Selasa, 13 Maret 2012

AL-ISRAA’ surah ke 17 Ayat 1

[TAFSIR] : AL-ISRAA’ surah ke 17 Ayat 1
1 Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 17:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Israa’ 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
Allah SWT menyatakan ke Maha Sucian Asma Nya dengan firman Nya “Subhana”, agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat ke Agungan Nya yang tiada taranya dan sebagai pernyataan pula tentang sifat-sifat yang kebesaran Nya telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.
Allah SWT memulai firman Nya dengan “Subhana” dalam ayat ini, dan di Beberapa ayat yang lain sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradat dan kekuasaan Nya.
Dari kata-kata Isra’ dapat dipahami bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw itu terjadi di waktu malam hari, karena memang demikian kata “asra” dalam bahasa Arab. Sedang disebutkan “Lailan”, yang berarti di malam hari,” adalah untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra’ itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah SWT mengisra’ kan hamba Nya di waktu malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang sebaik-baiknya untuk beribadat kepada-Nya.
Dimaksud dengan “hamba Nya” di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai Nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah.
Di dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatannya maupun saat tibanya Nabi Muhammad saw kembali ke tempat tinggalnya di Mekah. Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidilharam, yaitu Mesjid yang terkenal karena di dalamnya ada Baitullah yang terletak di kota Mekah menuju Masjidilaksa yang berada di Baitulmakdis. Masjidilaksa itu terkenal pula dengan Haikal Sulaiman. Disebut demikian karena Nabi Sulaimanlah yang membinanya. Mesjid itu disebut Masjidilaksa yang berarti “jauh”, karena jauhnya dari kota Mekah.
Selanjutnya Allah SWT, menjelaskan bahwa Masjidilaksa itu dan daerah daerah sekitarnya diberi berkat oleh Allah, karena tempat di sekitarnya itu adalah tempat turunnya wahyu kepada Nabi-nabi dan disuburkan tanahnya, sehingga menjadi daerah yang makmur. Di samping itu juga karena mesjid itu termasuk di antara mesjid-mesjid yang paling besar pada waktu itu yang menjadi tempat peribadatan para Nabi dan tempat tinggal mereka.
Sesudah itu Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw dibawa berjalan pada malam hari, yaitu Allah SWT dapat memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh Muhammad saw dalam perjalanannya itu, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga yang dialaminya dalam perjalanan dari Masjidilharam ke Masjidilaksa itu, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Maha Pencipta Nya. Pengalaman-pengalaman baru yang dapat disaksikan oleh Nabi Muhammad itu sangat berguna untuk menguatkan hati beliau dalam melakukan tugasnya, dan menambah ketabahan beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, juga persiapan yang sangat penting dalam meyakini wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.
Di akhir ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar terhadap bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat akan semua perbuatan mereka. Tak ada suatupun detak jantung, ataupun gerakan badan dari seluruh yang ada di antara langit dan bumi ini yang terlepas dari pengamatan Nya.
Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa Isra’, yaitu perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidilharam ke Masjidilaksa di waktu malam, sedang peristiwa Mikraj, yaitu naiknya Nabi Muhammad dari Masjidilaksa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak diisyaratkan oleh ayat ini tetapi diisyaratkan oleh bagian pertama surah An Najm.
Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa Isra’ itu terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul. Peristiwanya satu tahun sebelum hijrah. Demikian menurut Imam Az Zuhri Ibnu Saad dan lain-lainnya. Imam Nawawipun memastikan yang demikian. Bahkan menurut Ibnu Hasan bahwa peristiwa Isra’ itu terjadi bulan Rajab tahun yang kedua belas dari diangkatnya Muhammad menjadi Nabi.
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isra’ itu sebagai berikut:
Pertama :
ليلة أسري برسول الله صلى الله عليه وسلم من مسجد الكعبة أنه جاءه ثلاثة نفر قبل أن يوحى إليه وهو نائم في المسجد الحرام فقال أولهم: أيهم هو؟ فقال أوسطهم : هو خيرهم فقال أخرهم : خذوا خيرهم، فكانت تلك الليلة فلم يرهم حتى أتوه ليلة أخرى فيما يرى قلبه وتنام عينه ولا ينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولا تنام قلبهم -فلم يكلموه حتى احتملوه فوضعوه عند بئر زمزم فتولاه منهم جبريل فشق جبريل ما بين نحره إلى لبته حتى فرغ من صدره وجوفه فغسله من ماء زمزم بيده حتى أنقى جوفه ثم أتى بطشت من ذهب فيه نور من ذهب محشو إيمانا وحطمة فحشابه صدره ولغاديده يعني عروق حلقه
Artinya:
Pada malam dijalankannya Rasulullah saw dari Masjidilharam datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam. Kemudian berkatalah orang yang pertama: “Siapakah dia ini ? Kemudian orang kedua menjawab: “Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya). Setelah itu berkatalah orang ketiga : “Ambillah orang yang terbaik itu. Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka itu, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur. Demikianlah para Nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu rombongan tadi tidaklah berbicara sedikitpun kepada Nabi sehingga saatnya mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zam-zam. Kemudian Jibrilah di antara mereka yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril membawa talam yang terdapat di dalamnya bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya”. (H.R. Bukhari dan Anas)
Kedua: Hadis riwayat Bukhari dari Sa’sa’ah:
إذا أتاني أت فقد فاستخرج قلبي، ثم أتيت بطشت من ذهب مملوءة إيمانا، فغسل قلبي ثم حشي (أعيد)
Artinya:
Bahwa Nabi saw bersabda : “Datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku piala yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi piala itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala.” (H.R. Bukhari dari Sa’sa’ah).
Ketiga: Hadis riwayat Ahmad dari Anas bin Malik:
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتيت بالبراق وهو دابة أبيض فوق الحمار ودون البغال يضع حافره عند منتهى طرفه فركبته فسار بي حتى أتيت بيت المقدس فربطت الدابة بالحلقة التي يربط فيها الأنبياء ثم دخلت فصليت فيه ركعتين ثم خرجت فأتاني جبريل بإناء من خمر وإناء من لبن فاخترت اللبن فقال جبريل أصبت الفطرة
Artinya:
“Bahwa Rasulullah saw bersabda : “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari keledai yang lebih kecil dari bagal. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah piala yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata : “Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar”. (H.R. Ahmad dari Anas bin Malik).
Dari keterangan hadis-hadis tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa Nabi Muhammad saw dijalankan di waktu malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa atas izin Allah di bawah bimbingan malaikat Jibril!. Sebelum Nabi Muhammad saw diperjalankan malam hari itu, hatinya diisi iman dan hikmah, agar beliau tahan menghadapi segala macam cobaan dan tabah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya. Perjalanan itu dilakukan dengan Buraq yang mempunyai kecepatan luar biasa sehingga Isra’ dan Mikraj hanya memerlukan waktu kurang dari satu malam, dari sesudah waktu `Isyak sampai sebelum subuh.
Adapun mengenai riwayat terjadinya Mikraj akan dijelaskan pada tafsir permulaan An Najm.
Di dalam ayat yang sedang ditafsirkan ini tidak dijelaskan secara terperinci; apakah Nabi saw Isra’ dengan ruh dan jasadnya, ataukah rohnya saja. Itulah sebabnya para mufassirin berbeda-beda pendapat mengenai hal tersebut. Sebagian besar mufassirin berpendapat bahwa Isra’ itu dilakukan dengan ruh dan jasad beliau dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur. Mereka itu mengajukan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya ialah:
a. Kata (سُبْحَانَ) menunjukkan adanya peristiwa yang hebat, seumpama Nabi itu di-Isra’kan dalam keadaan tidur, tidaklah sepatutnya diungkapkan dengan menggunakan ayat yang didahului dengan tasbih.
b. Andai kata Isra’ itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya. Juga banyaknya orang muslim yang murtad kembali, lantaran adanya berita itu, menunjukkan peristiwa Isra’ bukanlah peristiwa yang biasa. Lagi pula kata-kata Umu Hani’ yang melarang Nabi menceritakannya kepada siapapun agar mereka tidak mendustakannya. Juga menguatkan bahwa Isra’ itu dilakukan Nabi dengan ruh dan jasadnya. Dan peristiwa yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelaran “As-Siddiq” karena dia membenarkan Nabi Isra’ dengan ruh dan jasadnya, sedangkan orang-orang lain berat menerimanya.
c. Bahwa firman Allah (بِعَبْدِهِ) menunjukkan suatu kesatuan bulat antara ruh dan jasad.
d. Perkataan Ibnu Abbas bahwa : Orang-orang Arab kerap kali pula menggunakan kata “ru’ya” dalam arti penglihatan mata, maka kata “ru’ya” yang tersebut dalam firman Allah:
وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ
Artinya:
Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan Kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Q.S. Al Isra’: 60)
e. Yang diperlihatkan kepada Nabi pada waktu Isra’ dan Mikrajnya adalah berarti penglihatan mata yang mungkin terjadi karena kecepatan yang serupa telah dibuktikan oleh manusia dengan teknologi modem.
Segolongan mufassirin yang lain berpendapat bahwa Isra’ dilakukan Nabi dengan rohnya saja. Mereka ini menguatkan pendapatnya dengan alasan-alasan.
a. Bahwa Muawiyah bin Abu Sofyan apabila ditanya tentang Isra’ Nabi Muhammad saw beliau menjawab :
كان رؤيا من الله صادقة…
Artinya:
Isra’ Nabi itu adalah mimpi yang benar yang datangnya dari Allah.
b. Bahwa keluarga Abu Bakar r.a. berkata :
ما فقد جسد رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكن أسري بروحه
Artinya:
Aisyah pernah berkata : “Jasad Rasulullah saw (pada saat berisra’) tidaklah lenyap, akan tetapi rohnyalah yang diisra’kan”.
c. Bahwa Al Hasan berkata pada saat menafsirkan firman Allah “Bahwa yang dimaksud dengan ru’ya” dipakai khusus untuk orang tidur.
Al Maragi di dalam tafsirnya mengemukakan beberapa kecaman terhadap alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang berpendidikan bahwa Nabi melakukan Isra’ dengan rohnya saja, sbb:
1. Pendapat Muawiyah itu ada kelemahannya, yaitu pada waktu itu Muawiyah belum lagi masuk Islam, akan tetapi dia masih di dalam keadaan musyrik. Sebab itu, riwayatnya tidak boleh di terima.
2. Riwayat `Aisyah mendapat kecaman-kecaman dari para Muhaddisin karena pada saat itu `Aisyah masih kecil masih belum menjadi istri Rasulullah saw.
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Israa’ 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)
(Maha Suci) artinya memahasucikan (Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu Nabi Muhammad saw. (pada suatu malam) lafal lailan dinashabkan karena menjadi zharaf. Arti lafal al-isra ialah melakukan perjalanan di malam hari; disebutkan untuk memberikan pengertian bahwa perjalanan yang dilakukan itu dalam waktu yang sedikit; oleh karenanya diungkapkan dalam bentuk nakirah untuk mengisyaratkan kepada pengertian itu (dari Masjidilharam ke Masjidilaksa) yakni Baitulmakdis; dinamakan Masjidilaksa mengingat tempatnya yang jauh dari Masjidilharam (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) dengan banyaknya buah-buahan dan sungai-sungai (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami) yaitu sebagian daripada keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) artinya yang mengetahui semua perkataan dan pekerjaan Nabi saw. Maka Dia melimpahkan nikmat-Nya kepadanya dengan memperjalankannya di suatu malam; di dalam perjalanan itu antara lain ia sempat berkumpul dengan para nabi; naik ke langit; melihat keajaiban-keajaiban alam malakut dan bermunajat langsung dengan Allah swt. Sehubungan dengan peristiwa ini Nabi saw. menceritakannya melalui sabdanya, “Aku diberi buraq; adalah seekor hewan yang berbulu putih; tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagal; bila ia terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanva. Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian aku tambatkan ia pada tempat penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi. Selanjutnya aku memasuki Masjidilaksa dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Setelah itu aku keluar dari Masjidilaksa datanglah kepadaku malaikat Jibril seraya membawa dua buah cawan; yang satu berisikan khamar sedangkan yang lain berisikan susu. Aku memilih cawan yang berisikan susu, lalu malaikat Jibril berkata, ‘Engkau telah memilih fitrah (yakni agama Islam).’ Nabi saw. melanjutkan kisahnya, kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit; ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami; tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam. Nabi Adam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab. ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Dan ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, lalu Nabi Musa menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya. Ditanyakan kepadanya, ‘Siapakah kamu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Jibril.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Siapakah orang yang bersamamu itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Ditanyakan lagi kepadanya, ‘Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dia telah diutus untuk menemui-Nya.’ Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim. Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur. Ternyata Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar. Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah, semuanya menjadi berubah. Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah pun yang dapat menggambarkan keindahannya. Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka Allah mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah (mewajibkan) kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap hari. Setelah itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa (langit yang keenam). Maka Nabi Musa bertanya kepadaku, ‘Apakah yang diwajibkan oleh Rabbmu atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Lima puluh kali salat untuk setiap harinya.’ Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu niscava tidak akan kuat melaksanakannya; aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji mereka.’ Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku memohon, ‘Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.’ Maka Allah meringankan lima waktu kepadaku. Lalu aku kembali menemui Nabi Musa. Dan Nabi Musa bertanya, ‘Apakah yang telah kamu lakukan?’ Aku menjawab, ‘Allah telah meringankan lima waktu kepadaku.’ Maka Nabi Musa bertanya, ‘Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan hal tersebut, maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah keringanan buat umatmu kepada-Nya.’ Rasulullah melanjutkan kisahnya, maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa, dan Dia meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu. Hingga akhirnya Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap salat berpahala sepuluh salat, maka itulah lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan. Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginva pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya. Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu keburukan.’ Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.’ Maka aku menjawab, ‘Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.’” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim). Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Aku melihat Rabbku Azza Wajalla.”

http://tafsiralquraan.wordpress.com/tag/qs-171-surah-al-israa-1/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar