Kamis, 15 Maret 2012

AL BAQARAH 126-129

Kembali ke Daftar Surah                                              Kembali ke Daftar Surah Al-Baqarah  

TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 126
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/1367-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-126.html 



وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا
 Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.(QS. 4:126)
Allah SWT, menegaskan tentang kekuasaan-Nya terhadap alam semesta, sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara; tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan-Nya. 
Ayat ini merupakan penutup dari ayat-ayat yang sebelumnya, dan mengandung beberapa hikmah:
  1. Untuk mengingatkan bahwa Allah SWT Maha Kuasa, Pemilik semesta alam, karena itu Dia pasti menepati janjinya yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu. 
  2. Untuk menerangkan bahwa hanya kepada-Nyalah seluruh makhluk berserah diri, mohon pertolongan, mengemukakan harapan, bukan kepada orang lain, karena yang selain Allah adalah milik-Nya dan berada di bawah kekuasaan-Nya. 
  3. Untuk menjelaskan maksud perkataan "Ibrahim Khalilullah" (Ibrahim kesayangan Allah). Dengan adanya ayat ini jelaslah bahwa Ibrahim itu bukanlah teman dari Allah, sebagai anggapan sebahagian Ahli Kitab tetapi hamba kesayangannya, karena ia tunduk, patuh dan berserah diri kepada Allah, selalu berkorban dan berbuat baik. Ibrahim adalah milik Allah seperti makhluk yang lain, bukanlah ia orang yang berserikat dengan Allah dalam memiliki alam ini.

TAFSIR DEPAG RI : QS 002 - AL BAQARAH 127-129
http://rumahislam.com/tafsir-depag-ri/157-qs-002-al-baqarah/1063-tafsir-depag-ri--qs-002-al-baqarah-127-129.html


وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (127) رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (128) رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (129
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. 2:128)
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al quran) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 2:129) 
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa):` Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui `.(QS. 2:127) 
Pada ayat ini Allah swt. mengingatkan kepada orang-orang Arab bahwa yang membangun Baitullah itu adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim dan putranya Ismail, kedua beliau itu adalah cikal bakal orang-orang Arab dan Israil. Seluruh orang-orang Arab mengikuti agamanya, yaitu millatu Ibrahim. 
Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang membangun Raitullah itu ialah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Tujuan mendirikan Baitullah itu adalah untuk beribadat kepada Allah swt. bukan untuk yang lain, sebagai peringatan bagi dirinya yang akan diingat-ingat oleh anak cucunya di kemudian hari. Bahan-bahan untuk membangun Kakbah itu adalah benda-benda biasa sama dengan benda-benda yang lain, dan benda yang sengaja diturunkan Allah dari langit. Semua riwayat yang menerangkan Kakbah secara berlebih-lebihan adalah riwayat yang tidak benar, diduga berasal dan Israiliyat Mengenai Hajarul Aswad Umar bin Khattab r.a. berkata di waktu beliau telah menciumnya: 

عن عمر رضي الله عنه أنه قبل الحجر الأسود وقال: إني أعلم أنك حجر لاتضر ولا تنفع ولو لا أني رأيت رسول الله صلى الله صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك 
Artinya: 
Dari Umar semoga Allah meridainya, bahwa ia telah mencium Hajarul Aswad dan berkata, "Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau batu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalau aku tidak melihat Rasulullah saw. mencium engkau, tentu aku tidak akan mencium engkau." (HR Bukhari dan Muslim) 
Menurut riwayat Ad-Daruqutni, Rasulullah saw. pernah menyatakan sebelum mencium Hajarul Aswad bahwa itu adalah batu biasa. Demikian pula halnya Abu Bakar r.a., dan sahabat-sahabat yang lain. 
Dari riwayat-riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa "Hajarul Aswad" itu adalah batu biasa saja. Perintah menciumnya itu berhubungan dengan ibadah, seperti perintah salat menghadap ke Kakbah, perintah melempar jumrah di waktu melaksanakan ibadah haji dan sebagainya. Semuanya ini dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah dari Allah swt. Maha Pencipta, Maha Penguasa lagi terus-menerus menjaga makhluk-Nya.
Setelah selesai Ibrahim dan Ismail meletakkan fondamen Kakbah, lalu berdoa: 
"Terimalah daripada kami....", (maksudnya ialah) terimalah amal kami sebagai amal yang saleh, ridailah dan berilah pahala...." 
"Allah Maha Mendengar" (ialah) Allah Maha Mendengar doa kami dan "Allah Maha Mengetahui" (ialah) Allah Maha Mengetahui niat-niat dan maksud kami membangun dan mendirikan Kakbah ini. 
Dari ayat di atas dapat diambil hukum bahwa sunat hukumnya berdoa dan menyerahkan semua amal kita kepada Allah swt. apabila telah selesai mengerjakannya. Dengan penyerahan itu berarti bahwa tugas seseorang hamba ialah mengerjakan amal-amal yang saleh karena Allah, dan Allahlah yang berhak menilai amal itu dan memberinya pahala sesuai dengan penilaian itu. 
Dari ayat di atas juga dapat dipahami bahwa Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. berdoa kepada Allah swt. setelah selesai mengerjakan amal yang saleh dengan niat dan maksud bahwa perbuatan itu semata-mata dilakukan dan dikerjakan karena Allah. Karena sifat dan bentuk perbuatan yang dikerjakannya itu diyakini sesuai dengan perintah Allah, maka ayah dan anak itu yakin pula bahwa amalnya itu pasti diterima Allah swt. Hal ini berarti bahwa segala macam doa yang dipanjatkan kepada Allah swt. yang sifat, bentuk dan tujuannya sama dengan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s. dengan putranya, pasti diterima Allah pula dan pasti diberinya pahala yang baik dari sisi-Nya. 
Pada ayat berikutnya (128) Ibrahim a.s. melanjutkan doanya agar menjadikan keturunannya umat yang tunduk dan patuh kepada Allah swt. 
Di dalam perkataan "muslim" (tunduk patuh) terkandung pengertian bahwa umat yang dimaksud Ibrahim a.s. itu mempunyai sifat-sifat: 
1.Memurnikan kepercayaan hanya kepada Allah saja. Hati seorang muslim hanya mempercayai bahwa yang berhak disembah dan dimohonkan pertolongan hanya Allah Yang Maha Esa. Kepercayaan ini adalah karena seorang muslim merasa dirinya berada di bawah pengawasan dan kekuasaan Allah swt. saja yang dapat memberi keputusan atas dirinya. 
2.Semua perbuatan, kepatuhan dan ketundukan dilakukan hanya karena dan kepada Allah swt. saja, bukan karena menurut hawa nafsu, bukan karena ingin dipuji dan dipandang baik oleh orang, bukan karena pangkat dan jabatan dan bukan pula karena sesuatu keuntungan duniawi. 
Bila kepercayaan dan ketundukan itu tidak murni kepada Allah, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka. 
Allah swt. berfirman: 
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
Artinya: 
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?(Q.S Al Furqan: 43) 
Allah swt. membiarkan sesat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan mengunci mati hatinya, karena Allah swt. mengetahui bahwa mereka tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya 
Allah swt. berfirman: 
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً 
Artinya: 
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menutup atas penglihatannya.... (Q.S Al Jasiyah: 23) 
Pada ayat 124 yang lalu, Ibrahim a.s. berdoa agar keturunannya dijadikan imam, Allah swt. menjawab: "Keturunan Ibrahim yang zalim tidak termasuk di dalam doa itu." Karena itu pada ayat 128 ini Ibrahim a.s. mendoakan agar sebagian keluarganya dijadikan orang yang tunduk patuh kepada Allah. 
Dalam hubungan ayat di atas terdapat petunjuk bahwa yang dimaksud dengan keturunannya itu ialah Ismail a.s. dan keturunannya yang akan ditinggalkan di Mekah, sedang beliau sendiri kembali ke Syria. Keturunan Ismail a.s. inilah yang berkembang biak yang mendiami negeri Mekah dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw. Inilah yang dimaksud dengan Firman Allah swt.: 
حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ 
Artinya: 
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini. (Q.S Al Hajj: 78) 
Ibrahim dan Ismail mohon kepada Allah agar ditunjukkan cara-cara mengerjakan segala macam ibadat dalam rangka menunaikan ibadah haji, tempat wuquf, tempat tawaf, tempat sai dan sebagainya, sehingga ia dan anak cucunya dapat melaksanakan ibadat sesuai dengan yang diperintahkan Allah. 
Di dalam ayat ini Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt. agar diterima taubatnya padahal Ibrahim adalah seseorang nabi dan rasul, demikian pula putranya. Semua nabi dan rasul dipelihara Allah dari segala macam dosa (maksum). Karena itu maksud dari doa Ibrahim dan putranya itu ialah: 
1.Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. memohon kepada Allah swt. agar diampuni dari segala kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, yang tidak diketahui dan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri. 
2.Sebagai petunjuk bagi keturunan dan pengikutnya di kemudian hari, agar selalu menyucikan diri dari segala macam dosa yaitu dengan bertaubat kepada Allah, dan menjaga kesucian tempat mengerjakan ibadah haji. 
"Allah Maha Penerima taubat" ialah Allah sendirilah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya, tidak ada yang lain. Dia selalu menerima taubat hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertaubat serta memberi taufik agar selalu mengerjakan amal-amal yang saleh. 
"Allah Maha Penyayang" ialah Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan menghapus dosa dan azab dari mereka. 
Selanjutnya Ibrahim a.s. berdoa agar Allah swt. mengangkat seorang rasul dari keturunannya yang memurnikan ketaatan kepada Allah, untuk memberi berita gembira, memberi petunjuk dan memberi peringatan. 
Allah swt. telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s. dengan mengangkat dari keturunannya nabi-nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad saw., nabi yang terakhir. 
Rasulullah saw. bersabda: 
أنا دعوة إبراهيم وبشرى عيسى 
Artinya: 
Aku adalah doa Ibrahim dan yang diberitakan sebagai berita gembira oleh Isa.(HR Ahmad) 
Sifat-sifat dari rasul-rasul yang didoakan Ibrahim a.s. itu ialah: 
1.Membacakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan kepada mereka, agar ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat-umat mereka. Ayat-ayat itu mengandung ajaran-ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari berbangkit dan hari pembalasan, adanya pahala bagi orang-orang yang beramal saleh dan siksa bagi orang-orang yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik dan bahagia dan sebagainya. 
2.Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Al-Kitab ialah Alquran, Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah, hukum-hukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul itu menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka menempuh jalan yang lurus. 
3.Menyucikan mereka ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan, kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak masyarakat dan sebagainya. 
Ibrahim a.s. menutup doanya dengan memuji Tuhannya, yaitu dengan menyebut sifat-sifat-Nya, Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Bijaksana. "Maha Perkasa" ialah yang tidak seorang pun dapat membantah perkataan-Nya, dan tidak seorang pun dapat mencegah perbuatan-Nya. 
"Maha Bijaksana" ialah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu dan penggunaannya sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. 
Dari doa Nabi Ibrahim ini terpaham pengertian bahwa beliau memohonkan agar keturunannya diberi taufik dan hidayat sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan agama Allah, membina peradaban umat manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan menurut yang diridai Allah swt.


Kembali ke Daftar Surah                                                Kembali ke Daftar Surah Al-Baqarah 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar