Selasa, 27 Maret 2012

Ali ‘Imran 60 s/d 64

<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>
TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-060
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1103-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-060.html

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.(QS. 3:60)

Dimaksud dengan "Itulah yang benar yang datang dari Tuhan" ialah bahwa apa yang telah diberitakan Allah kepada Muhammad saw, tentang Nabi Isa dan Maryam itulah yang benar bukan apa yang telah dikatakan oleh orang-orang Nasrani bahwa Al Masih itu adalah putra Tuhan; dan bukan pula seperti anggapan orang-orang Yahudi bahwa Nabi Isa itu hasil perzinaan antara Maryam dengan Yusuf An Najar. Dengan demikian orang-orang Islam telah mendapat pengetahuan yang meyakinkan mengenai Isa dan Maryam itu tidak boleh ragu-ragu lagi.

Larangan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, padahal tidak mungkin terjadi Nabi Muhammad akan bersifat ragu-ragu terhadap ayat Allah. Hal ini mempunyai dua pengertian:
1.Bahwasanya Nabi Muhammad saw, pada saat mendengar ayat ini bertambahlah keyakinannya dan ia merasa puas dengan keyakinannya itu.
2.Kalau Nabi Muhammad saw, yang mempunyai kedudukan yang tinggi dilarang ragu-ragu terhadap kebenaran kisah itu, maka umatnya lebih diIarang lagi.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-061
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1091-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-061.html

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): `Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. 3:61)
Kemudian di dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad bila masih ada orang yang membantah kebenaran berita tentang kejadian Isa, sesudah mendapat penjelasan hendaklah mereka diajak bermubahalah untuk membuktikan siapa yang benar dan berdoa supaya Allah SWT menjatuhkan laknat-Nya kepada orang yang berdusta. Mubahalah ini sebagai pencerminan dari kebenaran kepercayaan itu. 
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, agar mengundang keluarga masing-masing baik dari pihaknya maupun dari pihak mereka, yang terdiri dari anak-anak dan isteri, untuk mengadakan mubahalah ini. 
Di dalam ayat disebutkan lebih dahulu isteri dan anak-anak nabi dalam mubahalah, karena seseorang lebih mengkhawatirkan diri keluarganya dari pada dirinya sendiri. Hal ini mengandung pengertian bahwa Nabi Muhammad saw, telah percaya dengan penuh keyakinan bahwa bencana yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari muhabalah itu tidak akan menimpa keluarganya dan dirinya. Kemudian ayat ini yang dikenal sebagai ayat mubahalah. 
Mengenai terjadinya ajakan mubahlah tersebut telah diriwayatkan melalui berbagai macam sumber, bahwa Nabi Muhammad saw, telah mengajak orang-orang Nasrani dari suku Najran untuk mengadakan mubahalah, tetapi mereka menolak. 
Imam Bukhari dan Imam Muslim juga telah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Al 'Aqib dan As Sayid mengunjungi Rasulullah saw. Kemudian beliau berkeinginan untuk mengadakan mubahalah dengan mereka. Maka salah seorang di antara mereka berkata kepada kaumnya: "Janganlah kamu bermuhabalah dengan dia. Demi Allah apabila ia betul-betul seorang Nabi lalu dia bemubahalah dengan kita, niscaya kita tidak akan berbahagla selamanya, dan tidak akan ada generasi yang akan melanjutkan keturunaan kita. Kemudian mereka berkata kepada Nabi saw: "Kami akan memberikan apa yang engkau minta sebab itu utuslah kepada kami seorang laki-laki yang terpercaya" Kemudian Nabi saw bersabda: "Berdirilah hai, Aba Ubaidah", maka setelah ia berdiri Nabipun bersabda: "Inilah orang yang terpercaya dikalangan umat ini" . 
Abu Nu'aim meriwayatkan pula sebuah hadis dari Ibnu 'Abbas dalam kitab Ad Dalail melalui sanad dari Ata'dan Ad Dahak dari lbnu Abbas bahwasanya delapan orang Nasrani dan penduduk Najran mendatangi Rasulullah saw Di antara mereka terdapat 'Aqib dan As Sayid. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini. Lalu mereka berkata: "Beri tangguhlah kami tiga hari". Lalu mereka pergi kepada Bani Quraizah, Bani Nadir dan Bani Qainuqa' dari kalangan orang-orang Yahudi. Kemudian mereka memberi isyarat untuk berdamai saja dan tidak mengadakan mubahalah dengan Nabi. Kemudian mereka berkata: "Dia adalah nabi yang telah diberitakan kedatangannya di dalam kitab Taurat". LaIu mereka mengadakan perdamaian dengan Nabi saw dengan perjanjian membayar 1.000 potong pakaian pada bulan Safar dan 1.000 potong lagi disertai sejumlah uang pada bulan Rajab. 
Dan diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw, telah mengajukan Ali, Fatimah dan kedua putra mereka, Hasan dan Husain selain diri beliau sendiri, untuk bermuhabalah dan Nabipun keluar bersama-sama mereka seraya bersabda: "Apabila saya berdoa hendaklak kamu membaca, Amin". 
Dan Ibnu `Asakir telah meriwayatkan sebuah hadis dari Ja'far dari ayahnya, bahwa setelah ayat ini turun, Nabi membawa Aba Bakar bersama-sama anak-anaknya, Umar dan anak-anaknya clan 'Usman bersama anak-anaknya. Dapat dipahami dari ayat-ayat ini bahwa Nabi Muhammad saw, telah memerintahkan untuk mengundang orang-orang yang menentang hakekat kejadian, Isa dari kalangan orang-orang ahli kitab untuk berkumpul baik lakl-laki, perempuan ataupun anak-anak, dan juga Nabi mengumpulkan orang mukminin baik laki-laki, perempuan atau anak-anak. Mereka pun mengajak bermubahalah kepada Allah SWT agar Dia melaknat orang-orang yang sengaja berdusta. 
Ajakan Nabi saw untuk bermubahalah itu menunjukkan adanya keyakinan yang penuh terhadap kebenaran apa yang beliau katakan, sebaliknya keengganan orang-orang yang diajak untuk bermubahalah menunjukkan alasan dan kepalsuan kepercayan mereka. 
Di dalam ayat ini terdapat suatu pelajaran bahwa wanita harus diikut sertakan untuk turut bersama-sama lelaki menghadapi persoalan yang penting. Hal ini menunjukkan kelebihan agama Islam dari agama lain. Juga terdapat suatu petunjuk bahwa menurut ajaran Islam, para wanita sama hak dan kewajibannya dengan laki-laki dalam berbagai urusan.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-062
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1090-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-062.html

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 3:62)
Allah menjelaskan bahwa kisah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tentang Nabi Isa itu, itulah yang benar, bukan pendapat orang-orang Nasrani dan bukan pula pendapat orang-orang Yahudi. 
Selanjutnya ditegaskan bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan AIlah karena Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan tak satupun yang dapat menyamai-Nya. 
Di dalam ayat ini jelas terdapat suatu bantahan terhadap orang Nasrani yang mengatakan bahwa Allah itu salah satu dari oknum yang ketiga. 
Pada ayat yang lain Allah berfirman: 
لقد كفر الذين قالوا إن الله ثالث ثلاثة 
Artinya: 
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga." (Q.S Al Ma'idah: 73) 
Kemudian Allah SWT menegaskan lagi bahwa Allah-lah yang Maha Perkasa Yang Maha Bijaksana, tak ada yang dapat menandingi-Nya.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-063
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1089-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-063.html

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ

Kemudian jika mereka berpaling (dari menerima kebenaran), maka sesungguhnya Allah, Maha Mengetahui siapa orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. 3:63)
Kemudian di dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa apabila mereka menolak agama tauhid berarti mereka termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. 
Mereka dianggap berpaling karena menolak untuk mengikuti dan membenarkan kerasulan Muhammad saw, dan tidak mau menerima keyakinan tentang ke Esaan Tuhan yang dibawa oleh beliau dan tidak berani mengabulkan ajakan mubahalah. 
Kemudian Allah SWT. menandaskan bahwa Dia Maha Mengetahui mental orang-orang yang membuat kerusakan dan mempunyai niat jahat yang mereka simpan dalam hati mereka.


TAFSIR DEPAG RI : QS 003 - AL IMRAN-064
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/158-qs-003-al-imran/1088-tafsir-depag-ri--qs-003-al-imran-064.html

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah:` Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: `Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)`.(QS. 3:64)
Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, agar mengajak ahli kitab Yahudi dan Nasrani untuk berdialog secara adil dalam mencari asas-asas persamaan dari ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul dan kitab-kitab yang diturrunkan kepada mereka, yaitu Taurat, Injil dan Alquran. Kemudian Allah SWT menjelaskan maksud ajakan itu yaitu agar mereka tidak menyembah selain Allah yang mempunyai kekuasaan yang mutlak yang berhak menetapkan syari'at dan yang berhak menghalalkan dan mengharamkan, serta tidak mempersekutukan Nya. 
Ayat ini mengandung: Sifat wahdaniah uluhiyah bagi Allah SWT, yaitu ke Esaan Allah seperti tersebut dalam firman Nya: 
ألا نعبد إلا الله 
Artinya: 
"Bahwa kami tidak akan menyembah kecuali kepada Allah". (Q.S Ali Imran: 64) 
Dan sifat Wahdaniyah Rububiyah dalam firman Nya yaitu ke Esaan dalam mengatur makhluk Nya: 
ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله 
Artinya: 
Dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah". (Q.S Ali Imran: 64) 
Ketentuan ini disepakati oleh semua orang, dan dapat dibuktikan, Ibrahim as diutus Allah untuk membawa agama Tauhid sebagaimana dibawa oleh Nabi Musa as seperti terdapat dalam kitab Taurat: Allah berfirman kepada Nabi Musa' "Sesungguhnya Tuhan ialah sesembahanmu, kamu tidak mempunyai sesembahan lain di sisi Ku, jangan kamu membuat pahatan patung, dun jangan membuat gambaran apapun juga dari apa saja yang terdapat di langit dan di bumi, maupun yang terdapat di dalam air. Jangan kamu bersujud kepada patung-patung dan gambar-gambar serta jangan menghambakan diri kepadanya. 
Demikian juga Nabi `Isa as diutus Allah dengan membawa ajaran seperti itu. 
Kemudian Nabi Muhammad saw sebagai Nabi penutup, beliau diutus dengan membawa ajaran seperti ini. 
Di dalam Alquran terdapat firman Allah: 
الله لا إله إلا هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم 
Artinya: 
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. (Q.S Al Baqarah: 255) 
Kesimpulan dari ajakan tersebut ialah: orang-orang Islam dan Ahli Kitab sama-sama meyakini, bahwa alam itu termasuk ciptaan Allah Yang Maha Esa. Dialah yang menciptakan dan mengurusnya dun Dialah Yang mengutus para nabi kepada mereka untuk menyampaikan keterangan-keterangan tentang peruatan yang diridai dan yang tidak diridai Nya. 
Kemudian Nabi Muhammad saw, mengajak orang-orang AhIi Kitab agar bersepakat untuk menegakkan prinsip-prinsip agama itu, menolak hal yang meragukan, yang bertentangan dengan prinsip agama. Maka apabila orang-orang Nasrani mendapatkan keterangan-keterangan dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa seperti kata-kata "Putera Tuhan" hendaklah ditakwilkan dengan takwilan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang disepakati oleh para nabi, karena kita semua tidak akan mendapatkan di antara perkataan nabi yang bisa di artikan bahwa sesungguhnya Nabi Isa itu tuhan yang disembah. Dan kita juga tidak akan mendapatkan keterangan yang mengatakan bahwa Isa mengajak manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya, melainkan Nabi Isa mengajak manusia untuk menyembah Allah satu-satunya dan dengan ikhlas beribadah kepada Nya. 
Pada mulanya, orang-orang Yahudi beragama tauhid, kemudian terjadilah malapetaka bagi mereka yaitu waktu mereka mengakui hukum apa saja yang ditetapkan pemimpin-pemimpin agama adalah sama kedudukannya dengan hukum yang datang dari Allah. Demikian juga orang-orang Nasrani menempuh jalan seperti orang-orang Yahudi itu. Mereka menambahkan peleburan dosa dalam agamanya. Dan inilah yang menjadi problematik yang sangat membahayakan dalam masyarakat orang-orang Nasrani sehingga timbullah penjualan surah aflat (surah penebusan dosa) dari gereja-gereja dengan jalan itu mereka dapat mengumpulkan uang yang banyak. Oleh sebab itu timbullah gerakan yang menuntut perbaikan. Kelompok ini terkenal dengan istilah protestan. 
Diriwayatkan dari `Ady bin Hatim bahwa ia berkata: "Saya datang kepada Rasulullah saw, sedangkan dileherku terdapat kalung salib yang terbuat dari emas. Kemudian Rasulullah bersabda: "Hai `Ady buanglah berhala itu dari Iehermu". Sayapun mendengar Nabi Muhammad membaca surah Bara'ah: 
اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله 
Artinya: 
"Mereka menjadikan orang-orang `aIimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah". (Q.S At Taubah: 31) 
Kemudian saya berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mereka itu tidak menyembah pendeta-pendeta". Kemudian Nabi Muhammad saw bersabda: "Bukankah mereka menghalalkan dan mengharamkan bagi kamu lalu kamu berpegang saja pada peikataan mereka?". Kemudian saya berkata: "Betul". Lalu Nabi Muhammad bersabda: "Itulah artinya menganggap pendeta-pendeta itu sebagai tuhan". 
Sesudah itu Allah SWT memberikan penegasan, hahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani menolak dun membangkang; dan mereka tetap pada pendiriannya, yaitu menyembah selain Allah dan mempercayai adanya tuhan-tuhan di samping Allah, yang dijadikan perantara kepada Allah dan mereka tuat pada ketentuan-ketentuan mereka, baik mengenai yang dihalalkan maupun yang diharamkan oleh pendeta-pendeta itu. Allah SWT memerintahkan agar orang-orang muslim mengatakan kepada mereka, bahwa kaum muslimin hanya menyembah Allah dan memurnikan ketaatan kepada Nya semata-mata. 
Dalam ayat ini terdapat sebuah ketentuan bahwa semua masalah yang berhubungan dengan ibadah atau dengan halal dan haram hanya Alquran dan hadis, yang dijadikan pokok pegangan dalam menetapkannya, bukan pendeta pemimpin dan bukan pula pendapat ahli hukum yang kenamaan sekalipun; sebab kalau demikian, tentulah hal itu akan menyebabkan adanya persekutuan dalam keesaan rububiyah dan penyimpangan dari petunnjuk Alquran seperti tersebut dalam firman Allah: 
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله ولولا كلمة الفصل لقضى بينهم وإن الظالمين لهم عذاب أليم 
Artinya: 
"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperolch azab yang pedih". (As Syura: 21) 
Tersebut pula dalam firman Allah: 
ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام 
Artinya: 
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ini halal dan ini haram" (Q.S An Naba': 116) 
Adapun masalah keduniaan, seperti urusan peradilan, dan urusan politik, Allah SWT telah melimpahkan kekuasaan Nya kepada ahlul Halli wal `Aqdi yaitu para ahli berbagai bidang dalam masyarakat. Maka apa yang ditetapkan mereka hendaklah ditaati selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok agama. Ayat ini menjadi dasar dan pokok pegangan bagi dakwah Nabi saw untuk mengajak ahIi kitab mempraktekkannya. Pada waktu Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam, seperti terdapat dalam surah beliau yang ditujukan kepada Heraclius dan Muqauqis dan Kisra Persia.


<<KEMBALI KE DAFTAR SURAH                           DAFTAR SURAH aL IMRAN>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar