Sabtu, 31 Maret 2012

AL-A'RAAF 81 - 91

Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=5&SuratKe=7#Top

81 Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.(QS. 7:81)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 81
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81)
Ayat ini kelanjutan dari ayat 80 menerangkan bahwa Nabi Lut menegaskan kepada kaumnya bahwa sesungguhnya mereka melakukan homoseksual, perbuatan bukan saja bertentangan dengan fitrah manusia malahan ia adalah pemutusan pembiakan manusia. Perbuatan homosexuil hanya bertujuan pelepasan nafsu birahi semata karena pelakunya lebih rendah dari tingkatan hewan. Hewan masih memerlukan jenis kelamin lain untuk memuaskan nafsu birahinya dan keinginan mempunyai keturunan. Misalnya binatang yang merayap dan yang terbang memulai kehidupannya dengan suami istri untuk bersama-sama membuat sarang di atas pohon dan yang merayap mencari tempat di lubang-lubang. Sedangkan kelakuan homosex tidak mempunyai maksud demikian itu selain melampiaskan nafsu birahi semata.
Dengan bersemangat Nabi Lut mengutuk dan mencemoohkan tingkah laku mereka. Pada akhir ayat ini diutarakan bahwa Nabi Lut selalu mengakhiri ucapannya dengan kata-kata: "Tetapi wahai kaumku, kamu adalah benar-benar golongan orang-orang yang melampaui batas." Disebabkan kamu meninggalkan fitrah manusia dan akal yang sehat, sehingga kamu tidak memikirkan akibat buruk yang memutuskan keturunan dan merusak kesehatan serta melanggar peradaban. Kaum Lut ini jika mereka masih berada di atas fitrah dan pikiran yang sehat serta mempunyai akhlak yang tinggi tentulah mereka menjauhi pekerjaan yang buruk dan terkutuk itu berulang-ulang kali dikemukakan meskipun dengan tutur kata yang berlainan sebagaimana diketahui dari firman Allah yaitu:

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Artinya:
Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).
(Q.S An Naml: 55)
Dan juga firman Allah pada ayat-ayat yang lain yaitu:

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ
Artinya:
Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?
(Q.S Al Ankabut: 29)

82 Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan:` Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. `(QS. 7:82)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 82
وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (82)
Ayat ini menerangkan sambutan kaum Lut terhadap kecaman dan nasihat-nasihat yang dikemukakan olehnya yang disertai dengan alasan-alasan yang tepat dan tidak dapat dibantah. Namun demikian mereka tetap menolak kebenaran. Beberapa pemuka mereka mengeluarkan perintah supaya Nabi Lut beserta orang-orang yang beriman kepadanya diusir dari kampung halaman mereka dengan alasan bahwa Nabi Lut, dan orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang bersih-bersih dan tidak patut berkumpul dengan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rusak dan kotor. Oleh karena itu sebaiknya Nabi Lut dan pengikutnya tidak sekampung dengan mereka, karena antara mereka dengan Nabi Lut terdapat perbedaan-perbedaan dalam budi pekerti. Mereka berbuat perbuatan-perbuatan yang keji dengan bangga, sedang Nabi Lut beserta orang-orang yang beriman adalah orang-otang yang membersihkan diri dari perbuatan terkutuk itu. Sambil mengejek, mereka menghendaki supaya Nabi Lut dengan pengikutnya diusir dengan demikian mereka tetap dapat berbuat secara bebas tanpa ada yang mengganggu mereka.
Alangkah rendahnya tingkah laku kaum Lut itu tanpa malu-malu mereka berbangga melakukan perbuatan maksiat yang berbentuk kutukan seraya menghina orang-orang yang berbudi pekerti luhur. Hanya manusia yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudianlah yang dapat jatuh ke dalam martabat yang rendah ini.

83 Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).(QS. 7:83)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 83
فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (83)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Lut, beserta orang yang beriman kepada-Nya kecuali istrinya karena ia tidak beriman kepada Nabi Lut malahan mengkhianatinya. Istrinya berpihak kepada kaum Lut yang kafir. Karena itu ia tergolong ke dalam kaum Lut yang mendapat azab pula di akhirat nanti. Ayat ini menunjukkan sebelum azab diturunkan oleh Allah kepada kaum Lut, lebih dahulu Allah memerintahkan Nabi Lut supaya dia bersama-sama pengikutnya yang beriman meninggalkan negerinya sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

قَالُوا يَالُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
Artinya:
Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat."
(Q.S Hud: 81)
Dan firman-Nya:

فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ وَامْضُوا حَيْثُ تُؤْمَرُونَ
Artinya:
Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang, dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.
(Q.S Al Hijr: 65)
Dan firman-Nya:

فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ(35)فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ(36)وَتَرَكْنَا فِيهَا ءَايَةً لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ(37)
Artinya:
Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.
(Q.S Az Zariyat: 35-37)  

84 Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.(QS. 7:84)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 84
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (84)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah membinasakan kaum Lut dengan batu yang terkenal dengan batu "batu sijjil" diturunkan dari langit laksana hujan sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ
Artinya:
Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.
(Q.S Al Hijr: 74)
Dan firman Allah:

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
Artinya:
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.
(Q.S Hud: 82)
Tidak ada seorang ahli tafsir pun yang menentukan kaifiyat dan cara-cara batu-batu itu terkumpul dari bumi diangkat ke atas, kemudian turun berjatuhan seperti hujan. Demikianlah juga bentuk batu tersebut apakah ia terjadi dari tanah keras semata ataukah bercampur pula dengan unsur-unsur zat pembakar atau batu-batu yang berasal dari pecahan sebagai bintang.
Pada akhir ayat ini Allah menunjukkan firman-Nya kepada Muhammad saw. beserta umatnya supaya mengambil pelajaran dari peristiwa tingkah laku orang-orang yang mendustakakan Allah dan Rasul-rasul-Nya di samping mereka melakukan perbuatan terkutuk. Kebinasaan mereka itu jika Allah menghendaki dapat terjadi disebabkan oleh sebab-sebab yang biasa, umpamanya gempa bumi, penyakit wabah, akibat peperangan dan korban fitnahan dan dapat pula dengan sebab-sebab luar biasa seperti topan yang menenggelamkan kaum Nuh, angin yang menghempaskan kaum Hud, petir yang membinasakan kaum Saleh dan hujan batu yang menghabiskan kaum Lut.
Mengenai perbuatan homosex yang dilakukan oleh kaum Lut itu terdapat perselisihan antara ulama fikih tentang hukumannya sebagai berikut:
1. Imam Abu Hanifah berpendirian bahwa pelakunya dijatuhkan dari tempat yang tinggi kemudian diiringi dengan lemparan batu. Tetapi menurut suatu riwayat pelakunya hanya ditakzir diberi hukuman supaya jera baik muhsan maupun tidak muhsan.
2. Imam Malik memandang bahwa pelakunya dirajam (baik muhsan/pernah kawin atau pun tidak). Demikian juga terhadap objek jika telah dewasa. Tetapi menurut suatu riwayat terhadap yang belum muhsan dikenakan hukum takzir.
3. Imam Syafi'i menerangkan bahwa pelakunya dirajam baik muhsan atau tidak. Menurut suatu riwayat pelakunya dirajam jika ia muhsan. Dan jika tidak muhsan didera sebanyak seratus kali.
4. Imam Ahmad memandang bahwa pelakunya keduanya dibunuh.
5. Pendapat sebagian sahabat Nabi, seperti Abu Bakar, Ali, Ibnu Zubair, pelakunya dibakar.

85 Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka Syuaib. Ia berkata:` Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman `.(QS. 7:85)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 85
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (85)
Allah swt. menceritakan bahwa kaum Madyan, yaitu kaum Nabi Syuaib tidaklah bersyukur kepada swt. mereka di samping mereka mempersekutukan-Nya. Akhlak mereka sangat merosot sekali sehingga kehidupan mereka bergelimang dalam penipuan sampai kepada urusan takar-menakar, timbang-menimbang. Menurut suatu riwayat jika orang asing datang berkunjung, mereka sepakat menuduh bahwa uang yang dibawa orang asing itu palsu, dengan demikian mereka menukarnya dengan harga (kurs) yang rendah sekali. Kepada kaum ini Allah swt. mengutus Nabi Syuaib supaya dia menunjukkan kepada mereka berupa jalan benar meninggalkan kezaliman terutama yang berupa pengurangan hak manusia yang mereka lakukan dengan cara khianat dalam takaran dan timbangan.
Sebagaimana biasanya setiap nabi, Allah perkuatkan kenabiannya dengan mukjizat sebagaimana diketahui dari hadis dari Abu Hurairah yaitu:

ما من الأنبياء نبي إلا أعطي من الآيات مثلها آمن عليه البشر وإنما كان الذي أوتيت وحيا أوحى الله إلي فارجون أن أكون أكثرهم تابعا يوم القيامة
Artinya:
Tidak seorang nabi pun dari kalangan nabi-nabi kecuali diberikan kepadanya tanda-tanda kenabiannya yang menjadikan manusia percaya kepadanya. Sesungguhnya yang diberikan kepadaku ialah wahyu yang disampaikan kepadaku yaitu (Alquran). Maka aku mengharap bahwa aku akan mempunyai pengikut yang lebih banyak daripada pengikut-pengikut nabi-nabi pada hari kiamat.
(H.R Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi tidak terdapat satu ayat pun dalam Alquran yang menerangkan tentang mukjizat yang diberikan kepada Nabi Syuaib. Fakhrul Razi dalam tafsirnya mengemukakan pendapat "Al-Kasyisyaf" bahwa di antara mukjizat Nabi Syuaib yaitu dia memberikan tongkatnya kepada Nabi Musa. Tongkat itu membinasakan ular-ular besar. Juga dia berkata kepada Nabi Musa bahwa kambing-kambing ini akan beranak semuanya lelaki yang bulunya hitam putih kemudian ternyata benar sebagaimana yang diucapkannya itu.
Madyan adalah nama kabilah yang terdiri dari anak-anak dari keturunan Madyan. Madyan ini adalah anak Nabi Ibrahim dari Siti Qaturah, demikian menurut Taurat. Syuaib adalah orang yang terbaik dari kalangan kabilah Madyan. Syuaib anak Mikil a.s. bin Yasijab bin Madyan istri Yasifar adalah putri Nabi Lut a.s., demikian menurut Taurat Muhammad bin Ishak, Syuaib meskipun matanya buta ia adalah seorang orator (ahli pidato) sehingga mendapat julukan "Khatibul Anbiya" (orator terkemuka dari kalangan nabi-nabi).
Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Syuaib kepada kaum Madyan. Setelah itu Syuaib menjalankan tugasnya menyampaikan amanat-amanat Tuhannya kepada kaumnya supaya mereka meninggalkan kemusyrikan dan hendaklah mereka menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Nabi Syuaib meyakinkan kaumnya bahwa dia adalah utusan Allah supaya mencabut seruannya. Setelah dikemukakan kepada mereka tentang akidah ketuhanan maka Nabi Syuaib memulai pula memperbaiki kebobrokan masyarakatnya dengan mengajak mereka supaya jujur dalam menimbang dan menakar supaya tidak mengurangi hak manusia dalam jual beli begitu juga menyeru mereka supaya meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merusak masyarakat setelah berjalan dengan baik umpamanya perbuatan kerusakan berupa sogokan, memakan harta orang lain dengan jalan batil, mengerjakan perbuatan yang keji dan membiarkan kerusakan akhlak.
Nabi Syuaib selalu mengakhiri seruannya bahwa apa yang disampaikannya kepada mereka itu adalah hal yang paling baik untuk mereka karena akan membawa kebahagiaan bagi mereka di dunia dan di akhirat jika mereka benar-benar beriman kepada kerasulannya.

86 Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu (berjumlah) sedikit, lalu Allah memperbanyak (jumlah) kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. 7:86)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 86
وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (86)
Sesudah Nabi Syuaib melarang kaumnya membuat kerusakan di bumi maka ayat ini menerangkan bahwa Nabi Syuaib melarang mereka pula duduk di jalan untuk mengganggu orang yang lalu lintas. Terhadap orang yang beriman mereka ancam nyawanya dan terhadap orang yang belum beriman jika ia bermaksud mengunjungi Nabi Syuaib mereka mengatakan bahwa Syuaib itu seorang pendusta yang hendak menggoda orang supaya meninggalkan agama nenek moyangnya.
Pada akhir ayat Nabi Syuaib mengajak mereka mengenang masa-masa yang lalu di mana mereka masih sedikit jumlahnya kemudian Allah mengembangbiakkan keturunan mereka dalam keadaan murah rezeki. Karenanya hendaklah mereka bersyukur kepada Allah dengan meninggalkan kemusyrikan dan perbuatan kezaliman dan hendaklah mereka mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian pada kaum-kaum yang berbuat kezaliman antara lain meninggalkan agama yang benar dari umat-umat sebelum mereka, seperti kaum Nuh, kaum Ad, dan kaum Tsamud. Hendaklah mereka mengambil pelajaran dari apa yang menjadi sebab Allah membinasakan umat-umat sebelum mereka itu. Dengan demikian Nabi Syuaib secara tidak langsung telah memperingatkan kaumnya agar mereka tidak mengalami nasib seperti mereka yang telah dibinasakan oleh Allah itu.

87 Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya..(QS. 7:87)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 87
وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ (87)
Ayat ini mengutarakan keahlian Nabi Syuaib menyampaikan amanat-amanat Tuhannya di mana dikemukakannya kata-kata yang tegas tapi cukup lunak dan mengesankan. Nabi Syuaib berkata kepada mereka jika ada golongan di antara mereka yang membenarkan seruannya supaya menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan perbuatan-perbuatan zalim seperti mengurangi hak manusia dalam menimbang dan menakar maka mereka akan terhindar dari siksa Allah. Demikian pula sekiranya ada golongan di antara mereka itu yang masih belum menyambut seruannya dan masih tetap kufur dan zalim, maka Nabi Syuaib mengancam mereka supaya menunggu keputusan Tuhan yang seadil-adilnya, membela hamba-hamba-Nya yang beriman dan membinasakan golongan kafir yang berbuat kezaliman.

88 Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib yang menyombongkan diri berkata:` Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami `. Berkata Syuaib:` Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? `(QS. 7:88)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 88
قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (88)
Allah swt. menerangkan dalam ayat ini, bahwa orang-orang yang terkemuka di kalangan pengikut Nabi Syuaib itu berkata kepadanya, bahwa mereka akan mengusir bersama para pengikutnya dari negeri mereka, apabila Nabi Syuaib tidak mau kembali kepada agama yang diterima dari nenek mereka, serta menghentikan dakwahnya.
Dengan perkataan lain, mereka menyuruh Nabi Syuaib dan para pengikutnya untuk memilih apakah mereka akan tetap dalam agama baru dan melanjutkan dakwah tetapi diusir dari negeri mereka, ataukah bersedia kembali kepada agama nenek moyang dan menjadi anggota masyarakat dari kaumnya yang musyrik itu. Jika mereka memilih yang kedua ini sudah tentu Nabi Syuaib dan para pengikutnya harus meninggalkan agama mereka, dan kembali menjadi orang-orang yang musyrik seperti kaumnya.
Perlu diketahui bahwa kata-kata "kembali kepada agama nenek moyang" memberi kesan seolah-olah Nabi Syuaib sendiri sebelum diangkat menjadi rasul sebagai diungkapkan oleh mereka pernah menjadi penganut agama kaumnya, dan tentu pernah juga turut menyembah sembahan yang mereka sembah. Hal ini tidaklah benar karena para nabi dan rasul Allah swt. senantiasa terhindar dari dosa-dosa besar termasuk dosa yang disebabkan kemusyrikan kepada Allah swt.
Pada akhir ayat tersebut diterangkan bahwa Nabi Syuaib menjawab tantangan mereka dengan mengajukan pertanyaan, apakah mereka akan tetap memaksanya dengan para pengikutnya untuk kembali kepada agama mereka atau mengusirnya dengan para pengikutnya dari negeri Madyan bila ia menolak anjuran itu.
Nabi Syuaib menegaskan kepada kaumnya bahwa ia dan para pengikutnya tidak merasa gentar untuk diusir dari negeri mereka, dan mereka akan tetap dalam agama Allah serta melanjutkan dakwah mereka. Kecintaan kepada agama Allah adalah lebih tinggi daripada kecintaan kepada tumpah darah yang penduduknya ingkar kepada Allah swt. Ia dan para pengikutnya lebih mengutamakan hidup dalam keridaan Allah swt. sehingga mereka benar-benar dapat memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan agama serta keimanan itu adalah urusan hati yang tidak dapat dipaksakan bagaimana pun juga. Ia dan para pengikutnya benci kepada kemusyrikan, karena kemusyrikan itu adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah sedikitpun juga.
Seorang rasul yang berkewajiban menyiarkan agama Allah tidaklah segan-segan meninggalkan tanah tumpah darahnya apabila suasana dan keadaan di tempat itu tidak memungkinkan untuk melaksanakan tugas. Seperti diketahui, Nabi Ibrahim a.s. telah melakukan hijrah meninggalkan tanah tumpah darahnya yaitu kota Ur di Kaldania demi untuk agama Allah. Demikian pula Nabi Muhammad saw. telah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena kecintaannya kepada agama Allah adalah melebihi kecintaan kepada tanah air dan lain-lainnya. Orang-orang yang enggan hijrah karena Allah, ia akan ditimpa kemurkaan Allah swt. sebagaimana firman Allah swt.:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
(Q.S An Nisa': 97-99)  

89 Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.(QS. 7:89)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 89
قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ (89)
Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan ucapan Nabi Syuaib selanjutnya terhadap kaumnya yang telah mengancam untuk mengusirnya dari negerinya apabila ia tidak mau menghentikan dakwahnya dan masuk ke agama mereka yang berdasarkan kemusyrikan itu. Nabi Syuaib berkata: "Alangkah besarnya dosa dan kebohongan kami terhadap Allah swt. apabila kami kembali kepada agama kamu padahal Allah telah menyelamatkan kami daripadanya dan Dia telah menunjuki kami kepada jalan yang lurus. Apabila seseorang mengikuti agama kamu tanpa pengetahuan dianggap sebagai orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah swt., maka bagaimanakah halnya orang yang sengaja mengada-adakan kebohongan terhadapnya, dan sengaja menyimpang dari jalan yang telah ditunjukkan-Nya secara sadar, dan mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Kekafiran semacam itu adalah kekafiran yang paling jahat. Berbuat kebohongan kepada Allah swt. adalah perbuatan yang amat keji tidak akan diampuni-Nya. Oleh sebab itu kami tidak akan melakukannya."
Dari penegasan Nabi Syuaib ini dapat pula diambil kesimpulan bahwa Allah swt. telah menyelamatkan para pengikutnya dan sahabat-sahabatnya, termasuk dirinya sendiri dari agama syirik yang dianut kaumnya itu, atau dapat pula diartikan bahwa Allah swt. telah menyelamatkan Nabi Syuaib dari kemusyrikan. Sehingga ia tidak pernah menganut kepercayaan yang dianut kaumnya itu dan tidak menyembah apa-apa yang disembah oleh mereka. Maka Allah swt. lah yang menunjukinya kepada cara yang benar. Ini sama halnya dengan apa yang dialami Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana ditegaskan Allah dalam Alquran dengan firman-Nya:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى
Artinya:
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
(Q.S Ad Duha: 7)
Dan firman-Nya lagi:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
(Q.S Asy Syura: 52)
Selanjutnya Nabi Syuaib menegaskan kepada kaumnya, bahwa tidaklah layak dan tidak masuk akal, bahwa dia dan para pengikutnya akan meninggalkan agama yang benar serta kembali kepada agama mereka, kecuali jika Allah menghendakinya. Maksudnya ialah bahwa dia beserta para pengikutnya yakin sungguh, bahwa agama yang dianut kaumnya itu adalah agama yang tidak benar sedangkan agama yang dianutnya beserta para pengikutnya adalah agama yang benar dapat menjamin kebahagiaan manusia dunia dan akhirat.
Sudah barang tentu Allah swt. tidak menghendaki agar Nabi Syuaib dan para pengikutnya kembali kepada agama kaumnya yang penuh dengan kemusyrikan itu, sebab Allah sendirilah yang telah membebaskannya dari kemusyrikan itu dan menunjukinya kepada agama yang benar. Oleh sebab itu janganlah diharapkan bahwa Nabi Syuaib dan para pengikutnya akan kembali kepada agama mereka.
Kemudian Nabi Syuaib mengingatkan pula bahwa ilmu Allah swt. adalah Maha Luas meliputi segala sesuatu. Ia mengetahui segala hikmah dan hal-hal yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi hamba-Nya. Dan kehendak-Nya senantiasa berlaku sesuai dengan hikmah tersebut. Maka segala sesuatu yang terjadi pada makhluk-Nya tidaklah terlepas dari hikmah tersebut. Oleh sebab itu kepada-Nya sajalah ia dan para pengikutnya bertawakal dan berserah diri dan disertai ketaatan dalam menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, yaitu menjaga syariat dan agama-Nya. Dialah yang akan melindungi Nabi Syuaib dan para pengikutnya itu dari segala ancaman dan gangguan kaumnya dan dari segala bahaya yang ia tidak mempunyai daya upaya untuk menghindari dan melawannya.
Perlu diketahui bahwa salah satu syarat dari tawakal ialah keteguhan dalam melaksanakan syariat yang telah ditetapkan Allah, serta mematuhi peraturan umum yang ditentukan-Nya, baik mengenai alam maupun masyarakat, terutama hubungan antara sebab dan akibat. Misalnya bila kita ingin memperoleh rezeki dari Allah, maka kita harus berusaha, serta menjaga peraturan Allah dan menjalankan usaha-usaha tersebut. Apabila usaha sudah dijalankan menurut cara-cara yang diperlukan, serta menjaga peraturan yang telah ditetapkan Allah dan syariat-Nya, maka barulah kita bertawakal. Tawakal yang dilakukan tanpa didahului dengan usaha yang benar dan sesuai dengan peraturan Allah adalah tawakal yang tidak benar. Itulah sebabnya Rasulullah saw. pernah menegur seseorang yang tidak menambatkan untanya ketika ia mau menghadap Rasulullah, karena katanya ia telah bertawakal kepada Allah lebih dahulu. Seharusnya ia menambatkan untanya terlebih dahulu sebelum ia meninggalkannya. Ini merupakan usaha sebagai syarat untuk bertawakal. Menurut keadaan yang biasa berlaku, unta tidak akan lari bila ia telah ditambatkan dengan baik.
Allah swt. berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya:
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
(Q.S Ali Imran: 159)
Berazam ialah membulatkan tekad. Kebulatan tekad itu barulah kita peroleh setelah kita melakukan usaha-usaha yang layak yang diperlukan untuk mencapai tujuan, serta mengindahkan peraturan-peraturan yang ditetapkan syariat.
Setelah Nabi Syuaib menyatakan penyerahan dirinya kepada Allah swt. diakhiri dengan doa semoga Allah memberikan keputusan yang adil antara dia dan kaumnya. Sesudah itu, ia menyatakan pengakuan dan keyakinannya bahwa Allah swt. adalah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya karena Ia Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Sebagaimana diketahui, sebelum lahirnya Nabi Syuaib di Madyan telah banyak rasul-rasul yang diutus Allah swt. untuk menyampaikan agama-Nya kepada umat manusia. Dan pada umumnya, para rasul itu mendapat tantangan dan dimusuhi oleh sebagian kaumnya, yaitu mereka yang ingkar kepada Allah swt. Pada akhirnya, para rasul tersebut mendapat pertolongan dari Allah karena mereka adalah orang-orang yang menjalankan perintah Allah dan selalu bersikap jujur dan berbuat baik. Sebaliknya orang-orang kafir itulah yang menemui nasib malang akibat kekafiran mereka itu.

90 Pemuka-pemuka kaum Syuaib yang kafir berkata (kepada sesamanya):` Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syuaib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi `.(QS. 7:90)
 Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 90
وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ (90)
Orang-orang yang kafir di antara kaum Nabi Syuaib, yaitu pemuka-pemuka mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mendustakan Rasul-Nya sudah keterlaluan dalam berbuat kezaliman, antara lain dengan menghalang-halangi orang lain untuk beriman kepada Nabi Syuaib dan agama yang dibawanya, mereka itu berkata: "Jika kamu beriman dan mengikuti seruan Syuaib yang mengajak kepada agama tauhid, niscaya kamu akan merugi akibat perbuatan itu dan karena meninggalkan agama nenek moyang yang kamu anut selama ini. Kamu akan kehilangan kemuliaan dan kehormatan, karena dengan mengikuti Syuaib itu kamu akan menganggap bahwa nenek moyang kamu adalah orang-orang yang sesat dan akan diazab di sisi Allah swt. Di samping itu, kamu juga akan kehilangan harta benda dan keuntungan yang berlipat ganda dalam perdagangan karena agama Syuaib tidak memperbolehkan melakukan penipuan dalam jual beli, terutama mengenai takaran dan timbangan."
Pemuka-pemuka kaum Nabi Syuaib itu bersikap angkuh dan kufur. Sikap angkuh itu timbul karena mereka berkuasa di negeri itu, dan sifat inilah yang mendorong mereka untuk mengeluarkan ancaman kepada Nabi Syuaib dan para pengikutnya untuk mengusir mereka dari Madyan. Sedang sifat kufur mereka telah menyebabkan mereka itu bertindak untuk menghalang-halangi orang lain untuk menganut agama Allah yang dibawa oleh Nabi Syuaib. Teranglah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang sesat dan berusaha untuk menyesatkan orang lain.


Surah AL-A'RAAF
<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                         DAFTAR SURAH AL -A'RAAF>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar