Rabu, 28 Maret 2012

Ali ‘Imran 95 s/d 99

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>
TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-095
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1032-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-095.html

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah:` Benarlah (apa yang difirmankan) Allah `. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.(QS. 3:95)
Pada ayat ini Allah memerintahkan pula kepada Nabi Muhammad saw., supaya mengatakan kepada orang Yahudi bahwa apa yang diberitahukan Allah kepada beliau dengan perantaraan wahyu, tentang semua makanan yang baik-baik pada mulanya halal bagi Bani Israil sebelum Taurat diturunkan dan halal pula bagi umat-umat sebelum Nabi Musa dan memang ada beberapa jenis makanan yang diharamkan bagi mereka dalam Taurat sebagai hukuman atas kedurhakaan mereka, semua itu adalah benar-benar datang dari Allah SWT yang tak dapat disangkal kebenaran-Nya, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. 

Oleh karena itu hendaklah orang-orang Yahudi mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw, karena agama yang dibawanya pada prinsipnya sama dengan yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan janganlah mereka tetap mengharamkan daging unta dan susunya, sebab tidak ada larangan untuk makan dagingnya dan minum susunya baik dalam syariat Nabi Ibrahim maupun dalam syariat nabi-nabi lainnya termaksud sayriat Islam. Apalagi Nabi Ibrahim itu bukanlah seorang musyrik dan agama yang dibawanya adalah agama tauhid yang murni seperti Agama Islam, tidak mempersekutukan Allah dan tidak menyembah selain Dia, bukan seperti golongan mereka (Yahudi) yang mengatakan, `Uzair anak Allah dan bukan pula seperti orang-orang Nasara yang mengatakan bahwa, Isa anak Allah.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-096
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1024-tafsir-depag-ri-qs-003-al-imran-096.html

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.(QS. 3:96)
Ayat ini merupakan jawaban terhadap orang Yahudi tentang pemindahan kiblat dari Baitulmakdis ke Kakbah. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa berkiblat ke Baitulmakdis itu, telah dibenarkan oleh para nabi. Bahkan Nabi Ibrahim sendiri berkiblat ke sana Tuduhan Yahudi dibantah dengan ayat 96 dan 97 ini. 
Kedua ayat ini jelas menerangkan bahwa rumah pertama yang dijadikan tempat ibadah manusia dalam salat dan berdoa ialah Kakbah yang ada di Mekah, yang didirikan oleh Nabi Ibrahim as, dan Ismail. Setelah itu baru didirikan Masjidilaksa di Baitulmakdis beberapa ratus tahun kemudian oleh Nabi Sulaiman bin Daud. Oleh karena Ibrahim yang membangun Baitullah di Mekah, maka jelas sekali bahwa Nabi Muhammad saw. itu mengikuti agama Nabi Ibrahim as. dan mengikuti pula kiblatnya dalam salat. 
Nabi Ibrahim as, setelah mendirikan Ka'bah itu berdoa supaya tempat di sekitarnya diberkati oleh Allah SWT. 
ربنا إني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي إليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون 
Artinya 
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian. itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Q.S Ibrahim: 37)


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-097
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1023-tafsir-depag-ri-qs-003-al-imran-097.html

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ 

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.(QS. 3:97)
Suatu bukti lagi bahwa Nabi Ibrahim lah yang mendirikan Kakbah, adanya makam Ibrahim di samping Baitullah, yaitu sebuah batu yang dipergunakan sebagai tempat berdiri oleh Nabi Ibrahim as. ketika mendirikan Kakbah bersama-sama dengan putranya Ismail as. Bekas telapak kakinya itu tetap ada dan dapat disaksikan oleh siapa yang ingin melihatnya sampai sekarang. 
Dan barang siapa masuk ke tanah Mekah (daerah haram) terjamin keamanan dirinya dari bahaya musuh dan keamanan itu tidak bagi manusia saja, tetapi sampai pula kepada binatang-binatangnya, tidak boleh diganggu dan pohon-pohonnya tidak boleh ditebang. 
Setelah Nabi Ibrahim as. mendirikan Kakbah lalu beliau disuruh oleh Allah menyeru seluruh umat manusia agar mereka berziarah ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah haji ini dianjurkan oleh Nabi Ibrahim as, dan tetap dilaksanakan umat Islam sampai sekarang sebagai rukun Islam yang kelima. Setiap orang Islam yang mampu diwajibkan. menunaikan ibadah haji sekurang-kurangnya sekali seumur hidup. 
Barang siapa yang mengingkari kewajiban ibadah haji ini, maka ia termasuk golongan orang-orang kafir.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-098
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1022-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-098.html

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا تَعْمَلُونَ

Katakanlah:` Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan? `
Dengan ayat ini Allah mencela para ahli kitab yang tetap tidak membenarkan kenabian Muhammad saw, padahal bukti-bukti atas kenabian itu sudah cukup banyak dan cukup jelas. Dengan keingkaran dan kekafiran itu mereka selalu berusaha memecah-belah kaum muslimin dan melemahkan posisi mereka. 
Ayat ini diturunkan sekaligus bersama ayat 99 dan sebab turunnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zaid bin Aslam dari Ibnu Yazid, bahwa: 
"Seorang yang bernama Syas bin Qais yang sangat ingkar dan selalu menyerang agama Islam, lewat di hadapan beberapa orang sahabat Rasulullah yang terdiri Kabilah 'Aus dan Khazraj. Mereka sedang duduk bersama-sama membicarakan beberapa persoalan. 
Hal ini sangat menjengkelkan hati orang itu, karena dilihatnya kaum muslimin amat kuat persatuan mereka dan amat dalam rasa kasih sayang antara sesama mereka, meskipun mereka dahulunya bermusuhan di masa Jahiliah. Ia berkata dalam hatinya: Kabilah ini (`Aus dan Khazraj) telah bersatu padu di negeri ini. Demi Allah kami tidak akan tenteram selama mereka mempunyai persatuan yang kokoh itu. Lalu ia menyuruh seorang pemuda Yahudi yang kebetulan berada di sampingnya supaya duduk bersama sahabat-sahabat Nabi itu dan membicarakan perang Bu'as yang terjadi antara kabilah `Aus dan Khazraj dan dimenangkan oleh kabilah `Aus. Di samping membangkitkan permusuhan lama antara kedua kabilah itu, pemuda itu mengucapkan pula beberapa bait syair peperangan yang pernah diucapkan mengenai perang Bu'as itu. Akhirnya timbullah pertentangan di antara para sahabat Nabi dan tampillah dua orang mereka, yaitu `Aus bin Qaizi; salah seorang dari Bani Harisah dari kalangan `Aus dan Jabbar bin Sakhr salah seorang dari Bani Salamah dari kalangan Khazraj. Masing-masing melemparkan kata-kata yang menyakitkan sehingga salah seorang dari mereka mengatakan; kalau kamu mau marilah kita hidupkan kembali peperangan itu, akhirnya memuncak kemarahan mereka dan masing masing golongan meneriakkan "marilah bersiap untuk memanggul senjata", dan berjanji akan bertempur di suatu tempat namanya Azzahirah di luar kota Madinah. 
Maka berkumpullah kaum Khazraj demikian pula kaum 'Aus bersiap untuk bertempur sebagaimana mereka lakukan di masa Jahiliah. Peristiwa ini segera disampaikan kepada Rasulullah dan beliau pergi ke tempat mereka berkumpul bersama orang-orang Muhajirin dan mengucapkan kata-kata sebagai berikut: 
"Hai kaum muslimin! Kenapa kamu mengucapkan kata-kata di antara sesamamu seperti ucapan-ucapanmu di masa Jahiliah ? padahal aku berada di tengah-tengah kamu? Kamu sudah mendapat petunjuk dari Allah untuk menganut agama Islam dan Allah telah memuliakan kamu dengan agama itu dan memutuskan hubunganmu dengan masa Jahiliah dan telah membebaskan kamu dari kekafiran dan telah mempersatukan hati kamu dengan rasa kasih sayang. Apakah kamu ingin menjadi kafir kembali? 
Mendengar ucapan Rasulullah ini sadarlah mereka bahwa mereka terperdaya oleh bisikan setan dan masuk ke dalam perangkap tipu daya musuh-musuh Islam, lalu mereka melemparkan senjata dan menangis tersedu-sedu, masing-masing kaum `Aus dan Khazraj itu berpeluk-pelukan dan bubarlah mereka kembali ke tempat masing-masing karena patuh dan taat kepada perintah Rasul dan padamlah api kemarahan yang dibangkit-bangkitkan oleh Syas bin Qais, musuh Islam itu". 
Maka turunlah ayat ini dan ayat berikutnya sebagai celaan atas tingkah laku orang-orang kafir. 
Khusus mengenai `Aus bin Qaizi bersama beberapa orang dari kalangan kabilah `Aus dan Jabbar bin Sakhr bersama beberapa orang dari kabilah Khazraj yang ikut dalam peristiwa persengketaan tersebut turun pula ayat 100 surat ini.




TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-099
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1021-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-099.html

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Katakanlah:` Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan? `. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.(QS. 3:99)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa para Ahil Kitab menginginkan supaya agama Allah bengkok dan menyimpang dari tujuan yang benar dengan merubah sifat-sifat Muhammad saw, dan membuat-buat dusta kepada Allah, padahal mereka sendiri menanti-nantikan kenabian Muhammad saw, di dalam hati kecil mereka sendiri. Allah mengutuk sifat dengki yang tersembunyi dalam dada para pemimpin Ahli Kitab itu. Allah sekali-kali tidak akan lengah tentang kepalsuan mereka.


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar