Jumat, 30 Maret 2012

AL-A'RAAF 191 - 200

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=10&SuratKe=7#Top
191 Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.(QS. 7:191)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 191
أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (191)
Kemudian Allah swt. dalam ayat ini mencela keras sikap, pikiran dan tingkah laku orang-orang musyrik itu. Mereka mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun walaupun berhala itu benda yang rendah. Padahal berhala-berhala itu sendiri dibikin oleh tangan manusia. Tidaklah wajar bagi orang yang punya pikiran, menjadikan berhala itu sebagai sembahan, baik dia dipandang sebagai sekutu Allah dalam menerima ibadah atau pun sebagai perantara antara manusia dengan Allah swt. Sebab segala pujian atau sembahan kepada selain Allah sedikit pun tidak ada faedahnya.

Firman Allah swt.:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
Artinya:
Hai manusia telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (Q.S Al Hajj: 73).

 192 Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.(QS. 7:192)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 192
وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (192)
Ayat ini seperti ayat-ayat yang lalu menggambarkan penyembah-penyembah berhala pada umumnya termasuk kemusyrikan Arab Mekah. Allah swt. menjelaskan bahwa sembahan-sembahan kaum musyrikin itu tidak punya kesanggupan apa-apa, baik dalam memberi pertolongan terhadap diri mereka sendiri; umpama terjadi serangan dari musuh kepada penyembah-penyembah itu atau pun mereka ditimpa oleh malapetaka, tidaklah dapat patung-patung itu memberikan sesuatu pertolongan. Bahkan bila ada seseorang mengotori patung-patung itu atau mencuri perhiasannya, niscaya patung itu tidak dapat membela dirinya sendiri. Demikianlah patung-patung itu hanya disembah dan dibela, tetapi penyembah itu tak dapat apa-apa dari patung itu.

 193 Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.(QS. 7:193)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 193
وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لَا يَتَّبِعُوكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ (193)
Allah swt. menyatakan dalam ayat ini kepada kaum musyrikin bahwa jika mereka memohon kepada berhala-berhala itu supaya memberi petunjuk kepada mereka sebagaimana mereka memohon kepada Allah supaya memberi kebaikan tentulah berhala-berhala itu tidak dapat memberi petunjuk ke jalan yang menuju cita-cita mereka atau ke jalan yang menuju keselamatan mereka dari kesulitan dan kesukaran yang menimpa mereka. Berhala-berhala itu tidak dapat mengikuti keinginan mereka, dan tidak pula memperkenankan permohonan mereka. Keadaannya sama saja apakah penyembah-penyembah berhala itu memohon sesuatu kepada berhala itu ataukah mereka tidak minta apa-apa. Berhala itu tiada paham permohonan mereka, tidak mendengar dan tidak pula memikirkan apa yang diucapkan kepada mereka.
Patutkah disembah sesuatu yang memiliki sifat-sifat di atas. Seharusnya yang disembah itu ialah Allah Yang memberi manfaat kepada yang menyembah-Nya, Yang memberi hukuman kepada yang berbuat maksiat kepada-Nya, Yang memberikan pertolongan kepada penyembah-Nya, Yang menghancurkan musuh-musuh-Nya, Yang memberikan petunjuk kepada yang taat kepada-Nya, Yang memberi petunjuk kepada yang mengikuti perintah-Nya, dan mendengarkan doa orang-orang yang berdoa kepada-Nya.
Berdasarkan uraian di atas dan uraian ayat yang sebelumnya, dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa orang-orang yang berziarah ke kubur wali-wali serta mengeramatkannya, dan meminta kepada kuburan itu untuk memenuhi keinginannya adalah sama hukumnya dengan hukum menyembah berhala. Banyak persamaan antara penyembah-penyembah berhala dengan pengunjung kuburan-kuburan para wali yang keramat itu. Kuburan wali-wali yang dianggap keramat tidak dapat memberikan manfaat atau pun memberikan mudarat, seperti yang difirmankan oleh Allah swt. dalam ayat ini yang artinya: "Sama saja hasilnya buat kamu menyeru mereka atau pun berdiam diri".
Maka segala macam pemujaan dan penyembahan patung-patung, berhala-berhala, kuburan-kuburan yang dikeramatkan dengan upacara-upacara keagamaan adalah perbuatan yang tidak dibenarkan syara'. Doa yang ditujukan kepada benda-benda tersebut memberi kesan kepada mereka yang datang berdoa itu, bahwa benda-benda itu dapat mempengaruhi dan memberi bekas kepada iradat Allah, kepada kekuasaan Allah dalam mengurusi makhluk-Nya. Sungguh perbuatan itu adalah perbuatan sia-sia dan merusak iman.

 194 Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.(QS. 7:194)
  Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 194
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (194)
Dalam ayat ini Allah swt. menandaskan bahwa sembahan-sembahan selain Allah yang menjadi tujuan doa kaum musyrikin itu sebenarnya makhluk seperti mereka sendiri. Doa adalah pengharapan dari orang yang mengucapkannya kepada siapa saja yang dipandangnya mempunyai kekuatan yang lebih besar dari dia untuk memenuhi pengharapan itu, baik untuk mendapatkan kemanfaatan atau pun untuk menolak kesusahan dan kerugian. Mengapa mereka memanjatkan doa kepada berhala-berhala itu yang sebenarnya makhluk Allah seperti mereka sendiri sama-sama tunduk kepada kudrat dan iradat Allah swt.? Tidaklah masuk akal, jika mereka memohonkan kepada berhala-berhala itu sesuatu yang mereka sendiri, dan juga berhala-berhala itu tidak dapat mencapainya. Seharusnya mereka memanjatkan doa kepada Tuhan Pencipta dan Pengatur segala sebab dan akibat dalam alam ini. Segala benda mati dan benda hidup di dalam alam ini semua tunduk kepada sunah-Nya. Akan tetapi jika kaum musyrik itu meyakini bahwa kepercayaan mereka benar yaitu benda-benda berhala itu kuasa memberi kemanfaatan atau pun menolak kemudaratan yang tak sanggup dikerjakan oleh manusia, biarlah mereka berdoa kepada benda-benda berhala itu kalau doa itu dapat dikabulkan oleh berhala itu. Sesungguhnya sesatlah pikiran orang-orang yang memandang bahwa benda mati itu punya daya dan kekuatan seperti Tuhan Pencipta-Nya.

 195 Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat bertindak dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: `Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-Ku, tanpa memberi tangguh (kepada-Ku)`.(QS. 7:195)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 195
أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ (195)
Dalam ayat ini Allah memperingatkan bagi pemuja-pemuja benda-benda itu, bahwa berhala-berhala itu bukan saja tidak sederajat dengan mereka bahkan lebih rendah dari mereka. Berhala-berhala itu tidak memiliki kelengkapan tubuh seperti kaki, tangan, mata dan lain-lain sebagainya yang dapat menunaikan permohonan dan tuntutan pemujanya. Tidaklah benda-benda itu seperti penyembahnya yang keadaannya lebih sempurna dan lebih lengkap. Peringatan Allah swt. ini merupakan ejekan dan penghinaan kepada kaum musyrikin. Tetapi kaum musyrikin itu tidak menginsyafi keadaan diri mereka, bahkan mereka merasa sombong dan takabur. Mereka enggan menerima petunjuk dan pelajaran dari Rasulullah saw. dengan alasan bahwa rasul itu seorang manusia. Mereka berkata sesama mereka sebagaimana difirmankan Allah:

وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ
Artinya:
Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.
(Q.S Al Mu'minun: 34)
Di sinilah kejanggalan pikiran mereka. Mereka menolak taat kepada Rasul karena beliau seorang manusia. Padahal Rasul saw. mempunyai kelebihan ilmu pengetahuan dan hidayah dari Allah dibanding dengan manusia lainnya. Mereka lebih mengutamakan patung-patung daripada seorang rasul. Bahkan mengangkat patung-patung dan benda-benda sembahan ke derajat ketuhanan. Maka Allah swt. memerintahkan Rasul untuk mengadakan tantangan kepada mereka secara nyata dengan mengatakan kepada mereka bahwa jika benar berhala-berhalanya punya kekuatan, suruhlah mereka bersatu untuk membinasakan Rasul saw. Tidaklah perlu mereka memberi kesempatan menunggu kepada Rasul saw. untuk membinasakannya. Tantangan yang demikian itu tidak akan terucapkan oleh Nabi saw. sekiranya keimanan kepada pertolongan Allah swt. tidak memenuhi seluruh jiwanya.
Memang sudah tepatlah waktu dan tempatnya tantangan yang demikian diucapkan. Sebab dalil-dalil dan alasan ilmiah tidak bermanfaat lagi untuk menyatakan kebatilan kepercayaan masyarakat musyrikin Arab itu. Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk meminta kepada mereka agar berhala-berhala mereka membinasakannya. Tantangan yang demikian itu besar pengaruhnya pada hati penyembah-penyembah berhala itu.

 196 Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.(QS. 7:196)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 196
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (196)
Ayat ini menerangkan lanjutan ucapan Nabi Muhammad di hadapan kaum musyrikin, yaitu bahwa sesungguhnya Allah swt. yang menjadi pelindungnya, yang menguasai urusannya, dan yang menjadi penolongnya. Dialah Allah Yang menurunkan Al-Kitab yang menjelaskan keesaan-Nya dan kewajiban berbakti serta berdoa kepada-Nya dalam segala keadaan. Al-Kitab itu membentangkan pula kekeliruan dan kebatilan penyembahan-penyembahan berhala-berhala itu. Karena itu Rasul saw. tidak mempedulikan benda-benda berhala itu dan tidak pula merasa takut kepadanya, meskipun orang-orang musyrikin menakut-nakuti dengan berhala itu. Allah swt. juga akan memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya kepada hamba-Nya yang saleh yakni mereka yang memiliki jiwa yang bersih berkat kebersihan akidahnya, dan dari kebersihan jiwa itu lahir amal perbuatan yang luhur, berguna bagi kehidupan pribadi dan masyarakat.

197 Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.(QS. 7:197)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 197
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (197)
Allah swt. menegaskan kembali pada kaum musyrikin bahwa berhala-berhala yang mereka mintai pertolongan itu tidak dapat berbuat apa-apa bahkan menolong diri mereka sendiri tidak dapat apalagi menolong diri orang lain. Baik memberi manfaat maupun menolak kemudaratan seperti apa yang diperbuat Nabi Ibrahim a.s. Beliau memecahkan patung-patung kaumnya sehingga menjadi berkeping-keping. Patung-patung itu tidak dapat membela diri dan membalas dendam. Diceritakan oleh Ibnu Kasir, bahwa Muaz bin Amr bin Al-Jamah beserta Muaz bin Jabal r.a. masuk agama Islam ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah. Keduanya masih muda-muda. Pada suatu malam mereka pergi menghancurkan patung-patung orang musyrikin dan dijadikannya kayu bakar untuk orang-orang miskin. Maksudnya agar kaumnya mengetahui dan mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Orang tuanya yang bernama Amr bin Jamuh seorang kepala suku, memiliki sebuah patung yang selalu disembahnya dan diberinya wangi-wangian. Pada suatu malam kedua anak muda itu mendatangi patung tersebut, lalu patung itu dibalikkannya, kepalanya di bawah dan diberinya kotoran manusia. Besok harinya Amr bin Al-Jamuh datang ke tempat patung sembahannya, dilihatnya apa yang telah terjadi. Patung itu kemudian dicucinya dan diberinya wangi-wangian lalu diletakkan sebuah pedang di sampingnya. Berkatalah dia kepada patung itu: "Belalah dirimu!" Tetapi keesokan harinya kedua anak muda itu kembali mengulangi perbuatannya, dan orang tua itu pun kembali pula berbuat seperti semula lagi.
Akhirnya kedua anak muda itu mengambil patung itu dan mengikatnya bersama anjing yang mati, lalu diletakkannya di dekat sumur dekat dengan tempat itu. Kemudian ketika orang tua itu datang lagi dan melihat apa yang terjadi atas patungnya, sadarlah dia bahwa agama yang dianutnya selama ini adalah agama yang batil. Kemudian Amr bin Jamuh masuk agama Islam dan menjadi seorang muslim yang baik. Beliau mati syahid dalam perang Uhud. 429)

198 Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.(QS. 7:198)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 198
وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لَا يَسْمَعُوا وَتَرَاهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (198)
Dalam ayat ini Allah swt. menyatakan kembali bahwa meskipun orang musyrikin itu meminta berhala-berhala itu memberi petunjuk kepada mereka, namun berhala-berhala itu tidak akan mendengar permintaan itu. Karena berhala-berhala itu tidak mempunyai pendengaran walaupun dia punya telinga. Kaum musyrikin itu melihat berhala-berhala itu memandang kepada mereka, padahal dia tidak melihat karena berhala-berhala itu tidak punya penglihatan walaupun ia punya mata. Pendengaran dan penglihatan tidak dapat dibuat manusia karena keduanya bertalian dengan jiwa, dengan hidup. Apakah yang bisa diharapkan dari benda mati yang tidak mempunyai pendengaran dan penglihatan itu?

 199 Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS. 7:199)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 199
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (199)
Dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan Rasul-Nya agar berpegang teguh pada prinsip umum tentang moral dan hukum.
1. Sikap Pemaaf
Allah swt. menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan perbuatan, tingkah laku dan akhlak manusia dan janganlah beliau meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi mereka sehingga lari dari agama.
Sabda Rasulullah saw.:

يسروا ولا تعسروا
Artinya:
Mudahkanlah, jangan kamu persulit.
(H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan Muaz)
Termasuk prinsip agama, mudahkanlah, menjauhkan kesukaran dan segala halnya dalam bidang budi pekerti manusia yang banyak dipengaruhi lingkungannya. Bahkan banyak riwayat menyatakan bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti.
Berkata Rasulullah sehubungan dengan ayat ini:

ما هذا يا جبريل؟ قال: إن الله أمرك أن تعفو عمن ظلمك وتعطي من حرمك وتصل من قطعك
Artinya:
"Apakah ini ya Jibril?" Jawab Jibril: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya."
(HR Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibnu Umaimah dari bapaknya)
2. Menyuruh manusia berbuat makruf.
Makruf adalah adat kebiasaan masyarakat yang baik yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam Alquran kata "makruf" dipergunakan dalam hubungan hukum-hukum yang penting, seperti dalam hukum pemerintahan, hukum perkawinan. Dalam pengertian kemasyarakatan kata "makruf" dipergunakan dalam arti adat kebiasaan dan muamalat dalam suatu masyarakat. Karena itu ia berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bangsa, negara dan waktu. Di antara para sarjana memberikan definisi "makruf" dengan apa yang dipandang baik melakukannya menurut tabiat manusia yang murni tidak berlawanan dengan akal pikiran yang sehat. Bagi kaum muslimin yang pokok ialah berpegang teguh pada nas-nas yang kuat dari Alquran dan sunah. Kemudian mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nas agama secara jelas.
3. Menjauhkan diri dari orang-orang yang jahil.
Yang dimaksud dengan orang jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan gangguan-gangguan terhadap Nabi dan tidak dapat disadarkan. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil tidak melayani mereka dan tidak membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.

200 Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 7:200)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 200
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (200)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan tentang kemungkinan Nabi Muhammad saw. digoda setan lalu dia tidak dapat melaksanakan prinsip di atas. Oleh karena itu Allah swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya agar selalu memohonkan perlindungan kepada Allah swt. jika godaan setan datang dengan membaca "ta`awuz", yaitu:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Artinya:
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Allah swt. Maha Mendengar segala permohonan yang diucapkan dan Maha Mengetahui apa yang dalam jiwa seseorang yang dapat mendorong dia berbuat kejahatan atau kesalahan. Jika doa itu dibaca orang yang tergoda itu dengan hati yang ikhlas dan penghambaan diri yang tulus kepada Allah swt. maka Allah swt. akan mengusir setan dari dirinya, serta akan melindungi dari godaan setan itu.
Firman Allah swt.:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Artinya:
Apabila kamu membaca Alquran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.
(Q.S An Nahl: 98,99)
Sabda Rasulullah saw.:

ما منكم من أحد إلا وقد وكل به قرينه من الجن قالوا: وإياك يا رسول الله قال: وإياي إلا أن الله أعانني عليه وأسلم منه
Artinya:
Tidak seorang pun di antara kamu sekalian melainkan didampingi temannya dari jenis jin. Berkatalah para sahabat: "Kamu juga hai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Juga. Hanya Allah menolong aku menghadapinya maka selamatlah aku daripadanya."
(H.R Muslim dari 'Aisyah ra dan Ibnu Mas'ud)
Meskipun dalam ayat ini diperintahkan kepada Rasul, namun maksudnya ialah meliputi keseluruhan dari umatnya yang ada di dunia ini.

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar