Rabu, 28 Maret 2012

Al Imran-160-169

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>
TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-160
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/869-tafsir-depag-ri-qs-003-al-imran-160.html


إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ 

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.(QS. 3:160)
 
Apabila Allah SWT hendak menolong kaum muslimin, maka tidak ada satupun yang dapat menghalanginya sebagaimana Allah menolong kaum muslimin pada perang Badar disebabkan mereka berserah diri kepada Allah. Demikian pula apabila Allah hendak menghina atau hendak menimpakan malapetaka kepada mereka maka tidak ada sesuatupun yang dapat menghalang-halanginya, sebagaimana yang terjadi pada perang Uhud akibat kurang patuh tidak berdisiplin kepada komando Rasul. Oleh karena itu, hendaklah setiap mukmin bertawakkal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum muslimin selain Allah.



TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-161
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/863-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-161.html

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.(QS. 3:161)
Pada perang Badar ada selembar selimut merah dari barang rampasan hilang sebelum dibagi-bagi. Sebagian dari orang-orang munafik mengatakan bahwa selimut itu mungkin diambil oleh Rasulullah saw atau pasukan pemanah. 
Tidak pantas dan tidak mungkin terjadi Rasulullah saw berbuat khianat mengambil barang ganimah (rampasan dalam peperangan) Hal itu bertentangan dengan sifat-sifat kemaksuman Nabi (terpeliharanya dari perbuatan yang tercela), akhlaknya yang tinggi yang menjadi contoh utama. Barang siapa berbuat khianat serupa itu maka ia pada hari kiamat akan datang membawa barang hasil pengkhianatannya dan tidak akan disembunyikannya. Setiap orang akan menerima balasan atas amal perbuatannya baik atau buruk, dan dalam hal balasan itu ia tidak akan teraniaya. Seperti orang yang berbuat baik dikurangi pahalanya atau orang yang berbuat buruk di tambah siksaannya. 
Yang dimaksud dengan gulul pada ayat 161 ialah mengambil secara sembunyi-sembunyi milik orang banyak. Jadi pengambilan itu sifatnya semacam mencuri. Seorang Rasul sifatnya antara lain amanah, dapat dipercaya. Karena itu sangat tidak mungkin Rasulullah saw berbuat gulul bahkan dalam masalah gulul ini Rasulullah saw pernah bersabda: 

يا أيهاالناس من عمل لنا منكم عملا فكتم محيطا فما فوقه فهو غل يأتي به يوم القيامة 
Artinya: 
"Wahai sekalian manusia! barang siapa di antaramu mengerjakan sesuatu untuk kita, kemudian ia menyembunyikan sehelai barang jahitan atau lebih dari itu, maka perbuatan itu gulul harus dipertanggungjawabkan nanti pada hari kiamat. 
(HR Muslim dan Abu Daud) 
Sayidina Umar bin Khattab pernah meriwayatkan: 

لما كان يوم خيبر أقبل نفر من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا: فلان شهيد وفلان شهيد حتى أتى على رجل فقالوا: فلان شهيد. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كلا إني رأيته فى النار في بردة غلها أو عباءة ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذهب فناد فى الناس إنه لا يدخل الجنة إلا المؤمنون 
Artinya: 
Bahwa setelah selesai perang Khaibar beberapa sahabat menghadap Rasulullah saw seraya mengatakan: Si A mati syahid, Si B mati syahid dan sampai mereka menyebut Si C mati syahid Rasul menjawab: "tidak, saya lihat Si C ada di neraka, karena ia mencuri sehelai baju'. Akhirnya Rasul menyuruh mengumumkan: "bahwa tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang mukmin". 
(HR Muslim.)


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-162
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/862-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-162.html

أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.(QS. 3:162)
Pada ayat ini ditegaskan bahwa "Orang yang mencari keridaan Allah dengan beribadat dan beramal saleh tidak sama dengan orang yang memperoleh murka Allah. karena berbuat maksiat, melanggar larangan-larangan Nya dan meninggalkan kewajibannya. Orang yang memperoleh murka Allah itu tempatnya di neraka Jahanam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali. 
Dalam Alquran banyak terdapat ayat-ayat yang diserangkaikan padanya menyebut dua golongan yang berbeda yang memang sifat-sifat mereka berbeda dan berlawanan ini misalnya ayat: 
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى 
Artinya: 
"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan itu adalah benar, sama dengan orang buta?". 
(Q.S Ar Ra'd: 19) 
Dan ayat: 

أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا 
Artinya: 
"Maka apakah orang yang kamu janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi". 
(Q.S Al Qasas: 61)


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-163
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/861-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-163.html


هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ 

(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.(QS. 3:163)
Pada ayat ini dijelaskan bahwa kedua golongan itu masing-masingnya mempunyai tingkatan, karena pada hari kiamat nanti yang merupakan hari pembalasan, kedua golongan itu akan dibalasi sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Orang yang banyak berbuat baik akan tinggi tingkatannya dan orang yang banyak kejahatannya akan berada di tingkat yang paling rendah. Tingkatan golongan manusia yang tertinggi biasa disebut "Ar ra'fiqul a'la" yaitu tingkat yang dicapai oleh Nabi Muhammad saw, dan yang terendah disebut "Addarkul asfal". Hal ini dijelaskan dalam Alquran bahwa manusia di sisi Allah apakah ia baik ataukah jelek, adalah bertingkat-tingkat kebaikan dan kejelekannya. Allah Maha Mengetahui akan tingkat-tingkat amal perbuatan mereka dan memberi balasan sesuai dengan amal perbuatan masing-masing.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-164
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/859-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-164.html

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.(QS. 3:164)
Segenap makhluk Allah dibagi kepada 3 macam jenis, ialah jenis nabatat (tumbuh-tumbuhan), jenis hayawanat (binatang) dan jenis jamadat (benda-benda mati). Jenis nabatat ialah jenis tumbuh-tumbuhan baik yang tumbuh pada tanah atau air maupun yang tumbuh di tempat-tempat lain, misalnya pada dahan atau batang-batang kayu. 
Jenis hayawanat ialah jenis makhluk yang hidup bernyawa. Jenis Jamadat ialah selain dari jenis nabatat dan hayawanat. 
Makhluk jenis hayawanat ada yang untuk kepentingan hidupnya dikurniai akal dan pengertian, misalnya manusia dan ada yang tidak ialah jenis hayawanat. Manusia semestinya dengan mempergunakan akal pikiran dan pengertianya dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang bermanfaat dan yang mudarat. 
Kemudian ia dapat memilih mana yang baik untuk kemaslahatan dirinya. Akan tetapi karena manusia itu juga diberi hawa nafsu, bila ia tidak pandai-pandai mengendaiikannya, akan lebih banyak mengajak kepada keburukan dan kejahatan. Oleh karena ltu jika manusia dalam mengarungi bahteta hidup dan kehidupannya tanpa pimpinan dan tuntunan seorang rasul, maka akan mengalami kekacauan, kerusakan dan kehancuran. 
Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah Nabi Adam. Artinya setiap zaman fatrah (zaman vacum antara seorang rasul dengan rasul sesudahnya) manusia di bumi ini selalu mengalami kekacauan, keributan dan kehancuran, karena itu maka diutusnya seorang Rasul adalah merupakan nikmat dan kebahagiaan bagi masyarakat manusia. 
Allah SWT benar-benar memberi keuntungan dan nikmat kepada semua orang-orang mukmin umumnya dan kepada orang-orang yang beriman bersama-sama Rasulullah khususnya, karena Allah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, sehingga mereka mudah memahami tutur katanya dan dapat menyaksikan tingkah lakunya untuk diikuti dan dicontoh amal-amal perbuatannya. Nabi Muhammad langsung membacakan ayat-ayat Kebesaran Allah menyucikan mereka dalam amal dan iktikad, dan mengajarkan kepada mereka (Alquran) serta hukum-hukum Allah. Sedangkan sebelum datangnya Rasul itu nyata-nyata mereka dalam kesesatan.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-165
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/860-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-165.html

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata:` Dari mana datangnya (kekalahan) ini? `Katakanlah:` Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri `. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. 3:165)
Umar bin Khattab dalam menerangkan sebab turun ayat ini berkata: "Tentara Islam mendapat kekalahan pada perang Uhud setelah kemenangan mereka pada perang Badar. Mereka banyak menderita kerugian di antaranya 70 orang mati syahid, sahabat-sahabat Nabi ada yang lari, gigi rahang Nabi pecah, topi baja yang ada pada kepala Nabi hancur dan mengalir darah dari kepala Nabi ke dahinya, lalu turunlah ayat ini. 
Ayat-ayat ini masih ada hubungannya dengan ayat tentang kisah perang Uhud. Pada waktu perang Uhud 70 orang tentara Islam terbunuh sebagai syuhada'. Di antara mereka, ada yang berkata dari manakah dan sebab apakah kita mengalami kekalahan sedemikian besar? Sedangkan tentara Islam pada perang Badar telah memperoleh kemenangan besar dengan menjadikan musuh lari kocar-kacir dan dapat menewaskan 70 orang musuh dan menawan 70 orang lagi. 
Terhadap pertanyaan itu Rasulullah dapat perintah untuk menjawab bahwa kekalahan itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Pasukan pemanah oleh Rasulullah diperintahkan bertahan di atas bukit dan tidak boleh meninggalkannya sebelum ada perintah dari beliau. Tetapi mereka telah melanggar perintah itu dan turun meninggalkan bukit untuk ikut mengambil barang ganimah. Dari atas bukit yang di tinggalkan pasukan pemanah itulah musuh menyerbu tentara Islam, sehingga akhirnya mereka mengalami kekalahan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-166
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/858-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-166.html

وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman,(QS. 3:166)
Pada ayat ini diterangkan bahwa kemenangan yang diperoleh tentara Islam pada perang Badar, disebabkan karena izin dan pertolongan Allah. Kekalahan itu pada lahirnya merupakan nasib buruk, dan sebaliknya kemenangan itu merupakan nasib baik bagi para syuhada' serta pelajaran bagi kaum muslimin. 
Allah SWT berfirman: 

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ 
Artinya: 
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri". 
(Q.S An Nisa': 79) 
Adanya kemenangan dan kekalahan itu dalam permulaan peperangan baik bagi tentara Islam maupun tentara selain Islam adalah suatu hal yang lumrah, tetapi pada akhirnya kesudahannya tentara Islamlah yang akan menang. Yang demikian itu dimaksudkan antara lain, untuk menguji keteguhan iman dan ketabahan masing-masing agar orang-orang mukmin lebih tebal keimanannya sehingga dapat dibedakan dari umat yang lain.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-167
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/857-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-167.html

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ

dan supaya Allah mengetahui siapa orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan:` Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu) `. Mereka berkata:` Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu `. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.(QS. 3:167)
Dan demikian juga agar orang-orang munafik dapat diketahui kemunafikannya dengan nyata. 
Pada waktu perang Uhud jumlah tentara Islam 1.000 orang, kemudian di tengah jalan 300 orang yang tergolong munafikin di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay telah kembali ke Madinah. Maka perang Uhud merupakan pemisah antara tentara yang benar-benar beriman dan yang setengah-setengah imannya, yakni golongan munafik. 
Kaum munafik pada waktu diajak berperang fi sabilillah menegakkan agama Allah, mempertahankan hak dan keadilan dan menolak kebatilan dan kemungkaran guna mencari rida Allah atau berperang untuk menjaga diri dan mempertahankan tanah tumpah darahnya, mereka menjawab: Jika kami mengetahui bahwa kita dapat dan mampu berperang pasti kami mengikuti. Tetapi mereka menilai bahwa kaum muslimin berperang pada waktu itu semata-mata menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Sebenarnya mereka lebih cenderung kepada kekafiran dari pada keimanan dan apa yang mereka katakan bukan sebenarnya apa yang ada dalam hati mereka. Allah mengetahui kemunafikan yang mereka sembunyikan dalam hati mereka.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-168
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/856-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-168.html

الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِ

قِينَ 

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang:` Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh `. Katakanlah:` Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar. `(QS. 3:168)
Orang-orang munafik itu tidak ikut berperang berkata kepada teman temannya yang telah terbunuh pada perang Uhud: "Sekiranya mereka mengikuti kami tinggal di Madinah saja tanpa ikut berperang, niscaya mereka tidak akan mati terbunuh". 
Katakanlah Ya Muhammad kepada mereka: "Tolaklah kematian dirimu jika kamu sekalian benar". Sebenarnya mereka tidak akan dapat menolak kematian meskipun mereka tinggal saja di rumah atau berlindung dalam satu benteng yang kokoh. Pada waktunya orang pasti akan mati. Adapun sebab-sebabnya mungkin berbeda-beda. 
Allah SWT berfirman: 

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ 
Artinya: 
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh". 
(Q.S An Nisa': 78)


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-169
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/855-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-169.html

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki,(QS. 3:169)
Orang-orang yang telah terbunuh sebagai syuhada dalam perang fi sabilillah, janganlah dikira mereka mati, sebagai anggapan orang-orang munafik, akan tetapi mereka masih hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dan nikmat yang berlimpah-limpah. 
Bagaimana keadaan hidup mereka seterusnya, hanyalah Allah yang mengetahui. 
Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu `Abbas, Nabi saw bersabda: 

الشهداء على بارق نهر بباب الجنة فى قبة خضراء يخرج إليهم رزقهم من الجنة بكرة وعشيا 
Artinya: 
Para syuhada berada pada tepi sungai dekat pintu surga, mereka berada dalam sebuah kubah yang hijau. Hidangan mereka dikeluarkan dari surga itu setiap pagi dan sore. 
(HR Hakim, Ahmad dan Tabrani dari Ibnu 'Abbas) 
Para syuhada' itu menikmati pemberian-pemberian Tuhan, mereka ingin mati syahid berulang kali. Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw: 

ما من نفس تموت لها عند الله خير يسرها أن ترجع إلى الدنيا إلا الشهيد فإنه يسره أن يرجع إلى الدنيا فيقتل مرة أخرى مما يرى من فضل الشهادة 
Artinya: 
Tidak ada seorang yang telah mati dan memperoleh kemenangan di sisi Tuhan, kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid. Ia ingin dikembalikan ke dunia, kemudian mati syahid lagi. Hal itu disebabkan karena besarnya karunia yang diterimanya". 
(HR Muslim)

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar