Senin, 26 Maret 2012

Al-Baqarah 251-255

Kembali ke Daftar Surah                                     Kembali ke Daftar Surah 


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 251
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/628-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-251.html


فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ  

Kemudian tentara Talut mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan dalam peperangan itu Nabi Daud yang juga ikut berperang berhasil membunuh raja Jalut.
Sebelum terjadi peperangan yang dahsyat itu, raja Jalut yang tubuhnya sangat besar dan tinggi dan memakai baju besi, dengan penuh kesombongan menantang untuk melakukan perang tanding seorang lawan seorang. Dan dari pihak Bani Israil sendiri tidak ada yang berani tampil ke muka untuk melayani tantangan itu, maka datanglah seorang pemuda pengembala kambing yaitu Daud (yang kemudian jadi nabi) dan beliau menyatakan kesediaannya untuk menghadapi raja Jalut. Ternyata yang dipergunakannya hanya sebuah alat pelempar batu yang selalu dipergunakan untuk melindungi kambing-kambingnya dari serangan serigala. Karena raja Jalut ini memakai baju besi, maka sukar sekali ditembus badannya dengan batu. Karena itu Daud dengan kepandaiannya membidik lobang di antara dua matanya untuk jadi sasarannya, ternyata lemparan beliau tepat mengenai sasaran dan sampai raja Jalut roboh seketika karena dahinya ditembus oleh peluru batu itu. 
Setelah itu Daud mengambil pedangnya dan memenggal leher Jalut sehingga putus dan terpisah dari badannya. Maka dengan gugurnya raja Jalut itu, buyarlah seluruh kaum Amaliqah karena rajanya telah terbunuh. Seluruh tentara Bani Israil dengan suara gemuruh dan gegap gempita menyambut Daud yang kemudian dijadikan menantu oleh raja Talut sebagai penghargaan atas jasanya. 
Selain kemenangan itu Allah swt. menganugerahkan pula hikmah dan kerajaan kepada Daud sehingga beliaulah orang yang pertama-tama merangkap dua jabatan sekaligus yaitu jadi nabi dan raja. 
Seandainya Allah swt. tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, maka rusaklah bumi ini; dan seandainya Allah tidak menolak orang-orang jahat dan zalim dengan orang-orang yang berbuat kebajikan niscayalah kejahatan itu akan tambah merajalela dan menghancurkan orang-orang yang baik. Akan tetapi Allah sengaja mengatur benteng-benteng pertahanan itu karena Allah mempunyai karunia yang dianugerahkan kepada semesta alam.


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 252
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/627-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-252.html



تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ 

Demikianlah ayat Allah diturunkan kepada manusia dengan sebenarnya. Sesungguhnya ayat-ayat ini menjadi saksi atas kerasulan Nabi Muhammad saw. yang tidak dapat diragukan lagi oleh semua ahli kitab Yahudi maupun Nasrani. Ternyata kisah-kisah yang diuraikan itu sesuai betul dengan apa yang ada di dalam kitab-kitab mereka, meskipun Nabi Muhammad saw. tidak menyaksikan sendiri peristiwa-peristiwa itu. Namun semuanya dapat diketahui beliau semata-mata dengan perantaraan wahyu yang diturunkan kepadanya. Allah swt. dengan tegas menyatakan.


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 253
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/592-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-253.html


تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ  

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa di antara rasul-rasul-Nya ada yang mendapat kesempatan berbicara langsung dengan-Nya tanpa perantaraan malaikat Jibril a.s. Rasul yang dimaksud di sini ialah Nabi Musa a.s. berbicara langsung dengan Allah swt. tidak pernah dialami oleh rasul-rasul yang lain. Oleh sebab itulah maka Nabi Musa a.s. disebut "Kalimullah", yang berarti "nabi yang diajak berbicara langsung oleh Allah swt"
Selanjutnya Allah swt. menjelaskan bahwa Nabi Isa a.s. telah diberi-Nya bermacam-macam mukjizat yang tidak diberikan-Nya kepada yang lain ; misalnya ia telah dapat berbicara ketika ia masih berada dalam buaian; dan ia dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati, serta menyembuhkan orang-orang buta dan orang-orang yang ditimpa penyakit sopak dengan izin Allah swt. Dan Allah menyokongnya pula dengan Ruhul Qudus, yaitu malaikat Jibril a.s. di samping ia sendiri mempunyai jiwa yang murni. 
Akhirnya, Nabi Muhammad saw. diberi-Nya derajat yang lebih tinggi daripada rasul-rasul sebelumnya, yaitu ia telah dinyatakan sebagai nabi dan rasul Allah yang terakhir untuk seluruh umat manusia, sedang rasul-rasul yang lain yang diutus untuk kaumnya saja. Dan agama Islam yang dibawa Nabi saw. adalah berlaku untuk seluruh umat, tempat dan zaman sampai hari kiamat kelak; dan Alquran diterimanya selain menjadi petunjuk umat manusia, juga merupakah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw. yang tak tertandingi sepanjang masa. 
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menerangkan keadaan umat manusia sepeninggal rasul-rasul yang telah diutus kepada mereka. Pada umumnya, ketika rasul-rasul itu masih hidup umatnya sudah dapat bersatu-padu akan tetapi sepeninggal rasul itu mereka lalu berselisih dan bertengkar bahkan ada yang saling membunuh. Perbedaan-perbedaan paham dalam masalah agama mendorong mereka untuk saling mencaci, bahkan saling mengkafirkan. Dan kefanatikan mereka terhadap sesuatu mazhab atau seorang imam menyebabkan mereka tidak mau menerima kebenaran yang dikemukakan oleh golongan lain. 
Perselisihan-perselisihan itu terjadi, padahal mereka sudah mendapatkan keterangan-keterangan yang nyata, dan mereka telah berselisih, sehingga sebagiannya beriman dan yang lainnya kafir. Andaikata Allah swt. menghendaki agar manusia tidak berselisih dan tidak bermusuhan atau berbunuhan, niscaya Allah kuasa berbuat demikian. Dan jika Allah berbuat semacam itu tentulah manusia akan menjadi baik semuanya dan dunia ini akan terteram dari perselisihan-perselisihan antara manusia. 
Akan tetapi Allah swt. berbuat menurut kehendak-Nya berdasarkan kepada hikmah dan pengetahuan yang maha tinggi. Allah swt. memberi manusia tabiat, pikiran, perasaan dan kemauan agar manusia itu dapat berpikir dan berbuat lebih baik dari makhluk-makhluk yang lainnya di bumi ini dan agar mereka berpikir tentang kekuasaan Allah. Apabila manusia menggunakan pikiran dan perasaannya itu sebaik-baiknya niscaya mereka akan melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah swt. di mana-mana sebab alam yang terbentang luas ini adalah tanda-tanda kekuasaan kebesaran-Nya sebab semuanya itu adalah ciptaan-Nya. 
Di samping itu Allah mengkaruniakan agama kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya untuk menuntun akal manusia ke jalan yang benar. Sebab kemampuan akal manusia itu adalah terbatas apalagi mengenai masalah-masalah yang gaib atau abstrak, seperti sifat-sifat Allah swt., hal-ihwal hari kemudian dan sebagainya. Sehingga apabila terjadi perselisihan pendapat antara mereka, maka mereka dapat menyelesaikannya dengan petunjuk dari agama tersebut. 
Perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di antara manusia adalah wajar. Akan tetapi perbedaan-perbedaan pendapat ini tidak boleh menimbulkan permusuhan yang menyebabkan mereka saling membunuh. 
Sejarah telah menunjukkan bahwa kaum Yahudi sepeninggal Nabi Musa a.s. telah berselisih dan berpecah belah. Demikian pula umat Nasrani sepeninggal Nabi Isa a.s. sampai sekarang ini. Antara golongan-golongan Nasrani sendiri terjadi pertengkaran yang berlarut-larut, saling menyerang dan saling membunuh. Golongan yang satu tidak mau beribadah di tempat peribadatan golongan lain, walaupun mereka seagama. 
Umat Islam pun tak luput dari perpecahan itu. Ketika Nabi Muhammad saw. masih hidup, mereka telah menjadi umat yang bersatu padu, dan mempunyai potensi yang besar fisik dan mental, hidup rukun dan saling menolong. Akan tetapi kemudian mereka telah jadi berpuak-puak karena adanya perbedaan paham ditambah dengan fanatisme mazhab dan golongan. Sehingga kekuatan mereka menjadi lemah, mereka menjadi umat yang terbelakang, dengan perekonomian yang lemah serta menjadi bulan-bulanan bagi umat yang bukan Islam. Padahal Allah telah memberikan petunjuk dalam Alquran: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا  
Artinya: 
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnah Nabi) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih ulama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Q.S An Nisa':59)


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 254
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/591-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-254.html


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ  

Dengan ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya mereka menafkahkan sebagian dari harta benda yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka untuk kepentingan diri dan keluarga, atau kepentingan masyarakat umum. Mereka harus ingat bahwa nanti akan datang suatu hari di mana tidak akan ada lagi kesempatan bagi mereka untuk membelanjakan harta benda tersebut, sebab pada hari itu terjadi hari kiamat yang diikuti oleh hari pembalasan. Tidak ada lagi teman karib yang akan memberikan pertolongan, dan tak ada lagi orang-orang yang dapat menyelamatkan dan memberikan bantuan. Harta benda dan anak cucu pun tak dapat memberikan pertolongan apa-apa. Kecuali orang-orang yang datang menghadap Tuhan dengan hati yang suci dan amal yang banyak. Pada hari itu akan tampak jelas kekayaan Allah swt. 
Orang-orang yang tidak mau membelanjakan harta bendanya di dunia untuk kepentingan umum (fisabilillah) adalah orang-orang yang mengingkari nikmat Allah. Dan dengan demikian mereka akan menjadi orang-orang yang zalim terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Zalim terhadap diri sendiri adalah karena dengan keingkaran itu ia akan mendapat azab dari Allah swt. dan zalim terhadap orang lain, karena ia enggan memberikan hak orang lain yang ada pada harta bendanya itu, baik berupa zakat yang telah diwajibkan kepadanya maupun berupa sedekah dan sumbangan-sumbangan yang dianjurkan oleh agama. 
Ada beberapa pendapat para ulama mengenai infak atau "pembelanjaan harta" yang dimaksudkan dalam ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini ialah infak wajib, yaitu zakat, karena di akhir ayat ini Allah menyebut orang-orang yang tidak mau berinfak itu sebagai orang-orang kafir. Seandainya yang dimaksudkan dengan infak di sini hanya sunat, yaitu "sedekah", tentulah mereka yang tidak bersedekah itu tidak akan disebut sebagai orang-orang kafir. Dan sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan infak dalam ayat ini ialah infak untuk kepentingan jihad fisabilillah, yaitu untuk kepentingan perjuangan menegakkan agama Allah, serta mempertahankan diri dan negara terhadap ancaman musuh. Sedang ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan infak dalam ayat ini adalah infak wajib dan infak sunat, yaitu zakat dan sedekah. Adapun kata-kata "kafir" dalam ayat itu adalah dengan arti "enggan berzakat" bukan kafir, tidak beriman. 
Harta benda menurut Islam adalah mempunyai fungsi sosial, di samping untuk kepentingan pribadi. Oleh sebab itu, apabila seseorang telah berhasil memperoleh harta benda dengan cara-cara yang halal, maka ia mempunyai kewajiban untuk membelanjakan sebahagian dari harta benda itu untuk kepentingan diri dan keluarganya, dan sebagiannya lagi untuk kepentingan umum, baik berupa zakat, atau sedekah-sedekah dan sumbangan suka rela untuk kemaslahatan umum. 
Menunaikan zakat mengandung dua macam faedah; pertama faedah bagi orang yang menunaikan zakat itu ialah membebaskannya dari kewajiban yang telah dipikulkan Allah kepadanya dan dengan demikian ia akan memperoleh rida dan ganjaran-Nya, dan juga akan menghilangkan sifat kikir dari dirinya. Faedah kedua ialah bahwa penunaian zakat itu berarti pula mensucikan harta bendanya yang tinggal setelah zakat itu dikeluarkan, sebab selama zakat itu belum dikeluarkan, senantiasalah pada hartanya itu tersangkut hak orang lain, yaitu hak kaum kerabat, fakir miskin, ibnu sabil dan orang-orang lain yang memerlukan pertolongan. 
Sungguh amat tinggilah hikmah yang terkandung dalam syariat Islam yang berkenaan dengan zakat ini. Sebab manusia pada umumnya adalah bersifat kikir. Apabila ia berhasil memperoleh harta benda, beratlah hatinya untuk membelanjakan harta bendanya itu untuk kepentingan orang lain. Bahkan ada pula orang yang enggan membelanjakan harta bendanya bagi kepentingan dirinya sendiri padahal ia telah bersusah payah mengumpulkannya. Kalau dia ingat bahwa pada suatu ketika ia akan meninggalkan dunia fana ini dan meninggalkan harta benda itu sendiri niscaya ia tidak akan bersifat demikian. 
Agama Islam telah menunjukkan obat yang sangat manjur untuk membasmi penyakit bakhil dari hati manusia. Islam memberikan didikan dan latihan kepada manusia untuk bersifat dermawan, murah hati, dan suka berkorban untuk kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain, ialah dengan peraturan zakat dan sedekah. 
Di samping itu sedekah dan sumbangan-sumbangan yang kita berikan untuk kepentingan umum oleh agama dinilai sebagai amal jariah, yaitu suatu amal yang pahalanya akan tetap mengalir kepada orang yang melakukannya walaupun ia telah meninggal dunia selama hasil sumbangannya itu dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum. 
Akan tetapi dalam penunaian zakat dan sedekah itu diperlukan niat yang ikhlas, yaitu mencari rida Allah dan terjauh dari sifat riya, ingin dipuji dan disanjung oleh sesama manusia. 
Tambahan pula menunaikan zakat dan sedekah itu adalah merupakan suatu manifestasi dari rasa iman dan syukur kepada Allah yang telah menjanjikan akan menambah rahmat-Nya kepada siapa saja yang mau bersyukur. Sebaliknya orang-orang yang tidak mau bersyukur sehingga ia enggan berzakat dan bersedekah telah diancam dengan azab di hari kemudian. Allah berfirman: 

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ  
Artinya: 
Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Q.S Ibrahim: 7)


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 255
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/590-tafsir-depag-ri-qs-002-al-baqarah-255.html


اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ 
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada Tuhan selain Dia, hanya Dia sajalah yang berhak disembah. Adapun tuhan-tuhan yang lain yang disembah oleh sebagian manusia dengan alasan yang tidak benar memang banyak jumlahnya. Akan tetapi Tuhan yang sebenarnya hanyalah Allah semata-mata. Hanya Dialah Yang Hidup abadi, yang ada dengan sendiri-Nya dan Dia pulalah yang selalu mengatur makhluk-Nya tanpa ada kelalaian sedikit pun. 
Kemudian ditegaskan lagi bahwa Allah swt. tidak pernah mengantuk. Orang yang berada dalam keadaan mengantuk tentu hilang kesadarannya sehingga ia tidak akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik padahal Allah swt. senantiasa mengurus dan memelihara makhluk-Nya dengan baik, tidak pernah kehilangan kesadaran atau pun lalai. 
Karena Allah swt. tidak pernah mengantuk, sudah tentu Ia tidak pernah tidur karena mengantuk adalah permulaan dari proses tidur. Dan orang yang tidur lebih banyak kehilangan kesadaran daripada orang yang mengantuk. 
Sifat Allah yang lain yang disebutkan dalam ayat ini ialah bahwa Dialah yang mempunyai kekuasaan dan yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang tak terbatas sehingga Dia dapat berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Semuanya ada dalam kekuasaan-Nya sehingga tidak ada suatu pun dari makhluk-Nya meskipun nabi-nabi dan para malaikat dapat memberikan pertolongan kecuali dengan izin-Nya apalagi patung-patung yang oleh orang-orang kafir dianggap sebagai penolong-penolong mereka. 
Yang dimaksud dengan "pertolongan" atau "syafaat" dalam ayat ini ialah pertolongan yang diberikan oleh nabi kepada umatnya di hari kiamat untuk mendapatkan keringanan atau kebebasan dari hukuman Allah. Syafaat itu hanyalah akan berhasil apabila Allah memerintahkannya atau mengizinkannya. 
Sifat Allah yang lain yang disebutkan dalam ayat ini ialah bahwa Allah senantiasa mengetahui apa saja yang terjadi di hadapan dan di belakang makhluk-Nya, sedang mereka tidak mengetahui sesuatupun dari ilmu Allah, melainkan sekedar apa yang dikehendaki-Nya untuk mereka ketahui. Kursi Allah (yaitu ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tiada merasa berat sedikit pun dalam memelihara makhluk-Nya yang berada di langit dan di bumi, dan di semua alam ciptaan-Nya. Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. 
Mereka tidak mengetahui ilmu Allah swt. kecuali apa yang telah dikehendaki-Nya untuk mereka ketahui. Dengan demikian, yang dapat diketahui oleh manusia hanyalah sekedar apa yang dapat dijangkau oleh pengetahuan yang telah dikurniakan Allah kepada mereka, dan jumlahnya amat sedikit dibanding dengan ilmu-Nya yang luas. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: 

رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا 
Artinya: 
....dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S Al Isra': 85)






Kembali ke Daftar Surah                                     Kembali ke Daftar Surah 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar