Rabu, 28 Maret 2012

An Nisaa' 121 - 140

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AN NISAA'>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=7&SuratKe=4#Top
121 Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.(QS. 4:121)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 121
أُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا (121)
. Karena orang-orang yang mengikuti dan memenuhi keinginan setan telah sesat maka buku amalannya telah dipenuhi oleh perbuatan dosa dan maksiat. Oleh karena itu, maka tempat mereka adalah neraka Jahanam, mereka tidak dapat keluar dan padanya karena tidak mempunyai suatu kebaikan yang dapat membebaskan dan menyelamatkan mereka dari azab neraka itu.


122 Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?(QS. 4:122)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 122
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا (122)
. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. mereka tidak terpedaya dengan godaan setan, mereka tidak man menjadi pembantu setan, mereka mengikuti petunjuk-petunjuk Allah, melaksanakan perintah-perintah dan menghentikan larangan-larangan-Nya, sehingga buku amalan mereka dipenuhi oleh, perbuatan-perbuatan baik, karena itu mereka diberi balasan dengan surga yang penuh nikmat yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalam surga itu karena tidak ada sesuatupun yang dapat mengeluarkan mereka dari tempat yang penuh kesenangan dan kebahagiaan itu.
Itulah janji Allah SWT, kepada hamha-hamba-Nya yang beriman, bukan janji yang kosong, bukan pula angan-angan kosong yang tidak ada hasilnya. sebagaimana janji dan angan-angan kosong yang dibisikkan setan. tetapi janji yang pasti ditepati, karena yang menjanjikan itu adalah Yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Kaya, Pemilik Semesta Alam. Janji setan mustahil ditepati. karena dia sendiri tidak mempunyai kesanggupan untuk menepatinya.
Allah SWT berfirman

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya:
Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu melainkan (sekadar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan itu (dengan Allah) sejak dahulu. Sesungguhnya orang orang yang alim itu mendapat siksaan yang pedih"
(Q.S. Ibrahim: 22)


123 (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.(QS. 4:123)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 123
لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (123)
. Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada keistimewaan bagi seseorang, kecuali dengan amal baktinya dan tidak mungkin ia luput dan azab Allah dan mustahil ia masuk surga semata-mata dengan mengatakan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling balk dan sempurna, serta Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang mereka ikuti adalah yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah, seperti yang dikatakan ahli kitab itu. Hendaklah orang-orang yang beriman mengerjakan amal yang saleh, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya karena pahala itu diberikan Allah berdasarkan amal yang dilakukan dengan ikhlas, bukan berdasarkan perkataan dan angan-angan kosong. Allah SWT, mendatangkan agama bukan untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga dengan agama itu, tetapi agama didatangkan untuk diamalkan dan dilaksanakan.
Ibnu Jabir dan Abu Hatim meriwayatkan bahwa As Suddi berkata; "Telah bertemu orang-orang Muslimin, orang Yahudi dan Nasrani, maka berkatalah orang Yahudi kepada orang Muslimin `Kami adalah lebih baik dari pada kamu; agama kami didatangkan sebelum agamamu dan kitab kami (Taurat) diturunkan sebelum kitabmu (Alquran), Nabi kami diutus sebelum Nabimu diutus dan agama kami mengikuti agama Nabi Ibrahim, dan sekali-kali tidak akan masuk surga, kecuali orang Yahudi. Orang-orang Nasrani berkata demikian pula. Maka berkata pulalah orang-orang Muslim: "Kitab kami datang sesudah kitabmu, Nabi kami datang sesudah Nabimu dan sesungguhnya kamu diperintahkan mengikuti agama kami dengan meninggalkan agamamu, maka kami lebih baik dari pada kamu, agama kami berasal dari agama Ibrahim, Ismail dan Ishak, sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang memeluk agama kami. Maka turunlah ayat ini sebagai peringatan bagi kaum Muslimin terhadap perkataan-perkataan yang demikian.
Di antara sebab yang menimbulkan salah sangka dan angan-angan yang demikian ialah karena kesalahan manusia dalam memahami agama atau mereka sengaja berbuat demikian agar mereka di anggap lebih tinggi dari umat atau bangsa yang lain semata-mata karena Nabi-nabi atau Rasul-rasul diangkat Allah SWT, dart bangsa-bangsa mereka. Dengan kemuliaan dan kemaksuman (terpelihara dari dosa) Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu, mereka merasa telah mendapatkan kemuliaan dan terpelihara pula dan azab Allah SWT. Karena itu menurut anggapan mereka, mereka allan masuk surga dan terlepas dari siksa neraka, tanpa melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan Nya.
Persangkaan dan angan-angan kosong yang demikian telah menjalar pula di kalangan kaum Muslim in, sebagai tersebut dalam ayat ini.
Sikap yang demikian telah dinyatakan pula oleh Ahli Kitab, sebagai tersebut di dalam firman Allah SWT:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ
Artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya"
(Q.S. Al-Ma'idah: 18)
Dan firman Allah SWT

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً
Artinya:
Dan mereka berkata "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali selama beberapa hari saja".
(Q.S. Al-Baqarah: 80)
Dengan ayat ini Allah SWT, mengingatkan kaum Muslimin bahwa setiap kejahatan yang dilakukan manusia, akan dibalasi Allah, karena segala macam perbuatan baik atau buruk yang dilakukan oleh seseorang, tanggung jawabnya dipikul oleh orang-orang yang mengerjakannya, tidak dipikul oleh orang lain. Karena itu orang yang benar-benar beriman hendaklah senantiasa meneliti dan memperhitungkan setiap pekerjaan yang akan dikerjakannya, sehingga sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah SWT.
Diriwayatkan bahwa di waktu turunnya ayat ini Aba Bakar ra. sangat memperhatikannya dan merasa khawatir. Maka beliau bertanya kepada Rasulullah saw: "Siapakah yang selamat berhubungan dengan ini ya Rasulullah?" Rasulullah saw, menjawab: "Apakah kamu tidak pernah usah, apakah kamu tidak pernah sakit, dan apakah malapetaka tidak pernah menimpamu?" Abu Bakar menjawab: "Pernah ya Rasulullah". Rasulullah berkata: "Itulah dia (pembalasan dari kesalahanmu).
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata: "Tatkala turun ayat ini kaum Muslimin merasa berat dan sampailah kepada mereka apa yang dikehendaki Allah, maka mereka mengadu kepada Rasulullah saw. Rasulullah menjawab: "Ambillah tempat olehmu dan saling mendekatlah, sesungguhnya setiap musibah yang menimpa manusia itu adalah sebagai tebusan (bagi perbuatannya) sampai kepada duri yang menusuknya dan musibah yang menimpanya".
Dari hadis ini dapat dipahami bahwa segala musibah yang menimpa manusia baik kecil maupun besar sedikit atau banyak adalah sebagai balasan dan kelalaian, kesalahan dan perbuatan buruk yang telah dilakukannya, karena mereka tidak lagi berjalan mengikuti Sunatullah.
Allah berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Artinya:
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
(Q.S. Asy Syura: 30)
Sebahagian Ahli tafsir berpendapat bahwa musibah yang menimpa manusia di dunia ini tidak dapat menghapus azab di akhirat, kecuali bila yang ditimpa musibah itu berusaha menghapus kesalahan dan tindakan buruknya itu dengan amal yang saleh, dengan menguatkan imannya, dengan meninggalkan perbuatan jahat dan bertobat selama ia hidup di dunia. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
Orang-orang yang mengerjakan kejahatan pasti mendapat azab dan Allah dan ia tidak mempunyai penolong dan pelindung selain Allah untuk menghindarkan diri dari azab itu, dan setan yang menjanjikan perlindungan dan pertolongan itu tidak kuasa menepati janjinya.


124 Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik ia laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.(QS. 4:124)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 124
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا (124)
Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang beramal saleh dan membersihkan dirinya sesuai dengan kesanggupannya, memperbaiki budi pekertinya dan dapat pula memperbaiki hubungannya dengan manusia lain dalam pergaulannya dalam masyarakat dan orang yang tidak mau mengikuti tipu-daya setan baik laki-laki maupun perempuan, Allah berjanji membalas kebaikan mereka dengan balasan yang sempurna dengan menyediakan surga bagi mereka yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan Allah tidak akan mengurangi pahala amalan mereka walau sedikitpun.
Ayat ini merupakan peringatan dan ajaran bagi kaum Muslimin bahwa manusia itu tidak dapat menggantungkan harapan dan cita-citanya semata-mata pada angan-angan dan khayalan belaka, tetapi hendaklah berdasarkan usaha dan perbuatan. Orang-orang yang berbangga-bangga dengan keturunan dan dengan bangsa mereka adalah orang-orang yang sesat; tidak akan mencapai apa yang dicita-citakannya.


125 Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.(QS. 4:125)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 125
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (125)
. Ayat ini menerangkan bahwa tidak ada seorangpun yang lebih baik agamanya dari orang yang memurnikan ketaatan dan ketundukannya hanya pada Allah saja, ia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ada tiga macam ukuran yang dapat dijadikan dasar untuk menentukan ketinggian suatu agama dan keadaan pemeluknya, yaitu agama yang memerintahkan:
1. Menyerahkan din kepada Allah SWT.
2. Mengerjakan kebaikan dan
3. Mengikuti agama Ibrahim yang hanif.
Seseorang dikatakan menyerahkan dirinya kepada Allah SWT, jika ia menyerahkan seluruh jiwa dan raganya serta seluruh kehidupannya kepada Allah karena menginsafi kekuasaan Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap dirinya dan seluruh alam ini. Karena itu ia hanya berdoa memohon, meminta pertolongan dan merasa dirinya terikat hanya kepada Allah saja. Ia langsung berhubungan dengan Allah SWT tanpa ada sesuatupun yang menghalanginya. Untuk mencapai yang demikian seseorang harus mengetahui dan mempelajari; Sunah Rasul dan Sunnatullah yang berlaku di alam ini, Kemudian diamalkannya karena semata-mata mencari keridaan Allah.
Jika seseorang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah SWT, maka ia akan melihat dan merasakan sesuatu di waktu melaksanakan ibadahnya, sebagaimana yang dilukiskan Rasulullah saw.:

قال: ما الإحسان؟ قال: أن تعبد الله كأنك تراه وإن لم تكن تراه فإنه يراك
Artinya:
Jibril bertanya (kepada Rasulullah): "Apakah ihsan itu?" Rasulullah saw menjawab: "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau"
(H.R. Jamaah perawi Hadis)
Mengerjakan kebaikan adalah manifestasi dari pada berserah diri kepada Allah SWT. Makin sempurna penyerahan diri itu, makin baik dan sempurna pula amal yang dikerjakannya. Ia mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Di samping mengerjakan yang wajib-wajib, ia ingin pula melengkapi dengan yang sunah dengan sempurna, sesuai dengan kesanggupannya.
Mengikuti agama Ibrahim yang hanif maksudnya ialah mengikuti agama Ibrahim yang lurus yang percaya kepada keesaan Allah, yaitu kepercayaan yang benar dan lurus.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.
(Q.S. Az Zukhruf: 26-28)
Sekalipun ayat ini memihak agar mengikuti agama Ibrahim, bukanlah berarti bahwa Ibrahimlah yang pertama kali membawa kepercayaan tauhid, sedang agama yang di bawa oleh para nabi sebelumnya tidak berasaskan tauhid. Maksud perintah mengikuti agama Nabi Ibrahim ialah untuk menarik perhatian bangsa Arab, sebagai bangsa yang pertama kali menerima seruan Agama Islam. Ibrahim as dan Ismail adalah nenek moyang bangsa Arab.
Bangsa Arab waktu itu amat senang mendengar perkataan yang menjelaskan bahwa mereka adalah pengikut agama Nabi Ibrahim, sekalipun mereka telah menjadi penyembah berhala. Dengan menghubungkan agama yang di bawa Nabi Muhammad saw, dengan agama yang di bawa Nabi Ibrahim akan menarik hati dan menyadarkan bangsa Arab bahwa selama ini mereka telah mengikuti jalan yang sesat.
Allah SWT berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى
Artinya:
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nabi Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa.
(Q.S. Asy Syura: 13)
Dari ayat ini dipahami bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad bukan saja sesuai dengan agama yang dibawa Nabi Ibrahim as., tetapi juga berhubungan dan seasas dengan agama yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa yang diutus sesudah Nabi Ibrahim. Demikian pula Agama Islam berhubungan dan seasas dengan agama yang dibawa oleh nabi-nabi Allah yang dahulu.
Perintah mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim di sini adalah karena kehidupan Ibrahim dan putranya Ismail dapat dijadikan suri teladan yang baik serta mengingatkan kepada pengorbanan yang telah dilakukannya dalam menyiarkan agama Allah. Hal ini dapat pula dijadikan iktibar oleh kaum Muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir yang selalu berusaha menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.
Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Ibrahim as. telah menjadi kesayangan-Nya, karena kekuatan iman, ketinggian budi pekertinya dan keikhlasan serta pengorbanannya dalam menegakkan Agama Allah. Seakan-akan Allah SWT, menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti jejak dan langkah Nabi Ibrahim dan hal ini nampak dalam tingkah laku dan budi pekertinya berhak menamakan dirinya sebagai pengikut Ibrahim. Bukan seperti orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik Mekah yang mengaku sebagai pengikut Nabi Ibrahim, tetapi mereka tidak mengikuti agama yang dibawanya dan tidak pula mencontoh budi pekertinya.


126 Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.(QS. 4:126)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 126
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا (126)
. Allah SWT, menegaskan tentang kekuasaan-Nya terhadap alam semesta, sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara; tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan-Nya.
Ayat ini merupakan penutup dari ayat-ayat yang sebelumnya, dan mengandung beberapa hikmah:
1. Untuk mengingatkan bahwa Allah SWT Maha Kuasa, Pemilik semesta alam, karena itu Dia pasti menepati janjinya yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu.
2. Untuk menerangkan bahwa hanya kepada-Nyalah seluruh makhluk berserah diri, mohon pertolongan, mengemukakan harapan, bukan kepada orang lain, karena yang selain Allah adalah milik-Nya dan berada di bawah kekuasaan-Nya.
3. Untuk menjelaskan maksud perkataan "Ibrahim Khalilullah" (Ibrahim kesayangan Allah). Dengan adanya ayat ini jelaslah bahwa Ibrahim itu bukanlah teman dari Allah, sebagai anggapan sebahagian Ahli Kitab tetapi hamba kesayangannya, karena ia tunduk, patuh dan berserah diri kepada Allah, selalu berkorban dan berbuat baik. Ibrahim adalah milik Allah seperti makhluk yang lain, bukanlah ia orang yang berserikat dengan Allah dalam memiliki alam ini.


127 Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah:` Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya `.(QS. 4:127)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 127
وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْوِلْدَانِ وَأَنْ تَقُومُوا لِلْيَتَامَى بِالْقِسْطِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا (127)
. Para sahabat meminta fatwa kepada Rasulullah saw, tentang wanita yaitu tentang hak mereka baik yang berhubungan dengan harta, hak mereka sebagai manusia, maupun hak mereka di dalam rumah tangga. Maka Allah SWT, memberi fatwa kepada mereka ten tang wanita-wanita itu dan menjelaskan hukum-hukum yang tersebut dalam ayat-ayat yang telah diturunkan sebelum ini.
Menurut kebiasaan Arab Jahiliah, seorang wali atau wasi berkuasa atas anak yatim yang berada di bawah asuhan dan pemeliharaannya serta berkuasa pula atas hartanya, seakan-akan harta itu telah menjadi miliknya. Jika anak yatim itu cantik, dinikahinya sehingga dengan demikian harta anak yatim itu dapat dikuasainya dan keinginan nafsunya dapat terpenuhi.
Sebaliknya jika anak yatim itu tidak cantik dan ia tidak ingin menikahinya maka dihalang-halanginya nikah dengan laki-laki lain, agar harta anak yatim itu tidak lepas dari tangannya.
Demikian pula halnya orang yang lemah yang mempunyai bahagian harta pusaka yang berada di bawah perwalian seseorang. Menurut adat kebiasaan Arab Jahiliah, hanyalah orang laki-laki yang telah dewasa dan telah sanggup ikut pergi berperang yang berhak mendapat bahagian warisan. Sedang anak-anak yang belum dewasa dan orang-orang yang lemah baik laki-laki maupun perempuan tidak berhak walaupun yang meninggal itu adalah ayah kandungnya. Yang berhak atas pusaka itu adalah wali atau walinya. Bahkan jika seorang wanita kematian Suami dan suaminya itu mempunyai seorang anak laki-laki yang telah dewasa maka wanita janda itu termasuk bahagian warisan yang diperoleh oleh putra suaminya. Karena itu janda tersebut dapat dicampuri atau dijadikan istri lagi oleh anak tirinya itu.
Dengan ayat-ayat ini Allah SWT, memperingatkan kaum Muslimin agar menjauhkan diri dari kebiasaan Arab Jahiliah itu. hendaklah selalu berlaku adil terhadap wanita, anak yatim dan orang yang lemah. berikanlah kepada mereka harta dan haknya, seperti hak memilih jodoh selama yang dipilihnya itu sesuai dengan ketentuan agama dan dapat membahagiakan mereka di dunia dan di akhirat dan bergaullah dengan mereka secara balk. balk sebagai seorang istri maupun sebagai anggota masyarakat.
Allah SWT. memerintahkan agar berbuat baik kepada anak yatim. Setiap kebaikan yang dilakukan terhadap mereka, pasti diketahui Allah SWT, dan pasti akan diberikan-Nya balasan dengan pahala yang berlipat ganda. Sebaliknya Allah SWT, mengetahui pula setiap kejahatan yang dilakukan terhadap anak yatim dan Allah akan membalasnya dengan azab yang pedih.
Dari ayat ini dipahami bahwa di samping memberikan harta dan hak kepada anak yatim dan orang yang lemah, hendaklah kaum Muslimin berbuat kebajikan kepada anak yatim. Di samping memberikan kepada mereka hak dan hartanya, berikan pulalah kepada mereka pemberian-pemberian yang lain dan peliharalah mereka dengan baik sebagaimana memelihara anak sendiri.


128 Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu menggauli isterimu dengan baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. 4:128)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 128
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (128)
. Ayat ini menerangkan sikap yang harus diambil oleh seorang istri bila ia melihat sikap nusyuz dari suaminya. seperti tidak melaksanakan kewajibannya terhadap dirinya sebagaimana mestinya, tidak memberi nafkah, tidak menggauli dengan baik, berkurang rasa cinta dan kasih sayangnya dan sebagainya. Hal ini mungkin ditimbulkan oleh kedua belah pihak suami dan istri atau disebabkan oleh salah satu pihak saja.
Jika demikian halnya, maka hendaklah istri mengadakan musyawarah dengan suaminya, mengadakan pendekatan, perdamaian di samping berusaha mengembalikan cinta dan kasih sayang suaminya yang telah mulai pudar. Dalam hal ini tidak berdosa jika istri bersikap mengalah kepada suaminya, seperti bersedia beberapa haknya dikurangi dan sebagainya.
Usaha mengadakan perdamaian yang dilakukan istri itu, bukanlah berarti bahwa istri harus bersedia merelakan sebahagian haknya yang tidak dipenuhi oleh suaminya, tetapi untuk memperlihatkan kepada suaminya keikhlasan hatinya, sehingga dengan demikian suami ingat kembali kepada kewajiban kewajiban yang telah ditentukan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
Artinya:
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya...
(Q.S. Al-Baqarah: 228)
Damai dalam kehidupan keluarga menjadi tujuan agama dalam mensyariatkan pernikahan. Karena itu hendaklah kaum Muslimin menyingkirkan segala macam kemungkinan Yang dapat menghilangkan suasana damai itu dalam keluarga. Hilangnya suasana damai dalam keluarga membuka kemungkinan terjadinya perceraian yang dibenci Allah SWT.
Allah SWT mengingatkan bahwa kikir itu termasuk tabiat manusia. Sikap kikir timbul karena manusia mementingkan dirinya sendiri, kurang memperhatikan orang lain, walaupun orang lain itu adalah istrinya sendiri atau suaminya. Karena itu waspadalah terhadap sikap kikir itu. Hendaklah masing-masing pihak dari suami atau istri bersedia beberapa hak dikurangi untuk menciptakan suasana damai di dalam keluarga. Jika suami berbuat kebaikan dengan menggauli istrinya dengan baik kembali, memupuk rasa cinta dan kasih sayang melaksanakan kewajiban kewajibannya terhadap istrinya maka Allah SWT mengetahuinya dan memberi balasan yang berlipat ganda.


129 Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 4:129)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 129
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (129)
Dari `Aisyah ra, ia berkata. "Adalah Rasulullah saw membagi giliran antara istri-istrinya, ia berlaku adil, dan berdoa: "Ya Allah, inilah pembagianku sesuai dengan yang aku miliki, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki, sedang aku tidak memilikinya", maka turunlah ayat ini. (H.R. Ahmad dan penyusun Kitab-kitab Sunan)
Berdasarkan sebab turun ayat ini, maka yang dimaksud dengan berlaku adil dalam ayat ini ialah berlaku adil dalam hal membagi cinta. Rasulullah saw telah berusaha sekuat tenaga agar beliau dapat berlaku adil di antara istri-istrinya, maka ditetapkanlah giliran hari, pemberian nafkah dan perlakuan yang sama di antara istri-istrinya. Sekalipun demikian, beliau merasa bahwa beliau tidak dapat membagi cinta beliau dengan adil di antara istri-istrinya. Beliau lebih mencintai Aisyah ra daripada istri-istri beliau yang lain. Karena itu beliau merasa berdosa dan mohon ampun kepada Allah SWT. Dengan turunnya ayat ini hati Rasulullah saw menjadi tenteram, karena beliau tidak diberati dengan kewajiban yang tidak sanggup beliau mengerjakannya.
Dari keterangan di atas dipahami bahwa manusia tidak dapat menguasai hatinya sendiri, hanyalah Allah SWT yang menguasainya. Karena itu sekalipun manusia telah bertekad akan berlaku adil terhadap istri-istrinya, namun ia tidak dapat membagi cinta antara istri-istrinya secara adil. Keadilan yang dituntut dari seorang suami terhadap istri-istrinya ialah keadilan yang dapat dilakukannya. seperti adil dalam menetapkan hari dan giliran antara istri-istrinya, adil dalam memberi nafkah, adil dalam bergaul dan sebagainya.
Dalam pada itu Allah SWT memperingatkan, sekalipun suami tidak dihukum karena tide: dapat membagi cintanya antara istri-istrinya dengan adil, janganlah terlalu cenderung kepada salah seorang istri itu sampai istri yang lain hidup terkatung-katung, seperti digantung tidak bertali, hidup merana, hidup dalam keadaan antara terikat dalam perkawinan dengan tidak terikat lagi dan sebagainya.
Jika para suami selalu berusaha mendamaikan dan menenteramkan para istri dan memelihara hak-hak istrinya, Allah mengampuni dan memaafkan dosanya yang disebabkan oleh terlalu cenderung hatinya kepada salah seorang istrinya itu, karena Allah Maha Pengasih kepada hamba Nya. Ayat ini merupakan pelajaran bagi orang-orang yang melakukan perkawinan semata-mata untuk melampiaskan hawa nafsunya saja dan orang-orang yang mempunyai istri lebih dari seorang.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 129
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (129)
(Dan kamu sekali-kali takkan dapat berlaku adil) artinya bersikap sama tanpa berat sebelah (di antara istri-istrimu) dalam kasih sayang (walaupun kamu amat menginginkan) demikian. (Sebab itu janganlah kamu terlalu cenderung) kepada wanita yang kamu kasihi itu baik dalam soal giliran maupun dalam soal pembagian nafkah (hingga kamu tinggalkan) wanita yang tidak kamu cintai (seperti bergantung) janda tidak bersuami pun bukan. (Dan jika kamu mengadakan perjanjian) yakni dengan berlaku adil dalam mengatur giliran (dan menjaga diri) dari berbuat kecurangan (maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun) terhadap kecenderungan yang terdapat dalam hatimu (lagi Maha Penyayang) kepadamu dalam masalah tersebut.


130 Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.(QS. 4:130)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 130
وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا (130)
Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa jika suami istri bercerai karena keduanya atau salah seorang dari padanya tide: dapat melaksanakan hukum-hukum Allah, seperti tidak dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya sekalipun telah diusahakannya, kehidupan mereka telah hambar tidak ada rasa cinta dan kasih sayang lagi, perkawinan mereka telah dihinggapi penyakit yang parah yang tidak ada obatnya maka Allah SWT membolehkan mencari jalan keluar dari kesulitan itu, dengan cara yang baik dan kalau gagal juga boleh diambil tindakan terakhir yaitu bercerai. Walaupun demikian, sekalipun perceraian itu adalah suatu perbuatan yang halal, tetapi tetap dibenci Allah SWT. Dengan perceraian itu mungkin terbuka bagi mereka lembaran baru dalam kehidupan, umpamanya dengan mendapat jodoh yang baru yang lebih sesuai dan serasi serta diberkahi dengan limpahan karunia Allah SWT. Sesungguhnya Allah Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Bijaksana.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 130
وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا (130)
(Jika keduanya berpisah) maksudnya laki-istri itu dengan perceraian (maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing mereka dari limpahan karunia-Nya) misalnya dengan menjodohkan pihak laki-laki dengan istri yang lain, dan pihak istri dengan suami yang lain. (Dan Allah Maha Luas) karunia-Nya terhadap makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) mengenai peraturan-peraturan yang ditetapkan-Nya bagi mereka.


131 Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.(QS. 4:131)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 131
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا (131)
Allah SWT menjelaskan bahwa apa saja yang ada di langit dan di bumi, adalah kepunyaan Nya. Dialah yang menciptakan dan Dia pula yang mengurus. Dalam mengurusi makhluk-makhluk Nya, Allah menetapkan hukum secara mutlak, dan semuanya tunduk di bawah hukum itu.
Orang-orang yang benar-benar memahami hukum-hukum Allah yang berlaku umum terhadap bumi, langit dan semua isinya serta memahami pula hukum yang mengatur kehidupan makhluk Nya, akan mengetahui betapa besar limpah rahmat dan karunia Nya kepada seluruh makhluk Nya.
Oleh sebab itulah maka Allah memerintahkan kepada setiap hamba agar bertakwa kepada-Nya, sebagaimana telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu, yang telah diberi Alkitab seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta melaksanakan ketakwaan itu dengan tunduk patuh kepada-Nya dan menjalankan syariat-Nya. Dengan tunduk patuh kepada Nya dan dengan menegakkan syariat-Nya manusia akan mempunyai jiwa yang bersih dan dapat mewujudkan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Jika mereka mengingkari nikmat Allah yang tak terhingga besarnya itu, maka orang-orang yang mengakui keagungan Allah meyakini bahwa keingkaran dan pembangkangan itu sedikitpun tidak akan mengurangi kekuasaan Allah SWT terhadap segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dan sebaliknya apabila mereka bersyukur, maka syukur mereka itu sedikitpun tidak akan menambah kekuasaan Nya. Perintah bertakwa itu adalah semata-mata untuk kepentingan mereka sendiri, bukan untuk kepentingan Nya.
Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Kaya, tidak memerlukan apapun dari makhluk Nya dan Maha Terpuji tidak memerlukan puji syukur siapapun untuk menambah kesempurnaan Nya.
Allah SWT berfirman:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ
Artinya:
Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
(Q.S. Al-Isra': 44)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 131
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا (131)
(Dan milik Allahlah apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi. Dan sungguh telah Kami pesankan kepada orang-orang yang diberi Kitab) maksudnya kitab-kitab (sebelum kamu) yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani (dan juga kepada kamu) hai Ahli Alquran (supaya) artinya berbunyi: ("Bertakwalah kamu kepada Allah) takutilah siksa-Nya dengan jalan menaati-Nya," (dan) kepada mereka juga kepada kamu sendiri Kami katakan: ("Jika kamu ingkar,") terhadap apa yang Kami pesankan itu (maka, ketahuilah, bahwa apa yang terdapat di langit dan apa yang terdapat di bumi milik Allah belaka) baik sebagai makhluk maupun sebagai ciptaan dan hamba-Nya hingga keingkaran kamu itu tidaklah akan merugikan-Nya sedikit pun juga. (Dan Allah Maha Kaya) sehingga tiada membutuhkan makhluk dan ibadah mereka (lagi Maha Terpuji) mengenai perbuatan-Nya terhadap mereka.


132 Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.(QS. 4:132)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 132
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا (132)
Kemudian dalam ayat ini Allah SWT mempertegas bahwa kepunyaan-Nyalah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi. Dia berkuasa untuk mengatur secara mutlak dan berkuasa mewujudkan atau melenyapkan, berkuasa untuk menghidupkan dan menafikan menurut kehendak Nya. Karena itu cukuplah Allah menjadi pemelihara dan Dialah yang mengurus dan menentukan urusan hamba-Nya.


133 Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian.(QS. 4:133)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 133
إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآخَرِينَ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى ذَلِكَ قَدِيرًا (133)
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan kepada semua manusia, bahwa apabila Allah SWT berkehendak untuk melenyapkan semua manusia dan alam semesta ini, sudah itu menciptakan makhluk yang lain sebagai ganti untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, maka Dia kuasa melaksanakan kehendak-Nya itu; karena segala apa yang terdapat di langit dan di bumi tunduk di bawah kekuasaan-Nya.
Dan apabila ada sebagian manusia yang mengingkari nikmat Allah SWT dan membangkang terhadap perintah-perintah-Nya, kemudian mereka itu dibiarkan terus hidup di dunia ini hingga ajalnya tiba, hal itu menunjukkan bahwa Allah SWT benar-benar tidak memerlukan ketaatan mereka, dan apabila mereka tidak diberi balasan secara langsung, bukanlah karena, Allah tidak berkuasa untuk membinasakan mereka, akan tetapi semata-mata karena adanya hikmah dan kemaslahatan yang berguna bagi manusia yang takwa.
Allah SWT berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ
Artinya:
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki. niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah"
(Q.S. Ibrahim: 19, 20)
Dan firman-Nya lagi:

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Artinya:
dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).
(Q.S. Muhammad: 38)
Ayat ini mengandung ancaman kepada orang-orang yang musyrik yang selalu menyiksa Nabi dan menentang seruannya, juga untuk memperingatkan kepada sekalian manusia agar memperhatikan sunah Allah yang menguasai hidup dan mati mereka.


134 Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS. 4:134)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 134
مَنْ كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (134)
Dalam ayat ini Allah SWT memberi peringatan kepada orang-orang yang melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, agar menyadari bahwa tujuan hidup mencari kebahagian dunia saja adalah tujuan yang tidak benar dan hasil yang akan diperolehnya adalah rendah sekali, karena dunia tidak akan kekal. Orang-orang serupa ini, adalah orang-orang munafik yang apabila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, ia berpura-pura mengaku beriman, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Maka Allah SWT memberikan penjelasan bahwa pahala yang datang dan Allah adalah lebih tinggi, karena meliputi pahala dunia dan pahala akhirat. Karena itu seharusnyalah orang-orang Islam berjuang untuk mencapai kedua pahala itu secara seimbang, tidak hanya tertarik pada kepentingan dunia saja, yang sifatnya sementara saja. Berusaha untuk memperoleh pahala dunia dan pahala akhirat, sebenarnya adalah tujuan yang mudah dilakukan, bukan tujuan yang berada di luar kesanggupan manusia; dan tujuan ini tergambar dalam firman Allah yang menjadi doa orang yang beriman:

رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya:
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"
(Q.S. Al-Baqarah: 201)
Ayat tersebut mengandung isyarat, bahwa agama Islam menuntun pemeluk pemeluknya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat; kedua-duanya merupakan limpahan rahmat dan karunia Allah SWT yang harus di capai.
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Mendengar akan bisikan hati hamba-hamba-Nya lagi Maha Mengetahui segala urusan mereka. Oleh sebab itu seharusnyalah kaum muslimin berusaha mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan lisan atau dengan perbuatan: Dengan demikian mereka akan mempunyai jiwa yang bersih dan dapat membatasi diri dalam setiap usahanya dan perjuangannya agar mencapai keridaan Allah dan hidup berbahagia dunia dan akhirat.


135 Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.(QS. 4:135)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 135
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (135)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada para hamba Nya yang beriman agar menjadi orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Maka karenanya Allah SWT memerintahkan kepada mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyampaikan mereka kepada keadilan itu, seperti: keadilan dalam membagi waktu, Allah memerintahkan manusia menegakkan salat secara tetap dan dilakukan tepat pada waktunya. Dalam memberikan persaksian, Allah memerintahkan kepada manusia agar memberikan persaksian seperti apa adanya, tidak boleh memutar balikkan kenyataan. Dalam menimbang barang-barang, Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar menimbang seadil-adilnya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Semua perintah itu jika dilakukan oleh manusia dengan sebaik-baiknya, niscaya akan menjadikan kebiasaan yang meresap di dalam jiwanya. Keadilan itu harus dilakukan secara menyeluruh di tengah-tengah pergaulan masyarakat, baik yang menjalani itu rakyat biasa ataupun kepala negara, petani atau pedagang, anggota atau kepala rumah tangga.
Juga Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar menjadi saksi yang jujur, semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah, tidak memutar balikkan kenyataan, tidak berat sebelah, meskipun menyangkut dirinya sendiri, ataupun keluarganya.
Persaksian itu hendaklah diberikan sesuai dengan kenyataan baik menguntungkan dirinya sendiri atau pun menguntungkan orang lain, karena pada asasnya persaksian itu adalah salah satu jalan pembuktian untuk mencari kebenaran. Oleh sebab itu maka persaksian harus diberikan dengan jujur.
Apabila ada seseorang memberikan persaksian yang tidak benar, dengan maksud ingin menguntungkan dirinya atau keluarganya, maka cara serupa ini tidaklah dianggap suatu kebaikan, karena memberikan keterangan palsu dengan maksud memberikan pertolongan pada seseorang yang tidak dibenarkan syara' dan bukanlah suatu kebajikan, akan tetapi pada hakikatnya perbuatan yang demikian itu termasuk membantu kejahatan dan menginjak-injak hak asasi manusia.
Dan Allah SWT menyerukan agar keadilan dan persaksian itu dilaksanakan secara merata tanpa pandang bulu, baik yang disaksikan itu keluarganya sendiri ataupun orang lain, baik kaya ataupun miskin dan hendaklah manusia mengetahui bahwa keridaan Allah dan tuntunan syariat Nya yang harus diutamakan: tidak boleh orang-orang kaya disenangi atau dibela karena kekayaannya atau orang-orang fakir dikasihani karena kefakirannya. sebab jika kekayaan dan kefakiran yang dijadikan dasar pertimbangan dalam memberikan persaksian, maka pertimbangan serupa itu bukanlah merupakan pertimbangan yang dapat membuahkan keputusan yang benar. Pertimbangan yang benar ialah didasarkan kepada kebenaran dan keridaan Allah semata.
Menegakkan keadilan dan memberikan persaksian yang benar, sangat penting artinya, baik bagi orang-orang yang menjadi saksi ataupun bagi orang-orang yang diberi persaksian. Itulah sebabnya, menegakkan keadilan atau memberikan persaksian yang benar itu, ditetapkan dan dimasukkan ke dalam rangkaian syariat Allah yang wajib dijalankan.
Sesudah itu Allah melarang kaum Muslimin memperturutkan hawa nafsu, agar mereka tidak menyeleweng dari kebenaran, karena orang yang terbiasa menuruti hawa nafsunya, mudah dipengaruhi oleh dorongan-dorongan hawa nafsu itu untuk melakukan tindakan yang tidak adil dan tidak jujur, sehingga mereka tergelincir dari kebenaran.
Apabila mereka memutar balikkan kenyataan dalam memberikan persaksian, sehingga apa yang dikatakan tide: sesuai dengan kenyataan, atau mereka enggan untuk memberikan persaksian karena tekanan-tekanan yang mempengaruhi jiwanya, maka mereka harus ingat bahwa Allah mengetahui apa yang terkandung di dalam hati mereka.
Kejadian yang erat hubungannya dengan turunnya ayat ini telah disyariatkan sebagai berikut:
"Ada dua orang laki-laki, yang seorang kaya sedangkan yang lain miskin, berselisih dan mengajukan perkara kepada Nabi saw. Maka Nabi cenderung hatinya untuk membela orang yang miskin itu, karena kemiskinannya. Nabi memandang bahwa orang miskin itu tidak akan menganiaya orang kaya. Akan tetapi Allah menghendaki supaya Nabi tetap berlaku adil baik terhadap Si kaya ataupun Si miskin. Berkenaan dengan itu diturunkannya ayat ini" (Riwayat Ibnu Jasir dari As Sudy)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 135
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (135)
(Hai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi penegak) atau benar-benar tegak dengan (keadilan) (menjadi saksi) terhadap kebenaran (karena Allah walaupun) kesaksian itu (terhadap dirimu sendiri) maka menjadi saksilah dengan mengakui kebenaran dan janganlah kamu menyembunyikannya (atau) terhadap (kedua ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia) maksudnya orang yang disaksikan itu (kaya atau miskin, maka Allah lebih utama bagi keduanya) daripada kamu dan lebih tahu kemaslahatan mereka. (Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu) dalam kesaksianmu itu dengan jalan pilih kasih, misalnya dengan mengutamakan orang yang kaya untuk mengambil muka atau si miskin karena merasa kasihan kepadanya (agar) tidak (berlaku adil) atau menyeleweng dari kebenaran. (Dan jika kamu mengubah) atau memutarbalikkan kesaksian, menurut satu qiraat dengan membuang huruf wawu yang pertama sebagai takhfif (atau berpaling) artinya enggan untuk memenuhinya (maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan) hingga akan diberi-Nya balasannya.


136 Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.(QS. 4:136)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 136
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (136)
Pada ayat ini Allah SWT menyeru kaum Muslimin agar mereka tetap beriman kepada Allah, kepada Rasul Nya Muhammad saw. kepada Alquran yang diturunkan kepadanya, dan kepada Kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-rasul sebelumnya. Kemudian Allah SWT mengancam orang-orang yang mengingkari seruan-Nya. Barangsiapa mengingkari Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan hari akhirat, maka orang-orang itu benar-benar telah tersesat dan jalan yang benar, yaitu jalan yang akan menyelamatkan mereka dari azab yang pedih dan membawanya kepada kebahagiaan yang abadi.
Iman kepada Kitab-kitab Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya, adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tidak boleh beriman kepada sebagian Rasul dan Kitab saja, tetapi mengingkari bagian yang lain seperti dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Iman serupa ini tidak dipandang benar, karena dipengaruhi oleh hawa nafsu atau hanya mengikuti pendapat-pendapat dan pemimpin-pemimpin saja.
Apabila ada orang yang mengingkari sebagian Kitab, atau sebagian Rasul, maka hal itu menunjukkan bahwa ia belum meresapi hakikat iman itu, karena itu imannya tidak dapat dikatakan iman yang benar, bahkan suatu kesesatan yang jauh dari bimbingan hidayah Tuhan.


137 Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.(QS. 4:137)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 137
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا (137)
Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan adanya sekelompok orang yang telah menyatakan dirinya beriman, kemudian berbalik menjadi kafir. sesudah itu beriman kembali, lalu berbalik lagi menjadi kafir dan akhirnya mereka bertambah-tambah kekafirannya hingga saat ajal mereka tiba. Orang-orang yang serupa itu sedikitpun tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT, dan tidak akan mendapat bimbingan untuk memperoleh petunjuk.
Mereka selalu dalam keadaan bimbang dan ragu, pendirian mereka berubah ubah dari iman ke kafir, dan kafir ke iman, mereka telah kehilangan pegangan karenanya mereka tidak dapat lagi memahami hakikat kebenaran dan keutamaan iman.
Oleh sebab itulah sesuai dengan ketentuan Allah SWT, orang yang jiwanya bimbang dan ragu itu tidak akan diharapkan daripadanya untuk mendapat petunjuk ke jalan yang benar.
Maka sudah sepantasnyalah apabila mereka itu jauh dan rahmat Allah, apalagi untuk mendapatkan ampunan-Nya, karena jiwa mereka telah ditutupi noda-noda kekafiran, sehingga tidak lagi dapat melihat cahaya kebenaran.
Sebenarnya tak ada yang dapat menghalang-halangi ampunan dan hidayah Allah yang akan diberikan Nya kepada makhluk Nya. Hanya saja kehendak Allah itu tidak terlepas dan hikmah Nya. Telah menjadi ketetapan Allah bahwa usaha manusia yang timbul karena ilmu dan amalannya akan berbekas pada jiwanya. Maka apabila seorang terus-menerus mengikuti saja sesuatu pendapat tanpa penyelidikan niscaya akalnya tidak mendapat petunjuk. Begitu pula apabila jiwa seseorang telah dikotori dengan kefasikan dan maksiat, maka ia tidak akan mendapat jalan untuk memperoleh ampunan, tanpa bertobat.
Allah SWT berfirman:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
Artinya:
"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh kemudian tetap di jalan yang benar"
(Q.S. Thaha: 82)
Ampunan Allah dapat menghapuskan noda-noda dosa di dalam jiwa. Apabila seseorang bertobat dan beramal saleh, maka semua kotoran jiwa dan dosanya akan terkikis habis.
Firman Allah SWT:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
Artinya
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk; itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat"
(Q.S. Hud: 114)


138 Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,(QS. 4:138)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 138
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138)
Kemudian Allah SWT mencela orang-orang munafik karena sikap mereka yang selalu berubah-ubah, dan tidak sesuai ucapannya dengan perbuatannya. Pada saat berkumpul dengan orang-orang mukmin, mereka menampakkan keimanannya dan menyembunyikan kekufurannya sebaliknya apabila bertemu dengan orang-orang kafir, mereka menampakkan kekafirannya dan menyembunyikan keimanannya. Mereka benar-benar akan mendapat siksaan yang pedih.


139 (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.(QS. 4:139)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 139
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139)
Kemudian Allah SWT menerangkan sifat-sifat mereka yang pantas dicela, yaitu orang-orang munafik itu sebenarnya bersekongkol dengan orang orang kafir yang memusuhi orang-orang mukmin dan tidak mengacuhkan orang-orang mukmin bahkan dalam saat-saat yang penting mereka membantu orang-orang kafir, karena mereka berkeyakinan bahwa kemenangan akan diperoleh orang-orang kafir.
Sikap mereka itu dicela oleh Allah, karena harapan mereka mendapatkan kekuatan dari orang-orang kafir tetapi kekuatan itu tidak akan mereka peroleh, sebab kekuatan dan perlindungan itu pada hakikatnya di tangan Allah. Allahlah yang memberikan kekuatan dan perlindungan itu, menurut kehendak-Nya kepada orang-orang yang betul-betul beriman dan mematuhi segala petunjuk-petunjuk-Nya.
Petunjuk Allah itu disampaikan melalui Rasul dan merekalah yang menjelaskan jalan yang hares ditempuh guna memperoleh petunjuk itu. Maka kekuatan dan perlindungan Allah, akan dimiliki oleh orang-orang mukmin, apabila mereka itu tetap berpegang kepada Kitab Allah dan selalu berpedoman pada hidayah-Nya. Akan tetapi orang-orang yang munafik tidak melihat kekuatan dan perlindungan yang gaib itu, mereka hanya terpedaya oleh kekuatan dan perlindungan lahir yang sifatnya tidak lelap itu. Dan merekapun tidak akan memperoleh apa yang diharapkannya.
Berkenaan dengan itu Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
Artinya:
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya"
(Q.S. Fatir: 10)
Dan firman Nya

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:
"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi yang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui"
(Q.S. Al-Munafiqun: 8)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 139
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139)
(Yaitu orang-orang) menjadi badal atau na'at bagi orang-orang munafik (yang mengambil orang-orang kafir sebagai temannya yang setia dan bukan orang-orang mukmin) karena dugaan mereka bahwa orang-orang kafir itu mempunyai kekuatan. (Apakah mereka hendak mencari kekuatan pada mereka itu?) Pertanyaan bermakna sanggahan, artinya mereka takkan menemukan hal itu padanya. (Karena sesungguhnya semua kekuatan itu milik Allah) baik di dunia maupun di akhirat, dan takkan tercapai kecuali oleh kekasih-kekasih-Nya.


140 Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.(QS. 4:140)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 140
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (140)
Sesudah itu Allah SWT melarang orang-orang mukmin berkumpul atau berada dalam satu majelis dengan orang-orang munafik yang menghina agama dan hukum-hukumnya, karena orang-orang munafik itu apabila mendengar ayat-ayat Allah mereka ingkar dan memperolok-oloknya sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ
Artinya:
"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka, sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain"
(Q.S. Al-An'am: 68)
Sebagian orang-orang Islam duduk-duduk bersama orang-orang musyrik yang sedang membicarakan kekafiran, mencela Islam dan menghina Alquran, sedang orang-orang Islam itu tidak sanggup menyanggah pembicaraan orang-orang musyrik itu, karena mereka dalam keadaan lemah. Maka Allah SWT menyuruh orang-orang Islam berpaling meninggalkan orang-orang musyrik itu dan melarang duduk bersama mereka.
Demikian pula orang-orang Yahudi berbuat seperti orang-orang musyrik itu pula. Ada orang-orang munafik yang duduk bersama mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka, maka orang-orang mukmin dilarang duduk bersama orang orang Yahudi itu dan melibatkan diri dalam pembicaraan-pembicaraan yang menghina agama Allah, dan disuruh menjauhi mereka masuk kepada pembicaraan lain yang tidak mengandung penghinaan kepada agama.
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa apabila orang-orang Islam ikut bersama-sama dengan orang-orang munafik itu dan tidak mau meninggalkan mereka, maka Allah menganggap mereka bersekongkol dengan orang-orang kafir itu. Itulah sebabnya Allah SWT melarang kaum Muslimin berkumpul dengan orang-orang Yahudi seperti itu. Apabila larangan yang telah disampaikan kepada mereka itu masih juga dikerjakan, niscaya mereka anggap sama saja dengan orang-orang kafir itu.
Dapat dipahami dari ayat ini, bahwa barang siapa yang membenarkan perbuatan yang mungkar, dan diam saja terhadap kemungkaran itu, maka ia dapat disamakan dengan orang yang berbuat dosa. Membantah kemungkaran berarti mencegah tersebarnya perbuatan itu di tengah-tengah masyarakat.
Sesudah itu Allah menegaskan ancaman Nya terhadap orang-orang yang tidak menghiraukan larangan-Nya. Dia akan menyiksa mereka dengan api neraka bersama-sama orang kafir.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 140
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (140)
(Dan sungguh, Allah telah menurunkan) dapat dibaca nazzala dan nuzzila (kepadamu dalam Kitab) yakni Alquran surah Al-An'am (bahwa) ditakhfifkan sedangkan isimnya dibuang dan asalnya annahu (jika kamu dengar ayat-ayat Allah) maksudnya ayat-ayat Alquran (diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu ikut duduk bersama mereka) maksudnya bersama orang-orang kafir dan yang memperolok-olokkan itu (sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kamu jika demikian) artinya duduk bersama mereka (serupa dengan mereka) dalam kedosaan. (Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahanam) sebagaimana mereka pernah berkumpul di atas dunia dalam mengingkari dan memperolok-olokkan Alquran.
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AN NISAA'>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar