Senin, 26 Maret 2012

Al Baqarah 211s/d 216

Kembali ke Daftar Surah                                     Kembali ke Daftar Surah 
TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 211
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/705-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-211.html

dari swarabumi.wordpress
سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 
Bani Israil telah rusak karena pengaruh keduniaan, sehingga tidak sedikit dosa yang telah mereka lakukan dan tidak sedikit pula nikmat Allah yang telah diingkarinya. 
Karena itu Nabi Muhammad saw. disuruh Allah swt. menanyakan kepada mereka berapa banyak sudah ayat-ayat dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang telah diperlihatkan kepada mereka? 
Pertanyaan ini, bukan untuk dijawab tetapi sebagai peringatan untuk dapat diinsafi dan disadari, supaya mereka taat kepada Allah meninggalkan perbuatan-perbuatan jahatnya.
Allah telah memperlihatkan kepada mereka mukjizat-mukjizat yang terjadi pada nabi-nabi mereka yang menunjukkan kebenaran ajaran-ajaran yang dibawanya itu, seperti tongkat Nabi Musa a.s. ketika dipukulkan kepada batu lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air, dan awan yang menaungi mereka di waktu panas kerika berjalan di padang pasir, makanan yang berupa manna dan salwa, dan sebagainya. Tetapi sejauh itu mereka tetap saja berkeras kepala tidak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa mereka akan sadar dan insaf. Karena itu Allah swt. memberikan lagi satu peringatan keras, yaitu barang siapa yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran sesudah nikmat itu datang kepadanya dan mengganti ayat-ayat-Nya, Allah akan membalas mereka dengan azab yang keras dan pedih terutama di hari kemudian, dengan menjebloskan mereka ke dalam neraka Jahannam. Allah swt. berfirman: 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ (28) جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ 
Artinya: 
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kehinaan, yaitu ke neraka Jahannam. Mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman. (Q.S Ibrahim: 28-29)

TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 212
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/704-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-212.html

dari creativityinlife.wordpress
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ 
Menurut Abdullah bin Abbas ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abu Jahal dan teman-temannya. Sedang menurut Muqatil ayat ini diturunkan berhubungan dengan orang-orang munafik, seperti Abudullah bin Ubay dan pengikut-pengikutnya. 
Riwayat lain mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan kaum Yahudi, tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpinnya, dan Bani Quraizah, Bani Nadir dan Bani Qainuqa', yang kesemuanya selalu menghina kaum muslimin. Berkata Imam Fakhrurrazi: "Tidak ada salahnya bila dikatakan bahwa ayat yang diturunkan untuk ketiga golongan tersebut sudah menjadi tabiat yang melekat, terutama dalam hati orang kafir, yaitu mencintai dunia lebih dari segala-galanya. Setan menggambarkan kepada mereka kebagusan hidup di dunia yang indah permai dengan sehebat-hebatnya sampai seluruh perhatian mereka tercurah kepada dunia itu. Mereka merebutnya mati-matian, mempertahankannya dengan jiwa raga, tidak memperdulikan larangan agama, kesopanan atau hukum-hukum Allah dan Rasul. Banyak celaan mereka yang ditujukan kepada orang-orang mukmin, seperti Abdullah bin Masud, Amar, Suhaib dan sebagainya, dengan sengaja untuk menghina dan merendahkan kedudukan mereka. Mereka berkata: "Orang-orang Islam itu suka menyiksa diri dan meninggalkan kesenangan dunia, mereka bersusah payah mengerjakan ibadah, menahan hawa nafsu dengan berpuasa, berzakat, dan mengeluarkan biaya yang besar untuk naik haji, dan lain sebagainya." 
Ejekan dan penghinaan kaum kafir itu terhadap kaum muslimin, dijawab bahwa orang-orang yang bertakwa kepada Allah, nanti di hari kemudian jauh lebih tinggi martabat dan kedudukannya daripada mereka. Qrang-orang yang bertakwa akan dimasukkan ke dalam surga, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt.: 

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا 
dari syafiqnawdpressawi.wor
Artinya: 
Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa. (Q.S Maryam: 63) 
Orang-orang kafir membanggakan kesenangan dunia yang dimilikinya, kekayaan bertumpuk-tumpuk yang diperolehnya, dan mereka menghina orang yang beriman yang umumnya miskin, tidak banyak yang kaya dibanding dengan mereka. Untuk menjawab penghinaan ini, Allah menutup ayat ini dengan satu penegasan bahwa sangkaan mereka itu tidak benar, Allah memberi rezeki (di dunia ini) kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, baik ia seorang kafir maupun mukmin. Hanya bedanya kalau ia seorang kafir, rezekinya itu sebagai "istidraj" yaitu menjerumuskan mereka dengan berangsur-angsur kepada siksa yang pedih yang akan ditemuinya. Siksa dan azab yang diterimanya di hari kemudian adalah karena mereka tidak mau sadar, tidak mau kembali ke jalan Allah, sekalipun dalam keadaan senang dan serba cukup. Sedang bagi orang-orang mukmin rezekinya itu merupakan "fitnah" yaitu cobaan, apakah ia mampu dan sanggup menggunakan dan memanfaatkannya kepada hal-hal yang diridai Allah swt. atau tidak? 
Di akhirat nanti, orang-orang kafir akan meringkuk dalam neraka, merasakan siksaan dan azab yang amat pedih tak terhingga, dan orang-orang mukmin dimasukkan ke dalam surga, diberi pahala berlipat ganda tak ada batasnya. Allah swt. berfirman: 

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: 
Dan barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga; mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab." (Q.S Al Mukmin: 40)

TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 213
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/703-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-213.html

dari anotherorians.blogspot
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 
Manusia tadinya merupakan umat yang satu. Satu akidah dan satu tujuan amal perbuatan, yaitu untuk memperbaiki dan bukan untuk merusak, berbuat baik dan bukan berbuat jahat, berlaku adil dan bukan berbuat aniaya. 
Kemudian mereka berpaling dan mengerjakan sebaliknya, dan tidak ada lagi kesatuan akidah dan pendapat di antara mereka, yang membawa mereka kepada kebahagiaan, lalu mereka berselisih, bercerai-berai. 
Untuk mengembalikan mereka kepada keadaan semula, bersatu dalam kebenaran Allah swt. mengutus nabi-nabi, manusia pilihan agar membimbing mereka ke jalan yang benar, memberi petunjuk secukupnya atas kekeliruan yang diperbuatnya, menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan taat bahwa mereka akan memperoleh balasan surga di hari kemudian, dan memperingatkan orang-orang yang ingkar dan durhaka bahwa mereka akan ditimpa siksa dan azab yang pedih di neraka Jahannam nanti. 
Nabi-nabi yang diutus itu, diperlengkapi dengan kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada mereka, yang seluruhnya mengandung kebenaran, petunjuk-petunjuk penjelasan yang lengkap yang akan dijadikan landasan untuk memberi pertimbangan dan memberikan keputusan yang seadil-adilnya atas segala sesuatu yang diperselisihkan. 
Sebenarnya, manusia tidak perlu lagi berselisih, karena kitab samawi diberikan penuh dengan keterangan-keterangan yang nyata, yang semuanya itu telah diketahui dan dimengerti. Jadi apakah gerangan yang menyebabkan mereka masih salah-menyalahkan dan menganggap bahwa hanya dialah yang benar dan yang lain salah. Hal ini disebabkan karena sifat dengki dan suka melakukan pelanggaran. 
Apabila sifat dengki ini telah tertanam di dalam hati, baik secara perorangan maupun secara bergolongan, maka sukarlah untuk memperoleh ketenteraman dan kesejahteraan di antara mereka. 
Beruntunglah orang-orang yang beriman, karena dengan kehendak Allah swt. mereka telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar. 
Aisyah r.a. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah saw. apabila bangun di tengah malam, beliau mengerjakan salat malam, dan beliau berdoa: 

اللهم رب جبريل و ميكائيل و إسرافيل فاطر السموات و الأرض عالم الغيب و الشهادة أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاء إلي صراط مستقيم 
Artinya: 
Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Engkaulah yang memberi putusan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Berilah aku petunjuk yang benar tentang apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkaulah yang memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus. 
(HR Bukhari dan Muslim) 
Di dalam salah satu doa yang ma'sur (yang diamalkan) para sahabat terdapat sebagai berikut: 

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه و أرنا الباطل باطلا و ارزقنا اجتنابه و لا تجعله ملتبسا علينا فنضل و اجعلنا للمتقين إماما 
Artinya: 
Ya Allah perlihatkanlah kepada kami yang benar itu adalah benar, lalu bimbinglah kami untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami yang salah ltu adalah salah, dan kemudian bimbinglah kami untuk menghindarinya. Janganlah dijadikan yang benar dan salah itu samar-samar bagi kami, yang akan menyebabkan kami sesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang takwa.
(HR Bukhari dan Muslim)


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 214
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/702-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-214.html



أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ 
Ada beberapa pendapat mengenai sebab turunnya ayat ini:
  1. Pertama, pendapat dari Qatadah, As-Suddy dan kebanyakan ahli tafsir yang mengatakan bahwa ayat ini turun di peperangan Khandak ketika kaum muslimin mengalami bermacam-macam kesulitan dan tekanan perasaan. Mereka merasa gentar dan ketakutan sehingga nafas mereka naik menyesak sampai ke tenggorokan. 
  2. Kedua, pendapat lain yang mengatakan bahwa ayat ini turun di waktu peperangan Uhud, dikala kaum muslimin dipukul mundur oleh pasukan musuh dalam peperangan itu. Sayyidina Hamzah tewas dianiaya, dan Nabi pun menderita luka. 
  3. Ketiga, pendapat golongan lain, bahwa ayat ini turun untuk menghibur hati kaum Muhajirin ketika mereka meninggalkan tumpah darahnya dan harta kekayaannya dikuasai oleh kaum musyrikln dan kaum Yahudi memperlihatkan permusuhan kepada Rasullullah saw. secara terang-terangan dan lain-lain kesulitan yang dialaminya di Madinah. Ayat ini secara tidak langsung memperkuat ayat-ayat sebelumnya, yaitu agar kaum muslimin selalu tabah dan sabar dalam perjuangan, karena mereka senantiasa mematangkan iman dan akidahnya.
Firman Allah swt.: 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ 
Artinya: 
Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S Al Baqarah: 155) 
Dan firman-Nya: 

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 
Artinya: 
Apakah manusia mengira, bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: "Kami telah beriman," dan tidak akan diuji?" (Q.S Al 'Ankabut: 2) 
Semakin benar dan semakin tinggi cita-cita yang akan dicapai, semakin besar rintangan dan cobaan yang akan dialami. Untuk mencapai keridaan Allah dan memperoleh surga, janganlah disangka suatu hal yang mudah dan gampang, tetapi harus melalui perjuangan yang gigih yang penuh rintangan dan cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, nabinya dibunuh, pengikutnya disiksa sampai di antara mereka digergaji kepalanya di dalam keadaan hidup atau dibakar hidup-hidup, sehngga mereka mengalami goncangan batin. Oleh karena cobaan dan penderitaan yang dialaminya dirasakan lama, sekalipun mereka yakin bahwa bagaimanapun juga pertolongan Allah akan datang, maka Rasul mereka dan pengikut-pengikutnya merasa gelisah lalu berkata: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Pertanyaan itu dijawab oleh Allah: "Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." Pada waktunya nanti mereka akan menang dan mengalahkan musuh, dapat melenyapkan penganiaya, orang-orang zalim, menguatkan dakwah mereka dan menjadikan akidah yang diperjuangkan itu dijunjung tinggi dan penganiayaan kaum kafir tersapu bersih.

TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 215
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/701-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-215.html

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Amir bin Al-Jamuh Al-Anshari, seorang yang telah lanjut usianya dan mempunyai banyak harta, bertanya kepada Rasulullah saw: "Harta apakah yang sebaiknya saya nafkahkan dan kepada siapa nafkah itu saya berikan?" Sebagai jawaban turunlah ayat ini. 
Nafkah yang dimaksud dalam ayat ini, ialah nafkah sunat, yaitu sedekah, bukan nafkah wajib seperti zakat dan lain-lain. 
Ayat ini mengajarkan bahwa apa saja yang dinafkahkan, banyak atau pun sedikit pahalanya adalah untuk orang yang bernafkah itu dan tercatat di sisi Allah swt. sebagai amal saleh sebagaimana dijelaskan dalam satu hadis yang berbunyi: 

إنما هي أعمالكم أحصيها لكم 
Artinya: 
Bahwasanya pahala amal perbuatanmu adalah kepunyaanmu Akulah yang mencatatnya untukmu.
(HR Muslim dari Abu Zar Al Ghafiri) 
Sesuatu yang dinafkahkan itu hendaklah diberikan lebih dahulu kepada
  1. orang tua yaitu ibu-bapak, karena keduanya adalah orang yang paling berjasa kepada anaknya. Merekalah yang mendidiknya sejak dalam kandungan, dan di waktu kecil dan bersusah payah dalam menjaga pertumbuhannya. 
  2. Sesudah itu barulah nafkah itu diberikan kepada kaum kerabat, seperti anak-anak saudara-saudara yang memerlukan bantuan. Mereka itu adalah orang-orang yang semestinya dibantu. Karena kalau dibiarkan saja, akhirnya mereka akan mengemis kepada orang lain. Akibatnya akan memalukan keluarga. 
  3. Kemudian kepada anak-anak yatim yang miskin karena masih kecil, belum bisa berusaha untuk memenuhi keperluannya. 
  4. Akhirnya kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan untuk menutupi keperluannya, meringankan bebannya, karena sekalipun mereka tidak ada hubungan famili, tetapi mereka adalah anggota keluarga kaum muslimin, yang sewajarnya dibantu di kala mereka dalam kesusahan. 
Apa saja yang dinafkahkan, Allah mengetahui yang halal. Oleh karena itu tidak boleh digembar-gemborkan, karena Allahlah yang akan membalasnya dan memberikan pahala berlipat ganda menurut keikhlasan seseorang.


TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 216
 http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/700-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-216.html
 
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
dari Al Islam.org
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Hatim dan Tabrani dari Zaid bin Rumman, dari Urwah, bahwa turunnya ayat 216 dan 217 ini sebagai berikut: Dua bulan sebelum perang Badar, pada akhir bulan Jumadil Akhir Rasulullah saw. mengirimkan satu pasukan yang terdiri dari 8 orang Muhajirin, dikepalai oleh Abdullah bin Jahsy pergi menyelidiki keadaan orang Quraisy di luar kota Madinah dan laporannya harus segera disampaikan kepada Rasulullah saw. 
Tatkala pasukan itu sampai di suatu tempat yang bernama Nakhlah, bertemulah mereka dengan serombongan orang Quraisy membawa barang dagangan dari Thaif. Rombongan itu dikepalai oleh Umar bin Abdullah dan saudaranya yang bernama Naufal bin Abdullah. Pada waktu pasukan Muhajirin memerangi rombongan pedagang-pedagang Quraisy itu dan terbunuhlah kepala rombongan itu dan dua orang temannya ditawan sedang yang seorang lagi dapat meloloskan diri, serta barang dagangannya dijadikan sebagai harta rampasan. 
Peristiwa itu terjadi di bulan yang diharamkan perang padanya yaitu awal bulan Rajab, sedangkan pasukan Muhajirin itu mengira masih bulan Jumadil Akhir. 
Mendengar peristiwa itu ributlah orang-orang Quraisy dan orang-orang Islam di Madinah sambil mengatakan: "Muhammad saw. telah menghalalkan berperang di bulan haram padahal pada bulan-bulan haram itulah orang merasa aman dan tenteram dan berusaha mencari rezeki untuk keperluan hidup mereka." 
Tatkala Abdullah bin Jahsy sampai di Madinah dengan membawa dua orang tawanan dan harta rampasan perang, Rasulullah itu merasa terkejut sambil berkata: "Demi Allah saya tidak menyuruh kamu berperang di bulan haram." Lalu Rasulullah saw. menyuruh hentikan unta yang membawa harta rampasan dan kedua orang tawanan iu. Tidak ada sedikitpun harta rampasan itu diambil Rasulullah saw. 
Mendengar ucapan itu Abdullah bin Jahsy bersama pasukannya merasa malu dan menyesal dan mereka mengira tentu akan mendapat malapetaka dan musibah sebagai akibat dan pelanggaran itu, lalu turunlah ayat ini. Setelah turun ayat ini, maka Rasulullah saw. membagi-bagi harta rampasan perang kepada yang berhak dan membebaskan kedua orang tawanan itu. 
Dengan turunnya ayat 216 hukum perang itu menjadi wajib kifayah, dan bila musuh telah masuk ke dalam negeri orang-orang Islam, hukumnya menjadi wajib ain. Hukum wajib perang ini terjadi pada tahun kedua Hijrah. Ketika masih di Mekah (sebelum Hijrah) Nabi Muhammad saw. dilarang berperang dan pada permulaan tahun Hijrah, baru diizinkan perang bilamana perlu. 
Berperang itu dirasakan sebagai suatu perintah yang berat bagi orang-orang Islam, sebab akan menghabiskan harta dan jiwa. Lebih-lebih pada permulaan Hijrah ke Madinah. Kaum muslimin masih berjumlah kecil, sedang kaum musyrikin mempunyai jumlah yang besar. Sangat dirasakan berat berperang ketika itu. Tapi karena perintah berperang sudah datang untuk membela kesucian agama Islam, meninggikan kalimatullah, maka segala yang dirasakan berat dan sulit itu terpaksa dikikis habis dan diganti dengan semangat yang tinggi dan keyakinan yang penuh untuk melaksanakan perintah berperang fisabilillah. Di dalam hidup ini, tidak semua yang dikhawatirkan itu mendatangkan bahaya. Betapa khawatirnya seorang pasien yang pengobatannya harus dengan mengalami operasi, sedang operasi itu paling dibenci dan ditakuti. Tetapi demi untuk kesehatannya dia harus mematuhi nasihat dokter. Barulah penyakit hilang dan badan menjadi sehat setelah dioperasi. 
Allah memerintahkan sesuatu bukan untuk menyusahkan manusia, sebab dibalik perintah itu akan banyak ditemui rahasia-rahasia yang membahagiakan manusia. Masalah rahasia itu Allahlah yang lebih tahu, sedang manusia tidak mengetahuinya.


Kembali ke Daftar Surah                                     Kembali ke Daftar Surah 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar