Jumat, 30 Maret 2012

Al-An'aam 81 - 100

Surah Al An'AM
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=5&SuratKe=6#Top
81 Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?(QS. 6:81)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 81
وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81)
Kemudian Ibrahim a.s. menegaskan bahwa ia tidak takut kepada sembahan-sembahan mereka akan tetapi hanya takut kepada Allah. Sikap Ibrahim a.s. yang demikian itu menarik perhatian mereka. Dalam pada itu Nabi Ibrahim a.s. mengatakan bahwa mengapa ia harus takut kepada sembahan sembahan yang mereka persekutukan dengan Allah dan dijadikan perantara yang dianggap dapat memberikan manfaat dan menolak mudarat?. Sedang mereka itu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan ciptaan mereka sendiri.
Seharusnya yang ditakuti ialah pembangkangan mereka terhadap Allah dan dugaan mereka yang salah yaitu menganggap patung-patung dan bintang-bintang itu sebagai Tuhan. Itulah sebabnya Allah swt. mencela sikap mereka. Allah menjelaskan kepada mereka bahwa agama yang dapat diterima ialah agama yang mempunyai alasan-alasan yang kuat dan bukti-bukti yang dapat diterima, apalagi mereka hanya memeluk agama dengan jalan taklid saja kepada nenek moyang mereka. Perbuatan demikian tidak didasarkan pada hidayah dan tidak pula didasarkan kepada ilmu. Kemudian mereka itu dihadapkan kepada dua pilihan untuk memilih mana di antara kedua golongan yaitu mereka yang memeluk agama tauhid dan mereka yang memeluk kemusyrikan yang lebih berhak Allah mendapatkan perlindungan. Sedangkan mereka sudah mengetahui bahwa Allah swt. mempunyai kekuasaan menciptakan dan memusnahkan, menghidupkan dan mematikan, sedangkan patung-patung itu tidak dapat memberikan manfaat dan mudarat sedikitpun. Kemudian di akhir ayat ini Allah swt. menyuruh Nabi Ibrahim a.s. agar supaya meminta jawaban kepada mereka apabila mereka sanggup menjawabnya.


82 Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. 6:82)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 82
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82)
Karena mereka tidak akan memberikan jawaban, maka Allah swt. memberikan penjelasan siapakah yang berhak mendapatkan perlindungan? Mereka itu ialah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman, yaitu kemusyrikan baik dalam akidah maupun dalam ibadah seperti dilakukan oleh orang-orang musyrik. Mereka menyangka biarpun mereka menyembah berhala ataupun bintang-bintang, mereka tetap beriman juga kepada Allah Azza wa Jalla, karena mereka menyembah berhala-berhala itu adalah sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai perantaraan untuk menyampaikan doa kepada-Nya, atau dapat memberikan manfaat atau mudarat juga dapat mempengaruhi kehendak dan kekuasaan-Nya yang diterangkan dalam firman Allah:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
Artinya
Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.
(Q.S Az Zumar: 3)
Aniaya yang dimaksudkan di sini ialah syirik sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari ahli-ahli hadis yang lain dari Abdullah bin Masud ia berkata, "Setelah turun ayat tersebut kami yang tidak pernah menganiaya diri (maksud pertanyaan ini ialah karena sahabat-sahabat Nabi sebelum memeluk Islam telah biasa melakukan perbuatan-perbuatan Jahiliah), maka turun ayat:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(13)
Artinya
Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kelaliman yang besar.
(Q.S Luqman: 13)
Maka orang-orang yang berhak mendapat perlindungan dalam ayat ini ialah orang-orang yang beragama tauhid yang murni tidak dicampuri dengan syirik sedikitpun. Mereka itu akan mendapatkan perlindungan dan bencana, bukan saja dari bencana yang akan ditimbulkan oleh patung-patung dan bintang-bintang seperti dugaan orang-orang musyrik, bahkan lebih dari itu mereka akan mendapat perlindungan dari azab Allah dan mendapatkan jaminan untuk mengharapkan pahala dari Allah. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah kepada jalan yang lurus.


83 Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. 6:83)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 83
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (83)
Kemudian dari pada itu Allah swt. memberikan ketegasan bahwa bukti-bukti kebenaran yang diberikan oleh Allah kepadanya dengan maksud agar supaya kaumnya dapat menggunakan pikirannya agar dapat menilai kebenaran bukti-bukti itu dan menerimanya dengan sepenuh hati, sehingga mereka meninggalkan kemusyrikan, berpindah kepada agama tauhid yang memang sesuai dengan fitrahnya.
Untuk menarik gairah kaumnya agar kembali kepada agama tauhid dan sebagai hiburan terhadap perjuangan Nabi Ibrahim a.s. Allah swt. menjanjikan bahwa Allah akan mengangkat derajat hamba-hamba yang dikehendaki-Nya beberapa derajat, dalam bidang ilmu pengetahuan dan hikmah dan derajat yang diperoleh Nabi Ibrahim adalah kemampuan memberikan hujah, kemampuan memimpin dan bertindak bijaksana. Kesemuanya adalah derajat-derajat kesempurnaan.
Selain dan itu diberi derajat kenabian dan kerasulan yang merupakan derajat yang tertinggi yang dicapai manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
Artinya:
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.
(Q.S Al Baqarah: 253)
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia Maha Bijaksana dalam mengangkat derajat seseorang atau menjatuhkannya, lagi Maha Mengetahui keadaan orang yang patut diberi derajat itu dan mempunyai bakat-bakat kesanggupan untuk menerimanya


84 Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,(QS. 6:84)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 84
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (84)
Allah swt. mengisahkan Nabi Muhammad saw. dan pengikut pengikutnya bahwa Allah akan memberikan anugerah kepada Nabi Ibrahim a.s. yaitu mengangkat keturunannya yang saleh, yaitu Ishak sebagai pelanjut perjuangannya, menegakkan agama tauhid dan menghancurkan kemusyrikan, juga akan mengangkat Yakub a.s. cucunya dari keturunan Ishak a.s. sebagai penerus perjuangan Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Mereka itu semuanya tunduk di bawah tuntunan wahyu, hikmah dan ilmu Allah untuk meneruskan tegaknya agama tauhid.
Nabi Ishak a.s. putranya, disebutkan secara tersendiri dalam ayat ini adalah karena adanya suatu hal yang menarik perhatian, yang termasuk ke dalam tanda tanda kekuasaan Allah juga karena dialah putranya yang dilahirkan setelah Nabi Ibrahim lanjut usianya, sedang Sarah istrinya sudah lama tidak pernah punya anak dan sudah merasa tipis harapan untuk punya anak, seperti diterangkan dalam firman Allah:

قَالَتْ يَاوَيْلَتَى ءَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ(72)
Artinya:
Istrinya berkata, "Sungguh mengherankan apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua dan ini suamikupun dalam keadaan sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh".
(Q.S Hud: 72)
Ini adalah merupakan anugerah Allah baginya atas kekuatan imannya dan tekunnya berbuat kebaikan serta ketabahannya menghadapi beberapa cobaan Allah.
Hidayah yang diterima oleh Ibrahim a.s dan keturunan-keturunannya yang saleh itu adalah nikmat Allah yang juga pernah diberikan kepada Nabi Nuh a.s. sebelumnya.
Sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. memperoleh nikmat yang berupa hidayah, seperti neneknya Nabi Nuh a.s. begitu pula Allah menjanjikan, bahwa keturunan-keturunannya yang salehpun akan memperoleh hidayah seperti dia.
Disebutkan Nabi Nuh a.s. di sini agar manusia dapat memahami bahwa tidak selalu hamba-hamba Allah yang saleh akan menurunkan putra-putra yang
saleh pula, seperti Nabi Nuh a.s. Beliau seorang Nabi yang saleh, akan tetapi putranya seorang yang sesat. tenggelam bersama orang-orang kafir karena tidak mau mematuhi perintah ayahnya. Hal itu adalah kebalikan dari Nabi Ibrahim a.s. ayahnya seorang pemuja patung tetapi dia sendiri hanif, berserah diri kepada Allah.
Di antara keturunan-keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang saleh lainnya disebutkan dalam ayat ini ialah Daud a.s. putra Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa dan Harun a.s. Kesemuanya ini di samping diberi derajat kenabian juga diberi kedudukan yang tinggi memegang tampuk pimpinan kaumnya. Daud dan Sulaiman a.s. menjadi raja memegang pimpinan yang terkenal kehalusan budinya, Yusuf a.s. menjadi menteri yang dapat menguasai dan mengatasi kesulitan-kesulitan rakyat, sedang Musa dan Harun a.s. meskipun tidak menjadi raja tetapi diberikan pimpinan dan menyelamatkan kaumnya dari penindasan yang kejam.
Pada akhir ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada mereka yang berbuat baik, yaitu mereka yang selalu berpedoman kepada tuntunan Allah dan berpegang kepada kebenaran.


85 dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh,(QS. 6:85)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 85
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (85)
Kemudian dari pada itu, Allah swt. menjelaskan orang-orang yang diberi petunjuk. Hal ini sebagai perluasan dari pada ayat yang lalu, yaitu menerangkan macam-macam nikmat yang telah diberikan kepada keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang saleh. Mereka itu berjuang membela tauhid dan menghancurkan kemusyrikan. Mereka itu ialah Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas a.s. yang lebih mementingkan kehidupan akhirat dari pada kehidupan dunia, sehingga mereka mempunyai keistimewaan yaitu disebutkan bahwa mereka adalah hamba-hamba-Nya yang saleh. Mereka itu memang selayaknya diberi sebutan yang demikian, meskipun Nabi-nabi yang lain diberi pula gelar saleh dan terkenal kebaikannya.


86 dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),(QS. 6:86)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 86
وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ (86)
Sesudah itu Allah swt. menyebutkan keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang diberi Allah hidayah dan kenabian, yaitu Ismail, Ilyasa', Yunus dan Lut a.s. Mereka ini bukanlah terkenal karena kekuasaannya ataupun karena kezuhudannya, akan tetapi mereka ini mempunyai kelebihan dari pada kaumnya lantaran karunia yang diberikan oleh Allah swt. Mereka membela tauhid dan memberantas kemusyrikan serta berperangai utama yang patut dicontoh oleh manusia.
Mereka ini ada yang diutus bersama-sama dengan Nabi yang lain seperti Nabi Lut a.s. semasa dengan Nabi Ibrahim a.s dan Ismail a.s. semasa dengan Ishak a.s. maka dalam hal ini mereka itu secara bersama-sama memiliki keutamaan, meskipun pada hakikatnya yang seorang memiliki keutamaan yang lebih dari yang lain.
Akan tetapi apabila mereka itu diutus secara sendiri-sendiri, maka ia mempunyai keutamaan yang lebih dari kaumnya.


87 dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.(QS. 6:87)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 87
وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (87)
Kemudian dan pada itu, Allah swt. menegaskan bahwa Dia memberikan keutamaan kepada keluarga Nabi Ibrahim a.s. baik dari garis keturunannya ke alas ke bawah maupun ke samping.
Ayat ini merupakan penegasan dari ayat-ayat yang lalu yaitu keutamaan-keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada nenek moyang Nabi Ibrahim, yaitu Nuh a.s dan keturunannya yaitu Ishak. Yakub, Daud, Sulaiman, Ayub, Yunus, Musa dan Harun a.s.
Di samping itu Allah swt. menjelaskan pula bahwa Dia memberikan keutamaan juga kepada keluarganya ke samping yaitu anak saudara Nabi Ibrahim a.s. yang membantu Nabi Ibrahim a.s. dalam memperjuangkan tauhid, yang ikut bersamanya hijrah ke negeri Syam, yaitu Lut yang kemudian diutus ke negeri Sodom. Mereka diberi limpahan oleh Allah swt. dengan karunia hidayah, sehingga dapat mencapai kemuliaan yang tidak ternilai dan terpimpin ke jalan yang lurus, jalan yang menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 87
وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (87)
(Dan Kami lebihkan pula derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka) diathafkan pada Lafal kullan atau nuuhan; dan makna min di sini menunjukkan littab'idh, sebab sebagian dari mereka ada yang tidak mempunyai anak, dan sebagian lainnya ada yang mempunyai anak hanya saja kafir. (Dan Kami memilih mereka) Kami menyeleksi mereka (dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus).


88 Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.(QS. 6:88)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 88
ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (88)
Dan Allah swt. menegaskan bahwa petunjuk yang diterima oleh mereka itu ialah petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul, sebagai taufik dari pada Allah yang menuntun mereka ke jalan yang hak dan yang diridai oleh-Nya. Hidayah yang demikian itu diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya menurut kehendak-Nya.
Dengan hidayah itulah mereka membela tauhid dan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya secara ikhlas serta memberantas penyembahan berhala-berhala dan pemujaan bintang-bintang. Hidayah yang diterima itu adalah hidayah yang tidak dapat diusahakan oleh manusia, bukan hidayah yang dapat dicapai manusia yang mempunyai bakat-bakat untuk itu, seperti hidayah-hidayah yang dicapai manusia biasa. Hidayah ini hanya dicapai oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah.
Pada akhir ayat ini Allah swt. memberikan peringatan kepada orang-orang yang beriman dan berjalan di bawah naungan hidayah-Nya bahwa apabila mereka itu menyeleweng dari agama tauhid dan menyembah sembahan lain, niscaya Allah akan menghapuskan segala amal perbuatan yang mereka lakukan.
Meskipun tauhid itu menyucikan jiwa, namun apabila kesucian jiwa itu dinodai oleh syirik, betapapun juga kecilnya, maka hilanglah kesucian jiwa itu dan lenyap pulalah hasil usaha yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)
Artinya:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
(Q.S Az Zumar: 65)


89 Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmat dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya.(QS. 6:89)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 89
أُولَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا هَؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ (89)
Dalam pada itu Allah swt. memberikan penegasan sekali lagi, bahwa Nabi-nabi yang berjumlah 18 orang itu akan mendapat hidayah Allah yang dijadikan sebagai pedoman dalam memimpin kaumnya masing-masing.
Di antara mereka ada yang diberi Al Kitab yang memuat pedoman-pedoman hidup di dalam memimpin kaumnya ke jalan yang benar serta kemampuan dalam memutus perkara-perkara yang terjadi di antara kaumnya, seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Daud a.s. yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ(83)
Artinya:
(Ibrahim berdoa), "Ya Tuhanku! Berilah aku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh".
(Q.S Asy Syu'ara: 83)
Firman Allah:

فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ(21)
Artinya:
Kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikan Aku salah seorang di antara Rasul-rasul.
(Q.S Asy Syu'ara': 21)
Firman Allah:

يَادَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ
Artinya:
Hai Daud! Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.
(Q.S Sad: 26)
Di antara mereka ada yang diberi hikmah dan nubuwah untuk menghakimi manusia, yaitu mereka yang diutus sezaman dengan Nabi Musa a.s. atau sesudahnya, sebelum kedatangan Nabi Isa, seperti Harun, Zakaria dan Yahya a.s.
Di antara mereka ada yang diberi hikmah di kala masih kecil seperti Yahya a.s. firman Allah:

يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَءَاتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا(12)
Artinya:
Hai Yahya! Ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.
(Q.S Maryam: 12)
Para Nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat yang baru lalu, di samping kedudukannya sebagai Nabi, juga diberi keistimewaan yang berbeda-beda. Mereka itu dapat dikelompokkan dalam tiga golongan:
1 Ada yang di samping diangkat sebagai Nabi, memegang pula tampuk pimpinan, menjadi hakim yang adil, seperti Nabi Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf dan Harun a.s.
2 Ada pula yang di samping kedudukannya sebagai Nabi, juga terkenal ketekunannya untuk mengutamakan kepentingan akhirat dari kepentingan dunia, seperti Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas a.s.
3 Ada pula yang di samping tugasnya sebagai Nabi, juga diberi keistimewaan yang melebihi Nabi-nabi yang diutus sezamannya, seperti Ismail, Ilyasa' dan Lut a.s.
Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa tiap-tiap Nabi yang diberi Al Kitab tentu diberi pula hikmah sebagai senjata untuk memutuskan perkara di samping diberi nubuwah. Akan tetapi tidak semua Nabi diberi kekuasaan memutus perkara dan diberi Al Kitab.
Dalam pada itu Allah swt. menegaskan bahwa apabila orang-orang musyrik penduduk Mekah dan orang-orang yang mempunyai sifat yang sama, mengingkari Kitab, hukum dan nubuwah yang diberikan kepada para Nabi itu, maka Allah swt. akan menyerahkan derajat kemuliaan yang dijanjikan itu kepada umat lain yang tidak mengingkari apa yang disampaikan oleh Nabi itu.
Dimaksudkan dengan orang-orang yang mengingkari keutamaan para Nabi ialah orang kafir penduduk Mekah, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak mengingkari ialah penduduk Madinah.


90 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah:` Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al quran) `. Al quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.(QS. 6:90)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 90
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ (90)
Sesudah itu Allah swt. menjelaskan kepada Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya, bahwa Nabi Ibrahim a.s dan keturunan-keturunannya yang mendapat keutamaan, adalah karena mendapat petunjuk Allah ke jalan yang lurus. Dan Allah memerintahkan kepadanya pula agar mengikuti jejak mereka, memegang agama tauhid, berakhlak mulia dan melakukan perbuatan yang diridai Allah, serta menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang utama yaitu sabar dalam menjalankan tugas dan tabah menghadapi tipu muslihat serta tantangan kaumnya.
Firman Allah swt.:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
Artinya:
Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya dapat Kami teguhkan hatimu.
(Q.S Hud: 120)
Dan firman Allah pula:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا
Artinya:
Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.
(Q.S Al An'am: 34)
Dengan demikian maka syariat yang berlaku bagi Nabi-nabi sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. adalah juga merupakan syariat bagi umat Islam, selama belum dicabut, diubah ataupun diganti dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Sedangkan yang abadi dan mempunyai kesamaan adalah agama tauhid yang tidak berubah sepanjang zaman sedangkan syariat-syariat dari masing-masing itu dapat berubah-ubah sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan, menurut kehendak Allah.
Nabi Muhammad mempunyai derajat yang tertinggi di antara para Nabi dan Rasul, karena beliau di samping diberi kenabian juga diberi mukjizat yang abadi yaitu Alquran, yang juga membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan karena syariatnya berlaku terus sampai akhir zaman.
Kemudian Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa dia dalam menyampaikan wahyu dan menegakkan kebenaran, tidak mengharapkan sedikitpun upah dari umatnya sebagaimana juga Nabi-nabi yang lalu.
Nabi Muhammad saw. dan Nabi-nabi sebelumnya dalam menyampaikan wahyu dan menegakkan kebenaran hanyalah semata-mata mengharapkan rida Allah, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
Artinya:
Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.
(Q.S Asy Syura: 23)
Pada akhir ayat ini Allah swt. memberikan penegasan bahwa Alquran itu adalah untuk seluruh umat manusia. Ayat ini memberikan isyarat bahwa Nabi Muhammad saw. tidaklah diutus untuk orang Mekah atau Madinah saja, akan tetapi diutus untuk segala umat manusia di seluruh alam untuk membimbing mereka ke jalan yang benar bebas dari kesesatan.


91 Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata:` Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia `. Katakanlah:` Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran yang bercerai-cerai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)? `. Katakanlah:` Allah-lah (yang menurunkannya) `, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.(QS. 6:91)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 91
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ (91)
Allah swt. menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi telah menyimpang dari agama tauhid dan tidak mengikuti ajaran agama mereka dan telah mengkhianatinya. Gejala-gejala itu nampak pada sikap mereka. Mereka tidak menghormati keagungan Allah dengan penghormatan yang seharusnya diberikan. Mereka mengatakan bahwa Allah swt. tidak menurunkan kitab kepada seorang manusia. Perkataan mereka adalah bukti dari keingkaran mereka kepada Alquran. Hal ini berarti mereka tidak mengakui bahwa Allah berkuasa memberikan hidayah kepada manusia selain mereka, untuk kemaslahatan manusia sesuai dengan kehendak-Nya.
Keingkaran mereka terhadap Alquran itu bukanlah timbul dari pikiran yang jernih dan bukan pula mereka dapati keterangannya dari kitab-kitab yang diturunkan sebelum Alquran akan tetapi keingkaran mereka itu adalah keingkaran yang tidak pada tempatnya. Sebab itulah maka Allah swt. memerintahkan kepada Muhammad saw. agar menerangkan kepada kaumnya yang ingkar itu, supaya mereka ingat bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Musa a.s. Dengan kitab itulah Nabi Musa membawa kaumnya kepada agama tauhid dan terhindar dari kemusyrikan.
Sesudah itu Allah swt. mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh Bani Israel yang telah menyimpang dari kitab Taurat dan Injil. Mereka menyampaikan kitab-kitab itu tidak seutuhnya, ada bagian-bagian yang disampaikan dan ada bagian-bagian yang tidak, sehingga timbullah perbedaan paham di kalangan mereka. Sebabnya tiada lain hanyalah, karena mereka dipengaruhi oleh pemujaan pemimpin yang menyuruh mereka memperturutkan hawa nafsu, bahkan dalam hal menyelesaikan persengketaan, mereka menampakkan hukum-hukum yang terdapat dalam Taurat itu apabila hukum itu bersesuaian dengan keinginan mereka, akan tetapi apabila hukum itu bertentangan dengan kehendaknya, hukum itu ditinggalkan. Di antara ketetapan hukum yang mereka sembunyikan itu ialah hukum rajam dan berita tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.
Maksud pengungkapan kejahatan nenek moyang mereka ialah untuk mengetuk hati mereka, agar mereka dapat menilai kenyataan yang sebenarnya dan mengakui kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Dalam pada itu Allah swt. menyerahkan kepada orang-orang musyrik agar menerima ajaran wahyu yang disampaikan Allah kepada Muhammad saw. Kitab itu mengandung ajaran yang membukakan tabir rahasia yang tidak diketahui oleh mereka sendiri dan oleh nenek moyang mereka.
Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menyatakan bahwa perkataan mereka orang-orang Yahudi itu bahwa Allah tidak menurunkan kitab kepada manusia adalah tidak benar dan menyuruhnya menanyakan kepada mereka, siapakah yang menurunkan Taurat kepada Musa a.s. Pernyataan yang tegas ini merupakan tantangan bagi perkataan mereka.
Pada akhir ayat ini Allah swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya bahwa setelah mereka mendapat keterangan-keterangan yang telah terbukti kebenarannya itu tetapi mereka masih tetap tidak mau menyadari dan tidak mau percaya juga akan kebenaran Alquran, supaya membiarkan mereka ditelan arus kebatilan dan kekafiran.


92 Dan ini (Al quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepada (Al quran), dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.(QS. 6:92)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 92
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (92)
Sesudah itu Allah swt. menjelaskan bahwa Alquran itu adalah kitab yang bernilai tinggi, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. penutup para Rasul. Kitab itu turun dari Allah seperti halnya Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s. Hanya saja Alquran itu mempunyai nilai-nilai yang lebih sempurna karena Alquran itu berlaku abadi untuk sepanjang masa. Alquran itu di samping sebagai petunjuk juga sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dalam urusan tauhid, melenyapkan kemusyrikan dan mengandung ajaran-ajaran pokok hukum syarak yang abadi yang tidak berubah ubah sepanjang masa.
Juga sebagai pegangan bagi Rasulullah saw. untuk memperingatkan umatnya, baik yang berada di Mekah atau di sekitar kota Mekah, ialah orang-orang yang berada di seluruh penjuru bumi ini. Dimaksud dengan orang-orang yang berada di sekitar kota Mekah, ialah orang-orang yang berada di seluruh penjuru bumi, sesuai dengan pemahaman bahasa dan pengertian ini ditegaskan sendiri oleh Allah swt.:

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ
Artinya:
Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya).
(Q.S Al An'am: 19)
Juga firman Allah swt.:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Artinya:
Katakanlah, "Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.
(Q.S Al A'raf: 158)
Dan sabda Nabi saw:

وكان النبى يبعث إلى قومه خاصة وبعثت الى الناس عامة
Artinya:
Semua nabi itu diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.
(HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah (Sahih Bukhari jilid 1, 70)
Dalam pada itu Allah swt. menjelaskan bahwa orang-orang yang percaya akan terjadinya hari kiamat dan kehidupan di akhirat, sudah pasti mereka percaya kepada Alquran, karena orang-orang yang percaya kepada kehidupan akhirat itu percaya pula akan akibat yang diterima pada hari itu. Itulah sebabnya maka mereka selalu mencari petunjuk-petunjuk yang dapat menyelamatkan diri mereka di akhirat kelak. Petunjuk-petunjuk itu terdapat dalam Alquran, maka mereka tentu akan mempercayai Alquran itu, percaya pada Rasulullah saw. yang menerima kitab itu dan taat kepada perintah-Nya, melaksanakan salat pada waktunya secara terus menerus.
Disebutkan salat dalam ayat ini, karena salat itu adalah tiang agama dan pokok dari semua ibadah. Orang yang melaksanakan salat dengan sebaik-baiknya adalah pertanda bahwa orang itu suka melaksanakan ibadah lainnya serta dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan larangan larangan Allah.
Dalam ayat ini terdapat sindiran yang tegas yaitu adanya keingkaran penduduk Mekah dan manusia-manusia yang mempunyai sikap seperti mereka kepada Alquran dan menjelaskan bahwa mereka tidak mau menerima agama Islam dan kerasulan Muhammad saw. adalah karena mereka tidak percaya kepada kehidupan akhirat. Mereka merasa bahwa kehidupan hanya terjadi di dunia saja.


93 Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata:` Telah diwahyukan kepada saya `, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata:` Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah `. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):` Keluarkanlah nyawamu `. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.(QS. 6:93)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 93
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ (93)
Allah menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa tidak ada orang yang lebih zalim dari orang-orang Yahudi yang mengingkari kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Muhammad saw. Perkataan mereka telah mengkhianati ajaran agama tauhid. Begitu juga perkataan mereka yang mengaku menerima wahyu dari Allah, seperti Musailamah Al Kazzab di Yamamah, Al Aswad Al `Ansy di Yaman, Tulaihah Al Asady dari Bani Asad dan sebagainya dan orang-orang yang mengaku dirinya mampu membuat kitab seperti Alquran.
Firman Allah ini mengandung sindiran halus bagi para pendeta Yahudi yang dipuja-puja oleh pengikut-pengikutnya karena mereka itu mengaku mendapat wahyu dari Allah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang sukar dipahami dari At Taurat. Menurut kenyataan, mereka inilah yang selalu memusuhi Muhammad saw.
Juga mengandung sindiran kepada sastrawan-sastrawan Arab yang merasa mampu menyusun kitab-kitab yang dapat menyamai Alquran seperti firman Allah swt.:

لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَذَا
Artinya:
Kalau kami menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini.
(Q.S Al Anfal: 31)
Dalam pada itu Allah swt. menyebutkan siksaan ancaman yang akan diterima oleh orang-orang yang zalim itu, di kala mereka menghembuskan nafas yang terakhir, sebagai imbalan kejahatan dan dosa yang mereka lakukan. Alangkah dahsyatnya seandainya Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin melihat penderitaan yang diderita oleh orang-orang yang jahat itu pada waktu mereka menghadapi tekanan penderitaan sakaratul maut, yaitu penderitaan yang akan mereka alami menjelang kematian yang tidak terlukiskan kedahsyatannya itu. Pada waktu itu malaikat maut telah mengulurkan tangannya untuk merenggut nyawa mereka yang bergelimang dengan dosa itu, dengan renggutan yang keras.
Allah menggambarkan saat-saat yang dahsyat itu dengan nada mencela mereka. Malaikat seakan-akan berkata, "Kalau memang kamu merasa mampu, lepaskanlah nyawamu dari badanmu supaya terhindar dari renggutan ini." Perintah ini tidak akan dapat mereka lakukan, karena masalah ini di luar kemampuan mereka. Pada saat itu mereka tidak dapat menghindarkan diri dari siksa yang pedih dan menghinakan karena mereka telah berani memutar balikkan kebenaran dan berkata dusta dan karena sikap mereka yang congkak dan sombong terhadap ayat-ayat Allah seperti perkataan mereka bahwa mereka mampu menurunkan kitab seperti Alquran.
Dalam ayat ini terdapat bandingan yang jelas antara ketidak mampuan mereka untuk membuat kitab semacam Alquran dengan ketidak mampuan mereka menghindarkan diri dari renggutan malaikat maut. Maksudnya agar mereka dapat menyadari bahwa apa yang mereka katakan itu sebenarnya hanya dusta belaka, sedang Alquran adalah datang dari Allah kepada Muhammad saw. yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun.


94 Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).(QS. 6:94)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 94
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ وَمَا نَرَى مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (94)
Kemudian dari pada itu Allah swt. menjelaskan nasib mereka di hari kiamat. Mereka itu datang menghadap Allah sendiri-sendiri dengan tidak membawa harta benda, anak dan pangkat, terlepas dari kebanggaan, dukungan dan kedudukan duniawi. Berhala-berhala yang dikira dapat memberikan syafaat, tidak ada gunanya sama sekali. Keadaan mereka seperti diciptakan pada pertama kalinya, pada waktu mereka berada dalam kandungan ibu, seperti dijelaskan dalam hadis:

أيها الناس إنكم تحشرون إلى الله حفاة عراة عزلا كما بدأنا أول خلق نعيده وعدا علينا إنا كنا فاعلين
Artinya:
Wahai manusia! Sebenarnya kamu akan dikumpulkan ke hadirat Allah di padang Mahsyar dalam keadaan tidak bersepatu. tidak berpakaian dan tidak berkhitan sebagaimana kami memulai penciptaan pertama kali, begitulah kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati bahwa Kami benar-benar akan melaksanakannya".
(HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas)
Mereka telah tinggalkan di dunia apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka yang menjadi kebanggaan mereka, yaitu harta benda, anak, istri dun kedudukan yang menyebabkan mereka congkak dan tidak mau beriman kepada Rasul-rasul. Semuanya itu tidak dapat menolong mereka dari siksa Allah di akhirat.
Allah swt. menjelaskan bahwa Dia tidak akan memuliakan apa. saja yang mereka anggap dapat memberi syafaat, baik berupa berhala-berhala yang mereka persekutukan dengan Allah atau pendeta-pendeta mereka yang mereka anggap sebagai perantara yang dapat menghubungkan doa mereka kepada Allah. Tegasnya pada hari itu tidak dipedulikan syafaat dan tebusan, masing-masing orang bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri-sendiri. Pada hari itu masing-masing manusia terpisah dari segala sesuatu yang biasanya menjadi kebanggaan mereka di dunia.
Putuslah harapan mereka karena apa yang. mereka duga tak kunjung tiba. Syafaat dan tebusan yang mereka duga akan dapat menolong mereka, sedikitpun tidak memenuhi harapan mereka.


95 Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?(QS. 6:95)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 95
إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذَلِكُمُ اللَّهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (95)
Allah swt. menjelaskan bahwa semua kehidupan terjadi karena adanya Pencipta kehidupan itu, yaitu Allah SWT. Allah swt. mengembang biakkan segala macam tumbuh-tumbuhan dari benih-benih kehidupan, baik yang berbentuk butiran-butiran ataupun biji-bijian. Diwujudkan demikian adalah dengan maksud supaya mudah dipahami oleh manusia, sesuai dengan pengetahuan mereka secara umum; termasuk pula segala jenis kehidupan yang oleh ilmu pengetahuan digolongkan pada tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak dengan spora atau dengan pembelahan sel yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang tertentu. Kesemuanya itu berkembang biak menurut hukum sebab dan akibat yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Dalam pada itu Allah swt. menjelaskan kelangsungan hidup serta perputarannya secara umum, yaitu bahwa Allah menciptakan segala macam kehidupan dari benda yang tidak bergerak, seperti menciptakan segala macam tumbuh-tumbuhan dari benih dan menciptakan binatang dan manusia dari nutfah. Dan selanjutnya Allah menciptakan benda-benda yang tidak bergerak dan makhluk hidup seperti menciptakan benih dari tumbuh-tumbuhan dan nutfah dari manusia dan binatang.
Pengertian ini adalah wajar dan mudah dipahami oleh manusia dalam alam kehidupan mereka sehari-hari. Walaupun ayat ini memberikan pengertian yang demikian, namun Allah berkuasa juga menciptakan sesuatu dari tidak ada. Selanjutnya benda-benda tersebut berkembang biak menurut hukum kelestarian, yaitu tiap-tiap unsur kehidupan diturunkan secara turun-temurun. Hal ini berlangsung terus sesuai dengan hukum kodrat. Sesudah makhluk hidup itu diciptakan, ia hidup dan mati, kemudian kembali menjadi asalnya.
Pada akhir ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa yang menciptakan segala galanya ialah mempunyai sifat yang Maha Sempurna yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas dan mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi yaitu Allah. Dengan demikian maka Allah lah yang seharusnya disembah, tidak boleh disekutukan dengan yang lain.
Kemudian Allah mencela orang-orang musyrik, mengapa mereka itu menyimpang dari ibadah yang benar yaitu menyimpang dari agama tauhid menuju penyembahan tuhan selain Allah, padahal kalau mereka mau memperhatikan kejadian alam semesta ini, niscaya mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka itu adalah perbuatan yang tidak benar.


96 Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(QS. 6:96)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 96
فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (96)
Sesudah itu Allah swt. menyuruh manusia agar supaya memperhatikan perputaran waktu yang disebabkan oleh peredaran benda-benda langit yang berlaku menurut hukum sebab dan akibat pula. Allah SWT mengajak manusia memperhatikan alam terbuka yang dapat dilihat sehari-hari. Allah menyingsingkan cahaya pagi yang menghapus kegelapan malam. Cahaya itu tampak di ufuk langit bagian timur sesudah terbitnya matahari sehingga dunia tampak bercahaya terang. Keadaan ini mereka alami di saat-saat mereka melakukan segala macam kegiatan untuk keperluan hidup mereka Dan sebagai kebalikan dari suasana tersebut Allah swt. mengajak manusia untuk memperhatikan keadaan malam yang pekat. Allah menciptakan malam untuk beristirahat setelah mereka penat karena bekerja di siang hari. Keadaan ini digambarkan sebagai suasana ketenangan. Suasana yang silih berganti antara siang dan malam suatu keadaan yang mempunyai persamaan dengan perputaran hidup, agar mereka mempunyai pandangan hidup yang lebih luas.
Selanjutnya Allah swt. menyebutkan sebab-sebab yang mengubah suasana siang menjadi malam yaitu matahari yang beredar menurut waktu-waktu yang telah ditentukan. Dan sebagai bandingannya disebutkan bulan yang tampak cemerlang di waktu malam, baik matahari ataupun bulan beredar di angkasa raya menurut garis edarnya secara teratur dan tertentu.
Allah menyebutkan matahari dan bulan karena kedua benda langit itulah yang paling menonjol di antara benda-benda langit yang lain, yang secara umum manusia dapat memahami secara mudah kapan matahari dan bulan itu terbit dan kapan benda langit itu terbenam, dengan maksud agar manusia dapat memahami bahwa tiap-tiap kehidupan didahului oleh tiada dan akan kembali kepada tiada. Mengenai peredaran matahari dan bulan ini Allah menjelaskan selanjutnya dengan firman Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ
Artinya:
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
(Q.S Yunus: 10)
Di dalam ayat ini, Allah swt. menyebutkan tiga macam nikmat Nya yang dapat dinikmati secara langsung oleh manusia yaitu nikmat yang diperoleh mereka tanpa usaha; nikmat cahaya pagi, nikmat ketenangan malam dan nikmat sinar matahari dan bulan agar manusia secara menyeluruh dapat memahami rahmat Allah yang menyeluruh bagi semua makhluk Nya.
Pada akhir ayat Allah swt. menegaskan bahwa penciptaan yang sangat tinggi nilainya itu, adalah ketentuan Allah sesuai dengan keluasan ilmu Nya kebesaran kekuasaan dan ketinggian hikmah Nya.
Allah swt. berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ(49)
Artinya:
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala -sesuatu menurut ukuran".
(Q.S Al Qamar: 49)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 96
فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (96)
(Dia menyingsingkan pagi) mashdar yang bermakna isim yakni subuh atau pagi hari; artinya Allahlah yang menyingsingkan sinar pagi, yaitu cahaya yang tampak di permulaan pagi hari mengusir kegelapan malam hari (dan menjadikan malam untuk beristirahat) waktu semua makhluk beristirahat dari kepenatannya (dan menjadikan matahari dan bulan) dibaca nashab diathafkan kepada Lafal lail secara makna (untuk perhitungan) untuk ukuran perhitungan waktu; atau dengan tanpa huruf ba atau hisaaban, maka menjadi hal bagi Lafal yang tersimpan. Artinya matahari dan bulan itu beredar menurut perhitungannya sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat surah Ar-Rahman. (Itulah) yang telah tersebut itu (ketentuan Allah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) seluk-beluk makhluk-Nya.


97 Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.(QS. 6:97)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 97
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (97)
"Sesudah itu Allah swt. memberikan penjelasan tentang kegunaan benda-benda langit lainnya, yaitu benda-benda langit selain matahari dan bulan, yang terkenal dengan bintang-bintang itu digunakan oleh manusia sebagai penunjuk waktu, musim serta arah di waktu malam. Bintang dijadikan sebagai penunjuk waktu ialah dengan jalan melihat terbit dan tenggelamnya kelompok kelompok bintang itu yang keseluruhannya ada 12: Ham al (Aries), Saur (Taurus), Jauza', Tauaman (Gemini) Sarathan (Cancer), Asad-(Leo), Sumbulah (Virgo), Mizan (Libra), Aqrab (Scorpio), Qaus (Sagitarius), Jadyu (Copricornus), Dalwu (Aquarius), dan Hut (Pisces); sebagai tanda waktu, diambil sebagai pedoman bahwa pada tanggal 21 Maret tiap-tiap tahun matahari bersama-sama tenggelam dengan Aries pada jam 6.00 sore (18.oo). Dan seterusnya tiap-tiap bintang itu tenggelam lebih dahulu dari matahari sekitar derajat atau 4 menit.
Yang dimaksud dengan bintang-bintang penunjuk waktu di sini ialah bintang bintang tetap (ficed stars) yaitu bintang-bintang yang bersinar sendiri dan mempunyai rasi (konstelasi) yang tetap; bukan bintang-bintang yang bergerak (planet, As Sayarat) karena bintang-bintang ini selalu berkelana di antara konstelasi-konstelasi bintang yang lain. Sebagai penunjuk musim, dapat diketahui dari kedudukan matahari di antara bintang-bintang tetap itu (manzie). Untuk mudahnya dapat dilihat pada saat matahari terbenam. Apabila Matahari terbenam bersama-sama dengan rasi Hamal (Aries), berarti saat itu tanggal 21 Maret musim semi sudah mulai tiba, sedangkan apabila matahari terbenam bersama-sama dengan Saratan (Cancer) saat itu tanggal 21 Juni; musim panas telah mulai tiba. Apabila matahari tenggelam bersama-sama dengan rasi Mizan
(Libra), berarti Saat itu tanggal 23 September; musim gugur mulai tiba; dan apabila matahari tenggelam bersama-sama rasi Jadyu (Capricornus) berarti saat itu tanggal 22 Desember, musim dingin sudah mulai tiba. Musim-musim ini berlaku bagi negeri-negeri di belahan bumi Utara Khatulistiwa, sedang untuk negeri-negeri di belahan bumi Selatan Khatulistiwa berlaku sebaliknya.
Bintang-bintang sebagai penunjuk arah yang biasa dipergunakan orang ialah bintang-bintang tetap di luar mantiqatul buruj (Zodiac) yaitu bintang salib selatan (A! Salibul Januby Crux) yaitu dengan jalan menarik garis lurus dari gamma cruxis ke alpha cruxis dan memotong ufuk. Titik perpotongan ialah titik selatan. Dan bintang biduk atau beruang besar (Ad Dubbul Akbar Ursa Mayor) yaitu dengan jalan menarik garis lurus dari beta ursae mayoris melalui alpha ursae mayoris dan memotong ufuk. Titik perpotongan itulah utara.
Dengan perhitungan secara teliti bintang-bintang juga dapat digunakan sebagai penunjuk arah kiblat, letak Kota Mekah persis di sebelah Selatan kota Madinah.
Bintang-bintang ini digunakan sebagai petunjuk waktu, musim dan arah di waktu malam, baik oleh manusia yang berada di daratan pada saat mereka berada di tengah padang pasir yang luas yang tidak dapat melihat lagi rambu-rambu laut ataupun rambu-rambu darat terkecuali sepanjang mata memandang hanyalah kolong langit yang berhimpit dengan bidang horizon.
Allah swt. menjelaskan kekuasaan Nya dalam menciptakan langit, bumi serta segala isinya dan segala macam bentuk kehidupan dan tata hukum yang berlaku untuknya secara terperinci, agar manusia dengan meneliti keagungan ciptaan Tuhan itu terbukalah pikirannya kepada keyakinan adanya Pencipta langit, bumi serta segala isinya serta kekuasaan yang dimiliki-Nya.
Pada akhir ayat ini Allah swt. menyebutkan bahwa penjelasan yang diberikan secara terperinci itu ditujukan kepada orang-orang yang mempunyai pikiran yang bersih dan terpelihara dari pengaruh-pengaruh hawa nafsu, yaitu orang orang yang meneliti benda-benda alam secara murni, terlepas dari tujuan-tujuan tertentu yang menjurus kepada kepentingan pribadi, golongan dan fanatik kebangsaan. Orang-orang yang meneliti benda-benda alam secara murni itulah yang akan dapat menemukan jawaban rahasia kejadian alam semesta yang mengantarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


98 Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.(QS. 6:98)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 98
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ (98)
Kemudian dan pada itu Allah swt. mengajak manusia untuk memikirkan kejadian diri mereka sendiri yaitu mereka diciptakan oleh Allah dari satu jenis. Penjelasan ini memberikan pengertian bahwa semua manusia yang terdiri dan berbagai bangsa dan suku, dengan beraneka ragam bentuk dan warna kulitnya, berpangkal satu asal yaitu dari Adam dan Hawa Mereka ini diciptakan oleh Allah dari satu jenis (dan tanah) seperti juga dijelaskan dalam firman Nya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
Artinya:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Allah menciptakan istrinya. Dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak".
(Q.S An Nisa': 1)
Penjelasan ini menjawab rahasia kejadian manusia yang banyak dibahas oleh ahli-ahli pikir, dan sebagai penegasan kepada manusia agar mereka jangan mengagungkan berhala dan bintang-bintang, akan tetapi hendaklah mereka beribadah hanya kepada Pencipta mereka sendiri-yaitu Allah yang Maha Esa dan Maha Ku asa; dan agar supaya mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan -kepada mereka, yaitu agar mereka hidup kenal mengenal dan tolong-menolong di antara sesama manusia karena mereka pada hakikatnya mempunyai martabat yang sama dan berasal dari jenis yang sama pula. Perbedaan kebangsaan suku, bentuk dan warna kulit janganlah dijadikan sebab untuk permusuhan dan kebencian, akan tetapi hendaklah dijadikan sebab untuk menjalin persaudaraan dan rasa syukur terhadap nikmat Allah Yang Maha Kuasa.
Kemudian Allah menjelaskan proses pengembangbiakan manusia, bahwa proses pengembangbiakan itu terjadi atas kuasa Allah pula. Manusia diciptakan dari sperma dan ovum. Sperma berasal dan laki-laki sedangkan ovum dari wanita. Sperma yang terpancar dari laki-laki membuahi ovum, yang dalam beberapa waktu lamanya berada dalam rahim wanita; sesudah melalui proses tertentu lahirlah seorang bayi. Sejak saat itulah bayi itu hidup di alam dunia sampai ajalnya tiba, kembali ke alam baka.
Penjelasan ini merupakan perluasan dari ayat-ayat yang lalu agar man usia mendapatkan penjelasan secara lebih terperinci, bahwa kekuasaan Allah tidak hanya berlaku pada benda-benda mati akan tetapi juga berlaku bagi makhluk makhluk yang hidup. Hal inipun dapat dipahami oleh orang-orang yang suka memahami.


99 Dan Dialah yang menurunkan air hujan dan langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.(QS. 6:99)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 99
وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (99)
Sesudah itu Allah swt. menjelaskan kejadian hal-hal yang menjadi kebutuhan manusia sehari-hari, agar mereka secara mudah dapat memahami kekuasaan, kebijaksanaan, serta pengetahuan Allah. Allah swt. menjelaskan bahwa Allah lah yang menurunkan hujan dari langit, yang menyebabkan tumbuhnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari berbagai ragam bentuk, macam dan rasa. seperti firman Allah:

يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ
Artinya:
Disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.
(Q.S 13 Ar Ra'd: 4)
Disebutkan hujan turun dari langit adalah menurut kebiasaan mereka. "Sama" atau langit digunakan untuk apa saja yang berada di atas: sedang yang dimaksud dengan sama' dalam ayat ini ialah "sahab" yang berarti awan seperti ditujukan dalam firman Allah:

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ(68)ءَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ(69)
Artinya:
Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan.
(Q.S Al Waqi'ah: 68-69)
Allah menjelaskan bahwa air itu sebagai sebab bagi tumbuhnya segala macam tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam bentuk jenis dan rasanya supaya manusia dapat mengetahui betapa kekuasaan Allah mengatur kehidupan tumbuh-tumbuhan itu. Manusia yang suka memperhatikan sikilas peredaran air akan dapat mengetahui betapa tingginya hukum-hukum Allah. Hukum Nya berlaku secara tetap dan berlangsung terus tanpa henti-hentinya, sampai tiba saat yang telah ditentukan.
Kemudian disebutkan pula perincian dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu; di antaranya ialah rerumputan yang tumbuh berumpun-rumpun sehingga kelihatan menghijau. Tumbuh-tumbuhan jenis ini mengeluarkan buah yang berbentuk butiran-butiran kecil yang terhimpun dalam sebuah tangkai seperti gandum, syair dan padi. Jenis yang lain dari tumbuh-tumbuhan itu ialah pohon palma yang mengeluarkan buah yang terhimpun dalam sebuah tandan yang menjulai rendah sehingga mudah dipetik.
Jenis yang lain lagi dan jenis tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu ialah anggur, zaitun, dan delima. Ketika jenis buah-buahan ini disebutkan secara beruntun, karena masing-masing ada yang mempunyai persamaan dan perbedaan, sifat, bentuk dan rasanya, sehingga ada yang berwarna kehitam-hitaman dan ada pula yang berwarna kehijau-hijauan; ada yang berdaun agak lebar, dan ada pula yang berdaun agak kecil; begitu pula ada yang rasanya manis dan ada yang asam.
Kesemuanya itu adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu.
Allah swt. memerintahkan kepada manusia agar memperhatikan tumbuh tumbuhan yang beraneka ragam itu pada saat berbuah bagaimana buah-buahan itu tersembul dan batang atau rantingnya, kemudian merekah sebagai bunga, setelah nampak buahnya, akhirnya menjadi buah yang sempurna (matang).
Pada akhir ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa dalam proses kejadian pembuahan itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang sangat teliti pengurusannya serta tinggi ilmu Nya. Tanda-tanda kekuasaan Allah itu menjadi bukti bagi orang yang beriman. Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa perhatian manusia pada segala macam tumbuh-tumbuhan hanya terbatas pada keadaan lahir sebagai bukti adanya kekuasaan Allah, tidak sampai mengungkap rahasia dari kekuasaan Allah terhadap penciptaan tumbuh-tumbuhan itu. Hal ini dapat diketahui dari kenyataan, bahwa kekuasaan Nya adalah menjadi bukti wujud Nya bagi orang yang beriman.


100 Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan):` Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.(QS. 6:100)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 100
وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ (100)
Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin menjadikan jin sekutu bagi Allah. Dikatakan demikian karena orang-orang musyrikin itu meskipun kenyataannya menyembah berhala-hala, namun pada hakikatnya mereka berbuat demikian itu lantaran menaati bisikan jin.
Allah SWT berfirman:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا(117)لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا(118)وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ ءَاذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا(119)
Artinya:
"Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka. Yang dilaknat Allah dan setan itu mengatakan: Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya). Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka sungguh-sungguh memotongnya, dan akan saya suruh mereka (merubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka merubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata".
(Q.S An Nisa': 117-119)
Allah swt. menjelaskan kesalahan perbuatan mereka karena mereka sebenarnya telah mengetahui bahwa yang menciptakan jin-jin itu ialah Allah SWT. Itulah sebabnya maka perbuatan mereka itu dicela. Celaan Allah terhadap mereka itu adalah seperti celaan Ibrahim as terhadap kaumnya, Allah swt. berfirman:

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ(95)وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ(96)
Artinya:
"Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu"
(Q.S As Saffat: 95-96)
Dan Allah mencela perbuatan mereka pula, karena mereka telah berbohong dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak laki-laki adalah seperti tuduhan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Allah swt. berfirman

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ
Artinya:
"Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu putra Allah dan orang-orang Nasrani berkata, "Al masih itu putra Allah".
(Q.S At Taubah: 30)
Sedangkan tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak perempuan diterangkan dalam firman Allah:
فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ(149)أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثًا وَهُمْ شَاهِدُونَ(150)أَلَا إِنَّهُمْ مِنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ(151)وَلَدَ اللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ(152)
Artinya
"Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah), apakah untuk Tuhanmu anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki? Atau apakah Kami menciptakan Malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikannya?" Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan, "Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdusta.
(Q.S As Saffat: 149-152)
Mereka melemparkan tuduhan itu dengan tidak mempunyai alasan sedikitpun, melainkan hanyalah merupakan tuduhan yang membabi buta. Bahkan perkataan mereka menunjukkan kebodohan mereka sendiri atau semata-mata menuruti hawa nafsu.
Di akhir ayat ini Allah swt. membersihkan diri Nya dari tuduhan-tuduhan mereka, bahwa Dia Maha Suci dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan, yaitu bahwa Allah tidak mempunyai syarikat dan tidak mempunyai anak.


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH AL AN'AAM>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar