang disampaikannya itu, manusia terbagi dua, yaitu ada manusia yang hidup jiwanya dan ada manusia yang mati jiwanya.
Manusia yang hidup jiwanya ialah manusia yang menggunakan akal, pikiran, perasaan dan kehendak serta pilihan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Dengan anugerah itu mereka melihat, memperhatikan dan menilai segala sesuatu yang dikemukakan kepada mereka. Yang baik mereka ambil, sedang yang buruk mereka buang. Karena itu hati dan pikiran mereka terbuka untuk menerima petunjuk Allah. Mereka ibarat tanah yang subur. Sedikit saja dituangi air, tanah itu akan menumbuhkan tanaman-tanaman subur.
Manusia yang mati jiwanya ialah manusia yang tidak mau menggunakan akal, pikiran, perasaan, pilihan dan mata hati yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Hati mereka telah dikunci mati oleh rasa dengki yang ada di dalamnya. Karena itu segala keterangan apapun yang dikemukakan Nabi kepada mereka tidak akan mereka dengar dan perhatikan. Seandainya mereka dapat melihat dan memperhatikan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dikemukakan Rasul dan pikiran mereka menerimanya, namun semuanya itu akan ditolak dan tidak akan diterima karena rasa dengki yang telah ada itu. Mereka diibaratkan seperti tanah yang tandus, berapapun air dialirkan kepadanya, namun tanah itu tidak akan menumbuhkan sesuatu. Karena itu mustahil tanah itu akan dapat menumbuhkan tanaman-tanaman yang diharapkan.
Manusia macam yang kedua ini adalah orang-orang kafir yang kekafirannya amat mendalam, sehingga tidak ada lagi harapan bahwa mereka akan beriman dan mematuhi seruan Nabi. Maka Allah swt menganjurkan agar Muhammad saw tidak berhati pilu terhadap mereka, hanya serahkanlah keadaan mereka itu kepada Allah. Allah swt akan membangkitkan mereka nanti dari kuburnya di hari kiamat dan akan mengazab mereka sebagai balasan dari kekafiran mereka itu.


37 Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya? `. Katakanlah:` Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui `.(QS. 6:37)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 37
وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (37)
Ayat ini menegaskan lagi tentang sikap orang-orang musyrik yang sangat ingkar kepada seruan Nabi Muhammad saw dan kepada ayat-ayat Allah. Mereka meminta agar diturunkan kepada mereka bukti-bukti dan keterangan-keterangan tentang kebenaran kenabian Muhammad saw. sebagaimana yang pernah diturunkan kepada Rasul-rasul dahulu. Mereka tidak merasa cukup dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang terdapat di dalam Alquran, pada hal bukti dan keterangan yang terdapat di dalam Alquran itu adalah yang paling tinggi nilainya bagi orang-orang yang mau menggunakan akal, pikiran dan mata hatinya. Mereka tetap menuntut agar diturunkan bukti dan keterangan seperti telah diturunkan kepada umat-umat yang dahulu tetapi mereka tidak mau memikirkan dan mengambil pelajaran dari sunah Allah yang berlaku bagi orang-orang yang menerima bukti dan keterangan seperti itu serta akibat yang dialami oleh orang-orang dahulu, yaitu mereka dihancur leburkan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang pedih, karena mereka tetap dalam keingkaran dan tidak memperhatikan bukti-bukti dan keterangan-keterangan itu.
Seakan-akan orang-orang musyrikin Mekah itu tidak mau tahu bagaimana kasih sayangnya Allah kepada mereka, yaitu Allah tidak menurunkan bukti dan keterangan seperti yang diturunkan kepada umat yang dahulu, agar mereka tidak dihancurkan di dunia ini, yang dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik tetapi mereka tidak man mensyukuri nikmat Allah yang telah diturunkan kepada mereka itu, malah tetap ingkar dan membangkang.
Sebenarnya Allah Kuasa menurunkan apa yang mereka minta tetapi Allah swt berbuat menurut kehendak-Nya, Dia hanya menurunkan bukti dan keterangan, Dia tidak menurunkan bukti dan keterangan berdasarkan permintaan dan hawa nafsu orang-orang musyrik, apa lagi bila permintaan itu adalah semata-mata untuk melemahkan dan menyulitkan Nabi.


38 Dan tiadalah bintang-bintang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.(QS. 6:38)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 38
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ (38)
Allah swt menyatakan bahwa Dia menguasai segala sesuatu, ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk yang ada, Dialah yang mengatur alam semesta. Semua yang melata di permukaan bumi, semua yang terbang di udara, semua yang hidup di lautan, sejak dari yang kecil sampai yang besar, sejak dari yang nampak sampai kepada yang tidak nampak, hanya Dialah yang menciptakan, mengembangkan, mengatur dan memeliharanya.
Bukanlah jenis manusia saja makhluk Allah yang hidup di dunia ini, banyak lagi macam dan ragam makhluk-makhluk lain, bahkan masih banyak yang belum diketahui oleh manusia. Semuanya itu tunduk dan menghambakan diri kepada Allah swt. mengikuti perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya.
Binatang melata (dabbah) dalam ayat ini maksudnya ialah: segala makhluk yang diciptakan Allah swt, di bumi. Disebut "binatang melata di bumi" saja karena binatang melata di bumi itulah yang mudah dilihat dan diperhatikan oleh manusia.
Pada ayat yang lain Allah swt menyebutkan bahwa selain di bumi, juga di planet-planet yang lainpun terdapat makhluk hidup. Allah swt berfirman:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ خَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ(29)
Artinya:
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.
(Q.S Asy Syura: 29)
Adanya makhluk-makhluk hidup yang disebutkan Allah planet-planet yang lain, sebagaimana yang disebutkan oleh ayat ini merupakan suatu pengetahuan yang diberikan Allah kepada manusia dan sebagai bahan pemikiran dan penyelidikan.
Ayat ini mendorong orang-orang yang beriman agar menyelidiki segala rupa kehidupan mahluk Allah yang ada di alam ini untuk memperkuat iman dan menambah ketaatan serta ketundukan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan ayat ini Allah swt. menyatakan bahwa di dalam Alquran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat dan kebahagiaan makhluk umumnya.
Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud dengan "Al Kitab dalam ayat ini ialah "Ummul Kitab", yakni lohmahfuz. Karena maksud ayat ini menurut beliau ialah segala sesuatu telah dituliskan dalam Lohmahfuz. Menurut Ibnu Kasir tiada suatu makhlukpun yang dilupakan Allah memberi rezekinya, sebagaimana firman Allah swt.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ(6)
Artinya:
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi, melainkan Allah lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lohmahfuz).
(Q.S Hud: 6)
Semua makhluk yang diciptakan Allah itu akan lenyap atau mati dan kembali kepada pemiliknya, yaitu Allah swt, kemudian Dia akan membangkitkannya dan menghimpunnya untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan memberi siksaan terhadap perbuatan yang buruk.


39 Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.(QS. 6:39)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 39
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (39)
Orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya dan membuktikan kekuasaan dan keesaan Allah, kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. mereka itu seperti orang pekak, tidak mendengarkan seruan kepada kebenaran, tidak mengacuhkan petunjuk-petunjuk kepada jalan yang benar. Mereka itu juga seperti orang bisu karena tidak membicarakan dan menyampaikan yang hak yang telah mereka ketahui dan mereka telah tenggelam dalam kegelapan yaitu kegelapan kepercayaan menyembah berhala, kegelapan taklid kepada nenek moyang mereka dan kegelapan kebodohan. Mereka akan dimasukkan Allah ke neraka Jahanam.
Allah swt. berfirman

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(179)
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Q.S Al A'raf: 179)
Orang-orang yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah membiarkan mereka menempuh jalan yang sesat karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk-Nya. Orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapat taufik, maka Dia menjadikan mereka pengikut jalan yang lurus, jalan kebenaran karena mereka memperhatikan dan memahami ayat-ayat Allah kemudian mereka amalkan sesuai dengan sunatullah yang berlaku di alam ini.
Allah swt berfirman

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(16)
Artinya:
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(Q.S Al Ma'idah: 16)


40 Katakanlah:` Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar! `(QS. 6:40)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 40 - 41
قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (40) بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ (41)
Ayat ini mengingatkan orang-orang kafir tentang sikap dan keadaan mereka di saat menerima cobaan berat dari Allah, mereka kembali kepada fitrahnya, ingat dan menyeru Allah Yang Maha Esa, memohon pertolongan-Nya agar dihindarkan dari cobaan-cobaan yang berat yang sedang mereka alami itu. Tetapi apabila cobaan berat itu telah terhindar dari mereka, mereka kembali mempersekutukan Allah. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menanyakan kepada orang-orang musyrik yang mendustakan ayat-ayat Allah dan mempersekutukan-Nya itu, "Terangkanlah kepadaku hai orang-orang musyrik, jika datang kepadamu. azab Allah seperti yang pernah menimpa umat-umat yang dahulu, seperti serangan angin kencang, banjir besar, petir yang menyambar dari langit dan sebagainya, apakah kamu sekalian akan meminta pertolongan dan perlindungan kepada berhala-berhala dan sembahan-sembahan itu juga yang kamu katakan bahwa mereka dapat menolong dan melindungimu?"
Pertanyaan itu dijawab oleh Allah, yaitu, "Tidak! Tetapi hanya Dialah yang kamu seru". Maksudnya, "Hai orang-orang musyrik, penyembah-penyembah berhala, jika kamu ditimpa azab, seperti yang pernah menimpa orang-orang dahulu, maka kamu tidak akan meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah untuk menghindarkan kamu dari azab itu".
Dengan pertanyaan dan jawaban di atas, seakan-akan Allah swt. melukiskan watak orang musyrik pada khususnya dan watak manusia pada umumnya yaitu manusia dalam keadaan senang tidak ingat kepada Allah swt. tetapi bila dalam keadaan kesulitan dan kesukaran mereka ingat dan menyembah Allah.
Allah swt. Berfirman:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ(65)
Artinya
Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan Allah.
(Q.S Al Ankabut: 65)
Dan firman Allah
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ(32)
Artinya
Dan apabila mereka dilamun ombak yang (besar) seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.
(Q.S Luqman: 32)
Fitrah manusia yang sebenarnya ialah percaya kepada Allah Yang Maha Esa, Penguasa dan Pemilik semesta alam. Fitrah ini pada seseorang dapat berkembang dan tumbuh dengan subur dan dapat pula tertutup perkembangan dan pertumbuhannya oleh pengaruh lingkungan dan sebagainya.
Rasulullah saw bersabda:

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
Artinya:
Tidak seorangpun dari anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah (mentauhidkan Allah), maka dua orang ibu-bapaknya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi
(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
di samping pengaruh orang tua dan pengaruh lingkungan, maka pengaruh hawa nafsu dan keinginanpun dapat mempengaruhi atau menutup fitrah manusia itu. Karena itu manusia di masa senang, tidak ingat kepada Allah. Tetapi bila ditimpa kesengsaraan mereka ingat kepada Allah swt.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar